BAB SEPULUH
Aku denger pintu kebuka pas Charlotte masuk ke kamar tamunya. Pas kabur dari rumah, aku mikir mau nangis di luar, tapi gak tahan malu kalau ada yang lihat aku nangis jadi aku lari ke rumah Charlotte. Dia naruh baki di tangannya ke meja samping tempat tidur dan duduk di kasur di samping tubuhku yang lagi tiduran. Kayaknya aku gak gerak dari posisi ini sejak aku tiduran di sini, nangis. Aku cuma berhenti karena tubuhku udah gak punya air mata lagi.
"Gimana perasaanmu?" Dia nanya khawatir.
"Lebih baik, makasih."
"Bagus deh, kenapa kamu bilang makasih?"
"Udah berjam-jam aku nyampe di depan pintu rumahmu dengan muka penuh air mata, dan kamu gak nanya kenapa. Makasih udah gak maksa aku buat cerita apa yang salah dan ngizinin aku nangis sepuasnya di kamar tamu kamu." Aku nyampe rumahnya sekitar siang dan kalau tebakanku bener sekarang udah gelap di luar. Aku gak bisa bedain soalnya gordennya ditutup.
"Kadang lebih baik biarin orang datang ke kamu dengan masalah mereka daripada kamu maksa mereka cerita, bahkan kalau kamu pengen tahu apa yang salah biar kamu bisa bantu."
"Iya, dan aku harap kamu gak keberatan, tapi aku mau nginep. Aku rasa aku gak mau ketemu atau nyium bau Theo untuk beberapa waktu." Seluruh rumah ada bau dia dan bahkan kalau aku gak lihat dia, aku masih bisa nyium baunya kalau aku jalan-jalan di rumah.
"Iya tentu saja, kamu boleh nginep selama yang kamu mau."
"Makasih."
"Sama-sama, biar aku ambilkan baju bersih buat kamu. Aku balik lagi sebentar," kata Charlotte, dan pergi.
Aku duduk buat ngambil gelas air dari baki yang dibawa Charlotte dan aku denger suara di luar pintu.
"Dia udah berhenti nangis?" Dan berbisik ke Charlotte, tapi aku masih bisa denger.
"Iya udah," jawab Charlotte
"Bagus, dan jam berapa dia bakal pergi. Alpha bakal keluar dari kantornya bentar lagi dan aku yakin lebih baik dia pulang sebelum dia datang."
"Dia nginep."
"Dia apa?" Dan berbisik dengan nada kaget.
"Dia nanya apa dia boleh nginep dan aku bilang iya."
"Kenapa kamu bilang iya?"
"Karena dia butuh waktu buat menjauh dari Alpha."
"Aku tahu itu, tapi kamu juga tahu gimana posesifnya Alpha, kalau dia pulang dan gak lihat dia. Dia bakal makan aku dan kamu hidup-hidup."
"Aku tahu gimana posesifnya dia dan itu sebabnya dia butuh waktu sebanyak mungkin dari dia."
"Hmm, aku gak tahu harus gimana."
"Kamu gak perlu ngapa-ngapain, cuma dukung aku melawan Alpha kalau waktunya tiba."
"Tentu aja aku bakal dukung kamu meskipun dia bisa bunuh kita berdua dalam sekejap mata. Aku akan selalu ada di sisimu."
"Aku tahu, dan itu sebabnya aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu," kata Dan dan aku rasa menciumnya. Aku denger mereka berdua ngambil napas setelah beberapa detik. Aku harap aku gak harus bikin mereka susah kayak gini, tapi sekarang aku gak mau deket-deket Theo.
Charlotte balik lagi beberapa menit kemudian dengan baju baru dan handuk.
"Maaf," kataku, ke dia saat dia naruh barang di tangannya ke kasur.
"Maaf buat apa?"
"Maaf udah bikin kamu dan Dan dalam situasi sulit dengan Theo karena kalian ngizinin aku nginep."
"Kamu denger kita?" Charlotte nanya, kaget.
"Iya denger."
"Gak usah khawatir, kamu boleh nginep sama kita selama yang kamu mau," kata Charlotte, dengan senyum lembut.
"Makasih," kataku, dan membalas senyumnya.
Satu jam kemudian atau lebih, aku udah selesai mandi, makan, dan aku mau tidur waktu aku nyium baunya. Aku bisa ngerasain emosinya makin deket dia. Aku bisa ngerasain emosinya kalau dia deket meskipun dia belum nandaiku. Aku duduk di tepi kasur dan nunggu dia datang. Aku tahu dia lagi di jalan buat jemput aku dan aku bahkan gak punya energi buat ngelawan dia biar aku bisa nginep jauh dari rumah.
Aku gak nunggu lama sebelum dia datang dan mendobrak pintu kamar tamu sambil membukanya. Dia marah besar dan dengan dia di depanku, aku bisa ngerasain amarahnya dan dia kesel banget. Aku nanya diri sendiri kenapa ngeremehin aku terus jadi posesif sama aku. Kayaknya dia bingung gimana ngekspresikan perasaannya ke aku.
Aku rentangkan tanganku lebar-lebar dan nunggu dia gendong aku. Karena dia mau aku ikut dia, mending dia gendong aku aja. Aku lagi gak mood jalan sekarang. Dia membungkuk dan aku melingkarkan tanganku di lehernya. Dia berdiri tegak dan aku melingkarkan kakiku di pinggangnya. Dia keluar dari kamar dengan kepalaku di lehernya.
Dia turun tangga dan keluar dari rumah Charlotte dan Dan. Saat kita jalan ke rumah kita. Aku gak bisa gak nyium baunya yang luar biasa. Andai aja semuanya beda di antara kita. Aku yakin kalau ada yang lihat kita sekarang mereka bakal takjub gimana romantisnya kita kelihatan. Andai aja mereka tahu aku ngerasa kayak tahanan buat mateku dan aku gak punya hak dalam hal apapun yang berhubungan dengan hidupku lagi.
Keesokan paginya, aku turun buat sarapan waktu bau seseorang yang udah sebulan gak aku cium lewat hidungku. Aku buru-buru turun tangga buat mastiin kalau hidungku berfungsi dengan baik. Aku masuk ke ruang tamu, dan hidungku berfungsi dengan baik. Aku gak percaya dia di sini, tapi kenapa dia di sini?
"Chloe!" Aku teriak, kaget lihat dia di sini.
"Ana!" Dia bales teriak dan lari ke arahku, dan meluk aku. Aku meluk sahabatku dan pegang erat-erat karena aku gak mau pernah ngelepasin dia. Aku ngerasa kalau aku ngelepasin dia, dia bakal hilang.
"Aku seneng banget kamu di sini, tapi kenapa kamu di sini?"
"Aku di sini karena…." kata Chloe tapi tiba-tiba berhenti.
Aku lihat warna matanya berkedip antara hijau dan emas. Serigalanya lagi berusaha ambil alih tapi kenapa. Dia tiba-tiba mulai nyium-nyium rumah dan jalan ke arah kamar tamu di ujung lorong. Ya Tuhan, aku gak percaya ini terjadi sama sahabatku. Aku tahu banget Chloe selalu pengen banget ketemu matenya, tapi aku penasaran siapa yang nginep di kamar tamu. Begitu dia nyampe di pintu kamar tamu, aku gak bisa nahan diri dan nahan napas sambil berdoa siapa pun yang ada di balik pintu itu adalah seseorang yang bakal memperlakukan sahabatku dengan baik. Orang di dalem mendahului Chloe buat muter kenop pintu, dan aku gak tahu harus nangis atau senyum buat sahabatku begitu aku lihat siapa yang ada di balik pintu.
"Mate," Chloe dan Liam bilang di saat yang sama.
Aku gak tahu harus seneng karena Liam itu adiknya Theodore, dan kita semua tahu mate yang hebatnya Theodore itu gimana, kataku dalam hati dengan sarkasme. Tapi di sisi lain, Liam gak kayak kakaknya sama sekali. Beberapa hari terakhir aku deket dia, aku bisa bilang setidaknya dia orang yang beda dari kakaknya.
"Chloe, ini Liam, adiknya mateku," kataku, ngenalin dia.
"Halo," kata Chloe, tersenyum.
"Hai, cantik," kata Liam, meluk dia.
Aku udah bisa lihat mereka berdua menyelesaikan proses perkawinan dalam semenit ke depan. Untuk sedetik kecil, aku ngerasa sedih karena aku gak dapet reaksi kayak gitu dari mateku, tapi aku singkirkan pikiran itu.
"Sebanyak aku pengen kasih kalian ruang buat saling kenal. Aku harus nyolong Chloe," kataku, narik dia dari pelukannya.
"Kenapa," kata Liam, menggeram ke arahku.
"Gak apa-apa, aku bakal balik lagi. Aku harus ngasih tahu Ana sesuatu yang penting," kata Chloe, naruh tangannya di bahu Liam buat nenangin dia. Dia kelihatan kayak pengen nyabut kepalaku karena mau ngambil Chloe.
"Oke, cepetan. Ada banyak yang harus kita lakuin dan bahas," katanya, menyeringai. Dia langsung adem begitu Chloe nyentuh dia.
Aku rasa aku gak pernah nyentuh Theodore. Aku gak bisa nahan air mata kecil yang memenuhi mataku, ngeliat gimana luar biasanya mereka berdua. Aku buru-buru narik mereka balik sebelum salah satu dari mereka lihat. Chloe dan aku jalan balik ke ruang tamu buat ngobrol.
"Apa yang bikin kamu ke sini?" Aku nanya semenit kita duduk di ruang tamu.
"Ibumu, ada sesuatu yang terjadi sama dia?"
"Apa yang salah sama ibuku? Apa dia sakit? Aku ngobrol sama dia beberapa hari yang lalu, dan semuanya kelihatan baik-baik aja," aku nanya, panik.
"Dia gak sakit, tapi dia hilang."
"Aku gak ngerti, aku ngobrol sama dia beberapa hari yang lalu." Aku gak mau percaya apa yang Chloe katakan.
"Aku yakin kamu iya, tapi waktu aku ke sana tadi malam buat lihat gimana kabarnya tanpa kamu di sini, dia gak ada. Kita gak bisa nemuin dia semalaman. Aku buru-buru ke sini buat cari tahu apa dia ke sini tanpa ngasih tahu Alpha kita, tapi mate kamu bilang gak. Kita percaya dia diculik."
"Aku gak ngerti apa…" Aku gak tahu kenapa, tapi tiba-tiba aku susah ngomong. Aku ngerasain detak jantungku naik sepuluh kali lipat. Aku ngerasa kayak semuanya di sekelilingku berputar dan mendekatiku. Aku menutup dan membuka mataku dan fokusin perhatianku ke satu objek buat berhentiin putaran itu, tapi gak mempan.
"Itu bohong!" Aku bilang berulang kali. Aku denger suara Chloe, tapi rasanya dia jauh dari aku, dan aku gak tahu kenapa.
"Ana, kenapa? Kamu baik-baik aja?" Chloe nanya, dengan mukanya di depanku, tapi aku bahkan gak tahu apa dia nyata karena, saat ini, aku bisa lihat dia dua.
Aku mulai pusing, dan sebelum kegelapan memelukku, bau yang paling luar biasa tercium di hidungku, dan aku tahu dia di sini.
"Apa yang terjadi sama dia?" Theodore bilang, teriak sambil masuk ke rumah, bertanya-tanya apa yang terjadi sama matenya.