Bab 31
Aliyana
Sebulan kemudian
Gue melangkah ke pintu rumah gue, dan saat itulah ponsel gue bunyi. Katanya, bunyi bisa datang dalam berbagai bentuk, dan bunyi gue datang dalam bentuk ini.
"Halo Papa."
"Halo, Aliyana."
"Suara Papa serius banget, semuanya baik-baik aja kan?"
"Papa harus ketemu kamu, Papa akan sampai di sana dalam satu jam ke depan."
"Oke. Aku gak tahu Papa ada di kota."
"Papa gak ada sampai beberapa jam yang lalu, ada kecelakaan, pesawat keluarga Rasetto meledak, gak ada yang selamat."
Gue dengerin Papa gue dan gue masih gak tahu apa hubungannya sama gue. Tapi Marco langsung muncul di pikiran gue dan tangan gue jadi keringetan. Gue belum ketemu dia sejak kakak gue dan bayinya meninggal.
Shadows yang lain setuju kalau yang terbaik adalah dia menjaga jarak.
Kematian kakak gue masih luka yang belum sembuh.
Lucca Sanati nyerang gue gara-gara Marco. Dia culik temen gue Kylie gara-gara Marco. The Shadows nyariin dia siang dan malam tapi kita gak bisa nemuin dia. Kita tahu waktu terus berjalan.
Papa gue datang dalam satu jam seperti yang dia bilang dan gue pergi ke kantornya, yang hancur dalam ledakan bareng kakak gue. Foto Mama gue gak lagi ada di mejanya. Kantornya cuma ruangan kosong, ada beberapa buku, bukan lagi miliknya.
"Papa udah ngebunuh banyak orang tak bersalah demi kekuasaan, Papa gak pernah ngaku jadi orang baik atau adil. Dan hidup jelas gak pernah kasih Papa keringanan, Papa udah ambil kekuasaan yang Papa mau dengan darah. Papa cuma cinta satu wanita dan kehilangan dia karena pengkhianatannya. Tapi Aliyana, sejak kamu lahir, kamu adalah penebusan Papa, kamu, Aliyana, adalah satu-satunya hal dalam hidup Papa yang Papa cintai tanpa syarat. Kamu selalu tahu Papa orang jahat, tapi kamu terima cinta Papa, status Papa sebagai ayahmu."
"Papa?"
"Kamu tahu Papa akan lindungin kamu dari siapa pun yang nyakitin kamu. Dan Papa udah lakuin itu, Papa udah bikin kamu kuat. Ngasih kamu segalanya dan cuma minta sedikit dari kamu. Tapi hari ini, anakku, Papa harus minta maaf setelah Papa minta kamu menyerahkan diri pada orang lain."
"Papa?" bisik gue lagi, bingung.
Dia berbalik menghadap gue, gue bingung, apa yang dia omongin?
"Sesuai tradisi Sisilia, saat seorang anak menikah, ayah dari pengantin wanita gak bisa nolak permintaan. Dianggap sial tapi juga memalukan dan kelemahan yang gak kita butuhin. Papa takut Papa diminta bantuan yang udah bikin kita berdua celaka, anakku."
"Papa? Aku gak ngerti." Apa yang dia omongin? Matanya merah banget sampai gue yakin kalau gue perhatiin baik-baik, gue bakal bilang dia nangis.
"Keluarga Rasetto bukan satu-satunya yang jatuh hari ini. Ada perubahan kekuasaan, Capo Dei Capi punya nama baru, dan nama itu butuh istri Aliyana." Gue merem, karena gue tahu dia akan bangkit.
"Papa, jangan, kumohon, aku... aku cinta Xander, aku mau kasih tahu Papa, aku mau nikah sama dia." Gue gak yakin seberapa bener pernyataan itu tapi itu satu-satunya alasan yang bisa gue pikirin.
Papa gue natap gue, dan untuk pertama kalinya gue lihat air mata di matanya jatuh, "Itu gak akan mungkin lagi, sebagai anak Papa, The Consigliere dari Negara Bagian ke-5, Papa perintahkan kamu untuk melakukan apa yang diperintahkan."
Gue jatuh berlutut dan nangis. Gue udah mikirin seribu cara gimana suatu hari gue akan sampai di momen ini, gue berlutut di depan Papa gue, seperti yang udah banyak orang lakuin tapi gak kayak gini.
"Siapa dia?"
"Papa minta maaf banget, Papa udah bikin kita berdua celaka. Tapi bahkan dengan semua kekuasaan Papa, Papa gak cukup kuat buat nolak dia, kamu juga gak. The Shadows gak bisa bantu kamu di sini."
"Siapa dia?" gue teriak ke Papa gue.
"Papa harap kamu maafin Papa, Aliyana."
"Siapa, kasih tahu gue sialan," gue teriak saat hati gue hancur.
Rasanya kayak kita berdua membeku selama beberapa detik saat tatapan teror Papa gue menahan tatapan gue yang tersiksa. Semua momen itu tumbuh dewasa dengan pria ini yang udah nyayangin gue dengan tekad kuat yang bikin kasih sayang ayah lainnya pudar kalau dibandingin, melintas dalam diri gue.