Bab 9
GINA
Dia sekarang lagi nonton serial televisi bareng Mama dan Janice yang kecanduan acara kayak gitu. Mereka fokus banget sama yang mereka tonton, jadi dia ikut nonton sampai selesai. Mereka bertiga punya banyak banget yang mau diobrolin karena pengakuannya yang bikin kaget tadi.
FLASHBACK
Waktu dia balik ke rumah mereka, dia nemuin Janice dan Mama nangis sambil nonton serial televisi. Dia nyelesaiin momen antara mereka berdua sebelum dia masuk ke dalam. Pas Mama sadar ada dia, Mama langsung nyambut dia dengan pelukan.
"Gina, apa kabarmu? Mama sama Janice kangen banget sama kamu," kata Mama sambil nyambut dia.
"Sis," kata Janice yang tiba-tiba berdiri.
Tapi pas dia ngelihat Janice, matanya langsung membesar.
"Apa maksudnya ini, Janice?"
"Sis, maafin aku ya," kata Janice sambil sesenggukan.
"Ma, kenapa sih disembunyiin dari aku?"
"Gina, kita nggak ada rencana buat nyembunyiin kondisi kakakmu dari kamu, kita cuma nunggu kamu datang biar bisa ngomong langsung sama kamu. Makanya kita biarin kamu pulang pas hari Valentine," jelas Mama.
"Tapi kamu tetep nggak boleh nyembunyiinnya dari aku. Udah berapa bulan kamu hamil, Jan? Dan siapa yang ngamiliin kamu?"
"Enam bulan, dan Payton bapaknya anak ini." kata Janice sambil nangis.
"Kan kamu sama Payton udah putus? Gimana kuliahmu, Jan?"
"Aku sama Payton balikan, dan karena sekolahnya juga udah mau selesai, aku lanjutin aja semester ini. Payton juga janji mau nikahin aku dan aku bakal balik kuliah lagi setelah aku lahiran."
Dia menghela napas dan lanjut ngomong.
"Dan kamu percaya sama dia, Jan?"
"Iya sis," dia masih nggak berhenti nangis jadi Mama cuma meluk dia.
Dia kasihan sama Janice dan juga khawatir karena anaknya bisa aja kena imbasnya. Dulu mereka nangis gara-gara serial drama televisi yang mereka tonton, tapi sekarang ini kenyataan.
"Oke udah ya Jan, berhenti nangis. Aku cuma kaget...kita udah nggak bisa ngapa-ngapain lagi soal itu. Ingat aja, Mama sama aku sayang banget sama kamu dan kita di sini buat kamu." Mereka bertiga berpelukan erat.
"Makasih udah ngertiin kakakmu, Gina," kata Mama.
"Makasih banyak sis, dan maaf juga ya karena aku duluan." Janice ngejek dia.
Mereka bertiga cuma ketawa sama kata-katanya Janice dan dia tiba-tiba inget alasan dia ke rumah mereka.
"Ma, Jan, aku juga mau ngomong sesuatu sama kalian."
"Apaan tuh?" tanya Mama.
"Aku mau nikah."
Di saat yang sama, rahang Janice dan Mama langsung jatuh.
Waktu mereka udah nggak kaget, Mama langsung nanya.
"Beneran, Gina?" Mama tergagap.
Dia ngangguk. "Iya, Ma."
Dia ngelihat Mama hampir nangis tapi Janice langsung megang pundaknya dan ngusap punggungnya. Kayaknya dia mau narik lagi yang udah dia omongin pas air mata Mama mulai jatuh.
Dia mendekat dan meluk Mama buat nenangin. "Maafin aku ya, Ma. Aku nggak tau kalau Mama nggak suka--"
"Kenapa kamu impulsif banget sih? Pertama, Janice bilang dia hamil dan kedua, kamu yang bilang mau nikah."
"Kamu juga hamil ya, Gina? Jadi tiba-tiba kamu mau nikah?" tanya Mama sambil nangis.
"Nggak."
"Jangan nikah buru-buru ya. Cepat atau lambat kakakmu ini juga bakal nikah. Jadi kamu mau ninggalin Mama juga?"
Rasanya kayak dadanya sesak sama yang dibilang Mama karena dia tau gimana rasanya. Ngeri banget kalau sendirian. Dia bahkan inget waktu Mama nangis pas Ayahnya meninggal. Mereka nenangin Mama karena tangisannya yang nggak berhenti dan janji nggak bakal ninggalin Mama.
"Ma, aku masih di sini kok." Janice nyela obrolan dan ngusap punggung Mama. "Ma, biarin Gina nikah. Mama nggak seneng ya dia akhirnya punya kehidupan cinta?"
Dia melototin Janice karena dia malah kesel.
"Kamu mau nikah sama siapa, Gina?"
"Eis Durant," jawab dia.
Mata Janice langsung membesar waktu denger itu. Soalnya dia tau banget seberapa suka dia sama Eis.
"Eis yang mau kamu nikahin, sis?"
"Nggak ada yang lain, Janice."
"Eis, itu kan yang selalu kamu ceritain sama aku, Janice, rekan kerja kakakmu yang ganteng itu?"
"Jan, kamu ngomong apa sih sama Mama?"
Janice cuma ngasih tanda damai sama dia. Janice sama Gina deket banget, jadi dia juga cerita soal Eis dan gimana perasaannya sama cowok itu. Yang nggak dia sangka adalah Janice juga bakal cerita ke Mama.
"Makanya Gina, aku bilang ke Janice buat biarin cowok yang kamu gilai itu datang ke sini pas Valentine, biar aku bisa ketemu dia. Payton juga datang ke sini."
"Beneran, Ma?"
"Kamu beneran cinta sama cowok itu ya?"
Dia ngangguk dan pelan-pelan ngelihat Mama senyum.
"Mama seneng buat kalian berdua, bahkan kalau Mama ngelarang kalian nikah, Mama bakal jadi Mama yang pelit kalau Mama ngehalangin kebahagiaan kalian."
"Makasih, Ma." Kakak-beradik itu nyanyi bareng dan meluk Mama di waktu yang sama.
AKHIR FLASHBACK
"Ayo dong Jan, cerita apa yang ada di pikiranmu."
"Gimana sih kamu nyembunyiinnya dari kita, sis? Kita bahkan nggak tau kamu punya pacar, kita bahkan nggak denger kamu sama Eis pacaran terus sekarang kamu bilang mau nikah."
"Soalnya semuanya terjadi cepet banget, Jan."
"Tapi nikah dalam satu bulan? Kenapa kamu buru-buru banget sih, sis? Apa kamu bisa nyiapinnya dalam satu bulan?"
"Andai aja aku bisa kayak gitu, Jan."
"Ceritain yang sebenarnya sis, apa kamu hamil?"
Kakaknya nanya penasaran.
Dia cuma ketawa sama kecurigaan kakaknya.
"Oke, aku anggap senyummu ini NGGAK. Jadi kenapa nggak nyewa wedding organizer aja? Kamu nggak bisa ngerjain semuanya. Kamu harus mikirin banyak hal lagi."
"Oke deh..oke deh." Dia setuju sama saran kakaknya. "Nggak ada yang perlu dipersiapkan kok Janice, aku sama Eis cuma mau nikah sederhana."
"Apa kita bakal ngundang semua keluarga kita? Tentu aja kamu yang pertama nikah di antara semua sepupu kita."
Pikiran pertamanya soal pertanyaan kakaknya adalah apa bener keluarga mereka harus diundang.
"Mungkin cuma teman-teman deket kita aja, Jan. Aku nggak bisa bayangin kalau semua keluarga kita diundang. Semoga Ayah masih ada di sini."
"Aku yakin Ayah juga seneng buat kamu."
"Aku kangen banget sama Ayah."
"Aku juga sis, aku kangen Ayah juga, andai aja mobilnya nggak meledak." Janice bilang sambil nangis.
"Kalau bukan karena aku, mungkin Ayah masih di sini." Dia nyalahin dirinya sendiri.
"Ini bukan salah kamu kok sis, ini beneran kecelakaan." Janice meluk dia erat.
JANICE
Dia dan Gina kaget waktu bayinya nendang keras. Kakaknya juga ngerasainnya karena mereka berpelukan.
"Oh, nih, sis, rasain nih." Dia megang tangan Gina dan naruh di perutnya. Ini salah satu momen berharga yang mereka bagi bareng, terus tiba-tiba dia nanya ke kakaknya. "Sis, apa kamu pernah ngalamin momen intim sama Eis?"
"Maksudnya?"
Dia nggak nyangka kakaknya malah kaget sama pertanyaannya. "Sis, kamu polos dan lugu banget deh, tau nggak sih."
Dia bisa ngelihat dahi kakaknya berkerut, jadi itu artinya dia ngerti apa yang mau dia sampein.
"Kalau maksud kamu Eis sama aku berhubungan seks, ya belum sih. Kecuali kita udah nikah."
"YA AMPUN kakak! Seriusan? Kenapa nggak ada apa-apa sih sama kamu?"
"Eis maunya gitu. Jadi aku ngehargain keputusannya."
Dia ketawa ngakak sama pengakuan kakaknya, soalnya dia nggak nyangka jawabannya. Mama mereka terus masuk ke kamarnya karena mungkin Mama juga penasaran sama suara tawanya. "Ada apa nih kok kayaknya seneng banget?" Tanya Mama.
"Nggak ada apa-apa kok, Ma. Aku sama Gina cuma have fun aja."
"Oke, Mama tinggal ya, ketawanya Janice bikin nagih soalnya," kata Mama dan memunggungi mereka.
"Aku pengen ngomong ke Payton soal kelemahan calon suaminya kakakku."
"Coba aja, Janice." ancam kakaknya. "Soalnya aku bakal potong uang jajanmu."
"Ini nggak ternilai, sis. Aku tau banget seberapa suka kamu sama Eis yang super hot itu. Aku beneran nggak percaya. Kamu tau kan aku masih inget pertama kali kamu patah hati gara-gara Eis. Kamu bilang kalian selalu bareng di restoran tapi nggak sekalipun dia merhatiin kamu. Terus kamu tau kalau dia pacaran sama pewaris hotel. Siapa ya, ngomong-ngomong? Oh, aku inget sekarang, dia kan model terkenal jaman sekarang, Ariana Lin."
"Kamu mau nyebelin aku ya, Jan?" kata kakaknya sambil cemberut.
"Kamu tau nggak sih waktu terakhir kali aku jenguk kamu di restoran, aku beneran godain Eis buat ngakuin soal hubungannya sama Ariana, dan aku juga nanya dia apa Ariana itu tipe cewek yang mau dinikahin. Dan kamu tau nggak sih apa jawabannya?"
"Apa yang dia jawab ke kamu?"
"Dia bilang ke aku kalau dia nggak mau nikah kayak Ariana Lin karena dia mau cewek yang konservatif. Ya ampun, kayaknya dia maksudnya kamu deh."
GINA
"Kamu banyak bacot deh." katanya otomatis dan mereka ketawa lagi, tapi cuma pikirannya yang melayang-layang penasaran. Dia mikir keras. Jadi mungkin Eis nyaranin dia nikah karena mau dia tetep suci, biar dia nggak ngerasa bersalah kalau mereka putus. Tapi apapun maksudnya buat dia, buat dia dia bakal tetep setia sama pernikahan mereka dan dia bakal tetep setia jadi istrinya.
-----
"Kita perlu ngomong, Eis." Katanya setelah Eis ngejelasin ke dia sistem keamanan yang baru dipasang di rumahnya.
"Duduk dulu yuk, Gina."
Eis nungguin dia duduk baru dia duduk di depannya.
"Pengecut," katanya pelan.
"Apa yang mau kamu omongin, Gina?"
"Janice nyadar ada yang nggak bener di antara kita."
"Gimana tuh?"
"Kayak dia nggak percaya pernikahan kita yang tiba-tiba ini, dia bilang kamu bukan pacar yang romantis."
"Kenapa? Apa dia mau kita ciuman di depan dia biar dia lebih percaya? Bilangin aja kita nggak se-lebay yang lain."
"Soalnya aku bilang ke dia kalau belum ada apa-apa di antara kita, jadi mungkin dia cuma ngetawain aku sekarang."
EIS
"Kenapa kamu bilang gitu ke dia? Dan sekarang aku harus mesra-mesraan di depan umum sama kamu, gitu?" tanyanya sarkas, sambil ngelihat dia ngetuk-ngetuk kakinya ke lantai.
"Kamu kan satu-satunya yang mau kita jujur soal semua ini, kan?" Gina kayaknya ngebela diri buat ngejawab dia.
"Oke. Kalau aku harus ngelakuin itu, ya udah, aku bakal lakuin."
"Jangan lebay ya Eis, soalnya Janice juga bakal nyadar."
"Ada lagi yang mau kamu omongin, Gina?"
"A-apa kamu nggak mau nanya, Eis, apa aku masih perawan?"
*****