Bab 25 Masa Lalu Keluarga Basu?
"Bhabhi, anting-antingmu yang lain mana?" tanya Aashi pas mereka lagi di mobil, mau balik ke Khurana Mansion.
Aarohi cemberut terus ngangkat tangan ngecek antingnya, matanya langsung gede pas nyadar antingnya ilang.
"Gue kenapa sih? Kenapa gue sering banget kehilangan perhiasan?" ~ pikir Aarohi, soalnya itu salah satu anting kesukaannya, dikasih bokapnya pas sebelum nikah.
"Bhabhi, lagi mikirin apa?" tanya Aashi pas Aarohi gak jawab pertanyaannya.
"Uhh--gue lagi mikirin di mana gue kehilangan anting gue," jawab Aarohi sambil nyenderin kepalanya, nutup mata, kesel banget sama semua yang salah di hidupnya.
"Bhabhi, cincinnya juga ilang kan?" tanya Aashi, dan Aarohi langsung ngeliatin dia, agak kaget gimana Aashi bisa tau.
"Nggak--nggak! Kok lo mikirnya gitu sih!?" tanya Aarohi sambil senyum palsu, dan Aashi senyum sedih sebelum geleng-geleng.
"Bhabhi, mungkin cincinnya emang gak ilang. Gue harus nanya sama bhai soal ini." ~ pikir Aashi sambil ngeliatin jalanan Mumbai yang rame.
"Aashi?" panggil Aarohi tiba-tiba, dan Aashi ngeliatin dia, nyuruh dia lanjut.
Aarohi ngeliatin supirnya sekali, mastiin dia gak nguping pembicaraan mereka, Aarohi nanya pelan, "Emang--emang lo ngerasa di mall ada yang nguntit kita atau ada yang ngawasin kita?"
"Kenapa sih, bhabhi? Kayaknya lo khawatir banget sama hal ini. Beberapa menit yang lalu juga lo ngomongin hal yang sama, sekarang juga. Ada yang gangguin lo atau gimana?" tanya Aashi, beneran khawatir, soalnya sekarang Aarohi ngomongin topik ini buat kedua kalinya dalam satu jam terakhir, dan ini juga bikin dia takut.
"Uhh--nggak, nggak ada yang serius. Cuma nanya doang. Lupain aja. Jangan dipikirin," liat Aashi panik, Aarohi khawatir dan langsung ngehindarin topik itu.
~~~~~
Mike masuk ke villa dan langsung ke bar tempat Asad sering ngabisin waktu, entah minum sambil ngeliatin foto gede Arohi di dinding, atau dia lagi baca dokumen atau file.
Tapi kali ini dia masuk buat nemuin Asad senyum lebar sambil terus-terusan ngeliatin anting kristal warna hijau mint kecil di satu tangan, dan segelas wiski di tangan satunya.
Sejak mereka sampe di India, cuma ada satu emosi di mata Asad, yaitu Benci dan Balas Dendam. Tapi hari ini, ada sesuatu yang lain.
Gairah dan hasrat buat naklukin dia...buat milikin dia!
"Boss, ini informasi internal tentang Khurana Group of Industries," kata Mike sambil naruh file biru di meja bar, tapi pandangan Asad bahkan gak berubah dari anting di tangannya.
"Mike, gue butuh informasi lebih banyak tentang Aarohi Khur--, Aarohi Basu," kata Asad sambil ngeliatin Mike sekali sebelum ngebuang semua isinya ke dalam gelas sekaligus.
"Gue udah kasih semua informasi tentang dia. Gak ada lagi yang penting buat diketahui tentang--" kata Mike, cuma dipotong Asad yang bilang ketus, "Penting atau nggak, gue yang tentuin. Lo harus kasih gue informasi sekecil apa pun tentang dia. Apapun yang berhubungan sama Aarohi Basu harus gue tau kayak buku terbuka."
Tanpa nunggu jawaban, Asad berdiri, nyimpen antingnya lagi ke kantong kemeja putihnya dan mau keluar dari ruang bar, pas dia denger Mike bilang, "Boss, jangan lupa tujuan lo dateng ke sini. Sejarah jadi saksi, kalau ada cewek di dalemnya, permainannya bakal jadi jelek. Dan cowok yang lagi jatuh cinta selalu kalah. Jangan sampe cewek itu ngepengaruhin lo sampe lo lupa Balas Dendam lo."
Rahang mengeras dan tangan ngepal, Asad berbalik sebelum nonjok Mike langsung ke rahangnya, bikin orang itu jatuh ke meja bar.
"Gue nggak bakal dan nggak akan pernah lupa balas dendam gue. Dan cewek ini, Aarohi.Advaith.Khurana bakal bantu gue buat ngehancurin Abhiraj Khurana dan keluarganya yang bahagia," Asad nonjok tiap kata dengan rahang mengeras.
Mike berdiri dan nyengir iblis sambil ngelap darah di sudut bibirnya dan bilang, "Gue percaya lo, tapi gue nggak percaya sama rasa sayang lo yang tumbuh ke cewek itu. Kalau dia bisa bantu lo ngehancurin Khuranas', dia juga bisa ngehancurin lo kalau lo jatuh cinta sama dia."
"Lo tau gue nggak percaya sama Cinta dan semua itu. Itu cuma kasih sakit dan penderitaan seumur hidup. Dan gue nggak bakal ngulang kesalahan yang udah dilakuin orang lain," ngambil gelas dari meja bar dan mecahinnya di tangannya, pecahan kaca nusuk tangannya yang kanan dan darah netes sempurna ke lantai, matanya yang kosong dan tanpa emosi natap potret Aarohi di dinding, sinar balas dendam yang membara jelas banget di bola mata coklat hazelnya.
~~~~~
"Nggak, ayah. Ayah nggak perlu khawatir soal ini. Aku bakal ke sana. Suruh bhai jangan sampe ke sini buat jemput aku," kata Aarohi, dan Advaith ngeliatin dia dari laptopnya.
"Iya, ayah. Aku bakal dateng besok dan baru besok aku ambil surat janjiku," kata Aarohi di telepon, dan Advaith makin cemberut, gak tau persis apa yang dia omongin.
"Bhai, mama manggil kamu dan bhabhi buat makan malam," Aashi dateng dan Advaith ngangguk sambil bilang, "Dia lagi teleponan sama ayahnya. Nanti aku dateng setelah dia selesai telepon."
Aashi ngangguk dan pergi, sementara Advaith nunggu Aarohi selesai telepon biar mereka bisa turun buat makan malam.
Aarohi setelah ngobrol sama ayahnya balik ke kamar dari balkon dan Advaith langsung bilang, "Mama manggil kita buat makan malam."
"Kamu duluan aja. Aku mau cuci tangan dulu," kata Aarohi dan berbalik mau jalan ke kamar mandi, pas Advaith bilang, "Ngomong-ngomong--"
Aarohi berbalik dan ngeliatin dia kosong, nyuruh dia lanjut, sementara Advaith ngejilat bibir bawahnya yang kering, mikir mau ngomong apa.
"Uhh--Kamu mau pergi ke mana besok?" tanya Advaith, nutup ekspresinya, gak mau dia tau rasa penasarannya.
"Aku balik kerja di kantor ayahku," jawabannya singkat dan langsung ke intinya, gak ngasih kesempatan Advaith buat nanya lagi dan dia ngangguk 'Oke', gak tau mau ngomong apa lagi.
"Kalau kamu mau, aku bisa nganterin soalnya kantormu searah sama Khurana Indus--," Advaith nawarin santai tapi Aarohi langsung nolak sambil bilang, "Kampusnya Aashi kan searah sama kantorku. Jadi aku bakal bareng dia dan nurunin dia di jalan."
Tanpa nunggu pertanyaan lagi, Aarohi masuk ke kamar mandi dan Advaith menghela nafas sebelum keluar dari kamar ke ruang makan di lantai bawah.
~~~~~
"Aarphi nelpon aku beberapa menit yang lalu. Dia bakal balik kerja di kantor kita mulai besok," Arnob Basu bilang ke istrinya yang dateng dan duduk di sebelahnya, udah siap tidur.
Arnob ngeliatin istrinya dari buku akuntansinya, gak dapet jawaban, dan cemberut ngeliat dia lagi mikir dan nanya, "Kenapa, Mishti? Lagi mikirin apa?"
Mishti ngeliatin suaminya dengan khawatir sebelum bilang, "Hari ini Aarohi pulang."
"Iya, Arnob bilang. Tapi kamu kayaknya nggak seneng setelah ketemu anakmu. Kenapa, Aarohi ngomong sesuatu? Atau ada masalah sama Advaith atau mertuanya? Setidaknya ngomong sesuatu, Mishti!" Arnob langsung nanya, khawatir banget sama putrinya.
"Tenang dulu. Bukan kayak yang kamu pikirin. Cuma aku nemu beberapa album lama masa kecil Aarohi dan Abhoy. Dan aku nyimpen album itu di kamar Aarohi, dan ada satu album lagi yang aku simpen di sana karena salah," kata Mishti, dan Arnob cemberut, gak tau album mana yang diomongin istrinya.
"Album mana yang kamu omongin, Mishti?" tanya Arnob, tapi sekali ngeliat mata Mishti yang berair, dia gak perlu dia ngomong lebih banyak.
"Kamu ngomong sesuatu ke Aarohi?" tanya Arnob, dan Mishti langsung ngangguk.
"Mishti, aku ngerti perasaanmu. Tapi ini masa lalu kita dan dua anak ini adalah masa kini kita," Arnob ngambil tangannya dan nyoba buat ngejelasin.
"Tapi aku seorang ibu dan buat seorang ibu, semua anaknya sama. Aku masih gak bisa lupa malam itu pas aku kehilangan anakku, Arnob," kata Mishti, makin banyak air mata keluar dari matanya.
"Aku ngerti kamu, Mishti. Tapi kita nggak bisa ngapa-ngapain waktu itu dan kita nggak bisa ngapa-ngapain hari ini. Dan kamu harus nerima hal ini," kata Arnob dan meluk istrinya dari samping. Andai dia juga bisa nangis buat ngeluarin emosinya.
"Mama, ayah, masa lalu apa yang kalian omongin?" Pasangan itu ngeliatin anaknya dengan mata gede, yang berdiri di ambang pintu kamar mereka dan ngeliatin mereka dengan cemberut.
~~~~~
"Advaith, Abhiraj manggil kamu di ruang kerjanya," kata Priya pas mereka berdiri setelah makan malam dan Advaith ngangguk.
"Advaith, jangan kasih tau ayahmu soal cincinnya sekarang. Kita liat aja nanti kalau situasi itu dateng, oke?" kata Priya, dan Advaith ngangguk lagi tanda ngerti, sementara Aarohi nunduk, ngerasa bersalah karena kehilangan barang berharga keluarga ini.
"Jangan ngerasa bersalah. Kamu nggak sengaja ngehilangan itu," kata Advaith pas dia ngeliat dia jadi murung setiap kali mereka ngomongin cincin tradisional yang hilang, sejak pagi.
Entah kenapa, wajah bersalahnya selalu bikin hatinya sakit, tau kalau dia penyebab dari rasa bersalahnya.
Lebih dari nyimpen cincin buat Aamira, Advaith sekarang lebih khawatir gimana Aarohi bakal bereaksi pas dia tau kalau selama ini cincinnya aman sama Advaith.
Entah kenapa, dia takut ngeliat sakit di mata indahnya.
Aarohi nggak ngomong apa-apa dan masuk ke dapur buat bantuin Priya. Dia capek ke pengaruhi sama perhatiannya, sebelum dia bakal nyakitin dia lagi dalam segala cara yang mungkin.
~~~~~
Advaith ngetok pintu ruang kerja Abhiraj dan masuk buat ngeliat yang terakhir lagi baca beberapa file.
"Kamu manggil?" tanya Advaith masih berdiri di pintu, gak tau mau masuk atau nggak.
Suasana canggung selalu ada setiap kali Abhiraj dan Advaith sendirian, entah mau ngomongin hal pribadi atau bahas masalah profesional.
"Iya. Sini duduk," kata Abhiraj dengan tegas tanpa emosi, dan Advaith menghela nafas sebelum duduk di kursi yang ditaruh di sisi lain meja.
"Ada klien baru yang dateng besok dan aku mau kamu buat pertemuan pertama sama dia. Proposalnya bagus banget dan bisa bawa banyak keuntungan buat perusahaan kita. Jadi aku mau kesepakatan ini ditutup bagaimanapun caranya. Ini file proyeknya dan semua detail ada di dalem file. Jadi, baca baik-baik karena aku nggak mau ada kesalahan di pertemuan besok," kata Abhiraj secara profesional dan bahkan Advaith ngangguk dengan singkat.
Perilaku gak ramah di antara mereka udah lama dilupain, dan sekarang cuma ada formalitas di antara mereka.
"Asad Sarsilmaaz," Advaith baca nama kliennya dan ngangguk sebelum jawab, "Jangan khawatir. Aku bakal tangani pertemuan ini dengan ahli. Nggak bakal ada kesalahan."
Abhiraj ngangguk singkat dan ngambil itu sebagai isyarat Advaith berdiri buat pergi pas Abhiraj ingetin, "Ingat Advaith, ini kesepakatan yang sangat penting buat perusahaan kita dan perkembangan perusahaan. Dan ini juga bakal buktiin kemampuanmu sebagai pebisnis yang baik."
Emosi sakit muncul di wajah Advaith selama beberapa detik sebelum dia nutupnya dengan ahli dan keluar dari ruangan tanpa ngomong apa pun.
Begitu Advaith keluar dari ruangan, Priya masuk dan natap suaminya yang balik ngeliatin dia dengan alis terangkat.
"Kenapa kamu harus kasar sama dia terus? Apa kamu nggak bisa lepasin satu hal itu dan setidaknya coba benerin hubunganmu yang rusak sama dia?" tanya Priya sedih, soalnya dia capek ngeliat anak dan suaminya ngomong cuma buat urusan bisnis terus.
"Kamu udah tau anakmu, Priya. Semakin aku coba benerin hubungan kita, semakin dia bakal memberontak. Dan aku juga ayahnya. Mungkin sekarang dia bakal mikir keputusanku salah, tapi entah kapan dia bakal sadar kalau apa yang aku lakuin buat dia dan cuma buat dia," jawab Abhiraj dengan tenang dan Priya terus ngeliatin dia sedih.
"Setidaknya kasih tau dia kalau ayahnya sayang banget sama dia," kata Priya dan Abhiraj tertawa kecil sambil bilang, "Mungkin kita nggak berperilaku kayak ayah dan anak normal lainnya, tapi jauh di lubuk hati kita berdua tau kalau kita saling sayang banget."
Priya menghela nafas pasrah, capek nyoba buat benerin hubungan ayah anak yang rusak ini selama empat setengah tahun.
~~~~~
Advaith ngeliat ke atas pas Aashi ngetok pintu kamarnya dan cemberut nemuin dia di kamarnya di jam-jam larut malam ini.
"Aku harus ngomong sesuatu yang penting sama kamu," kata Aashi, dan Advaith ngangguk nyuruh dia lanjut.
"Aku nggak mau muter-muter. Cincinnya nggak ilang kemana-mana kan? Malah ada di kamu kan?" tanya Aashi langsung ke intinya.
Advaith ngeliatin dia kosong sebentar sebelum menghela nafas dan bilang, "Iya. Aku nggak nganggep Aarohi sebagai istriku dan dia nggak punya hak apa pun atas apa yang ada di rumah ini."
"Berarti cincin itu buat pacarmu kan?" tanya Aashi sarkas, dan Advaith milih buat ngeabaikan pertanyaannya.
"Kamu tau kan bhai, kamu bakal nyesel semua ini. Kamu bakal nyesel udah nyakitin bhabhi demi cewek itu yang cuma manfaatin kamu dan ngeboongin kamu terus. Dan suatu hari kamu bakal ditinggal sendirian tanpa ada siapa-siapa di sekitarmu. Ingat kata-kataku, bhai!" kata Aashi dengan frustasi sebelum keluar dari kamar dengan marah.
Dengan frustasi Advaith nutup laptop dan jalan ke balkon dengan banyak pikiran yang berputar di otaknya.