Bab 21 "Fanwai" Selamat Natal
Di malam hari-
"Selamat Natal" disiarkan di mana-mana di pasar. Bulan Darah, Philly, dan Wang jalan-jalan tanpa tujuan... Kalo Bulan Darah gak bilang hari ini Natal, kemungkinan Wang sama Philly udah lupa dari dulu. Walaupun Bulan Darah ngajak mereka keluar, bahkan Bulan Darah sendiri gak tau mau kemana...
"Oke, kita cuma jalan-jalan keliling aja?" Bulan Darah beneran gak tahan sama perasaan gak jelas ini, tanya.
"Lo yang ngajak kita keluar." kata Wang lemes.
"Iya, ujung-ujungnya lo juga gak tau mau kemana." Philly juga ikut-ikutan lemes.
"Duh, gue cuma mikir seru aja kalo keluar jalan-jalan pas Natal!" "Kalo gitu, kita ke kedai kopi dulu aja ya." Bulan Darah ngeliat kedai kopi di depannya terus bilang.
"Oke deh." Philly dan Raja bilang lemes. Duh, beneran capek nemenin cewek keluar! pikir mereka barengan.
Kedai kopi-
"Ting."
"Selamat datang, mau berapa orang?" Seorang pelayan cakep bilang.
"Tiga..." Bulan Darah ngomong santai, terus selesai ngomong langsung celingak-celinguk.
"Silakan ikut saya." Pelayan itu ngasih isyarat.
Wah, toko ini bagus, keren banget, hmm... gayanya dari Barat, keren! Suka deh. Bulan Darah mikir sambil muji-muji.
Kapan bukanya ini? Kok gue gak tau ya? Tapi Wang mikirin asal-usul toko ini.
Gue kok ngerasa toko ini agak aneh, tapi gak tau anehnya di mana. Pikir Philly.
"Boleh tau siapa pemiliknya?" tanya Raja.
"Ada yang bisa saya bantu?" Seorang pria paruh baya dateng terus ngomong. Pria paruh baya ini ganteng, tapi wajahnya ada bekas-bekas waktu. Kayaknya pas muda pasti ganteng banget nih!
"Leo!" teriak Raja. Ya ampun, ini Leo!
"Wang?" Pria paruh baya yang namanya Leo itu nyaut dengan agak ragu-ragu.
"Iya, ini gue!" Wang berdiri dengan semangat terus meluk Leo.
"Lama gak ketemu, Wang!" Leo juga meluk Raja, terus sudut matanya basah. Bulan Darah dan Philly ngeliatin dua cowok gede ini pelukan di sini dengan agak bete.
"Kemana aja lo, kawan?" Wang mukul bahu Leo terus ngomong keras.
"Aduh, sakit... keluar yuk ngobrol!" Leo... ngomongnya agak kekanakan.
Di luar toko-
"Lo itu Bulan Darah sama Philly!" kata Leo.
"Ehm, siapa nih senior?" Bulan Darah bilang sopan, mungkin ini temen lama Wang... hormat.
"Senior? Gak ada, gue seumuran sama lo!" Begitu Leo selesai ngomong, tiba-tiba kerutan di wajah Leo hilang, wajahnya yang keriput jadi lebih detail, terus muncul wajah cakep banget. Dagu Bulan Darah dan Philly langsung turun cepet. Ya ampun, jangan bilang ini iblis lagi! Bisa ganti muka?
"Lo, Leo itu pangeran dari keluarga bersayap dan dari negara Barat yang hebat." Wang ngenalin.
"Ah, bulu! Jadi lo punya sayap?" Bulan Darah matanya kayak anak kecil kaget pas ngeliat sesuatu yang baru, terus nanya.
"Hmm." Selesai ngomong gitu, sepasang sayap warna-warni yang indah langsung "sret" keluar.
"Wah, wah, bagusnya!" Bulan Darah bilang, terus nyentuh sayapnya secepat kilat. "Enak banget rasanya."
"Hehe, ini sayap paling canggih." kata Wang.
"Beneran? Kalo bagian dalemnya, sayap yang bawah kayak gimana?" Sekarang Bulan Darah udah jadi boneka yang kepo.
"Ehm... Cuma sayap biasa aja kok." Sayap putih bersih ditunjukin lagi. "Kayak gini nih." kata Leo.
"Wah." Walaupun gue juga punya sayap, tapi... mending gak usah ditunjukin deh, ntar malah bikin masalah!
"Udah makan belum? Kalo belum, gue traktir!" Leo ngomongnya murah hati.
"Gak..." Belum selesai Bulan Darah ngomong, Philly dan Raja udah nutup mulutnya. "Aduh, lepasin gue!" kata Bulan Darah.
"Hehe, kalo udah makan, nih cewek kayak gini nih. Udah makan, bilangnya gak makan!" Raja senyum sambil ngasih kode ke Philly.
"Mm-hmm, nih cewek emang gitu... kita cabut, sia-sia aja." Selesai ngomong gitu, Raja dan Philly langsung ngilang!
"Dua orang ini!" Leo agak bete! Yaudah deh, kalo mereka gak mau, ya gak bisa dipaksa!
Leo nunjukkin senyum licik pas lagi mau balik badan...