BAB 5
BAB LIMA – PINDAH RUMAH
"Gimana kalau kita..." Bitaqir nanya ke para Pasha.
Mereka saling pandang, terus ngeliatin Bitaqir, mikir apa cewek kurus ini beneran bisa nanggung tanggung jawab negara.
Menurut mereka, entah Almarhum Raja yang salah, atau Ibrahim Pasha lagi komplotan sama ratu baru.
"Pasha, kalau gak ada yang mau dilaporkan, kalian boleh pergi," Selim tiba-tiba ngomong setelah lama diem.
"Maaf, Yang Mulia! Yang Mulia! Menteri Keamanan Nasional akan memberikan laporan," jawab Abu Bakarr Pasha.
"Pangeran Ozgur dan Mohammad, sebagai pemberontak utama, sudah ditangkap," Mahmoud Pasha mulai.
"Bagus! Berapa banyak yang luka?" Aku nanya, padahal yang pengen aku tau itu berapa banyak yang mati.
"Empat, Yang Mulia!!
Putri Sierra, Serdar Agha, Sadika Hatun, dan Sultana Ayse luka parah dan sudah dibawa ke Tabib." Dia berhenti lagi.
Serius, kenapa sih orang ini? Seharusnya baca semuanya langsung aja, bukannya malah berhenti-berhenti gak jelas.
"Berapa yang mati?" Aku nanya pertanyaan yang sebenernya mau aku hindari.
"Dua orang tewas, Ksatria Alpha dan Ezekiel. Mereka jadi tumbal biar Pangeran Aroald bisa kabur."
"Tentu saja dia kabur," gumamku dalam hati.
"Kalian biarin dia kabur?" Pangeran Selim nanya, marah banget.
"Pangeran Aroald berusaha membunuh ratu, jadi ini otomatis pengkhianatan," kata Abu Bakarr Pasha.
"Sebagai Menteri Keamanan Nasional, saya akan memastikan Pangeran Aroald ditangkap dan dihukum," Mahmoud Pasha ngomong dengan percaya diri banget, sampe aku yakin dia udah tau di mana Pangeran Aroald berada.
"Karena itu sudah jelas, kita perlu menobatkan ratu secara resmi," Ibrahim Pasha ngomong pertama kali sejak masuk ruangan.
Dari tatapan dua Wazir lainnya, Bitaqir bisa ngerti banget kalau mereka gak mau nerima dia sebagai ratu.
Tapi mau gimana lagi, tangan mereka udah terikat, terikat sama wasiat mendiang raja.
"Karena pemberontakan udah terkendali dan semua anggota kerajaan, bangsawan pria dan wanita, masih ada di Shanara, menurut saya penobatan harusnya besok," saran Selim.
"Saya rasa itu bijaksana. Pasha?!" Ibrahim Pasha ngomong.
Terus semua orang diem, nunggu perintah ratu baru mereka.
Tapi Bitaqir, sebagai Putri, udah biasa cuma jadi pendengar dan baru ikut campur pas diundang rapat.
lupa kalau sekarang semua butuh persetujuannya, dia juga ikut diem, heran kenapa semua orang diem, tapi gak berani ngomong.
Nge-deketin dia, Selim berbisik, "Mereka nunggu persetujuanmu, Bitaqir."
Kaget, Bitaqir blushing malu dan nge-desis 'oke'.
"Pasha, Mama saya di mana?" Bitaqir nanya tiba-tiba.
"Yang Mulia ada di kamarnya, istirahat, saya dapat info," jawab Ibrahim Pasha langsung, seolah itu satu-satunya pertanyaan yang dia tunggu.
******************************
Di Azbedran, penguasa baru selalu dinobatkan saat matahari terbit, seperti kata pepatah "hari baru bawa harapan baru". Ini yang Bitaqir harapkan dan doakan, tapi dia bisa denger banget kalau alam bawah sadarnya ngetawain dia.
Dua jam lagi matahari terbit, tapi seluruh istana udah bangun. Soalnya dua jam lagi, penguasa baru akan dinobatkan, seseorang yang udah ditakdirkan sejak dia disebut Putri Mahkota, bahkan gelar Putri Mahkota kedengeran aneh di telinga semua orang.
Bitaqir tiduran di kamarnya yang baru, ngeliatin sekelilingnya, cuma dalam beberapa jam kamar ayahnya udah berubah total.
Potret di atas kasur yang dulunya potret ayahnya, sekarang jadi potret dia, aroma maskulin ruangan udah ilang total, sekarang cuma aroma anggur manis yang kecium, gak ada lagi yang nunjukin kalau ini istana tempat ayahnya pernah tinggal.
Semua barangnya udah dipindahin dari kamar sebelumnya di lingkungan ibunya ke kamar yang lebih tinggi.
Bahkan ibunya udah pindah ke Kamar di jantung harem, kamar itu udah gak dipake selama 23 tahun terakhir, sejak kematian Ibu Suri sebelumnya.
Sekarang Bitaqir dan ibunya nempatin lingkungan di jantung harem.
Tapi sekarang bukan waktunya buat duduk dan mikir, ini hari penobatannya dan dia harus siap, karena kurang dari dua jam, sebelum sholat Fajri, dia akan dinobatkan sebagai Ratu Azbedran, yang pertama dari jenisnya.