Bab 41
9 tahun kemudian
Istana Axaina
Swiss
SUDUT PANDANG AJAX
Dia udah naik berat badan. Mukanya bersinar kayak bulan, merona dan merah merona, bibir merah ceri yang bikin gue pengen banget nyiumnya, dengan rambut cokelat keemasan yang terurai kayak ombak sampai ke pinggangnya.
Payudaranya udah lebih berisi dan gede dari sebelumnya, sama kayak perutnya yang mulai buncit.......harta karun gue lagi hamil anak kita di dalam rahimnya. Dia hamil 6 bulan.
Gaun longgar pendek nutupin tubuhnya yang menggoda dari tatapan gue yang panas saat dia ngaduk pasta yang ngepul di wajan.
Pindah ke belakang dia, gue dengan lembut ngegulung rambutnya jadi cepol berantakan...pasti geli.
Bibirnya berubah jadi senyum malas dan gue sadar dia capek.
"Jax, kamu ngapain?" dia protes pelan pas gue matiin kompor dan gendong dia di pelukan gue.
"Kamu butuh istirahat, Laina, mau tidur, sayang?" dia ngangguk, gue gendong dia ke kamar tidur kita, sambil nyium dia pelan.
"Tapi aku laper" gue ketawa. Itu dia, bayi gue. Biasanya dia laper akhir-akhir ini...ngomong cuma buat makan aja gak cukup. Cewek gue punya nafsu birahi – lumayan gede.
Hari-hari ini jadi salah satu hari terbaik dalam hidup gue mengingat setiap hari penuh kebahagiaan bareng Alaina.
Nyuapin dia waktu dia duduk di pangkuan gue. Mandiin dia waktu dia cemberut karena busanya kurang banyak di bak mandi, nyuci rambutnya pake sampo bunga plum favoritnya sambil dia main sama bebek karet kuning di air sambil cekikikan, ngepang rambutnya dengan gaya yang beda-beda. Cewek ini, istri gue, udah berhasil bikin gue nurut banget.
"Tunggu sebentar ya sayang, aku bawain kamu makanan, oke putri?" gue tanya dia sambil ngebaringin dia di kasur yang empuk, nyium keningnya.
Dia ngangguk-ngangguk girang, ngedesah puas saat gue jalan ke dapur.
Dia ngidam berbagai macam makanan, gue bisa aja nyuruh koki, tapi gue pengen masak buat istri gue. Dari gak bisa masak air sampai bisa bikin makanan kesukaannya, bikin gue ngerasa berhasil kayak gak ada sebelumnya.
Terus beberapa kali di sela-sela masak dia narik gue buat bercinta sama dia dan gue gak bisa lebih puas dari mengabulkan keinginannya. Gue pengen banget menjelajahi tubuhnya yang baru berkembang sebanyak yang gue bisa. Gue mau cewek gue, gue pengen dia. Dia bidadari gue dan gue mau nyembah dia.
Ada kalanya dia jadi gumpalan emosi. Nangis dan bilang dia gak cukup. Gue cuma harus nyium dia, meluk dia di pelukan gue sampai dia lupa apa yang dia katakan. Ya ampun, dia marah sedetik, seneng sedetik. Kadang-kadang ngebentak dia. Jadi suaminya adalah pekerjaan terbaik di dunia.
Di beberapa kesempatan kita cuma rebahan di sana, Alaina di atas gue, dengerin detak jantung masing-masing. Setiap waktu gue nemuin diri gue ngelus-ngelus perutnya, ngerasain gerakan anak kita, itu semua sepadan.
Gue bawa dua piring dengan salad buah, sandwich, dan pasta buat kita berdua, yang dia makan sendiri piringnya hari ini.
"Jax?"
"Hmm"
"Mau gak cium aku?" gue liat matanya, penuh nakal.
"Gak" begitu kata-kata itu keluar dari mulut gue, bibir manyun yang menggoda terbentuk di bibirnya dan dia nyerang gue.
"Kamu" cium "punyaku dan aku mau kamu, Jax." dia ngasih gue ciuman yang panjang dan penuh gairah saat dia duduk di atas perut gue dengan gue rebahan, ngeliatin mata dia yang penuh nafsu. Pupilnya melebar dan tubuhnya bergesekan dengan tubuh gue. Cewek ini emang tau apa yang dia mau.
Gue geret tangan gue ke atas di paha telanjangnya saat gaun longgarnya naik, narik dia lebih deket gue pegang kepalanya, bangun dengan siku gue, nyium lembah di antara payudaranya.
"J-Jax" dia mengerang.
"Alaina" gue nyanyiin namanya kayak orang kesurupan. Buka gaunnya pelan-pelan, ngegeser itu dari tubuhnya yang kayak sutra.
Gue bawa dia masuk. Kulit lembutnya yang creamy, lekuk tubuh seksinya, gue sumpah demi Tuhan, dia makin mempesona setiap hari, setiap hari.
Gue bangun dan dia geser di pangkuan gue. Tangannya ngebuka kemeja gue saat gue nyium dia posesif, ngelepasnya dari gue, tangannya ngelus-ngelus otot gue. Napasnya tersengal saat ciuman kita putus.
"Sayang.......ughhhh" matanya merem dalam kebahagiaan murni dan kepalanya jatuh ke belakang saat jari-jari gue nemuin titik lemahnya.
"A-AJAX!" Dia neriakin nama gue saat gue lanjutin perlakuan gue di tubuhnya yang sensitif.
....................................
Gue telusuri bibirnya yang bengkak karena ciuman kita, narik tubuh telanjangnya lebih deket ke gue, nutupin kita sama seprai sutra.
Kepalanya di dada gue dengan lengan gue melingkupi dia dalam dekapan yang lembut tapi kuat. Gue nyium dia pelan-pelan, santai saat dia tidur. Ngusap lingkaran lembut di tubuhnya, gue cium rambutnya. Bayi gue capek.
"Jax" dia bergumam ngantuk.
"Iya sayang?"
"Aku cinta kamu" dia berbisik.
"Aku lebih cinta kamu, putri."
...........................