Rona Merah
Woi! Pagi-pagi udah molor aja. Gak masuk kelas apa, anak baru, bangun dong!” kata Klara, yang kedua kalinya?
Terus dengerin ya, gue gak bakal sekamar lagi sama lo, soalnya gue mau pindah ke universitas lain, gue keterima buat kuliah di sana,” tambah Klara.
“Yah, parah sih, kita aja belum sempet deket udah mau pisah aja,” kata Belarina dengan nada khawatir.
“Ya udah, nomor gue udah gue tulis di buku sketsamu. Chat aja kalau butuh bantuan gue,” kata Klara.
Mereka saling mengucapkan selamat tinggal dan Klara membawa kopernya keluar dari kamar menuju pintu keluar universitas.
Di sisi lain, Belarina tenggelam dalam pikiran tentang Daniel. Dia pengen tampil kece hari ini buat dia.
Terakhir kali, dia bahkan gak peduli Belarina ada di sana, tapi kali ini dia pengen banget narik perhatiannya.
Dia memakai crop top hijau dan rok hitam.
Sepatu hak tinggi dan rambut digerai kayaknya bakal oke, pikirnya.

Pas dia ngeliat jam tangannya, ternyata dia telat lagi.
Dia lari ke arah ruang kelas sambil mengambil buku-bukunya.
Untungnya kali ini dia gak nabrak siapa pun.
Guru udah ada di dalam kelas, tapi karena dia gak terlalu telat, dia diizinin masuk.
Matanya sedikit melihat ke atas dan dia melihat seluruh kelas, tapi Daniel gak ada.
Dia jadi bete dan duduk di kursi tempat dia duduk kemarin.
Udah sekitar 39 menit, tapi Daniel gak dateng juga.
Tiba-tiba bel berdering dan kelas bubar.
Belarina kecewa.
Dia kesel karena semua persiapannya sia-sia.
Pokoknya, dia bawa buku-bukunya dan pergi ke kantin.
Di sana, pas dia mau masuk, dia ngeliat Daniel sama gengnya.
Dia masuk dari pintu kantin.
Pas dia ngelakuin itu, dia ngerasa semua mata tertuju padanya.
Ya iyalah, Belarina kan ikan dari Belanda.
Dia cantik. Mata amber-brown-nya dan rambut golden-brown-nya bisa narik perhatian hiu dari lautan.
Cowok-cowok di kantin cuma manusia biasa.
Tapi Daniel gak ngelirik sama sekali, mungkin dia gay (canda).
Dia duduk di meja pojok.
Dia masih ngeliatin Daniel, tapi dia gak peduli.
Belarina mesen makanan.
Matanya gak tau kenapa, tapi dia gak bisa ngehindarin dia.
Gak lama kemudian pesenannya dateng dan dia mulai buka makanannya. Itu burger yang enak dan kopinya luar biasa.
Selang semenit kemudian, Belarina ngeliat ke atas lagi buat nyari Daniel, dia gak ada di tempatnya, di mana dia seharusnya berada.
Matanya mulai nyariin dia pas ada benda yang duduk di depannya.
Itu Daniel.
“Ehm ... cewek, gue liat lo nyariin gue. Emang gue seganteng itu ya? Ah... lo mau apa... kayaknya..."
Sambil ngomong gitu, Daniel berdiri dan ngambil kursinya deket dia, di mana dia duduk.
Dia deket banget sampe badannya hampir nyentuh badan Belarina.
Mereka hampir ciuman pas Belarina mendorongnya mundur.
Sementara itu, geng Daniel balik lagi nyariin dia dan dia harus pergi.
“Dia tuh brengsek yang suka ngegombal,” komentar Belarina setelah dia pergi.
Tapi seperti yang kita tau, dia suka sama dia, meskipun dia bilang dia brengsek, tapi pipinya bersemu merah.
Karena guru matematika lagi libur, jadi gak ada kelas.
Jadi Belarina balik ke kamarnya.
Dia masih dalam pikirannya, mikirin tingkah Daniel yang tiba-tiba.
Dia mikir kalo Daniel juga suka sama dia, atau dia gak akan dateng ke dia kayak gini.
Dia bersemu merah mengingat Daniel.
Napasnya, aromanya, semuanya luar biasa. Mata birunya tampak seperti lautan yang hidup.
Dia duduk di sofa dan mengambil buku sketsanya.
Dia membuka halaman di mana dia menggambar dia dan terus menatapnya.
Kemudian setelah capek, dia tidur siang.
Dia menutup pintu kamarnya.
Berbaring di kasur dan tertidur.
********************
Belarina bangun di malam hari. Dia haus.
Di meja, ada botol berisi air.
Dia mengambilnya dan minum sebanyak-banyaknya untuk menghilangkan rasa hausnya.
Jam 8 malam.
Ini waktunya makan malam.
Dia mikir kenapa gak makan malam dari kantin aja hari ini.
Kemarin dia mesen dari restoran.
Dia pergi ke kantin buat ambil makanan buat dirinya sendiri.
Dia mesen makan malamnya dan lagi makan. Tiba-tiba dia ngeliat Daniel di sana.
Dia sama gengnya. Dia juga di sini buat makan malam sama temen-temennya.
Dari sana, entah gimana dia juga merhatiin dia, tapi pura-pura gak ngeliat.
Setelah makan malam, pas Belarina berdiri, dia ngeliat Daniel dateng ke arahnya.
Dia berdiri di satu tempat.
Di sana dia dateng dengan kertas di tangannya.
Dan dia kaget, dia ngasih kertas itu ke dia, di mana ada nomor teleponnya.
“Woi! Ini nomor gue. Lo bisa nge-text atau nelpon gue dari situ. Kapan aja… kapan pun lo mau,” kata Daniel dengan nada genit.
Dia ngedipin mata setelah ngomong gitu dan setelah itu, dia balik ke temen-temennya.
Belarina masih berdiri di sana, membeku dan kaget.
Butuh waktu semenit buat dia keluar dari pikirannya.
Dia jadi gugup.
Tingkah Daniel yang tiba-tiba bikin dia sedikit menggigil karena gugup.
Kemudian dia ngeliat nomor itu dan ke dia.
Dia juga ngeliat dia.
Mereka saling bertukar pandang.
Dia ngeliatin dia seolah-olah mereka lagi bertukar hati di sana.
Dia menyentuh hatinya dari tangan kanannya buat ngecek kalo itu ada di tempatnya.
Tiba-tiba seorang guru memanggilnya. Seorang cewek dateng buat ngasih tau dia.
Dia menuju ke ruang guru ngikutin cewek itu.
Dia nyembunyiin kertas itu di dompet kecilnya.
Guru memanggilnya buat nulis detailnya yang belum lengkap.
Dia cerita semuanya yang dia mau tau dan kemudian dia menyuruhnya pergi.
Dia langsung pergi ke kamarnya.
Setelah sampe, dia duduk di sofa dan langsung nyari kertas itu, dia nyimpen nomornya di HP-nya seolah-olah itu berharga seperti berlian Kohinoor.
Kemudian sambil bimbang mau nelpon dia atau gak, dia ketiduran langsung di sofa.
*************
Apakah Daniel juga jatuh cinta sama dia… apakah Daniel juga jatuh cinta sama Belarina… pertukaran nomor adalah tanda kalo Daniel juga jatuh cinta sama Belarina…
Jadi, mari kita lihat di mana kisah cinta yang penuh daya tarik ini akan berakhir…
Akankah Daniel jatuh cinta pada Belarina ataukah pertukaran nomor itu cuma candaan dari Daniel… mungkin…