Bab 3: Bajingan Kejam
🚨 SANGAT PENTING: Pastikan ini dibaca seperti bahasa Indonesia yang alami yang digunakan oleh anak muda, dengan nama karakter yang benar dari pemetaan!
| Brengsek Kejam |
"YA AMPUN, syukurlah kamu udah bangun," Reina curhat. Dia lagi jongkok di lantai deket ranjangku. Gue yakin, dia udah ngeliatin gue dari tadi sampe gue bangun. Dia tau banget kalau gue paling gak suka diganggu pas lagi tidur nyenyak. Soalnya gue bisa nampar atau nginjek siapa aja yang coba bangunin gue, bahkan kalau itu nyokap atau bokap gue sendiri. Gatau kenapa, tapi kayaknya udah jadi kebiasaan.
Gue kucek-kucek mata pelan dan narik bantal di bawah lutut gue. Hmm... masih pengen tidur nih.
"Woy," Reina manggil dan langsung ambil bantal gue. "Jangan macem-macem, ya?" Dia cemberut ke gue.
Gue senyum. "Lima menit lagi... please."
"Nggak. Lo udah tidur lima jam dan gue gak makan siang gara-gara nungguin lo, dan sekarang udah sore."
Gue angkat pergelangan tangan kiri gue di depan mata. Jam tangan gue nunjuk jam empat. Mata gue langsung gede. "Kok lo gak bangunin gue sih?" Gue bangun. Ugh! Masih agak ngantuk dan puyeng buat berdiri.
"Gak bangunin lo? Seriusan? Kalau gue bangunin lo, mungkin muka gue udah bonyok sekarang. Lo kayak kuda kalau ada yang mau bangunin lo dari tidur nyenyak."
"Oh, maaf deh. Lain kali gue harus pasang alarm. Terus siapa bilang lo gak boleh makan tanpa gue? Harusnya lo udah makan siang, tau."
"Wah, dari mulut lo? Kalau gue makan sendiri terus lo bangun dan gak liat gue, lo pasti ngamuk dan kelakuan kayak cewek gila lagi terus nge-whack gue."
"Nge-whack lo? Emang lo anak kecil yang di-whack karena gak mau makan? Udah lah, kuliah beda, gue gak bakal marah kalau lo gitu. Kesehatan kita harus jadi prioritas."
"Terserah." Dia muter mata dan jalan ke pintu terus ngebukanya. "Gak ikut? Serius?... Gue udah laper banget nih, gue cuma punya biskuit di tas dan itu gak cukup buat gue," katanya.
Gue ketawa kecil. "Oke deh."
KAMPUS-nya luas banget. Di depan asrama kita ada restoran dan kafe. Kafetaria jauh banget dari asrama kita, jadi kita mutusin buat makan di restoran deket sini aja. Universitas Chanter punya banyak banget gedung. Setiap jurusan punya gedung yang beda-beda. Tentu aja, gue liat di buku panduan. Ada juga peta yang ditempel di sana.
"Lo mau makan apa?" Reina nanya gue. Kita lagi berdiri di depan konter, nyari-nyari menu yang ada di atas.
"Gue mau nasi, ayam adobo, sama susu steril kalengan. Tuh yang *R1." Gue bilang sambil nunjuk makanan yang gue mau.
"Oke. Sekarang cari tempat duduk," katanya.
"Potasium," jawab gue. Alisnya berkerut, kayaknya dia gak ngeh sama yang gue bilang. Lemot banget sih. "Maksud gue, K kayak oke. Tau kan, tabel periodik unsur, di mana *K itu potasium?"
"Tentu aja gue tau," jawabnya sambil muter mata.
Gue ketawa kecil. Ah-oh, orang-orang di dalem ngeliatin gue. Sorry deh, gue cuma senyum, canggung. Mata gue berkelana, dan di sana gue liat ada tempat kosong deket mesin karaoke. Gue nyolek sepupu gue. "Gue tunggu di sana, ya," gue bilang sambil nunjuk tempat duduk kosong yang gue temuin.
Dia ngangguk.
Sambil nunggu, gue sibuk ngeliatin orang-orang di luar jendela kaca restoran, ada yang naik sepeda, ada yang sibuk jalan dan ngobrol. Gue narik napas panjang. Besok lusa hari pertama kuliah. Semoga gue bisa baik-baik aja. Gue harus cari kerjaan part-time secepatnya. Mungkin, besok gue cari.
Tapi yang pertama harus gue lakuin, setelah makan, gue mau beresin barang-barang gue. Belum gue lakuin soalnya gue lebih milih tidur.
"Nih." Reina naruh nampan. Gue ambil punya gue juga. Terus kita mulai makan.
"Lo bayar pake apa?" gue nanya.
"Ya pake duit gue sendiri lah. Lo harus gantiin gue, ya."
"Gue kira gratis ya? Bukannya itu bagian dari biaya kita sebagai anak beasiswa?" gue nanya.
"Kirain lo udah baca buku panduan mahasiswa berkali-kali? Di situ kan dibilang kalau kita cuma bisa dapet makan gratis kalau makan di kafetaria sekolah," jelasnya. "Dan... lo males ke sana dan milih makan di sini."
"Oh, salah gue lagi. Maaf deh," jawab gue, sarkas. Mukanya langsung cemberut kayak gak suka sama yang gue bilang. "Oke, jangan ngambek, nanti gue gantiin."
Dia angkat tangan kirinya, nunjuk garpu yang lagi dia pegang di depan gue. "Seriusan, Beca. Jangan bawa kebodohan lo ke sini," dia memperingati, tapi gue cuma ketawa.