Bab 30: Rusia
"Pergi sana!"
Sebuah pasang sandal terbang melewati kepala Brett.
Melihat dia gagal mengenai sasaran, Lexy memegangi perutnya yang membuncit sambil mengambil bantal di ranjang dan melemparnya ke arahnya.
Brett menghindar, dan bantal itu mendarat di belakangnya.
Dia memandang Lexy dengan wajah pasrah, "Sayang, kita ngobrol, yuk."
"Gak mau ngobrol! Mau ngomongin apa sih?! Pergi sana! Minggat!"
Wajah Lexy berubah makin jelek dan jelek lagi saat dia mengingat apa yang terjadi satu jam yang lalu.
Satu jam yang lalu, mereka pergi jalan-jalan di taman sore itu. Sudah jadi kebiasaan mereka untuk pergi setiap sore menikmati udara segar.
Namun, pemandangan yang tenang itu terganggu ketika seorang wanita muncul entah dari mana dan mendekati mereka.
Bukan cuma gak peduli ada wanita hamil di samping Brett, dia juga langsung melompat ke pelukannya dan bergelantungan padanya kayak koala.
Brett berusaha melepaskan wanita itu, tapi takut dia cedera. Dia minta pengawal untuk menarik wanita itu darinya ketika wanita itu tiba-tiba menangis dan berteriak padanya.
Gak masalah kalau dia mengumpat dan menghina mereka, tapi malah dia bilang kalau dia hamil anak Brett.
Wanita bernama Maya itu bilang kalau dia ketemu Brett di Empire's Nightclub sebulan lalu.
Lexy ingat kalau Brett gak pulang malam itu setelah mereka berantem dan baru pulang pagi-pagi dengan mabuk.
Hal ini bikin dia makin yakin kalau Brett selingkuh.
Jadi, begini deh keadaannya sekarang.
"Gue beneran gak kenal dia. Lo tahu kan gue pergi sama Igor malam itu dan kita balik bareng pagi-pagi. Kita tidur di Rose Hotel malam itu. Kalo lo gak percaya, lo bisa tanya Igor."
Baru sekarang Lexy sadar kalau dia belum nanya Igor soal ini.
Dengan tatapan sengit ke Brett, dia duduk di sofa dan meraih telepon di meja dan langsung nelpon Igor.
"Halo?"
"Igor, ini gue."
Igor baru keluar dari rapat di kantor ketika Lexy nelpon.
"Gue mau nanya, nih. Sebulan lalu, lo sama Brett ke Empire's Nightclub, kan? Apa dia ada kontak sama cewek namanya Maya?"
Igor batuk dan tertawa kecil dalam hati.
Brett ngapain lagi, sih?
Ini pertama kalinya Igor liat pasangan berantem berkali-kali dan masih saling cinta.
"Maya? Siapa tuh?" dia balik nanya.
Lagian, banyak banget cewek yang berusaha deketin mereka malam itu. Tapi, dia sama sekali gak inget nama-nama mereka.
"Dia bilang ketemu Brett malam itu. Kalian berdua ke mana setelah keluar dari klub?"
Igor mengerutkan dahi.
"Kita ke Rose Hotel."
Lexy menghela napas lega, "Oh gitu."
"Kenapa? Cewek ini bikin masalah, ya? Gue bisa bantu, kok," tawar Igor.
Lexy mau nolak, tapi dia ingat kalau cewek itu juga bawa foto.
"Iya, deh."
Dia menutup telepon dan sadar kalau Brett sudah duduk di sampingnya.
Dia berusaha menjauh, tapi Brett menariknya ke pelukannya dan memeluknya erat.
"Lepasin gue!" dia berjuang untuk keluar dari pelukannya.
"Enggak...sayang, udah, ya. Berapa kali lagi gue harus bilang? Gak peduli seberapa banyak masalah datang, gue gak akan pernah biarin satu pun dari mereka nyakitin lo. Gue cinta sama lo, dan gue gak akan pernah nyakitin lo."
"Lo udah nyakitin gue sekali," kata Lexy.
Brett kaku, "Itu karena gue gak tahu apa yang sebenarnya terjadi."
"Waktu itu, gue udah hamil 3 bulan, dan lo masih mau bunuh gue karena gue ngekhianatin geng."
Brett memeluknya lebih erat, "Gue gak tahu lo hamil, dan gue gak tahu lo dipaksa bokap lo buat nyuri informasi buat dia. Kalo gue tahu, gue gak akan nyakitin lo."
"Tapi, gak ada 'kalo' di dunia ini. Semuanya udah terjadi, dan lo udah lakuin itu. Lo maksa gue dan hampir bikin gue keguguran. Gak cuma gak ngaku nyakitin gue, tapi lo juga nuduh gue selingkuh sama cowok lain."
Brett merasakan cairan panas di lengannya dan langsung panik ketika melihat dia menitikkan air mata.
"Maaf...maaf banget..." Brett mengusap air matanya dan mencium keningnya berulang kali.
Hatinya sakit ketika melihat dia menitikkan air mata.
"Gue bisa ngerti kalo lo mau cari orang lain. Lagian, di dunia ini, gue gak punya keluarga lain. Gue cuma punya bayi ini. Kalo lo mau punya keluarga sama orang lain, gue gak peduli. Tapi, tolong biarin gue punya bayi ini."
"Omong kosong! Lo ngomongin apa, sih? Di hidup ini dan di kehidupan selanjutnya, gue, Brett Carsons, akan cinta sama lo dan cuma sama lo! Gue gak akan pernah ninggalin lo!"
Dia nyatakan dengan lantang sambil menatap Lexy dengan tatapan tegas dan bertekad.
Lexy mengerucutkan bibirnya.
Cowok emang jago banget kalo udah urusan kata-kata. Walaupun hatinya luluh dengar pengakuannya, dia masih waspada.
Telepon di meja di depan mereka berdering.
Melihat itu Igor, Brett mengambil telepon dan menjawabnya sebelum menyalakannya di speaker.
"Kami dengerin."
Igor mengangkat alisnya karena terkejut.
Kayaknya mereka udah baikan.
"Maya itu anaknya Alex Glenn. Dia sama gue musuhan. Gue yakin mereka berusaha pakai lo buat melawan gue. Gue minta maaf atas masalahnya."
Lexy akhirnya menghela napas lega.
Oh, gitu.
"Makasih, Igor."
"Sama-sama," Igor menutup telepon.
"Denger, kan? Gue gak pernah selingkuh dari lo," Brett memandang wanita di sampingnya dan gak bisa menahan diri buat pamer.
Lexy gak tahu harus nangis atau ketawa.
Apa dia beneran harus pamer soal ini?