BAB 11
"Gue gila apa gimana, ya, kok Alex ngeliatin kita?" Gue denger Ashley nanya. Ruangan kayak muter-muter kayak 'komidi putar'.
"Hah?" Gue nanya sambil mulai joget nggak karuan ngikutin lagu yang lambat.
Gue denger suara EJ, tapi nggak bisa nemuin dia di ruangan yang muter-muter ini. Terus gue ngerasa ada sesuatu yang dingin nempel di kulit gue dan gue bangun keesokan paginya di sofa.
Kok gue bisa pulang, ya?
____________
Sinar mentari nyerbu lewat gorden tipis dan nyeruin ruangan sama muka gue. Gue menggelinding dari sofa dengan males banget dan langsung ke kamar mandi.
Gue tahu gue minum banyak banget semalem, bahkan gue kecium bau alkohol, tapi gue nggak kena gejala mabuk.
Lumayan bikin kaget, sih.
Gue mandi, ngeringin kulit, pake lotion, pake celana dalem, terus celana pendek hot pink yang ngepas di pantat gue sama crop top hitam. Gue pake sepatu sneakers air max hitam putih gue dan dandan tipis di muka.
Gue sisir rambut kepang Brazil gue jadi ekor kuda yang rapi dan pake anting-anting hoop perak yang gede.
Terus gue telepon Ashley.
"Woi. Lo masuk hari ini, kan?"
"Iya, iya, gue dateng," jawab dia. Gue denger suara-suara latar dan gue yakin denger suara cowok.
"Lo di mana?" Gue nanya lagi, ngasah kuping biar bisa denger lebih jelas.
"Gue nyampe sana bentar lagi Zen. Bye." Dia matiin telepon.
Ashley bisa-bisanya, deh.
~
Gue dapet banyak tatapan dan lirikan dari cowok-cowok di jalanan pas gue jalan ke halte bus. Angin sepoi-sepoi kena muka dan crop top gue. Gue kayak lagi pemotretan majalah dan gue nikmatin perhatiannya.
"Woi, sayang!"
"Mbak, boleh minta nomornya nggak?"
"Anjir, cewek, lo seksi banget."
"Woi, cokelat manis. Boleh nyoba nggak?"
"Itu bokong asli!"
Siapa bilang cowok susah ditaklukkan?
~
Gue naik bus ke pusat kota, ngelakuin rutinitas pas nyampe toko gue dan mulai kerja. Hari Selasa biasanya nggak rame, jadi gue sempetin buat bikin desain baru dan ngobrol sama perwakilan majalah, terus bikin halaman buat promosi lini pakaian, gaya, dan merek kita.
Dua jam kemudian, Ashley nongol.
"Zen, gue minta maaf banget telat. Gue kesiangan. Kalo lo nggak nelpon, mungkin gue masih di kasur."
"Lo tidur sama orang?" Gue nanya, naikin alis dan nungguin jawabannya.
"Ah, cewek... Lo ngaco. Nggak." Dia ngehindar.
"Gue denger suara cowok, Ash."
Dia ngebalik sambil senyum.
"Oke, oke. Gue jujur. Gue tidur sama Alex," dia akhirnya ngaku.
"Cewek, gue tahu lo nggak cuma bilang lo tidur sama Alex! Ayolah Ash, lo baru ketemu orangnya! Lo mau dia mikir lo gampangan dan bahan one night stand?"
"Denger, santai dikit dan urus urusan lo sendiri. Kita cocok banget setelah EJ nganter lo pulang semalem."
EJ nganter gue pulang?
"Dan kita nggak ngapa-ngapain. Cuma tidur di kasur yang sama karena gue minum dan dia nggak mau gue nyetir."
Gue muter mata ke dia.
"Cewek, lo lagi nyiapin diri buat patah hati. Semua cowok cuma mau tidur sama lo, bohongin lo, bikin drama buat lo, terus ninggalin lo. Apalagi cowok kaya dan terkenal yang mikir mereka punya dunia."
"Apaan, sih, yang lo omongin? Lo masih mabuk?"
Gue narik napas.
"Dia nge-text gue! 'Hai sayang, semoga lo nyampe rumah dengan selamat. Selamat kerja dan aku mikirin kamu.'" Dia baca.
"Aww, so sweet," gue ngomong sarkas, yang dia tangkep.
"Lo nyebelin banget."
"Gue apa adanya. Gue nggak akan jatuh cinta lagi sama cowok mana pun."
"Zenia. Lo harus lepaskan itu. Jadi, kenapa kalo lo patah hati sama cowok idiot itu pas kuliah dulu? Lo nggak bisa bandingin dia sama semua cowok lain di luar sana, Zen, dan lo tahu itu."
"Lo pikir Alex nggak bakal berbalik dan bikin lo patah hati? Kakak gue pernah bilang nggak ada happy ever after dan gue percaya dia."
"Kakak lo pasti ngomong dari tempat yang marah karena lihat dia sekarang! Dia sama Evan Hollen. Salah satu cowok terkaya di planet ini dan dia bahagia. Mereka punya anak dan mau nikah. Happy ever after itu ada! Lo cuma harus nyarinya!"
Dia pergi ke belakang dan mulai motong dan nyatuin gaun buat pelanggan.
Gue duduk diem di meja dan mulai desain gaun tapi nggak bisa konsen, jadi gue taruh notepad digital gue dan buka-buka Facebook. Gue mutusin buat lihat profil Madison.
Dia baru aja ganti foto profilnya jadi foto dia sama EJ pelukan di bawah pohon. Mereka kelihatan lebih muda. Pasti waktu mereka masih SMA.
Gue dapet text dari EJ selanjutnya. Kayak dia tahu gue lagi mikirin dia.
EJ: Hai, gimana kabarmu?
Gue: Gue baik. Makasih udah nganterin gue pulang semalem.