Bab 3
Sudut Pandang Liveda
Aku berdiri di taman dengan perasaan khawatir yang luar biasa. Aku merasakan kekuatan yang membuatku pingsan. Gak ada seorang pun di kerajaan yang punya kekuatan kayak aku, karena aku punya banyak kekuatan, tapi gak semuanya.
Para tetua mikir aku ini orang terpilih dari Elimen, tapi aku sendiri tau aku bukan. Dan hari ini semua jadi jelas. Kemampuan sihir yang aku rasain jauh lebih kuat dari punyaku, dan aku harus cari tau siapa orangnya.
"Anakku lagi mikir keras. Apa aku harus tau alasannya?" Aku denger Ayah ngomong dari belakangku.
"Aku ngerasain sihir hebat hari ini dari dunia manusia, Ayah, dan aku harus tau sumbernya." Ekspresinya berubah jadi gelap dan aku liat amarah membara di wajahnya. Dia juga lagi mikir, tapi tiba-tiba matanya melebar kaget.
"Iya, aku ikut denganmu. Kereta kita harus disiapin." Wajahnya pucat dan aku harus cari tau.
"Menurutmu siapa orangnya? Elimen atau sesuatu yang lebih berbahaya?" Aku mikirin apa yang aku omongin sendiri. Kalau orang atau makhluk ini bukan Elimen, maka semua nyawa akan hancur.
"Pengawal, siapin tunggangan buat Pangeran Mahkota dan aku. Kita berangkat besok jam 6." Dan dia pergi buru-buru.
Aku mutusin buat berhenti mikirin kekuatan misterius dan menegangkan yang aku rasain, dan lebih milih istirahat. Aku ngeluarin napas panjang saat angin menerpa ku sambil mata tertutup. Sepasang tangan melingkari tubuhku.
Wangi kelopak Woody memenuhi udara dan aku langsung tau itu Brittney.
Dia nyium pipiku dan gigit leherku. Kadang aku berharap gak ketemu dia. Aku cuma masuk ke hubungan ini karena Ayahnya, Jenderal Oz, yang punya semua cinta dari tentara, nge-blackmail aku buat pacaran sama dia. Brittney terobsesi sama aku, tapi aku tau itu karena kekuasaan.
Dia pengen jadi ratu di masa depan pas kita semua lulus dari Institut Harz. Aku menghela napas kesal saat dia naruh tangannya di tempat yang gak seharusnya. Dia godain aku. Aku gak suka dia, tapi gak bisa dipungkiri dia cewek berambut merah yang menarik dengan mata abu-abu yang aneh. Aku balik badan dan meluk dia erat-erat sambil natap langsung ke matanya.
"Ck ck ck, kalau aku jadi kamu, aku gak bakal godain penyihir yang lagi marah. Kamu pasti pengen gaun cantiknya tetep nempel di kamu." Aku liat semua sudut bibirnya naik membentuk senyuman. Dia mendekat dan ngegigit telingaku. Udah deh, aku harus ngasih dia pelajaran. Dengan kecepatan sebagai salah satu kemampuanku, aku gendong dia ke kamarku, naruh dia di kasur, dan ngunci pintunya. Dia masih ngos-ngosan karena kecepatan.
Mata ku nunjukkin gak ada cinta, cuma nafsu. Aku ngerobek kemejaku dan membungkuk di atasnya. Ciuman kami intens, tapi aku gak mendesah. Brittney, di sisi lain, merintih begitu keras.
Saat sesi mesra kami selesai, kami berdua berbaring di bawah selimut sementara baju kami berserakan di lantai.
"baby, kamu kayaknya lagi gak fokus, apa kamu gak suka yang terjadi?" dia nanya keliatan khawatir. Siapa yang gak suka apa yang terjadi, pikirku dalam hati. Aku ketawa keras dan ngeyakinin dia kalo gak ada apa-apa.
Aku menutup mata buat tidur, dan aku masuk ke mimpi.
"Halo, ada orang di sana? Nama aku Mariline, dan aku tersesat." Lewat uap, aku denger suara termerdu di alam semesta... Aku mendekat ke gema nya dan ngeliat seorang malaikat. Rambutnya hitam bergelombang yang indah, mata hijau cerah, kulit putih yang menggoda yang bersinar kayak bulan. Aku sadar aku kedinginan. Apa yang dia lakuin ke aku? Terus mata hijau itu natap langsung ke mataku dan aku ngiler. Dia nyamperin aku dan ngenalin diri lagi sebagai Mariline.
Rasanya aneh gimana aku bisa liat dia di mimpi ku. Tapi kenyataan yang paling penting adalah, kita berbagi mimpi ini.
"Mariline, nama yang indah. Kedengarannya kayak musik yang merdu." Aku ngomong gitu dengan mata tertutup, tapi aku sumpah aku denger rintihan. Aku buka mata dan aku ngeliat pemandangan paling lucu seumur hidupku. Pupil matanya punya posisi yang beda. Satu di atas matanya dan pupil mata satunya lagi nunjukkin ke bawah. Mukanya merah dan tangannya berusaha nutupin. Aku ketawa sampe tulang rusukku sakit.
Dia di sisi lain keliatan malu.
"Denger, aku minta maaf aku ketawa, dan jujur aja, kamu keliatan imut banget dengan muka aneh itu. Aku Liveda, tapi kamu boleh panggil aku baby."
Aku ngomong sambil ngedipin mata ke dia. Senyum tersungging di bibirnya dan itu bikin hati ku meleleh. Kita ngobrol lebih banyak lagi. Aku cerita tentang diri ku yang tinggal di Harz, kecuali bagian yang nyebutin aku sebagai bangsawan. Dia cerita kalau dia di dunia manusia dan betapa nyebelinnya saudara-saudaranya. Sekolah mereka di sana kedengeran membosankan, kecuali pas dia nyebutin acara yang namanya prom. Mikirin dia sama cowok lain dansa bikin aku gak enak perut. Kemarahan ku mendalam dan itu bikin kekuatan ku gak stabil. Biasanya kalau aku dalam kondisi kayak gitu, aku akhirnya membunuh, tapi pas aku noleh ke arahnya, aku berhenti buat numpahin darah. Dia keliatan takut dan aku benci itu.
"Kamu takut sama aku? Aku gak mau kamu pernah takut sama aku. Ini lah aku, dan kamu harus terima." Aku ngomong dengan nada memerintah. Dia bergeser menjauh, tapi gak terlalu jauh.
"Kamu penyihir?" Aku natap dia dan aku bisa ngerasain jiwa nya yang murni.
"Iya, aku penyihir, atau kamu bisa bilang tukang sihir... tapi itu kedengeran jahat banget jadi aku gak pake. Kita semua di sini di Harz punya kemampuan." Dia nekuk jari-jarinya di dagunya dan ngangguk terus dia senyum. Aku hampir kesungkur ke tanah. Gimana dia bisa punya efek kayak gitu ke aku?
"Liveda," dia berbisik dan mendekat, dan hidung kami bersentuhan.
"Aku rasa aku kayak kamu. Aku punya mimpi aneh tentang seseorang yang manggil aku Elimen, dan itu bikin aku takut." Dia keliatan kayak pengen nangis dan aku narik dia ke tanganku. Aku menghela napas berat karena aku tau aku udah nemuin kekuatan sihir misterius yang aku rasain.
Semuanya berubah sekaligus dan aku balik ke diri ku yang kejam. Aku gak bisa ngendaliin diri di dekat dia, tapi aku harus ngambil apa yang dia punya. Pas kita putus dari mimpi, aku duduk di kasur buat rencana apa yang harus dilakukan. Kekuasaan ku selanjutnya sebagai raja butuh aku punya banyak kemampuan sihir tanpa adanya Elimen. Mariline harus mati!!!!! Aku udah ngerasain iblis di dalam diri ku keluar. Dia mematikan dan dia gak ragu buat membunuh.