Prolog
Gunung, Ibu Kota Shire dari Lingkup Penguasa Phelia.
Duapuluh tahun lalu
Ruangan itu gede. Kebanyakan cuma tembok doang, beda sama jendela raksasa. Satu tembok penuh kaca yang ngadep ke lembah di bawah dan danau yang berkilauan biru kena sinar matahari pagi. Danau biru, mereka nyebutnya. Itu danau yang terbentuk dari lava yang kuat banget, udah nahan bertahun-tahun cuaca buruk dan banjir, bahkan pas salju glasial mencair dan turun dari pegunungan putih jauh di pedalaman Crinia. Lewat Lemala sebelum akhirnya nyampe Shire Ibu Kota Phelia, Lingkup Penguasa di dunia ini.
Terusan Agung, mereka nyebutnya. Jalan keluar. Jalan keluar dari danau lava biru jernih yang digali sama manusia buat ngurangin kelebihan air danau, jadi lembah gak kebanjiran lagi. Itu jalan air yang nyambungin orang-orang di ibu kota ke laut Harua, ke Halelia, dan ke lingkup-lingkup di luar. Gunung ini, batu tempat ruangan ini diukir, adalah pusat kekuasaan dunia.
Sekarang, perahu bisa diliat. Kapal uap, cuma uapnya bukan yang ngegerakin mereka. Kalo iya, berarti mereka pake kayu dan nebang pohon-pohon yang mati-matian ngejaga keseimbangan dunia. Itu namanya degradasi. Kematian perlahan buat dunia ini, mirip kayak dunia yang dulu mereka tinggalin, tapi mereka udah belajar dari pengalaman. Sekarang mereka lebih pinter dan lebih siap buat ngelawan kegelapan yang dulu udah ngehancurin mereka, atau setidaknya itu yang dia harapin sekarang.
Penemuan dimensi keempat adalah penyelamat mereka. Waktu mereka keliling dalam kegelapan, orang-orang yang tersesat dan tanpa harapan, atau setidaknya itulah yang pengetahuan yang dia dapetin selama bertahun-tahun ini kasih tau, akhirnya mereka nemuin cahaya. Mereka itu adalah Leluhur mereka. Leluhur Phelia yang nemuin tempat ini dan dengan itu, cara hidup yang lebih baik dengan kekuatan dan harapan buat mereka yang dulu udah putus asa.
Keputusasaan adalah hal yang dia harapin gak bakal terjadi lagi.
Sekarang, balik lagi ke pikiran ke ruangan, Birit yang kesel ngeliat ke bawah. Di ruangan inilah semua itu terjadi. Sebelas tahun lalu dia nerima anak asuhnya. Seorang Pangeran yang ganteng banget dengan mata biru yang bikin kaget dan rambut keriting biru yang sama. Kulitnya, warna kulitnya, beda banget. Tapi, itu bikin dia satu sama orang-orang yang nantinya bakal dia layanin.
Dengan pikiran terakhir itu, Birit ngeluarin napas berat dan capek, terus balik lagi ke jalan dia dateng. Cuma kali ini dia gak balik ke kamarnya. Malah, dia belok kanan dan masuk ke ruang belajar Pangeran muda. Panelnya kebuka. Jadi, gak perlu diaktifin. Tapi, dia tau kalo anak asuhnya gak ceroboh. Selalu ada pengaman. Penghalang yang ngejaga orang lain gak bisa masuk, kecuali orang yang dia setujuin.
Pas dia berhenti di depan meja kerajaan, orang tua itu menghela napas. Hal yang sering banget dia lakuin akhir-akhir ini, sejak Pertemuan mutusin masalah itu dan ninggalin dia dengan tanggung jawab berat buat nyiapin anak asuhnya buat upacara. Kayak dia gak lagi kesusahan aja, orang tua itu geleng-geleng kepala dan rambut putihnya juga. Tapi, dia tau gak ada jalan lain. Gak ada pilihan. Pilihannya cuma itu, atau mereka semua bakal berakhir di tempat mereka mulai. Hancur karena dunia yang udah nyelametin mereka.