Bab 11
"Minggu emang paling seru," kata Emma keras-keras, berdiri dari bangkunya sambil mengangkat gelas alkohol tinggi-tinggi.
"Mari kita rayakan hubungan kalian berdua," dia nyanyi dengan nada ngantuk, Dylan dan gue ambil gelas dan angkat bareng. Gelas mereka berdua penuh alkohol, tapi punya gue cuma jus jeruk.
Bukannya gue gak minum, cuma gue jadi sinting kalau mabok.
"Ceria!" kita bilang serempak sambil duduk lagi.
Gue ambil tusuk sate dan tarik dagingnya dari gigi gue, rasa ini bawa gue ke dunia lain dan setelah semua yang terjadi beberapa hari terakhir, semua ilang pas lidah gue joget kegirangan.
Emma, Dylan, dan gue keluar, kita makan siang di tempat mereka, masakan nyokap Dylan emang paling enak, dia baik banget dan penyayang juga, keluarga dia selalu anggap gue kayak bagian dari mereka.
Pesan piring ketiga, gue ambil tusuk terakhir dan masukin ke mulut.
"Apaan?" tanya gue sambil liatin Dylan soalnya matanya dari tadi ngeliatin gue mulu.
Emma udah hampir mabok, dia nyenderin sikunya di meja, wajahnya nempel di telapak tangan, dan dia terus bangun, celingak-celinguk, ngomong sesuatu ke dirinya sendiri terus tidur lagi.
"Kelihatannya ada yang lo pikirin soalnya lo makan banyak banget hari ini," dia nanya dengan nada khawatir.
Gue selalu nunjukin stres gue dengan makan kebanyakan atau minum banyak soda dan pikiran gue penuh sama Tuan Han.
Gue jalan keluar pagi ini, mastiin kita gak ketemu, gue cuma mau hindarin dia sebisa mungkin buat kebaikan gue sendiri.
"Jam berapa lo nyampe rumah kemarin?" dia nanya sementara gue diem mikirin apa yang harus dikerjain besok di kantor.
"Anna, apa Tuan Han nganterin lo selamat?" dia nanya.
"Iya, bro, dan gue nyampe rumah cepet kok semalem," gue bohong.
Gue ngerasa bersalah bohong ke Dylan, tapi mau gimana lagi, gue gak bisa bilang ke dia kalau Tuan Han cium gue dan kita pergi kencan, gak mungkin.
Itu juga bakal bikin gue malu.
"Gue cuma khawatir," katanya sambil minum minumannya.
"Gak usah," gue tepis dengan sopan, ambil tusuk sate lagi, gue isi perut gue dan kosongin pikiran gue karena bayangan dia terus muncul di pikiran gue.
Gue cuma mau lupain apa yang terjadi karena bikin gue ngerasa aneh dan gue gak suka ngerasain perasaan itu buat dia.
..............................................................
"Kayaknya ada sesuatu yang bagus terjadi," kata Lan sambil membalik halaman bukunya.
"Lo tau apa yang terjadi?" Tuan Han nanya sambil maju dari kursinya.
"Gimana gue bisa tau?" Lan ngelirik dia dan balik lagi ke buku.
"Tanya gue," bibir Tuan Han bergerak membentuk senyuman lebar.
"Gak, gak, simpen aja buat diri lo sendiri," nunjuk jari telunjuknya ke atas, dia gerakin ke kiri dan kanan, matanya nempel ke buku.
"Ayolah," Tuan Han berdiri dari kursinya, dia ambil buku dari Lan sambil nyengir jahat.
"Oke, kasih tau gue," dia menghela napas.
"Gue cium dia,"
"Apa?" suaranya cukup keras buat nunjukin kalau dia kaget "Apa dia inget lo?"
"Nggak," dia taruh buku di meja dan duduk lagi.
"Gue gak keberatan kalau harus mulai hubungan dari awal," dia nyeplos dengan mata berbinar-binar.
"Lo pasti bercanda, dia mungkin lagi gak waras setelah apa yang terjadi, apa lo gak mikir dia bakal marah sama lo, lo bilang ke gue kalau lo bakal sabar, ingatan gak bisa muncul dalam sekejap, Jackie,"
"Tenang aja, ini bukan masalah besar, kita udah pernah ciuman kok,"
"Tapi dia gak tau,"
"Oh, iya, gue lupa,"
"Gue setuju dia lagi dalam masa pemulihan yang tepat, tapi gak bisa dipastiin," Lan kasih tau yang bikin dia menghela napas.
"Gue cuma mau dia balik, gue mau bawa dia pulang,"
"Gue ngerti, bro, tapi lebih baik sabar aja, pelan-pelan aja, dia mungkin inget lo kalau dia nyoba, semuanya di tangannya, kalau lo bikin dia marah gue yakin dia bahkan gak bakal mikirin lo,"
"Oke,"
"Lo gak seharusnya ngelakuin itu, dia pasti bakal kaget,"
"Gue gak bisa nahan diri, ngeliat wajah imut itu,"
"Cinta bikin orang gila, gue ngerti," Lan bilang sambil berdiri dari kursinya, dia jalan ke meja deket rak dan nuang segelas air.
"Kayaknya ada yang gak beres antara lo dan Charlotte,"
Lan diem aja sambil minum air.
"Dia udah naksir lo dari kuliah tapi lo tetep pura-pura gak tau,"
"Gue lupa nanya gimana Lara?" dia ganti topik.
"Gue yakin dia bakal bikin masalah,"
"Hmmm,"
"Kita hangover, Charlotte pengen kita makan malam bareng, dan beberapa hari ke depan gue bakal sibuk banget,"
"Gue kira lo gak suka hangover dan kumpul-kumpul, kayaknya Anna udah bikin lo berubah," Lan tertawa kecil "Gimana bisa seseorang berubah dari dingin jadi hangat dalam sekejap, teori lo gak bisa ditemukan di buku gue juga," dia tertawa sambil ngeliat Tuan Han yang memelototi dia.
...........................................................................
"Udah jam 7, gue harus pergi," pake tas gue, gue berdiri.
"Biar gue anterin pulang," Dylan maksa sambil berdiri dari bangkunya.
Nengok ke kiri, gue liat Emma dan ngangkat bahu, kepalanya di meja dan dia tidur pules, udah berapa kali kita bangunin dia tetep gak bangun juga.
"Lo harus anterin adek lo pulang dan jangan lupa kasih dia air madu sebelum nyokap tau,"
"Dia harusnya bisa kontrol diri, gimana bisa dia jadi kembaran gue," dia menggerutu, membungkuk dia gendong Emma di punggungnya kayak lagi ngasih dia piggyback.
"Gue pergi, bangun," dia tiba-tiba bangun, matanya setengah merem, senyum dia ngeliat gue terus ke Dylan "Lo harus anterin dia pulang," dia bilang sambil nunjuk Dylan pake jari telunjuknya kayak lagi ngasih ceramah dan dia senyum sama kelakuannya sendiri.
"Dadaah," gue dadah ke mereka sambil jalan, ninggalin mereka berdua, Emma emang harus kontrol diri.
Walaupun Dylan dan Emma kembar, mereka beda banget orangnya.
Gue mutusin buat jalan kaki nikmatin cuaca dingin ke apartemen, soalnya gak terlalu jauh dari bar bbq. Ngeluarin hape gue yang udah bunyi, gue baca pesannya, itu dari Dylan.
"Hati-hati, pulang sebelum hujan,"
Gue senyum baca pesannya, dia emang perhatian banget. Gue jalan lebih cepet soalnya mau hujan, kilatnya jadi pengingat.
Di jalan, di trotoar, gue denger kucing ngeong. Ngikutin suaranya, gue cari tau apa itu dan itu anak kucing lucu, basah kuyup mungkin dia jatuh ke genangan air dan keliatannya luka. Dia liatin gue dengan wajah kasihan yang bisa bikin siapa aja luluh.
"Jangan liatin gue kayak gitu," gue protes sambil berdiri, bersihin celana gue "Gak boleh ada hewan peliharaan di apartemen gue," gue jelasin seolah-olah dia ngerti. Dia ngeong lagi yang bikin gue natap dia kasihan. Beberapa tetes air mulai turun dari langit, gerimis.
"Oke, lupakan," gendong dia, gue lari ke apartemen soalnya udah mulai hujan, gue nyesel gak naik taksi, kalau gue naik taksi, gue gak bakal liat anak kucing, gue gak bakal basah kuyup dan pasti gue gak perlu takut ketahuan sama tuan tanah gue yang aneh.
Gue peluk dia di lengan gue, mastiin dia gak kena air, masuk ke lift gue tarik dia erat ke dada gue. Pas pintu lift kebuka, gue keluar, nyoba gak bikin suara soalnya hewan peliharaan dilarang di sini.
Jalan pelan-pelan dengan sepatu basah, gue liat ke belakang pelan-pelan buat nemuin pintunya dia ketutup, senyum muncul di wajah gue, tau dia gak ada di sini. Balik badan, gue jalan ke arah pintu gue. Pegang gagang pintu, gue berhenti pas denger suara pintu berdecit.
"Mbak Anna," dia manggil penasaran.
"Sampai jumpa di kantor Tuan Han," gue jawab sambil masuk dan nutup pintu secepat kilat.
Besok pasti hari yang berat banget."