BAB 2 ~ Suami Nasional ~
[PERSPEKTIF IRIS]
Kaki gue mulai gemeteran hebat kayak baru lihat setan. Lift yang tadinya luas langsung ciut, bikin gue mulai sesak napas.
"Tarik napas, Iris!" gue bergumam dalam hati. "Semuanya baik-baik aja… lo oke. Cuma gara-gara presiden sialan itu! Enggak, tunggu… tenang. Dia kan bos lo mulai sekarang, jadi harusnya oke-oke aja–kan? Ya… lo beneran aman."
Gue terus ngulangin itu dalam kepala kayak doa, berusaha kelihatan setenang mungkin. Kena serangan panik di depan presiden negara bangsat ini, jelas gak ada di daftar kegiatan gue hari ini. Untungnya, dia masih ngomong di telepon. Walaupun Presiden Gray gak ngomong sama gue, gue gak kelewatan tatapan gak setuju yang kayak mau nelan gue hidup-hidup. Rasanya dia ngelempar belati ke gue pakai tatapan dinginnya. Kenapa sih Presiden Gray malah ada di sini!? Mikirnya, mengingat pentingnya dia, harusnya dia punya lift sendiri. Bingung kenapa gue bisa berakhir di situasi ini, gue jadi gak nyaman di sepatu gue. Ponsel gue mulai geter keras, bikin gue genggam tas dengan erat sambil misuh-misuh dalam hati ke Daisy karena udah bikin gue dapat perhatian gak penting. Akhirnya dia berhenti natap gue dan noleh langsung ke tembok seberang, ngehindar gue sepenuhnya.
Pas dia noleh, gue sadar ada tato di lehernya. Gambarnya kepala naga. Tatonya detail banget, tinta hitamnya kelihatan jelas kontras sama kulitnya yang pucat. Beneran kayak karya seni. Cowok ini emang pantes dijuluki, "Suami Nasional". Gak cuma gantengnya bikin napas sesek, tapi seluruh penampilannya pancarin kekuatan dan kewibawaan. Fitur-fitur keren Presiden Gray bikin siapa aja gak bisa gak berhenti dan kagum sama dia. Bahkan di bawah lampu neon putih, siluetnya kayak dewa Yunani. Rambut gelapnya disisir ke belakang dan sepasang mata biru yang tajam nempel di bawah alis gelap yang tegas. Hidung yang mancung dan lurus, barengan sama rahangnya yang kokoh, ngasih dia kesan aristokratis. Ngomong pakai logat Inggris yang berat, bibir tipisnya berubah jadi cemberut–nunjukin banget rasa gak sukanya. Jas biru dongkernya ningkatin aura dominasi di sekitarnya. Gue nyimpulin kalau kehadirannya mirip raja Neraka. Alarm bahaya bunyi keras di kepala gue dan rasanya lift sialan ini gak cukup cepat.
Dia ngelirik gue dan mata gue langsung tertarik ke mata biru dingin itu. Rasanya kayak gue bisa kelelep di mata itu. Itu ide yang menggoda tapi bukan itu tujuan gue di sini. Melepas pandangan, gue buru-buru keluar dari lift pas pintunya akhirnya kebuka.
"Syukurlah dia masih nelpon!" gue mikir, buang napas lega.
Gue cuma pengen ngilang dari pandangan dia dan gue baru jalan dua langkah, pas gue denger nada dinginnya.
"Tunggu..."
Gue merem.
"Sial… ya… lo mati, Iris." gue bilang ke diri sendiri, sambil balik badan.
Presiden Gray pelan-pelan nyamperin gue dengan ekspresi gelap sambil masukin ponsel mahal itu ke kantongnya. Gue nelen ludah susah payah pas sadar gak ada orang lain di sekitar. Dia berhenti cuma sejengkal dari gue dan gue gugup ngelihat ke atas buat ketemu tatapan dia.
"Kamu siapa?" dia nanya, cemberut keras. "Kamu sekretaris yang dipekerjakan oleh Tuan Scott?"
Gue ngangguk setuju dan buka bibir buat minta maaf karena gak ngenalin diri, tapi omongan dia motong gue.
"Kamu buta?" dia nanya, sambil nunjuk ke lift. "Gak lihat tanda yang juga ada di bawah?"
Gue miringin kepala buat lihat ke mana dia nunjuk. Perut gue kayak jatuh pas gue lihat tanda perak yang terukir di dinding samping lift, yang tulisannya, "Presiden Xavier Gray dan Hanya Personil yang Disetujui."
"Sialan!" gue teriak dalam hati. "Wah itu jelasin kenapa langsung ke lantai 18! Gimana sih bisa sebodoh ini, Iris? Pakai lift presiden berarti lo langgar salah satu aturan paling besar di hari pertama. Selamat…"
Gue mental nampar diri sendiri dan nunduk cepet buat minta maaf sebelum situasinya jadi lebih parah.
"Sa–saya minta maaf banget, Bapak Presiden. Saya lagi buru-buru banget dan bahkan gak sadar kalau naik lift yang salah. Mohon hukum saya gimana Bapak anggap pantas."
Nengok ke atas dengan mata ketakutan, gue sadar ekspresinya sedikit melembut.
"Pergi dan lapor diri kamu ke kantor Tuan Scott." perintahnya. "Ingat, saya gak tolerir orang yang gak bertanggung jawab. Kalau kamu terus bertindak ceroboh, kamu akan dipecat dalam seminggu."
"Terima kasih, Bapak Presiden. Saya akan lebih hati-hati di kemudian hari." kata gue.
Dia berdehem dingin dan balik badan buat pergi. Sebelum dia pergi terlalu jauh, gue denger dia bergumam dengan suara pelan.
"Perempuan emang bikin repot."
Alek alis gue menyatu dan gue nyinyirin sikapnya yang sok berkuasa. Dia bisa aja maafin gue karena pertimbangan gue anak baru di kantornya. Nataap punggungnya yang menjauh, gue sedikit bingung sama pesonanya yang arogan. Pas dia belok, sosok tingginya hilang. Jam tangan gue bunyi, ngasih tahu jam, dan mata gue otomatis merem.
"Sial! Jam 8. Bye-bye, aturan kedua buat tepat waktu." gue bilang pasrah.
Buru-buru, gue nyari Tuan Scott. Setelah ngelewatin lorong panjang dan gak sengaja nabrak orang, akhirnya gue nyampe di kantor atasan gue. Ngos-ngosan, gue buka pintu dan masuk. Narik napas panjang, gue sadar kalau gue bahkan gak ngetok!
"Bye-bye, satu lagi aturan. Gue bakal dipecat sebelum mulai kerja. Bisa gak sih hari ini jadi lebih buruk lagi?" gue mikir.
Gue gak percaya udah bikin banyak banget kesalahan! Nengok gugup, gue siap-siap denger omelan lagi soal gak perhatian. Tapi, yang bikin kaget, cowok yang lagi nelpon cuma natap gue dengan serius. Ekspresinya gak berubah pas gue garuk kepala karena malu. Tuan Scott terus ngobrol di telepon, ngomong bahasa Inggris lancar, sesekali ngelirik gue. Wajahnya ganteng dan auranya menenangkan. Pikiran gue secara gak sadar ngebandingin dia sama presiden. Goyangin kepala, gue mental nyumpahin diri sendiri karena mikir yang aneh-aneh. Beberapa saat kemudian, dia akhirnya matiin telepon.
Benerin atasan gue sedikit, gue mulai percakapan.
"Saya minta maaf banget karena gak ngetok sebelum masuk, Tuan Scott." gue lanjutin sambil masang senyum cerah, "Heh… saya harap saya gak nyinggung Bapak. Saya…"
"Iris Young, kamu telat dua menit." dia motong dengan nada lembut.
Gue nelan ludah gugup pas gue lihat dia bangun dari kursi kantornya.
"Nona Young, kamu tahu kalau kami bikin aturan ketat buat karyawan di sini." dia lanjutin dengan suara serius. "Presiden kami sangat teliti soal lingkungan kerja kami dan nuntut semuanya harus sempurna. Kamu pasti udah denger kalau gak ada perempuan lain yang kerja di sini dan itu termasuk markas. Bapak Presiden gak suka ada di sekitar perempuan. Tapi, karena beberapa keadaan yang gak terduga, kami perlu nyewa sekretaris perempuan buat dia."
Dia berhenti dan natap gue dengan perhitungan.
"Tuan Cullen nyaranin saya buat nyewa kamu; tapi, kamu masih harus lolos evaluasi presiden. Latar belakang dan daftar prestasi kamu nunjukin kalau kamu perempuan muda yang cukup pintar dan mampu. Saya punya harapan tinggi sama kamu. Jangan bikin saya kecewa, Nona Young."
Kata-katanya yang blak-blakan bikin gue sadar betapa seriusnya posisi gue. Gue senyum balik, ngeyakinin dia kalau gue bakal kasih yang terbaik. Dia ngasih anggukan singkat dan nuntun gue ke arah "sarang naga"–maksudnya, kantor presiden!
Jalan di koridor, gue lihat beberapa cowok penasaran ngelirik gue. Bukannya mereka semua harusnya sibuk kerja? Gue nawarin senyum ramah ke mereka masing-masing, tapi mereka semua tetep gak bereaksi. Gue nyengir ke ekspresi kosong mereka dan terus ngikutin Tuan Scott. Gila, kenapa sih semua orang di sini serius banget!
Dia berhenti di pintu masuk kantor dan nyuruh gue buat diem di tempat sampai dia balik. Gue ngangguk patuh dan nunggu dipanggil.
...
[PERSPEKTIF XAVIER]
"Sial! Perempuan emang bikin repot!" gue ngumpat, nginjek-nginjek sepanjang jalan ke kantor gue pas gue mikirin cewek kecil bodoh itu.
Pas gue masuk lift tadi, gue lagi ada rapat penting sama komandan tertinggi. Lihat cewek kecil itu, gue anggap dia sekretaris yang disewa Scott buat gue. Tapi kenapa sih dia ada di lift gue? Jujur, gue emang dari awal gak setuju buat nyewa perempuan. Tapi, dengan menyakitkan dijelasin ke gue kalau gue butuh karyawan perempuan buat nemenin gue ke beberapa acara luar negeri, pesta korporat dan acara lain yang butuh pendamping. Scott udah nyewa beberapa selebriti buat nemenin gue beberapa kali, tapi mereka semua nyebelin banget! Gue bahkan ngambil langkah buat ngeblok cewek-cewek itu buat gak boleh nginjekin kaki di fasilitas gue lagi. Yang paling gue benci dari seluruh situasi sialan ini adalah cewek-cewek ini nyoba buat dapat hati gue dengan nawarin buat tidur sama gue. Candaan!
Setelah semua itu, gue ngehindar perempuan kayak ngehindar wabah. Tapi, beberapa bulan lalu Scott ngasih tahu gue kalau preferensi seksual gue dipertanyakan karena gue hampir tiga puluh dan gak punya cewek di samping gue. Gue punya firasat kalau ibu gue dalang dari rumor gak berdasar ini. Dia udah ngeganggu gue hampir setahun buat nikah atau, paling gak, cari pacar dan gue beneran belum ngerasa tertarik sama cewek manapun–sampai sekarang. Sejujurnya, gue bakal bilang cewek ini beda dari cewek lain yang pernah gue temui. Kepalanya hampir gak nyampe bahu gue, padahal dia pakai hak tinggi. Pas mata kita ketemu, rona merah yang muncul di pipinya nunjukin warna hijau di mata hazelnya. Dia kelihatan kayak bidadari dengan rambut bergelombang yang melewati bahunya, hidung mancung yang lucu dan bibir merah kecil. Sambil pakai gaun tanpa lengan hitam yang pas di tubuh kecilnya, dia masih punya fitur-fitur feminin. Buat gue, penampilannya nyegerin. Gue langsung tertarik sama mata hazel itu. Sambil menghela napas pasrah, gue merem dan nyandarin kepala ke kursi kulit.
Tiba-tiba, memori samar dari tawa ngehantam pikiran gue dan mata gue langsung kebuka pas gue denger Scott datang lewat pintu.
Gue cemberut pas dia ambil langkah berani ke ruangan, tapi dia berhenti tepat di depan meja gue. Profesionalisme Scott selalu sempurna dan gue nunggu buat denger apa yang mau dia katakan soal tambahan kecil baru kita.
"Bapak Presiden, sekretarisnya udah datang dan lagi nunggu persetujuan Anda. Saya percaya dia gak bakal ngecewain Anda." katanya dengan percaya diri.
Gue nyinyir dan tegakin diri di kursi.
"Ngecewain gue? Dia udah sukses ngecewain gue." gue bilang. "Kamu tahu dia naik lift gue buat ke sini pagi ini? Dia bahkan ngaku gak merhatiin tanda yang udah ditentukan. Kamu mikir orang kayak gitu bisa ngurus urusan gue? Dia harus ngurus masalah dari markas dan perusahaan gue. Apa kamu serius percaya cewek ini bisa ngurus semua itu, Scott?"
Wajahnya memerah karena malu dan kecewa. Gue ketawa dalam hati sama reaksinya denger kelakuan cewek itu tadi. Walaupun begitu, Scott gak buang-buang waktu buat masang ekspresi seriusnya lagi.
"Saya mohon maaf atas nama dia, Bapak Presiden." katanya sambil membungkuk.
"Wah, lihat deh?" gue mikir.
"Nona Young masih baru di sini dan gak tahu aturan dengan baik." dia lanjutin. "Saya akan bimbing dia dengan ketat dan bikin dia sempurna dalam semua aspek buat sukses jalanin tugasnya sebagai sekretaris Anda. Selain itu, kalau Anda tanya soal kualifikasi pendidikannya, saya jamin kemampuannya. Nona Young lulus dengan dua gelar berbeda, keduanya dari universitas terkenal. Ditambah lagi, dia juga udah selesai beberapa kursus pemrograman dan pengembangan game. Dia punya lisensi buat nyetir semua jenis mobil dan tahu lebih dari tujuh bahasa, karena dia udah tinggal di luar negeri. Belum lagi, dia ambisius dan serius sama pekerjaannya."
Dia berhenti dan senyum di wajah gue memudar denger daftar pencapaiannya.
"Kesimpulannya, saya rasa Anda harus kasih dia kesempatan setidaknya." dia memohon. "Anda akan dapat sekretaris yang berpengetahuan dan matikan rumor soal Anda di saat yang sama."
Frustasi, gue ngacak rambut gue.
"Oke… gue nyerah…" gue ngaku. "Biarkan dia masuk tapi kalau dia gak bisa buktiin setara sama standar gue, gue gak bakal nyewa dia."
Gue melambaikan tangan dengan acuh tak acuh dan Scott ngasih gue hormat terakhir dan keluar buat jemput "sekretaris" gue.
"Semua tahun ini kerja bareng beneran bikin dia jadi ahli dalam hal tahu gimana cara bujuk gue." gue mikir sambil muter bola mata.