Bab 6 Bertemu Raja Hantu
Latihan *survival* liar macem apa sih yang lagi dipraktekin sekolah aristokratis manusia ini? Bulan Darah sama Philly susah payah balik ke kastil, eh malah harus tinggal di kampus!
"Kakak. Udah berapa lama sih kita gak balik kastil?!" Bulan Darah lemes nyender di kursi mobil sambil ngomong.
"Hmm... sekitar tiga minggu deh!" pikir Philly.
"Aduh... Wang pasti udah ngabisin makanan Cina ku selama ini!" Bulan Darah keinget minggu lalu Wang ngirim banyak makanan Cina bikin ngiler, sialnya... minggu ini gak bisa balik ke kastil! Latihan *survival* apa-apaan sih ini!
"Kamu! Bisanya cuma makan!" Fiji nunjuk jidat Bulan Darah pake jari telunjuknya dan bilang.
"Gimana sih caranya... Kalo bukan karena kakakku, yang selalu masakin aku makanan dan ngerawat aku, apa iya aku cuma mau makan?!" Bulan Darah cemberut ngeliatin ke luar jendela.
"Woah. Jadi, salahku gitu?" kata Philly, ngeledek Bulan Darah.
"Emang salahku gitu?" Bulan Darah tiba-tiba noleh dan bilang.
"Ya salahmu. Bagus deh kalo kamu gak makan." Philly masih aja ngeledekin Bulan Darah.
"Hmm... Aku... aku gak makan, aku bakalan laper!" Bulan Darah gagap.
"Enak kali ya kalo kamu langsung nyedot darah." Philly berbisik ke telinga Bulan Darah, karena kalimat ini gak bisa didenger sama manusia-manusia ini.
"Kamu juga tau kan aku gak pernah nyedot darah!" Bulan Darah agak kesel bilang, Bulan Darah cuma ngandelin *blood piece* buat ngejaga kemampuan haus darahnya, gak pernah inisiatif nyedot darah.
"Oke, oke... gak usah bahas itu... naik bis yang tenang aja ya." Philly langsung bilang, ngeliat Bulan Darah mulai marah.
"Oh." kata Bulan Darah, dan udah kebiasaan nyender di pangkuan Philly, tapi... gara-gara ini mereka berdua udah bikin banyak orang pada ribut.
"Ya ampun... Bulan Darah nyender di pangkuan Philly." kata anak cupu.
"Ini kakak adik? Kok kayak pacaran sih?"
"Bener tuh!"
"Pikiran kalian terlalu kotor! Apa salahnya adik nyender di pangkuan kakaknya!"
"..." Sekelompok orang langsung pada ngobrol.
"Sialan! Berisik banget sih!" seorang cowok yang paling cakep teriak.
"Maaf, Liu..." kata cewek yang duduk di belakangnya.
"Sialan! Berapa kali sih harus kubilang! Jangan panggil aku Liu!" Cowok yang namanya Liu itu berdiri dan teriak.
"Baiklah... teman sekelas Yi Slom... duduk dan nyetir sekarang!" Guru itu langsung bilang.
"Baiklah..." Cowok cakep yang namanya Liu itu duduk dan ngeliatin ke luar jendela dan bilang.
"Kakak... apa kamu... apa kamu ngerasain bau aneh gitu?" Bulan Darah kayak ngerasain sesuatu yang aneh, kata dia.
"Hmm... dan... kayaknya semua baunya jahat..." kata Philly.
"Hmm..." Bulan Darah nyoba nyari sumber baunya, tapi gak peduli gimana, tetep aja gak ketemu.
"Teman-teman, kita udah sampe... turun!" kata Guru itu. Terus, murid-murid pada turun dari bis bawa barang-barangnya dan dateng ke hutan.
"Kelompok pertama, Bulan Darah #12539; Grim, Philly #12539; Grim, Liu #12539; Yi Slom dan Angel satu kelompok..." Setelah Guru itu bagi anggota kelompok, dia jelasin beberapa hal yang harus diperhatiin, terus pergi naik mobil.
"Halo, aku Grimm." Bulan Darah ngulurin tangannya ke Angel dan ngenalin diri.
"Nama aku Angie." Angie gak mau bales, tapi malah noleh dan pergi setelah kenalan.
"Lumayan unik." kata Bulan Darah setelah dia pergi, kayaknya latihan *survival* kali ini gak bakal bosenin.
"Halo, nama aku Philly Grimm." Philly ngulurin tangannya ke Liu dan ngenalin diri.
"Nama aku Liu #12539; Yi Slom... ini bukan nama asli kamu kan?!" Liu megang tangan Philly dan nempelin ke telinga Philly.
"Hmm... kok bisa... ini nama asliku kok." Walaupun Philly kaget, dia tetep harus sok tenang.
"Hum. Leon; Philly; Joe Leeson, vampir ras murni Inggris!" kata Liu.
"Kok kamu... tau?!" Philly udah hampir nebak siapa dia.
"Oh... aku rasa kamu juga udah tau siapa aku. Kok kamu bisa tau? Aku gak perlu jawab deh." Liu terus noleh dan pergi.
"Sialan! Harusnya aku udah mikir dia yang bakalan dateng!" kata Philly. Dalam hati diem-diem nyumpahin.
"Kakak!" Wajah Bulan Darah agak murung bilang, sebenernya... Bulan Darah denger... percakapan mereka.
"Kamu denger ya!" kata Philly, ngeliatin sosok itu.
"Hmm, Kakak... dia itu..." Bulan Darah masih gak yakin.
"Bener... dia itu... Raja hantu dan penguasa iblis!" kata Philly dengan tegas.
"Hmm... beneran dia! Dia bakal ada di sekolah manusia." Bulan Darah agak sedih bilang.
"Hehe... siapa tau." Terus Philly narik Bulan Darah ke dalam hutan. Mereka mau ke tempat lapang buat masang tenda dan siap-siap.
"Kakak... aku kasih tau ya. Si Angie itu nyebelin banget..." Bulan Darah ngobrol sama Philly sambil jalan.
"Oh. Gimana?" kata Philly penasaran.
"Oh, pokoknya langsung gak peduli sama perasaan ku." Bulan Darah keinget kejadian tadi, wajahnya masih agak kesel... soalnya dia gak pernah diabaikan, kayak dia yang bisa dibilang cantik di dunia, pokoknya gak boleh diabaikan!
"Kamu emang bakalan diabaikan kok." Philly bisa bayangin perasaan Bulan Darah yang diabaikan.
"Apa?! Gak boleh!" Bulan Darah gak semangat ngomong ke Philly.
"Eh... boleh! Boleh!" Philly ngeliatin Bulan Darah yang udah mulai emosi.
"Hum!" Bulan Darah ngedengus terus noleh dan pergi.
"Aduh." Philly menghela napas... dia emang gak bisa apa-apain sama Bulan Darah yang kekanak-kanakan ini. Walaupun orang-orang di keluarganya sering banget manjain dia dan nyayangin dia, Bulan Darah gak pernah jadi sombong, bangga, dan sok bener, makanya mereka semua suka banget sama dia.
Satu jam kemudian-
"Kakak... coba kamu liat di samping..." Bulan Darah duduk di depan tendanya, ngeliatin arwah-arwah yang melayang-layang di sekitarnya, kata dia.
"Aku tau, tapi kayaknya cuma kita yang bisa liat!" Philly juga duduk di samping Bulan Darah dan bilang pasrah.
"Islam. Tolong... singkirkan arwah-arwah ini." Bulan Darah ngeliatin Liu yang udah duduk di tepi sungai, soalnya sekarang cuma kelompok mereka yang ada di tepi sungai, dan gak ada orang lain... cuma ada empat orang, tapi sekarang tinggal tiga... Angie pergi nyari makanan.
"Mereka... gak mau balik, dan aku gak bisa apa-apain." Liu bilang langsung dengan punggungnya menghadap mereka.
"Kamu bisa gak suruh mereka pergi ke tempat lain? Mereka terus-terusan mondar-mandir di depan ku. Aku pusing!" Bulan Darah ngeliatin arwah-arwah yang cuma mondar-mandir di depan dia, pusing.
"Enak kali ya kalo kamu gak liat." Liu masih aja ngebelakangin mereka dan bilang cuek.
"Hmm... aku juga mau gak liat! Tapi walau pun aku gak liat, mereka tetep muncul di mata ku!" Bulan Darah beneran mau pingsan.
"Islam, mending kamu singkirin aja deh. Kayaknya Angie bentar lagi balik." kata Philly, yang ngerasain bau Angie.
"Baiklah... berhenti... balik dari mana kamu dateng." Liu noleh ke arwah-arwah itu dan bilang.
"Huu. Akhirnya pergi." Bulan Darah bilang sambil menghela napas lega.
"Makanannya udah ketemu." kata Angie dengan dingin.
"Kakak. Kamu masak..." Bulan Darah ngeliatin "ibu rumah tangga" di pikirannya dan bilang.
"Hmm... hari ini aku yang masak..." Philly pasti tau apa yang dipikirin Bulan Darah.
Setelah beberapa saat... nasi goreng telur emas yang enak udah tersaji, dan perut Bulan Darah yang nyium bau ini juga ikut bekerja sama. Mereka semua gak tahan sama godaan makanan... ngambil piring dan makan... jadi mereka makan mangkuk demi mangkuk... sampe gak bisa makan lagi... mereka gak nyerah dan pergi jalan-jalan...