Bab 25
Abis mereka semua keluar, gue nyoba buat ngadu ide ke *Victor* tapi gak bisa juga. Akhirnya gue kasih saran ke serigala gue buat berubah dan cari *Amy* sambil nyari serigala *Victor* juga, tapi masuk hutan. Gue pergi ke mansion, ambil beberapa pakaian cowok di tas, terus gue kalungin di leher. Abis itu, gue jalan ke jalur di hutan yang udah pernah kita lewatin sebelumnya. Terus dia berubah, dan serigala gue keluar, mulai pake indra penciuman. Dan bener aja, bau khasnya nuntun gue ke dia. Bentuknya gede banget, kayak yang pernah gue liat sebelumnya. *Amy* nyamperin dia, terus nyisipin kepalanya di sela lehernya buat kasih dukungan.
Erangan kesakitan keluar. Rasanya kayak panah nembus hati gue. Deketin dia bikin gue bisa nembus pikirannya, terus ngobrol sama dia.
*Relam*: "Jangan lakuin ini ke diri lo sendiri, ini bukan salah lo."
Dia gak jawab, malah ngeliatin ke depan, kayak nyembunyiin matanya dari gue. Tapi ini bukan yang gue mau, ini malah nunjukkin kemarahannya biar bisa balik kayak dulu, balik ke gue dan orang-orangnya.
*Relam*: "*Victor*, cinta gue yang kuat dan berani, lo dimana?"
*Victor*: "Dia udah mati, dia gak ngapa-ngapain buat nyelamatin orang-orangnya."
*Relam*: "Enggak, dia udah berjuang keras buat lindungi orang-orangnya. Tapi sekarang, pas orang-orang lo beneran butuh lo, lo malah kemana? Kabur? Apa yang terjadi bikin lo dan semua orang sakit."
*Victor*: "Gue gak nyangka bakal ada hari kayak gini sebelumnya. Gue gak ada rencana kalau ada perang, gimana caranya lindungi mereka. Gue pikir dengan nyatuin kerajaan, gue bisa berhentiin perang."
*Relam*: "Gak penting apa yang terjadi sebelumnya. Tapi sekarang mereka butuh lo buat lindungi mereka. Lo liat *Rebecca* dan *Jasper* (Raja Vampir) nikmatin kemenangan mereka dan ngehancurin semua kerajaan?"
*Victor*: "Tentu aja enggak."
*Relam*: "Jadi sekarang kita singkirin kesedihan kita, berdiri lagi di belakang orang-orang kita, lindungi mereka, bahkan basmi semua musuh kita biar damai."
*Victor*: "Iya, gue harus bales dendam dan berdiri di depan mereka."
*Relam*: "Mungkin sebelum kita balik, kita biarin *Amy* dan *Rewa* ngobrol dulu, gimana?"
*Victor*: "Bener juga, mereka belum ketemu lagi sejak terakhir gue ilang di hutan."
*Victor* dan gue menjauh, biarin serigala-serigala ngobrol.
*Rewa*: "Hai *Amy*, akhirnya kita ketemu lagi, dan lo makin gede dan makin bersinar."
*Amy*: "Iya, akhirnya. Perubahan *Relam* dulu tuh bikin capek, tapi sekarang lebih gampang abis perawatan."
*Rewa* nyamperin dia, mulai ngusap-ngusap kepalanya, terus muter-muter di lehernya sambil bisik-bisik: "Lo cantik banget."
*Amy*, ngangkat kepalanya, terus nyenderin badannya, duduk di kaki belakangnya, terus nyoba nyolek dia pake kaki depannya: "Suka, ya?"
*Rewa*: "Gue suka banget sama lo, ayo balapan ke air terjun."
*Amy*: "Ayo, kalau lo bisa ngejar gue."
Mereka balapan ke air terjun, seneng banget, terus berhenti di bawah air.
*Rewa*: "Gue bakal jadi salah satu prajurit pertama yang lindungi kerajaan kita."
*Amy*: "Gue bakal ada buat lo."
Kita balik ke istana abis kita setuju beberapa hal. Butuh waktu sekitar tiga hari, *Kitten Victor* udah ngerasain latihannya, tapi diperluas buat ngelatih banyak grup. Kita juga tukeran latihan sama grup dari kerajaan yang kena serangan. Tiga hari gue mikirin gimana caranya berhentiin mereka tanpa perang, dan gue gak nemu solusinya. Akhirnya gue pergi ke perpustakaan istana, gue yakin bakal nemuin solusinya di antara baris-baris buku. Gue masuk perpustakaan, dan *Jasmine* nunggu di luar, merhatiin setiap gerakan. Gue nyari-nyari buku, tapi gak nemu yang gue mau. Putus asa mulai nyentuh hati gue, sampe cahaya muncul dari salah satu rak tinggi. Gue bawa tangga, naik ke rak itu, cuma ada satu buku tua dan debu memenuhi raknya. Dan pas gue pegang bukunya, tiba-tiba ada cahaya dari energi biru. Gue masukin buku itu ke tas gue, terus keluar ke kamar gue. Gue dan *Victor*, *Jasmine* ngikutin gue. Kita duduk di kasur bareng kayak dulu waktu kecil. Gue keluarin buku yang bersinar itu, tapi *Jasmine* ngambil dari tangan gue.
*Jasmine*: "Biar gue aja yang buka. Kalau ada bahaya, lo gak bakal luka."
Gue gak bisa berhentiin dia, terus dia buka. Tapi ada surat tua jatuh dari buku itu, jadi gue ambil, terus gue buka.
(Isi suratnya)
Gue gak tau berapa tahun udah berlalu sebelum lo nemuin pesan nubuat gue. Gue pengen banget kalau gue sendiri yang ketemu dia, tapi gak penting apa yang gue pengen, yang penting kata-kata gue nyampe ke dia. Gue minta maaf karena gue ngerusak impian lo, tapi gue gak punya pilihan buat ngebuka jalan misi lo. Cewek yang gue liat di mimpi pertama kali adalah suara kebijaksanaan di dalam lo, yang kedua adalah suara kehidupan di dalam lo, dan akhirnya, gambar di mimpi terakhir adalah untuk diri lo yang sombong, biar lo tau kalau kita semua punya sifat baik dan buruk, tapi pikiran yang ngendaliinnya. Dan karena lo harus tau kalau tugas lo berat, dan buku ini bakal kasih tau semua jawaban buat pertanyaan di pikiran lo. Gue tau lo penasaran siapa gue, jelas gue adalah ibunya *Victor* dan adiknya *Dren* yang ngisi tubuh *Rebecca*. Gue salah satu Ratu Mahkota, dan akhirnya, makasih udah peduli dan sayang sama anak gue.
Gue selesai baca suratnya, dan gue bangga udah nikah sama anaknya ratu hebat ini yang udah ngerencanain semuanya. Gue buka bukunya, terus inget gue harus minta jawaban.
*Relam*: "Kenapa *Rebecca* mau mulai perang?"
(*Rebecca*, karakter yang gak bisa ngilangin perasaan negatifnya, gak pernah punya keluarga yang sayang, dan ayahnya udah ngebentuk bola dan kekuatan buat bikin semua orang di sekitarnya takut sama dia dan nurutin perintahnya. Dia berhenti ngerasain cinta, apalagi pas saudara tirinya jauhin dia. Dia cuma pengen mewujudin mimpi ayahnya yang gak pernah ngakuin dia punya anak, biar dia bisa buktiin kalau dia satu-satunya dari semua putrinya yang pantas nyandang namanya dan dicintai sama dia.
*Relam*: "Apa yang harus gue lakuin buat berhentiin perang tanpa pertempuran?"
((Pertama, lo harus hancurin kristal buat ngecilin kekuatan *Rebecca*, kedua, lo harus mengorbankan sesuatu atau seseorang yang berharga buat lo buat bawa perdamaian.
Hancurin kristal dulu, dan ini mungkin, ada di tangan gue. Tapi, siapa atau apa benda yang bakal gue korbankan, gak penting sekarang kita mulai langkah pertama
Gue berdiri, terus pergi ke kantor *Victor*, tempat gue naruh kristal di brankas. Terus gue keluarin kristal, gue lempar ke lantai, tapi gak terjadi apa-apa. Gak ada goresan sama sekali.
*Relam*: "Kristalnya gak pecah, gue harus gimana?"
*Jasmine*: "Gue inget kata ayah gue, kalau lo masukin kekuatan lo ke dalam diri lo, lo bakal ngalahin diri lo sendiri, dan kalau lo liat ketajaman lo, jangan takut, ini mungkin awal yang baru."
*Relam*: "Maksudnya apa?"
*Jasmine*: "Apa itu *Hussam*?"
*Relam*: "Pedang."
*Jasmine*: "Jadi maksudnya, kalau lo masukin pikiran keputusasaan ke dalam diri lo, lo bakal kalah, tapi kalau lo liat pedang, jangan takut. Itu adalah separuh cahaya yang lewat, suara kemenangan. Iya, pedang ayah kita yang dibuat ibu gue dan ngasih mantra sihir di atasnya."
*Relam*: "Lo pinter banget, tapi pedangnya sekarang dimana?"
*Jasmine*: "Satu menit, gue balik lagi."
Dia menjauh dari gue, terus berdiri seolah-olah megang sesuatu di tangannya, merem, terus mulai baca beberapa mantra yang pernah gue denger dari ibu gue dulu. Beberapa saat, pedang muncul di tangannya. Gue ambil dari dia, gue angkat tinggi-tinggi, terus gue tebas keras kristalnya, dan hancur jadi pecahan kecil. Gue noleh buat ngucapin selamat ke *Jasmine* karena dia yang udah bawa pedang. Tapi dia udah tergeletak di tanah, gak sadar. Dan sekarang, masih ada satu hal lagi yang tersisa. Apa yang harus gue korbankan, dan gimana caranya gue tau?"
Di kerajaan para raptor, *Rebecca* menjerit kesakitan dari rasa sakit yang menimpanya, dan tau kalau separuh jiwanya udah hancur, dan sekarang dia gak punya banyak waktu sebelum tubuh yang ngebawa sisa jiwanya mati, dan semuanya bakal hancur dan berakhir.
*Rebecca*: "Gue gak bakal kasihan sama lo, *Relam*, gue tau lo yang ada di balik ini, dan gue bakal bales dendam ke lo."
Kerajaan Werewolf
Dengan ngomong gitu, gue nyusul *Jasmine*, kita keluar sambil ketawa-ketawa ngeliat apa yang kita lakuin. Terus gue pulang bawa pedang di tangan gue, terus masuk ke aula latihan buat naruh pedang itu di samping pedang suami gue.
*Relam*: "Lo bikin gue kaget."
*Victor*: "Lo takut kenapa?"
*Relam*: "Gak ada."
*Victor*: "- Gue yakin."
*Relam*: "Iya."
Gue gak tau kenapa dia ngomong ke gue dingin banget, seolah-olah dia marah sama sesuatu. Dia ninggalin gue, terus jalan keluar dari kamar. Tapi gue ngikutin dia ke kamar tidur.
*Relam*: "Kenapa setan gue marah?"
*Victor*: "Jangan bahas ini."
*Relam*: "Tapi gue pengen tau apa yang bikin lo kesel, sayangku."
*Victor*: "Sedih pas dia sedih sama anak-anak, gue pengen liat mereka tumbuh besar dan ngajarin mereka berantem."
*Relam*: "Kita semua sedih sama apa yang terjadi sama mereka, tapi lo harus bales dendam buat mereka."
*Victor*: "Bener."
*Relam*: "Sekarang kasih tau gue apa yang bikin lo marah."
*Victor*: "Marah karena istri dan pasangan gue pengen berhentiin perang tanpa ngasih tau gue apa yang dia lakuin."
*Relam*: "Gue berusaha berhentiin perang dengan ngurangin kekuatan *Rebecca* dan nemuin kelemahannya."
*Victor*: "Lo ngapain sih kayak gitu?"
*Relam*: "Kayak orang yang bikin ramalan."
*Victor*: "Sayangku, orang itu gak ada, dan ramalan itu cuma legenda."
*Relam*: "Terus ibu lo juga gak ada, gitu?"
*Victor*: "Apa hubungannya ibu gue?"
*Relam*: "Gue tau lo sadar kalau ibu lo adalah salah satu ratu mahkota, dan orang yang ada di tubuh *Rebecca* itu adalah adiknya ibu lo."
*Victor*: "Kok lo tau semua ini?"
*Relam*: "Gak penting, yang penting kenapa lo gak cerita sama gue tentang ibu lo. Dan tentang *Rebecca*."
*Victor*: "Gue lakuin ini buat lo."
*Relam*: "Enggak, lo lakuin ini buat diri lo sendiri, buat jaga gue."
*Victor* dengan lantang: "Gue ngelakuin semuanya buat lindungi lo dari diri lo sendiri. Gue tau sifat lo bakal bawa lo ke bahaya, tapi lo liat gue, gue sayang sama lo."
*Relam*: "Gue gak maksud kayak gitu."
*Victor*: "Gue bakal tunjukin gimana caranya jadi egois. Lo gak boleh keluar atau ikut campur buat ngehentiin perang."
*Relam*: "-. Tolong jangan."
*Victor*: "Ini keputusan gue, dan gue bakal pasang penjaga di pintu rumah buat ngehalangin lo keluar."
######################################################################
bab 25
*Victor* dengan lantang: "Gue ngelakuin semuanya buat lindungi lo dari diri lo sendiri. Gue tau sifat lo bakal bawa lo ke bahaya, tapi lo liat gue, gue sayang sama lo."
*Relam*: "Gue gak maksud kayak gitu."
*Victor*: "Gue bakal tunjukin gimana caranya jadi egois. Lo gak boleh keluar atau ikut campur buat ngehentiin perang."
*Relam*: "-. Tolong jangan."
*Victor*: "Ini keputusan gue, dan gue bakal pasang penjaga di pintu rumah buat ngehalangin lo keluar."
Dia pergi dari rumah tanpa dengerin gue, terus nutup pintu pake kunci. Waktu berlalu, dan gue duduk di kamar sambil nangis. Gue gak percaya sama apa yang dia lakuin. Dia gak balik lagi. Gue ngabisin malam sendirian. Pagi harinya dia balik lagi, masih marah. Bawa beberapa makanan, terus naruh di meja. Abis itu gue pergi ke taman belakang sebentar, dan ngerasa dia nyamperin.
*Victor*: "Lo gak siap buat buka puasa?"
Gue gak jawab dia, gue pasang kacamata hitam, terus tiduran di rumput.
*Victor*: "- Lo salah, dan lo marah."
Dia dateng, duduk di samping gue, jadi gue balik badan, terus ngasih punggung gue ke dia. Dia naruh tangannya di punggung gue, terus bisik-bisik:
*Victor*: "Gue sayang sama lo, dan gue takut kehilangan lo, gue takut banget kehilangan lo."
*Relam*: "Lo gak bakal kehilangan gue, gue percaya lo bisa lindungi gue, apa gue bukan ratu dan harus bantuin lo lindungi kerajaan, atau gue cuma salah satu dari wanita lo?"
*Victor*: "Lo istri gue, kekasih gue, dan ratu."
*Relam*: "Kalau dia bantuin gue buat ngalahin *Rebecca* tanpa perang."
*Victor*: "Kalau gue nolak, apa ada bedanya? Enggak, lo bakal ngelakuin apa yang lo pikirin. Gue tau gimana keras kepalanya lo. Oke, gue sama lo dalam keputusan apapun."
*Relam*: "Jangan, kalau gitu jangan jauhin gue lagi."
*Victor*: "Oke, gue gak bakal ngelakuinnya lagi. Ayo sarapan bareng. Gue laper."
*Reallam* ketawa: "Ayo, gue juga."
Tiga minggu udah berlalu sejak serangan terakhir *Rebecca* ke kita, dan dia gak ngulangin serangan itu. Tapi perasaan gue bilang, dia lagi nyiapin sesuatu yang kuat. Gue keluar rumah bareng beberapa penjaga, kayak yang diminta *Victor*, ke kantor pusat pemerintahan. Tapi gue mampir dulu ke istana buat nemuin "*Maggie*" karena tanggal lahirnya udah deket.
*Relam*: "Hai, apa kabar?"
*Maggie*: "Gue takut banget."
*Relam*: "Mungkin gue belum nyoba topik ini, tapi ibu gue selalu bilang, kalau lo gendong bayi lo, lo bakal lupa semua rasa sakitnya."
*Maggie*: "Lo bener. Gue pengen banget ketemu dia."
Gue pamitan sama dia, terus berangkat ke kantor pusat pemerintahan. Tapi gue ngerasa pusing dan sakit di perut, terus gue tidur lebih lama dari biasanya. Pas gue sampe di pintu masuk gedung, gue ketemu *Victor*, yang maksa kita pergi ke restoran deket situ buat sarapan bareng. Kita keluar hari ini tanpa sarapan. Dan pas pelayan naruh makanan di depan gue, gue ngerasa mual. Gue bangun, lari ke toilet restoran, terus *Victor* nyusul, dia angkat rambut gue, terus mulai nggerakin tangan satunya di punggung gue sampe gue selesai.
*Victor*: "Lo kenapa? Ayo kita ke rumah sakit."
*Relam*: "Gue gak papa, jangan khawatir, kita bisa tunda ke rumah sakitnya sampe abis kerja."
*Victor*: "Enggak, kesehatan lo lebih penting."
Gue bangun dari lantai, terus pergi sama dia ke rumah sakit. Terus dokternya mulai meriksa gue, abis gue minta *Victor* buat ninggalin kita. Terus dia pergi dari gue, balik ke kantornya. Dan abis gue duduk di depannya, dia senyum, terus bilang:
Dokter: "Selamat, Ratu, kalau lo hamil."
*Relam*: "Ini berita paling bahagia yang pernah gue denger, tapi apa mungkin gue gak cerita ke raja sekarang? Gue pengen cerita sendiri ke dia."
Gue keluar dari kamar dengan bahagia, tapi gue nyembunyiin beritanya dari dia, kita lagi dalam situasi perang dan kita gak punya waktu buat ini sekarang.
*Relam*: "Cuma capek, gak ada apa-apa."
*Victor*: "Udah berapa kali gue bilang buat jaga diri lo, tapi lo gak dengerin?"
*Relam*: "Gue janji bakal jaga diri gue baik-baik mulai sekarang, ayo kita pergi."
*Victor*: "Lo gak ada kerjaan hari ini, lo bakal pulang sekarang."
*Relam*: "Oke, tapi balik lagi sama gue sebentar."
Kita pulang, terus duduk bareng sampe gue tidur nyenyak, dan gak ngerasa dia pergi. Hari-hari berlalu cepet, suatu hari kita semua kumpul di istana sampe *Matilda* balik buat duduk bareng kita, dan suaminya gabung sama tentara bareng *Victor* buat ngejaga perbatasan kerajaan. Dan pas *Maggie* lagi ngomong, gue ketiduran, gue gak tau gimana. Dan gue liat ibunya *Victor* masuk lewat pintu istana, terus berdiri di depan gue, terus ngasih gue kunci sambil bilang:
Ibu *Victor*: "Lo harus berhentiin waktu. Pake kunci ini di pintu belakang kantor *Victor*."
Abis ibunya *Victor* ilang, gue bangun denger suara *Penyihir*.
*Maggie*: "Kunci ini dari mana? Itu punya ibu gue, dan ilang abis dia meninggal."
*Relam*: "Dia yang ngasih ke gue sekarang, dan bilang gue harus berhentiin waktu."
Sebelum gue selesai ngomong, kita denger suara serangan di luar, lolongan serigala, dan pantulan lingkaran sihir yang dipake penyihir muncul di jendela. Gue cepet-cepet bergerak, terus menuju kantor. Dan *Matilda* bantuin gue gerak, terus pindahin perpustakaan. Bener aja, gue nemuin pintu balon coklat dan gagang emas. Gue masukin kunci, terus muter buat buka pintunya. Tiba-tiba semuanya di sekitar gue tenang, dan waktu berhenti seolah-olah gue berdiri sendirian di dunia ini. Sesuatu mendorong gue buat ngelewatin pintu ini. Gue nemuin tanah hijau yang luas dengan bunga yang belum pernah gue liat seumur hidup gue.
*Relam*: "Gue dimana?"
Gue ngerasa ada tangan kecil narik pakaian gue, terus gue turunin mata gue ke dia. Dan ada salah satu anak yang udah meninggal waktu serangan pertama.
*Relam*: "Halo, kok bisa ada disini?"
Anak kecil: "Kita udah ada disini sejak jiwa kita keluar dari tubuh kita."
Gue ngerasa air mata jatuh dari mata gue, sedih karena gue gak berhasil lindungi mereka. Anak kecil itu bisik-bisik ke gue: "Jangan nangis, kita semua sayang sama lo disini."
Kata-kata yang hebat, bisa nenangin hati. Cinta punya kekuatan buat ngubah jiwa dan berhentiin perang, itu yang kita butuhin, cinta.
Anak kecil: "Seseorang pengen ketemu lo."
*Relam*: "Oke, dia dimana?"
Dia pegang tangan gue, terus narik gue buat bergerak di belakang dia. Dia bawa gue ke seratus orang gede yang duduk, ketawa-ketawa. Pas gue deket, gue nemuin ayah dan ibu gue. Gue lari, terus meluk mereka erat.
Dan ini ibunya *Victor*: "Sayang, misi lo belum selesai. Lo harus berkorban. Dia adalah batu penjuru buat berhentiin *Rebecca* dan ngalahin dia."
*Relam*: "Tapi gue gak tau gue bakal jadi apa."
Ibu *Victor*: "Lo bakal tau pas lo ketemu kakak gue, *Selena*."
Ayahnya *Relam*: "Kasih tau *Jasmine* kalau gue sayang sama dia apa adanya."
*Reallam*: "Oke."
Ibu *Victor*: "Pergi ke tempat itu di dekat pohon hijau."
Gue menjauh dari mereka, dan hati gue bilang kalau pengorbanan itu bakal nyakitin gue banget, tapi gak penting, ini penting buat gue buat berhentiin perang dan nyelamatin dunia gue dari kehancuran. Gue nyamperin, terus liat seorang wanita cantik, malah cantik banget, berdiri di dekat danau.
*Selena*: "Selamat datang di dunia gue, lo gak ngecewain gue, dan udah waktunya lo berkorban."
*Reallam*: "Tapi gue gak tau gue bakal jadi apa."
*Selena*: "Dengan anak lo, ini pilihan lo, entah anak atau perang, dan banyak orang yang gak bersalah mati, dan *Rebecca* menang."
*Relam*: "Enggak, gue gak mau ada yang mati, gue setuju."
Dia nyamperin gue, terus naruh tangannya di perut gue. Gue mulai ngerasa sakit yang parah banget, gue merem dari sakitnya, dan pas sakitnya berhenti, gue buka mata gue, nemuin diri gue di dalam istana, dan *Rebecca* tergeletak di tanah, menggeliat kesakitan. Terus dia ngeliat gue, terus mati, dan tubuhnya ilang. *Victor* nyuruh yang luka buat diobatin, dan ngejalanin pengasingan ke kerajaan Vampir, udah selesai perang, dan gak ada yang tau tentang pengorbanan itu, dan hati gue mati karena itu. Gue berhenti ngerasa bahagia, bahkan pas gue tau kelahiran anak perempuan "*Penyihir*" gue gak bisa pergi buat memberkatinya, dan bilang *Victor* gue capek. Abis dia balik, dia nemuin gue tiduran di kasur kayak dia ninggalin gue.
*Victor*: "Lo kenapa? Kenapa lo beda, lo kenapa? Lo kemana pas serangan terakhir, dan kok tiba-tiba balik lagi, terus nusuk *Rebecca*?"
*Relam*: "Gue gak mau bahas itu."
*Victor*: "Oke, gue bakal tinggalin lo, tapi janji bakal cerita ke gue suatu hari nanti."
Gue ngangguk setuju sama dia, terus keluar dari kamar. Tapi gue ngerasa pusing pas gue turun tangga, dan tiba-tiba mata gue gelap, dan pas gue bangun, gue ada di rumah sakit, dan suara ketawa *Victor* memenuhi tempat itu.
*Victor*: "Sayang, lo bikin gue jadi serigala paling bahagia di kerajaan."
*Relam*: "Dan gue ngelakuin apa buat ini?"
*Victor*: "Sayang, lo hamil, dan udah bulan kedua."
*Reallam*: "Beneran?"
*Victor*: "Beneran?"
Gue gak bisa nahan air mata, terus nangis histeris. Gue gak mengorbankan anak gue, ini cuma tes. Gue denger suara ibunya *Victor* (ini bener, ini cuma tes kekuatan pilihan lo atas cinta dan kebaikan atau keegoisan) Bulan-bulan berlalu, dan gue ngelahirin anak cantik yang mirip gue dan ayahnya, dan gue ngajarin dia kalau cinta dan pengampunan adalah timbangan *Kfta* dan dengan mereka dunia bahagia.
Ceritanya selesai, dan gue harap lo suka.