Bab 49
DARI HATI APRIL.
"Mereka pasti khawatir setengah mati nyariin kamu. Kamu harus bener kali ini..."
"Gimana...gimana persisnya?" tanyaku.
"Dengan pulang. Kamu harus ketemu Orang Tua kamu, seluruh keluarga kamu. Kasih tahu mereka kalau kamu masih hidup dan baik-baik saja. Mendingan kamu senang karena pulang dan sadar kalau Ibu kamu dalam kondisi kritis atau kamu kehilangan anggota keluarga karena kamu menghilang? Mungkin salah satu anggota keluarga kamu kena tekanan darah tinggi dan kondisinya makin parah dan akhirnya, orang itu meninggal..."
"Amit-amit..." seruku.
"Iya, Tuhan nggak bakal izinin itu, tapi udah waktunya buat benerin semuanya, kamu harus tinggalkan masa lalu dan fokus buat merangkul yang baru. Kamu nggak bisa terus kayak gini April, kamu bukan yatim piatu, juga nggak tanpa keluarga..."
Aku menghela napas berat.
"Aku nggak yakin mereka kangen atau peduli sama aku. Mereka lebih baik tanpa aku dan aku juga ngerasa gitu..."
Semua memori itu kembali membanjiri. Aku berkedip beberapa kali buat nahan air mata biar nggak jatuh.
Aku bersyukur Phil tetap tinggal, dia baru aja mau buka pintu dan keluar setelah kita berantem kecil-kecilan, pas aku minta dia jangan pergi.
Dia mutusin buat tetap tinggal tanpa banyak merengek.
Kita duduk dan aku mulai ceritain kisahku lagi.
Sesedih apapun rasanya, aku siap ceritain semuanya ke dia, mungkin aja dia bakal ngerti aku dan kenapa aku ada di situasi di mana dia nemuin aku.
Kenapa aku harus tinggal bareng binatang berwujud manusia.
Louis, berubah dari manusia baik yang janjiin banyak cinta, kedamaian, dan keamanan, jadi monster.
Dia jadi monster yang melecehkan, nyuri dari aku, dan mau bikin aku budaknya.
Dia berubah jadi pemeras setelah tahu kalau Phil yang begitu tertarik sama aku itu kaya.
Karena takut, aku hampir aja bikin dia berhasil meras Phil.
Louis nggak cuma bakal dapetin mobil mahal dari Phil, tapi dia juga bakal jadi orang kaya kalau aku nurut sama dia.
Dia melecehkan aku secara s3ksual, emosional, bahkan nipu aku dan ngambil semua tabunganku.
Dia ngancam aku bahkan setelah semua ini dan aku kehilangan harga diri.
Aku ngerasa nggak punya nilai lagi.
Aku jadi bayangan diriku sendiri.
Aku nggak bisa pulang ke rumah buat ketemu orang-orangku dan nggak bisa kabur dari Louis.
Lewat Phil lah aku diselamatkan.
Setelah itu, perang antara Phil dan aku dimulai.
Aku udah cukup banyak ngalamin pahitnya hidup.
Dalam kondisi rentan, dalam kondisi tak berdaya, Phil datang dan kasih arti buat hidupku.
Dia menyiramku dengan cinta, hadiah, perhatian, dan ngasih harapan lagi.
Aku nggak bakal sengaja nyakitin malaikat kayak gitu.
Aku hancur, remuk, aku benci diri sendiri pas Phil tahu tentang Louis dan aku.
Aku masih bisa bertahan hidup karena aku cuma punya diri sendiri di kota besar ini dan pengen jadi versi diriku yang lebih baik.
Aku pengen balik ke orang-orangku sebagai orang yang lebih baik, bukan anak yang marah yang harus kabur dari rumah karena merasa nggak dicintai.
Hidup ngajarin aku pelajaran dan aku belajar dengan cara yang keras.
Itu ngerusak sayap kebanggaanku dan merendahkan aku.
Sekarang aku lebih bijak, lebih baik dari kemarin, lebih bergantung, pekerja keras, dan lebih penyayang dan pemaaf.
Aku bersyukur perang antara Phil dan aku akhirnya selesai hari ini, perang selesai setelah berbulan-bulan masalah tanpa akhir, penyesalan, rasa bersalah, sakit hati, kehancuran emosional, ketakutan, cemburu, dan luka.
Phil kembali dan kali ini dia siap buat tetap di sisiku sebagai teman sejati.
Aku sangat menginginkan persahabatan dengan Phil, bahkan kalau kita nggak bakal jadi pacar.
Aku cuma pengen kita dekat.
Awalnya kayaknya nggak bakal terjadi, tapi akhirnya terjadi dan aku nggak bisa sembunyiin kegembiraanku.
Dia adalah pria yang Tuhan kirim ke hidupku buat menyelamatkan aku dari kurungan yang Louis bikin buatku.
Rasanya enak banget akhirnya bebas dari Louis, tapi itu menyakitkan hati karena tahu kalau pria yang secara nggak langsung menyelamatkan aku nggak mau apa-apa sama aku.
Aku dibebaskan sekali lagi dan akan lakuin apa aja buat menghargai setiap momen sama Phil.
Aku berdoa persahabatan kita bertahan dan menghasilkan lebih banyak kepercayaan, pengertian, dan cinta di antara kita.
Aku nggak mau kehilangan Phil lagi, tapi hidup udah ngajarin aku kalau apa aja bisa terjadi secara nggak terduga.
Aku nggak tahu apa dia udah sepenuhnya maafin aku dari hatinya.
Aku nggak mau masa lalu nahan atau misahin kita.
Aku nggak mau masa laluku datang di antara kita lagi.
Aku juga nggak mau diingetin tentang itu.
Aku harap Phil merasa lebih baik sama aku seiring berjalannya waktu, biar persahabatan kita bisa berkembang.
"Aku yakin mereka kangen sama kamu dan bakal ngasih apa aja buat bikin kamu balik..." katanya, ngembaliin pikiranku ke saat ini.
Sebenarnya, aku kangen banget rumah. Aku kangen Ibu dan Ayahku.
Aku kangen Saudara Kandung dan Adikku.
Udah bertahun-tahun, kadang aku bayangin apa yang mereka lakuin tanpa aku dan berharap aku bareng mereka
Aku berharap aku nggak pernah ninggalin rumah.
Tapi aku nggak tahan lagi sama keberpihakan itu, aku nggak tahan sama kartu favorit yang mereka mainin di sekelilingku.
Aku udah cukup dan mutusin udah waktunya buat kabur.
Pas lari, aku malah masuk ke tangan yang salah.
Tapi ceritaku pelan-pelan ngambil bentuk baru dan aku suka banget.
"Kamu pikir gitu?" tanyaku.
"Tentu, aku tahu gitu. Dari semua yang aku kumpulin, mereka nggak ngelakuin apa pun yang mereka lakuin ke kamu dengan sengaja. Aku yakin mereka bahkan nggak sadar kalau kamu ngerasa nggak dicintai atau ditinggalin. Mereka ngelihatnya sebagai cara buat nge-training kamu, tapi aku setuju, itu bukan cara terbaik. Kamu punya hak buat marah, tapi kabur itu salah.
Louis bisa aja nyakitin kamu atau bahkan bunuh kamu dan nggak ada yang tahu apa yang terjadi sama kamu. Ngeri kan?"
Aku ngangguk.
Memang ngeri kalau aku mikirin itu.
Dia melanjutkan,
"...Gimana? Kamu mau jenguk rumah atau kamu masih belum siap buat itu. Aku nggak mau maksa ide itu ke kamu, itu keputusanmu, aku pengen kamu mutusin kalau itu yang bener-bener kamu mau atau kamu mau mikirinnya dulu..."
Aku narik napas panjang. Semuanya terdengar lebih berat dari yang bisa Phil bayangin.
"Biar aku pikirin, minimal seminggu..." akhirnya aku bilang.
"Nggak masalah April. Ambil semua waktu yang kamu butuhin oke? Kapan pun kamu siap, kasih tahu aku. Dan soal sekolahmu..."
Dia berhenti.
Aku pakai momen hening itu buat kasih tahu dia kalau aku sebenarnya lagi nyari penerimaan dan belum sepenuhnya sekolah.
", Oh kamu bohong..?" katanya sambil naikin alisnya.
Aku nggak bisa ngambil apa pun dari ekspresinya. Aku tiba-tiba takut dia bakal marah ke aku karena kebohongan itu.
"Yah, iya. Aku nggak mau kelihatan kayak pecundang, kayak aku belum bisa meraih banyak hal dalam hidup. Bilang aku sekolah bikin aku ngerasa kayak aku setidaknya menuju ke suatu tempat dalam hidup. Tujuan besar yang perlu aku capai sendiri..."
Aku tersentak dan melanjutkan "...Maaf udah bohong. Aku nggak mau kamu marah lagi ke aku. Aku janji nggak bakal bohong lagi ke kamu..."
Dia tertawa kecil.
", Aku nggak marah sama kamu April. Mulai sekarang, bisakah kita coba buat transparan satu sama lain? Kamu tahu banget aku benci kebohongan. Sesakit apa pun, tolong tetap kasih tahu aku yang sebenarnya. Nggak ada yang bisa goyangin atau kagetin aku lagi kalau soal kamu. Aku bener-bener pengen kita mulai dari halaman yang bersih, mari kita tinggalkan yang lama dan merangkul yang baru ke depannya. Oke?"
"Tentu... Aku setuju..." kataku.
"Kayak yang aku bilang, soal sekolahmu? Semoga kamu nggak keberatan buat masuk sekolah biasa... penuh waktu, bukan paruh waktu? Kerja dan belajar itu bukan hal yang mudah. Aku mau kamu belajar apa pun yang kamu mau dan fokus cuma sama studi kamu. Aku bakal urus semua pengeluaran... tapi cuma kalau kamu setuju..."
Aku ngangguk kegirangan, aku berterima kasih lagi.
Dia minta aku buat nemenin dia ke mobilnya, dia juga bakal nganterin aku ke mana pun aku mau pergi awalnya.
Aku ngunci pintu dan kita pergi.
Ini memang babak baru dalam hidupku.
Aku tahu halaman baru ini bakal super menarik.