Bab 19
"Mau cium kamu di mana hari ini?" Si Alpha nanya dengan mikir pas aku ngakak karena tangannya geliin aku waktu dia di atas ranjangnya.
Cium aku di bawah sana. Batin Lace yang kotor, dan aku kaget sama kata-kata memalukannya.
Lace, kalau kamu gak berhenti- aku makin salting dari pada muka palsu oranye Donald Trump pas Alpha tau sisi jalang serigalaku.
Dia meledak ketawa pas aku malu-malu. Dia terus godain aku sambil nyium lembut di hidung dan pipiku, sampai ke sisi mulutku. Aku dorong bibirnya ke tempat yang seharusnya, bibirku, karena aku nikmatin kehangatan bibirnya di bibirku dalam ekstasi murni.
Aku pengen kita bisa gini selamanya tanpa kutukan lama atau masa lalunya dan namanya yang terkutuk. Aku pengen kita hidup bahagia dan bikin keluarga. Aku berhasil ngeblok dia dari pikiranku tapi gak lama.
"Kamu mau bikin keluarga sama aku?" Dia natap aku dengan takjub yang bikin aku pengen meluk dia banget. Matanya yang indah warna badai itu natap mataku yang campuran aqua sama abu-abu dengan cara puitis, aku udah gak bisa apa-apa lagi buat dia, aku tau saat dia nyambungin jiwaku ke jiwanya kayak senar gitar; kalau satu senar gak berfungsi, yang lain gak ada gunanya. Itulah yang aku rasain pas dia ngasih aku senyum tulusnya.
"Iya," bisikku pas bibirnya kembali ke tempat asalnya di bibirku. Setelah interaksi sama Dewi Bulan, aku balik lagi buat liat ekspresi khawatir si Alpha pas aku jelasin kalau aku pingsan karena kena sengatan matahari. Untungnya, dia percaya sama alibiku yang memelas. Aku bisa bilang dia masih curiga sama pertemuan sama dokter yang aku punya tapi dia tau kapan harus berhenti gangguin aku soal itu.
Jam enam sore dan aku bahagia banget sama ciumannya di ranjangnya yang nyaman banget. Aku malu pas bilang ke dia kalau aku mau bikin keluarga sama dia tapi kita berdua tau kita punya tugas yang harus diselesaiin sebelum itu.
"Kamu gak ada latihan?" Aku nanya ke dia pas aku rebahan di dadanya setelah sesi make-out berat yang kita punya, dia ngusap rambutku sambil natap aku.
"Ambil cuti sehari buat pasangan cantikku." Aku salting dan nampar dadanya pas dia mainin rambutku di jari-jarinya. Itu malam yang aku idam-idamin, damai dan tenang. Cuma itu yang aku mau sampai jeritan bergema di kamarnya dan dia keluar buat cari tau.
Aku juga mutusin buat pake jubah dan turun buat liat keributan.
Mayat bergeletakan di mana-mana di depan rumah mewah kita, anggota pack yang kita terima semua berlumuran darah hitam dan pil yang pecah. Mereka bunuh diri.
"Pengawal, ayo ke pack Moonlight dan cari pilnya sebelum terlambat." Si Alpha bilang dengan stres sambil ngasih aku ciuman kilat dan nyuruh aku buat tetap di sini dan urus pack.
Aku balik badan begitu pasangan kita pergi dan liat muka-muka yang ketakutan pas aku tepuk tangan dan nyuruh mereka bantu aku bersihin lapangan, aku udah biasa sama mayat karena di Moonlight, kita punya banyak perang dan aku ikut merawat.
Aku masih gak tau apa yang Alpha Raden mau dari pasanganku. Mungkin, dia juga punya pilnya. Ini adalah kiamat kehancuran dan aku adalah campuran penyembuhan dan pembunuhan.
Kita berhasil bersihin setengah lapangan tempat genangan darah disapu dan diurus, kita masih punya setengah lagi dan waktu nunjukin jam delapan malam, aku keringetan parah karena banyaknya usaha yang aku kasih.
Perutku sakit pas aku berusaha ngusapnya buat ngurangin sakitnya kerja keras tapi aku harus kuat buat pack, aku abaikan pas aku mulai kerja tapi sakitnya masih ada, menghancurkan setiap tembok yang aku bangun pas aku duduk dan manggil dokter pack.
Sebelum dokternya dateng, cewek pirang yang sama yang udah bantuin aku, dateng ke aku.
"Selamat, Luna." Dia bilang dengan senyum ceria, aku berdiri kebingungan sama tingkahnya yang tiba-tiba.
Dia nyilangin tangannya pas dokter dateng dan nyuruh aku duduk buat ngecek aku. Dia capek sama semua masalah yang dateng nempel sama aku. Aku adalah serigala yang sangat gelap dengan beban kutukan yang berat sama aku.
Pikiran bahagia aku langsung ke Alpha aku dan pasangan yang berhasil aku pecahin sisi kerasnya, dia luar biasa, nyebelin tapi tetep luar biasa.
Aku yakin delapan pack aku yang ngerjain. Alpha ngehubungin aku pas aku ketawa.
Kamu nemuin apa aja? Aku nanya lewat koneksi pas geli menjalar di tubuhku karena gel dingin di perutku.
Gak ada, masih nyari, aku bakal ketemu kamu pas aku pulang. Dia bilang dan aku matiin koneksinya.
"Gak, gak mungkin." Kata dokter, ngeri.
"Apa?" Perasaan mendalam di perutku di mana detak jantung kecil terdengar oleh kemampuan pendengaran ku yang kuat dan air mata yang mengalir di pipiku ngasih tau aku.
"Kamu hamil." Cewek itu konfirmasi pas aku nangis di telapak tangan, berharap kegelapan bisa ngambil aku.