BAB Sepuluh
JUDUL: Kita Bertemu Lagi
Sudut Pandang Penulis
Dia berdiri, dan menoleh ke arah suara itu berasal, tapi kaget banget pas lihat siapa yang nyambut dia. Mata abu-abu itu, nggak bakal bisa dia lupain. Hidung mancung itu, yang tangannya gatel pengen nyolek. Bibir sensual itu, yang bikin penasaran. Itu dia, Tuan Tampannya, cowok aneh itu.
Perlahan, amarahnya mulai mereda, bara di matanya perlahan memudar, matanya kembali biru pucat seperti biasanya. Sebenernya dia pengen lari, tapi nggak bisa. Rasa penasarannya, pengen tau siapa dia, yang menang. Dia berbalik menghadap cowok itu sepenuhnya, tetep jaga jarak biar bisa kabur kalau ada apa-apa.
"Kita ketemu lagi." Dia tersenyum ke arahnya, ngedipin bulu matanya yang panjang. Senyum manis dan indah banget, keukir di wajahnya, lesung pipinya terbentuk di kedua pipinya, dia nggak bisa nahan diri buat nggak ngiler ngelihat dewa yang berdiri di depannya. Dia mikir, apa ada orang yang bisa seganteng dan sesempurna cowok ini. Entah kenapa, dia berharap dan berdoa semoga dia itu jodohnya. Dia udah baca banyak buku serigala, di mana Serigala Betina ketemu jodohnya di hutan, dia nggak bisa nggak berdoa semoga ceritanya sama.
"Hai... hai!" Dia gagap, berusaha banget nggak nunjukin kegugupannya, tapi tetep aja kelihatan.
"Hai!" kata Tuan Tampan itu, merhatiin cewek yang berdiri di depannya.
Suasana hening canggung menyelimuti, satu-satunya suara yang terdengar, adalah suara burung berkicau dan suara angin yang bertiup di pepohonan. Oktavia ngerasain jantungnya berdebar, karena takut sekaligus penasaran. Dia takut kalau dia itu musuh mereka, dan penasaran pengen tau identitasnya.
"Kamu siapa?" Dia ngumpulin keberanian buat nanya ke cowok itu, setelah lama diem, sambil berdoa dalam hati, berharap jawabannya positif. Dia tau ini bisa jadi akhir hidupnya kalau dia ternyata musuh mereka, dia nyalahin diri sendiri karena nggak dengerin Ibu, waktu Ibu manggil dia. Dia natap dewa di depannya, nunggu hal terburuk terjadi.
"Nama gue Kai." Akhirnya Tuan Tampan itu jawab, tapi itu nggak bikin rasa penasaran dan takutnya ilang, dia pengen tau lebih banyak tentang Pangeran Tampannya.
"Kalo gitu, nama kamu siapa?" Cowok itu balik nanya, natap dalem mata biru pucatnya, seolah-olah jawabannya udah tertulis di wajahnya, atau mungkin dia pengen ngeliat ke dalam jiwanya.
Dia nelen ludah, mikirin mau ngasih tau namanya atau nggak. Berbagai pikiran muncul di benaknya, sambil natap cowok itu. Gimana kalau dia ngasih tau namanya, dan dia lapor ke Alfa? Apa orang tuanya nggak bakal kena masalah?
"Oktavia." Akhirnya dia bilang ke cowok yang udah nggak sabar itu, yang kayaknya udah nunggu lama banget.
Cowok itu ngernyitkan alisnya, dan natap dewi cantik itu beberapa saat, dengan ekspresi kosong di wajahnya, yang cuma bertahan beberapa detik, sebelum berubah jadi senyum curiga, yang bikin Oktavia nggak nyaman banget.
"Gimana kalau kita jalan-jalan keliling hutan? Seru, percaya deh." Dia ngasih senyum tulus, tapi cewek itu takut ngikutin orang asing, yang ngajak dia jalan-jalan bareng. Gimana kalau dia diculik? Gimana kalau dia dibawa pergi, dan dia nggak bisa ketemu orang tuanya lagi.
"Berenti mikir yang macem-macem, gue bukan penjahat." Dia memotong lamunannya, memutar bola matanya. Wah, dia kelihatan imut banget, bikin muka kayak gitu.
"Aku harus pulang." kata Oktavia, dan tanpa nungguin dia ngomong, dia berbalik dan mulai pergi ke satu arah, yang dia nggak yakin bakal bawa dia ke tujuannya, yang dia butuhin saat itu cuma menjauh dari orang asing, yang berusaha deket sama dia.
Jalan di hutan, tanpa nengok ke cowok itu, yang terus-terusan ada di pikirannya, dan bikin dia pusing, tiba-tiba dia berhenti mendadak, karena ngerasa kakinya kayak dipaku ke tanah. Dia berusaha gerak dari tempat itu, tapi kayak nggak mungkin, ada kekuatan nggak dikenal yang nahan dia. Jantungnya berdebar, dia nelen ludah, berusaha mikir ada apa. Sebenernya dia tau mungkin ini ulah orang asing itu, dia nggak mau percaya kalau cowok itu bakal ngelakuin hal kayak gitu, dia buang pikiran itu, dan yakin itu nggak mungkin.
Masih berjuang buat bebas dari kekuatan nggak dikenal, yang nahan dia, dia membeku di tempat, pas seseorang teleport ke depannya. Matanya ngarah ke sepatu, yang dipake orang misterius itu, dan kayaknya familiar. Ngangkat kepalanya buat mastiin rasa penasarannya, desahan kaget keluar dari bibirnya, matanya melebar kaget. Dia nggak nyangka Pangeran Tampannya sendiri, punya kemampuan buat teleport.
Nelen ludah, tubuhnya gemetar ketakutan, dia nunggu hal terburuk terjadi, mungkin dia musuhnya, mungkin dia cuma punya kemampuan buat ngerayu mangsanya. Ya Tuhan! Apa ini akhir hidupnya? Apa ini cara dia bakal dipisahin dari orang tuanya yang penyayang? Gimana bisa dia sekeras kepala ini? Walaupun dia mau bunuh dia, bisakah dia ngebolehin dia ketemu orang tuanya, sekali aja? Air mata ngalir dari matanya, sambil natap takdirnya yang berdiri di depannya. Fakta bahwa orang asing itu, yang tadi senyum ramah, sekarang masang muka datar, bikin dia bergetar.