Bab 30
'Untuk pacar gantengku,' tulisku di sticky note bentuk hati, terus ditempel di penutup plastik wadah salad.
Naro bubur sama salad di mejanya, aku keluar sambil senyum. Pas kita sampe kantor, Tuan Han gandeng tanganku di depan semua orang, kupikir hubungan kita bakal jadi cinta rahasia kantoran, tapi dia malah gak masalah hubungan kita ketahuan.
Duduk di kursi, aku langsung senyum pas Tuan Han masuk ke ruangannya. Duduk di kursinya, dia merhatiin makanan buat makan siang di mejanya, terus ngernyit. Dia lepas sticky note itu dan baca, bibirnya langsung membentuk senyum lebar pas dia ngeliatin aku, sementara aku bengong.
Dimasukkin sticky note ke lacinya, dia ngibasin hapenya ke aku, dan detik berikutnya hapeku bunyi.
"Makan bareng, yuk," katanya begitu aku jawab teleponnya.
Naro hape di meja, aku ambil kotak makananku dan jalan ke ruangannya. Duduk di kursi seberangnya, aku cekikikan.
"Gak makan makanan gak sehat hari ini?" tanyanya sambil buka saladnya.
"Lagi diet," jawabku sambil buka saladku juga.
"Kenapa?" Dia bangun dari kursinya dan megang lengan kursiku, terus narik aku ke arahnya, dan kursiku menggelinding kayak aku gak ada beban sama sekali.
Serius, kupikir aku naik berat badan makanya aku berhenti makan makanan kesukaanku, BBQ.
"Mau naik atau gak, kamu tetep cantik," ceplos dia pas kursiku nabrak kursinya.
Nengok ke atas, aku senyum. "Gimana kalau aku jadi gendut kayak balon?"
"Aku juga bakal jadi balon," bisiknya sambil deketin mukanya ke telingaku, bikin geli karena napasnya kena kulit di belakang telingaku.
Nutup mulutnya pake telapak tangan, aku dorong dia mundur pas dia mau nyium. "Makan, yuk," aku cekikikan sambil nusuk plastik milkshake-ku.
Selesai semua kerjaku, aku beres-beres dan jalan ke kantor bosku, dan dia masih kerja keras.
Oke, jadi aku harus lembur bareng dia lagi hari ini kayak beberapa hari terakhir.
"Sayang, aku di sini buat nyemangatin kamu!" teriakku sambil loncat-loncat, gerakin tangan kayak cheerleader. Aku ngelempar tasku ke sofa, dia ngeliat ke atas ke aku, wajah stresnya langsung berubah jadi senang, dan aku seneng karena itu semua gara-gara aku.
Bikin aku bangga sih.
Aku jalan ke arahnya sambil megangin pipiku, dia narik tangannya pas aku deket, megang tangannya, aku deketin diri ke dia, terus nunduk dan nyenderin dagu di bahu kanannya.
"Cek, ya?" tanyaku sambil ngeliat layar komputer yang nunjukkin grafik penjualan.
"Iya," dia nepuk kepalaku dan lanjut kerja.
Berdiri, aku naruh jari di dahinya. "Biar aku pijat, biar rileks," kataku sambil mijat dahinya, dia merem dan nyenderin bahunya di kursi, mukanya menghadap aku.
"Enakan?" tanyaku pelan, dan dia jawab dengan deheman.
Bibirku membentuk senyum pas dia buka mata dan natap aku. "Energi aku hilang, kamu mau isi lagi gak?" dia cemberut, sementara aku natap dia penasaran.
"Mau aku ambilin minum gak?"
Naiikin alis, aku senyum pas dia geleng dan monyongin bibirnya pengen nyium.
Ohh, ini yang dia maksud, gimana bisa aku gak ngerti sih.
Megang pipinya, aku deketin muka ke dia pas dia merem, aku deketin lagi dan ngecup keningnya. Tuan Han langsung buka mata dan ngeliat aku, bibirnya membentuk senyum, dia maju dengan cepat dan ngecup bibirku, terus langsung duduk tegak dan lanjut kerja, sementara aku berusaha ngontrol detak jantung bodohku.
Udah jam setengah sebelas, duduk di sofa lama-lama bikin punggungku sakit, berdiri aku olahraga kecil buat ngerentangin otot, dan berhenti pas denger hape Tuan Han bunyi.
Dia jawab teleponnya. "Aku otw," ceplos dia terus matiin, bangun dia jalan ke aku dengan cepet. "Ayo," katanya sambil ngambil jaketnya dari sofa.
"Kenapa?" tanyaku pas dia ngebut.
"Lara di rumah sakit," ceplos dia dan suasana langsung hening.
Aku gak nyangka bakal punya saingan cinta secepat ini.
Buruan masuk rumah sakit, Tuan Han langsung lari ke kamar setelah nanya informasi, dan aku ngikutin di belakang. Buka pintu, dia masuk sama aku, aku berhenti pas ngeliat dia deketin cewek yang lagi tiduran di kasur dengan perban di kepalanya.
"Kenapa?" tanyanya pelan.
"Gak ada yang serius,"
Kalo gak serius, kenapa dia harus nelpon dia, serius luka dia gak keliatan parah sama sekali.
Oke, Anna, mendingan diem.
"Aku gak sengaja minum aspirin dan pingsan karena alergi," jawabnya dengan suara lemah.
Mata aku terpaku ke mereka pas dia duduk di bangku samping kasur, dia megang tangannya yang bikin mataku membesar. "Om gak di sini?"
"Dia pergi kemarin," jawabnya sambil megang telapak tangannya, terus ngasih tatapan ke aku.
Keluar, aku duduk di kursi di luar kamar, gak mau lagi nonton drama mereka, apa dia lupa ada orang lain yang ikut sama dia dan kenapa dia baik dan sayang banget ke dia.
Aku mau bunuh diri aja dari jendela biar tau gimana reaksinya.
Ngepalin tangan di dada, aku ngomel sendiri, kalo aku di anime, pasti keluar asep dari hidungku dan api nyala di kepalaku.