Bab 15- Iri.
POV DAISY
Aku lihat mereka dansa bareng. Aku lihat mereka saling pandang seolah-olah mereka pasangan yang lagi kasmaran di era ini. Semua orang bilang mereka pasangan terbaik. Semua orang mikir mereka emang ditakdirin buat satu sama lain. Aku bisa lihat Sasha ngambil tempatku.
Aku gak bikin drama bukan berarti aku gak bisa lihat. Buat dunia, Alex tunanganku, tapi kenyataannya, aku bukan siapa-siapa buat dia. Aku lihat gimana dia mandang Sasha pas Sabtu malam, aku lihat betapa cemburunya dia waktu cowok itu nyentuh dia di klub. Aku lihat gimana dia nyelamatin Sasha pas Sabtu malam, aku udah lihat semuanya. Dan aku gak kelewatan rasa takut di matanya waktu Sasha kena serangan panik, juga aku gak kelewatan gimana dia berubah buat Sasha. Aku tahu tentang kamar yang dia siapin buat Sasha, dan aku udah lihat gimana dia nyimpen kenangan tentang Sasha. Aku lihat dia, meluk Sasha di puncak hari ini, dan aku bisa lihat dia kayak kena hipnotis di bawah mantra penyihir ini. Pengamatanku bilang, dia menjauh dari tanganku.
Nggak! Aku gak bisa biarin itu terjadi.
Aku gak bisa biarin usahaku sia-sia. Susah payah aku udah berusaha ngejebak dia di jaringku, gimana bisa aku biarin dia pergi semudah itu? Aku harus lakuin sesuatu. Kalo aku kehilangan Alex, aku bakal kehilangan segalanya. Nama, ketenaran, kehormatan, dan semuanya. Aku harus nyelamatin diri sendiri. Tapi gimana?
Aku mainin jari-jariku, nyembunyiin kekhawatiran di hatiku. Ini bukan waktu yang tepat buat marah ke Alex.
——
POV ALEX
Sasha itu kayak sihir. Gak peduli seberapa sering aku bilang ke diri sendiri kalo aku harus jauhin Sasha, aku malah makin deket sama dia. Perasaan yang udah lama aku kubur di hati, muncul lagi. Aku bisa ngerasain harapan yang hilang mulai muncul lagi, hasrat buat bareng Sasha, menghantui hatiku, lagi.
Gimana caranya aku bilang ke Sasha kalo dia selalu ada di hatiku. Gak ada yang bisa gantiin dia, bahkan Daisy sekalipun. Gimana aku bisa bilang kalo aku terpaksa nikah sama Daisy, aku gak cinta sama dia, sama sekali. Satu-satunya orang yang aku cintai itu Sasha, cuma Sasha.
Kerumunan orang bubar waktu aku rebahan di bawah selimut malam yang kelam. Mikirin Sasha, cuma Sasha. Andai aja waktu itu aku bisa bertindak lebih pintar. Andai aja aku bisa lebih baik dalam urusan sama Daisy. Andai aja aku punya kontrol diri. Gimana bisa aku selemah ini!
Aku merem, ngebuang pikiran yang berkeliaran di benakku. Kilasan masa lalu menghantuiku lagi.
"Aduh sayang. Kamu udah tumbuh jadi cewek yang cantik. Aku kangen banget sama kamu." Suara cowok yang riang kedengeran di telingaku, waktu aku buka mata dan langsung ngenalin Sasha lagi duduk di kegelapan. Di sampingnya ada cowok, karena gelap aku gak bisa lihat wajahnya. Jarak di antara mereka juga gak seberapa. Cowok itu nyelipin rambut ke belakang telinga Sasha, dan nyium pipinya. Aku ngerasa darah mendidih di nadiku. Lihat Sasha deket sama cowok lain bikin bulu kudukku merinding. Aku langsung berdiri dan nyerbu privasi mereka. Itu Roy. Aku narik Sasha, ngegenggam pergelangan tangannya. Cowok itu juga berdiri ngikutin Sasha. Alisnya berkerut waktu dia megang pergelangan tangan Sasha yang lain.
Aku melototin dia, dengan mata merahku, ngebiarin api di hatiku membakar dia.
"Lepasin tangannya!" desisku waktu dia genggam lebih erat dan makin deket ke wajahku.
"Siapa lo nyuruh-nyuruh gue? Lo kan bosnya dia di kantor! Berhenti ikut campur urusan pribadi dia!" Dia cemberut, nyium punggung tangan Sasha sambil melototin aku. Gunung berapi di dalam diriku meledak dan aku lepasin tangan Sasha. Dia natap aku dengan mata lebar sebelum aku nonjok muka Roy, yang bikin dia mencium tanah. Kupikir dia udah ngerti posisinya, tapi aku salah karena dia bangun, ngebersihin bajunya, dan narik kerah bajuku, "Cuma karena lo udah nolong dia, bukan berarti lo berutang nyawa sama dia, dia gak bakal pernah jadi budak lo." Dia menggeram.
Aku ngejauhin tangannya, mendorong dadanya dengan semua kekuatanku. Dia tersandung ke belakang dan aku dorong dia lagi sampe punggungnya kena batang pohon.
Aku raih kerahnya dan nonjok dia, bikin hidungnya berdarah.
"Tanam satu hal di pikiran kotor lo. Dia bukan budak gue! Gue cinta sama dia, dan dia akan selalu jadi milik gue! Dia calon istri gue!"
Mata dia langsung melotot ke arahku seolah-olah aku udah tumbuh tanduk di kepala. Aku nonjok dia untuk terakhir kalinya dan berbalik ke hutan, narik Sasha bersamaku. Dia bingung, dia natap aku dengan terheran-heran.
Jujur aja, apa yang aku bilang bahkan bikin aku bingung sendiri. Gimana bisa aku tiba-tiba ngakuin perasaan gue di depan semua orang. Aku penasaran apa Daisy denger.
Waktu kami sampai di tempat sepi jauh dari kerumunan, di tengah hutan, Sasha ngejauhin tanganku dan teriak, "Cukup Alex. Cukup!"
Aku berbalik dan natap dia.
"Lo punya hak apa nonjok temenku? Siapa yang ngasih lo hak buat manggil gue calon istri lo, padahal lo udah punya tunangan!"
"Sasha." Panggilku, berusaha nenangin dia, waktu dia mendorong dadaku dan berteriak, "Tinggalin gue sendiri Alex. Tinggalin gue sendiri."
Dia membelakangi aku dan mau pergi, tapi aku narik pergelangan tangannya, memutar dia menghadap aku.
"Aku gak bisa lihat orang lain deket sama lo. Kalo ada yang nyentuh atau nyium lo, inget satu hal Sasha, aku akan penggal kepalanya dan bagiin ke burung elang. Kamu milikku, cuma milikku." Kataku, nyelipin sehelai rambutnya ke belakang telinganya, sambil megang lehernya, dan ngelus pipinya dengan ibu jariku.
Mata dia berubah lembut, memohon.
"Kamu itu teka-teki buatku Alex." Katanya sambil bibirnya gemetar. Pemandangan bibirnya yang merah muda bikin perutku mules.
Tenggelam dalam mata birunya, aku bisa lihat kedalaman rasa sakit dan cinta buatku. Gak peduli seberapa keras dia berusaha nyembunyiin itu, dia malah nunjukkin lebih banyak cinta ke aku. Aku gak bisa lihat dia kesakitan. Gak lagi.
Aku natap dia waktu dia gigit bibir bawahnya, saat itu aku kehilangan kendali. Nafsu menguasai aku, aku pegang lehernya erat dan mencium bibirnya. Mencicipinya. Bibirnya selembut kelopak bunga. Dia berdiri di sana benar-benar membeku saat aku melahapnya. Aku mau berhenti, tapi aku gak bisa. Aku di bawah pesonanya, yang aku mau cuma dia. Cuma dia. Aku pegang wajahnya di antara telapak tanganku, megangnya dengan stabil. Wanginya bunga, bikin aku gila. Dan dunia buram di depanku. Aku ngerasa bibirnya bergerak dengan bibirku. Saat ciuman kami semakin dalam, sebelum dia mendorongku.
Rahangnya terbuka lebar dan matanya seperti mangkuk. Air mata mengalir dari matanya saat dia menyentuh pipinya. Dia mundur beberapa langkah sebelum berlari di hutan.
Aku narik rambutku dengan frustasi saat kesadaran mulai muncul di benakku. Gimana bisa aku lakuin ini! Aku udah tunangan. Melewati keinginan ku, aku gak cuma nyakitin Daisy, tapi juga mainin hati Sasha. Kenapa aku selalu lupa siapa aku saat aku ada di dekatnya! Kenapa?
Aku berbalik saat angin dingin melewati atmosfer. Dalam kegelapan bulan, di bawah malam yang bertabur bintang berdiri sesosok, menggali lubang ke arahku dengan tatapan seperti belati.
"D..Daisy!" Dia berjalan ke arahku, dan sebelum aku bisa ngomong, dia membentak, "Bagus sekali Mr. Alex! Bagus sekali." Dia tepuk tangan sarkastik, "Jadi setelah make gue kayak tisu, apa lo udah cukup sama gue? Gue ini apa buat lo? Orang bodoh!"
"Daisy. Gak gitu!"
"Oh iya, dia cuma temen lo, kan? Tapi bilangin satu hal ke gue MR. Alex, apa ciuman sahabat terbaik itu hal yang normal di dunia lo!" Dia berteriak, "Gimana bisa lo ngelakuin ini ke gue? Gue percaya banget sama lo! Gue cinta banget sama lo! Gue udah nolong lo banget, dan apa yang gue dapet sebagai imbalannya? Patah hati!"
"Daisy. Tolong tenang. Aku- aku minta maaf."
"Pertama, janjiin gue Alex, kalo lo bakal jauhin dia! Janjiin gue kalo ini gak bakal terjadi lagi! Janjiin gue kalo lo milik gue dan cuma gue." Dia berteriak sebelum mengambil batu tajam dan meletakkannya di pergelangan tangannya, "Janjiin gue atau gue bakal sayat pergelangan tangan gue, dan mati! Membebaskan lo dari semua tanggung jawab cinta gue!"
Aku lihat kulitnya robek karena tekanan batu di pergelangan tangannya. Mata ku membesar saat aku merebutnya dan membuangnya. Dia melingkarkan tangannya di sekelilingku, memelukku erat dan membenamkan wajahnya di dadaku.
"Aku cinta sama lo Alex. Aku cinta sama lo. Dan aku tahu kamu juga cinta sama aku. Cuma penyihir Sasha yang udah menghipnotis lo di bawah mantra jahatnya."
Kata-kata itu seperti gunting di hatiku, langsung membelahnya menjadi dua.
——
Pagi berikutnya kami meninggalkan desa, tapi gak kayak perjalanan ke desa, perjalanan pulang kali ini hening. Dan ya, kali ini bukan Sasha yang duduk di sampingku, tapi Daisy.
Dia naikin volume radionya dan menyeringai. Pilihan lagunya, kilatan kameranya, cemoohannya yang konstan adalah hal yang bikin syarafku tegang. Aku tahu dia sangat sosial, aku tahu dia suka jepret foto dan nge-post buat pujian palsu, tapi kadang aku pengen dia normal.
"Daisy cukup sekarang! Tolong berhenti nge-post. Pengikutmu gak harus selalu tahu apa yang kamu lakuin dan di mana kamu poop!" Aku memarahi, gak bisa nahan diri.
Dia langsung matiin kameranya.
"Apa yang salah sama lo Alex!" Dia berteriak, "Gue lagi live! Kenapa sih lo harus nyebarin duri di depan keluarga insta gue!"
"Cukup Daisy. Gue cuma bosen sama vlog lo! Apa lo gak ngerti gue punya nama di masyarakat, gue benci kalo lo ganggu kehidupan pribadi gue dan nge-share-nya online!"
"Ayolah! Lo tahu kan betapa orang suka lihat kehidupan pribadi lo?"
"Gue sama sekali gak tertarik sama apa yang mereka mau! Yang gue mau lo tahu adalah gue benci kalo privasi gue diusik! Mendingan lo urus itu."
"Jangan lupa Mr. Alex kalo gue tunangan lo, lo bisa coba ubah diri lo buat gue, kan."
Aku nginjek pedal gas sekuat tenaga, mobil melaju kencang. Aku harus lakuin sesuatu tentang Daisy. Aku gak bisa lagi ngadepin dia. Gue cuma capek. Aku ngaca dan ngelihat Sasha bersandar di ambang jendela, tenggelam dalam sebuah buku. Dia pakai kacamata hitamnya dan percaya deh dia kelihatan paling seksi pakai kacamata, sayangnya dia cuma pake kalau lagi baca.
Aku buang muka dari dia ke Daisy ketika Daisy naruh tangannya di tanganku. Dia remas sedikit dan aku fokus ke jalan di depan. Senyum di wajahku berubah jadi meringis saat dia cemberut ke aku, "Oh sayang! Jangan sedih. Oke gue gak bakal online kalau gue sama lo. Gimana?"
Aku pindahin tangan ke setir dan bergumam, "jadi terserah lo mau apa, gue gak peduli!"
——
Berkendara melewati gerbang perak, aku melaju ke arah bungalow kerajaan yang berdiri tepat di tengah kota.
Berhenti tepat di depan pintu emas. Aku keluar, ngebukain pintu buat Sasha. Dia keluar dan memindai seluruh tempat. Tatapannya berkeliling di sekitar lapangan bunga, yang menutupi bungalow yang megah ini.
"Selamat datang di rumahku Sasha." Aku tersenyum ke dia, megang tangannya, berjalan bersamanya ke dalam rumah. Aku lihat Daisy keluar dari mobil dan membanting pintu mobil di belakangnya. Melempar kunci mobil ke penjaga dan aku masuk dengan Sasha di sisiku.