Bab 39: TIGA BELAS
"Tunggu, apa?" seru Kira dengan alis terangkat panik.
"Maksudnya apa sih kawanan kita diserang? Sama siapa? Sejak kapan?" tanyanya, kelihatan bingung.
"Tiba-tiba aja mulai kemarin pas laporan masuk, banyak banget laporan kematian, tapi nggak ada yang lihat apa-apa atau tahu gimana awalnya," jawab Laila, mukanya kelihatan frustrasi.
"Seriusan, tante? Sialan! Gimana bisa terjadi? Korban kita berapa banyak?" tanya Kira, udah siap-siap balik ke kawanan.
"Tadi malam, Landon datang bawa dua mayat. Keduanya ada bekas gigitan aneh gitu, terus yang lebih parahnya lagi, tubuh mereka kering dan pucat kayak udah meninggal lama banget," jelas Laura ke dia.
Kira langsung kaku pas denger deskripsi tantenya, rasa takut langsung nyerbu dia sebentar.
"Makhluk terkutuk matahari," gumamnya tanpa sadar, pikiran macam-macam berputar di kepalanya.
Dia emang udah nyangka mereka bakal nyerang kawanan, tapi nggak nyangka secepat ini.
"Sialan, kalau mereka udah di sana, berarti nggak lama lagi mereka bakal ada di mana-mana," gumamnya khawatir sambil siapin beberapa barang.
"Bener banget, Kira, tapi emang gitu ya kemampuan makhluk terkutuk matahari? Maksudnya, gigitan mereka seberbahaya dan secepet itu ya?" tanya Laila, kelihatan bingung nyoba mikir kenapa gigitan mereka cuma bikin mati.
"Itu misteri yang belum bisa aku pecahin, tapi aku tahu bakal segera tahu," kata dia sambil keluar dari kamarnya, Laila ngikutin dari belakang.
"Mau ke mana, Kira? Bukan lewat sini jalannya," kata Laila pas Kira belok nggak kayak biasanya.
"Aku harus bilang ke Damien kalau aku mau pergi. Nggak enak kalau nggak ngasih tahu," jawab dia ke tantenya.
"Oh, iya bener, sayang. Cepat sana, aku tunggu di sini ya," kata Laila, terus Kira ngangguk sebelum pergi ke kamarnya Damien.
Setelah bilang ke Damien kalau dia mau ke kawanan, Damien pamitan, terus dia langsung pergi sama tantenya.
Kira balik ke kawanan, ngeliat mayat beberapa orang yang udah gede bareng dia, sama beberapa penjaga yang udah kerja sama Ayah Kira. Walaupun tantenya udah wanti-wanti buat siap-siap sedih karena banyak mayat, nggak ada yang bisa bener-bener siap buat ngeliat banyaknya orang yang meninggal.
Hatinya hancur ngeliat tubuh mereka yang pucat, sakit banget dia nggak ada di sana buat lindungin orang-orangnya. Matanya udah berkaca-kaca ngeliatin mereka, dia cuma bisa berharap setidaknya dia tahu muka bajingan di balik semua ini.
Dia kesel karena nggak pernah ketemu sama mereka, terus semua orang yang pernah ketemu mereka mati, dan satu-satunya yang berhasil selamat malah dibunuh belakangan.
Dia tahu kematian Rogan bukan karena gigitan yang dia dapat, tapi karena makhluk-makhluk ini punya keberanian buat nyusup ke mana aja mereka mau dan melakukan pembunuhan ini tanpa ketahuan.
Dia nggak bahas soal itu karena nggak curiga sama siapa pun dan nggak punya bukti kecurigaannya.
"Selamat datang kembali, Alfa Kira," sapa Eliot begitu dia masuk ruang rapat.
Semua orang udah ngumpul nungguin dia dateng. Beda sama kawanan Silvermoon yang baru tahu soal makhluk terkutuk matahari, kawanan Red Moon udah tahu sedikit yang Kira kasih tahu, dan mereka sebenernya udah nyangka. Cuma masalahnya, mereka nggak nyangka bakal secepat ini, dan mereka juga nggak nyangka bakal sesulit ini buat dideteksi, apalagi dilawan.
Kira ngerasa makhluk terkutuk matahari takut buat berhadapan langsung sama mereka, jadi mereka milih buat nyergap kayak pengecut.
"Siapin diri kalian buat pertempuran paling berbahaya dalam hidup kalian,"
Itu kata-kata pertama yang keluar dari mulut Kira begitu dia duduk di kursinya.
"Sejauh yang kita tahu, makhluk-makhluk ini nggak suka kontak langsung sama matahari, dan mereka lebih sering nyerang pas malam hari. Artinya, pas kita udah nemuin tempat persembunyian mereka, kita bakal nyerang pas siang hari, pas kita kira mereka paling lemah," jelas Kira ke mereka.
"Kalau nggak keberatan, Alfa Kira, gimana caranya kita nyerang makhluk-makhluk yang kelemahannya aja kita nggak tahu? Kita cuma bikin asumsi aja sekarang," kata Sebastian, nunjukin kelemahan yang jelas di rencana Kira.
Kira narik napas panjang sambil ngeratin pegangan kursinya.
"Sebenernya, aku nggak tahu gimana caranya kita bakal melawan mereka, karena pada akhirnya, kita kayak lagi lawan hantu, tapi kalau ada satu hal yang aku yakin banget, kita punya Dewi Bulan di pihak kita sepenuhnya, dan dia kerja sama kita," katanya, berharap itu cukup meyakinkan, meskipun dia nggak yakin kalau cuma keyakinan yang mereka butuhin saat ini.
Sebastian ketawa sinis.
"Punya Dewi Bulan kerja sama kita nggak ngejamin kita menang, Alfa Kira. Kita nggak tahu, bisa aja makhluk-makhluk ini super mematikan, dan kita nggak bisa gitu aja siap-siap perang terus langsung terjun ke dalamnya pas kita bahkan nggak tahu apa yang kita lawan atau seberapa hebat mereka. Kamu bener-bener minta kita buat bunuh diri sekarang," katanya, nggak nahan diri.
Kata-kata Sebastian bikin dia sakit hati. Dia bener soal situasi ini. Nggak masuk akal kalau mereka tiba-tiba ngeluarin perang lawan sesuatu yang bahkan mereka nggak tahu banyak, dan dari yang kelihatan, makhluk-makhluk ini tahu lebih banyak soal mereka daripada mereka tahu soal makhluk-makhluk itu.
Kira diem beberapa menit mikir apa yang harus dilakuin soal situasi ini. Kalau mereka cuma diem aja nunggu waktu yang tepat, beberapa anggota bakal mati, tapi bahkan kalau mereka mutusin buat sesuatu, beberapa orang juga bakal ngorbanin nyawa, pikirnya.
"Kalau kita diem aja, orang-orang bakal mati, dan kalau kita nggak diem, terus kita nyoba buat melawan, banyak dari kita yang bakal mati karena kita bahkan nggak tahu apa yang kita lawan, tapi siapa tahu, kalau kita beruntung dan mikir matang sama rencana kita, kita bisa nemuin gimana bentuk makhluk-makhluk ini, dan kalau itu terjadi, kita bisa nangkep mereka hidup-hidup dan ngeinterogasi mereka biar kita setidaknya bisa lebih ngerti apa yang kita hadepin. Pada akhirnya, kita nggak bisa ngejamin keselamatan orang-orang apa pun keputusan yang kita ambil, tapi aku yakin banget lebih baik ambil tindakan dan nunjukin mereka kalau kita lebih dari siap buat melawan daripada cuma diem nungguin keberuntungan," akhirnya dia angkat bicara setelah beberapa menit diem.
Orang-orang di ruangan saling tukar pandang.
"Kira bener, kalian," Luka, suami tantenya, nyela.
"Kita udah lihat apa yang bisa mereka lakuin, tapi kita masih nggak tahu seberapa kuat mereka, dan kalau kita nggak nyoba buat cari tahu segera, mungkin kita nggak bakal pernah tahu. Masalahnya..." dia menggantungkan kalimatnya.
"Makhluk-makhluk ini, kita udah tetapkan mereka berbahaya dan taktis, dan kita tahu tujuan mereka buat ngehancurin kita sepenuhnya. Bayangin kita mutusin buat nunggu kesempatan dengan mengorbankan nyawa orang yang nggak bersalah?" katanya, nyoba bikin mereka mikir.
"Kalau kita semua diem aja, terus terus ngeliatin, nggak bakal lama sebelum sebagian besar dari kita habis, sampai cuma beberapa orang yang masih hidup. Makhluk-makhluk ini bener-bener minta perang dengan nyerang kita, kalian, dan kita harus nunjukin mereka kalau kita nggak sekelemah yang mereka kira. Kalau mereka bener-bener mikir kita lemah dan nggak berdaya, mereka nggak bakal ngumpet di antara kita buat ngebunuh kita kayak pengecut. Malah, mereka bakal nunjukin muka mereka dan hadapin kita dengan benar," timpal Laila.
"Jadi, apa yang kamu saranin, Lady Laila? Cuma melawan? Oke, kalau gitu, gimana caranya? Gimana kamu saranin kita melawan?" tanya Sebastian, beneran penasaran pengen tahu apa yang mereka pikirin.
"Awalnya aku mikir nyerang pas siang hari bakal jadi yang terbaik, tapi sekarang aku mikir, itu bukan rencana yang bener-bener aman. Malah, kita bakal nyerang pas malam, karena itu waktu mereka paling aktif. Kita bakal keluar dan mancing mereka buat datang ke kita. Begitu mereka datang, kita bakal nyerang mereka dan nangkep mereka karena kita butuh informasi dari mereka. Kita bakal pergi ke tempat mayat-mayat ditemukan dan bersikap kayak kita nggak tahu apa-apa dan kayak kita cuma lagi ngelakuin tugas kita sebagai penjaga," jelas Kira ke mereka.
"Maaf kalau pesimis, tapi kalau ada rencana A, harus ada rencana B. Jadi, gimana kalau rencana kamu ini gagal?" tanya Sebastian.
Kira ngeratin pegangan kursinya lagi, terus narik napas dalam-dalam buat ngontrol diri. Sebastian emang selalu nggak setuju sama dia, dan selalu ada aja yang mau dikomentarin dari apa pun yang dia bilang, dan kenyataan dia ngelakuin itu lagi bener-bener bikin dia kesel.
Dia, tentu aja, udah mikirin kemungkinan mereka nggak bisa berhasil sama rencana mereka, tapi dia juga udah ngitung, dan dalam pikirannya, kemungkinan mereka gagal, kalau mereka ngejalanin rencana mereka dengan benar, kurang dari tiga puluh persen. Punya rencana A buat dia adalah pilihan yang jauh lebih baik daripada nggak punya rencana sama sekali.
"Kamu bikin kedengarannya gampang banget buat dijalanin," tambah Sebastian.
Kira nelen ludah, terus ngontrol kemarahannya dan ngeluarin desahan frustrasi.
"Nggak ada yang gampang, Sebastian, dan ini emang nggak seharusnya gampang buat kita. Bajingan-bajingan ini udah mempelajari kita, dan mereka tahu terlalu banyak, dan kemungkinan kita bahkan punya mata-mata di antara kita yang ngasih mereka semua informasi yang mereka punya," desis Kira nggak sabar.
"Mata-mata? Maksudnya beneran ada mata-mata di sini di antara kita? Kenapa kamu baru nyebutin ini?" tanya suami Laila dengan alis terangkat tanda tanya.
"Aku nggak bisa mastiin itu, tapi kita harus cari tahu. Malam ini kita bakal ngejalanin rencana kita, dan aku bakal keluar sebagai umpan, jadi nggak usah khawatir soal orang lain yang harus ambil risiko," jawab Kira dengan tenang.
"Kamu nggak boleh pake diri sendiri sebagai umpan. Kamu Alfa kita, dan terlalu berbahaya kalau kamu ambil risiko," sela Sebastian.
"Bener banget, Sebastian, aku Alfa dari kawanan ini, makanya aku harus ngejalanin tugas ini sendiri. Aku nggak bisa nyebut diri aku pemimpin sejati kalau aku mempertaruhkan nyawa orang-orangku buat lindungin nyawaku," katanya buat belain diri.
"Tetep aja..." Kira motong Sebastian.
"Nggak ada omongan lagi dari kamu, Sebastian. Aku udah mutusin. Kayaknya semua orang takut ketemu monster-monster ini, jadi aku yang bakal ngelakuin apa yang perlu. Ini tanggung jawabku, dan aku bisa mastiin aku nggak ada rencana buat mati dalam waktu dekat. Begitu matahari terbenam dan bulan terbit, kita bakal pergi ke hutan tempat sebagian besar mayat ditemukan," kata Kira ke mereka.
Dia bangun dari kursinya. "Tante, aku butuh bantuanmu buat ini," bisiknya ke tantenya, matanya menusuk matanya.
Laura naruh tangannya di bahu Kira. "Kamu nggak perlu bilang, sayang, aku pasti ada buat kamu," Laila ngeyakinin dia sambil ngeremes bahunya dengan ringan.
"Makasih, tante," kata Kira, senyum muncul di wajahnya.
"Karena kita udah sampe di keputusan akhir, rapat ini resmi selesai. Kita bakal berangkat malam ini dan berhasil, apa pun yang terjadi," pengumuman Kira.