BAB LIMA PULUH TUJUH
Gue mengerang dalam tidur gue pas ngerasa sakit kepala parah datang. Gue buka mata sambil megangin kepala. Gue lihat gue nggak ada di kasur; malah, gue diiket di kursi. Gue coba bebasin diri dari tali di tangan gue, tapi makin gue berontak, makin kebakar kulit gue. Kayak ada perak nempel di kulit gue. Gue celingak-celinguk, dan semuanya gelap. Gue ada di mana sih, demi Tuhan? Gue mau teriak pas suara seseorang menang duluan.
"Nggak perlu teriak sayang, nggak ada yang denger kamu di sini," kata suara yang familiar. Semuanya gelap jadi gue nggak bisa lihat orangnya.
"Siapa lo? Munculin diri lo," gue teriak ke orang di ruangan sama gue.
"Halo sayang," kata Charlotte, muncul di depan gue. "Kangen gue, nggak?" Dia ngomong gitu sambil pake kuku panjangnya buat nyentuh ujung muka gue.
"Gue ada di mana, dan gimana gue bisa sampe sini?" gue tanya, ngejauhin muka gue dari jangkauan dia.
"Lo sama gue?"
"Apaan sih maksudnya?"
"Maksudnya ya itu."
"Lo ngeganja ya?" gue tanya, alis gue naik ke arah dia. Dia makin aneh dari biasanya.
"Kenapa sih lo nanya pertanyaan bodoh gitu?" dia nanya, cemberut. Kayaknya gue udah nyinggung dia sama pertanyaan gue.
"Gimana lo bisa nangkap gue? Lo ngapa-ngapain Theo? Sumpah kalo lo nyakitin dia sedikit aja pas gue udah keluar dari kursi ini, gue bakal bikin lo nanggung akibatnya," gue ngamuk ke dia. Gue inget tidur sama Theo sebelum bangun di sini. Pasti dia nyakitin Theo biar bisa culik gue. Gue penasaran gimana dia bisa.
"Nggak usah ancam-ancam nggak jelas. Gue nggak nyakitin anjing lo itu."
"Dia bukan anjing," gue ngamuk keras ke dia. Vampir sama penyihir emang suka manggil serigala anjing. Mereka tau kita bukan anjing. Mereka cuma ngomong gitu buat bikin kesel, dan itu berhasil.
"Kalian tuh ya, tapi itu nggak penting sekarang. Yang penting tuh lo punya yang gue butuhin, dan gue mau lo kasih itu ke gue."
"Tunggu, lo mau gue kasih ke lo. Gue kan udah di depan lo. Kenapa lo ngomongnya kayak gue nggak ada," gue tanya, bingung.
"Karena……." Ava ngomong, ngebuat kata-katanya jadi panjang. Sesuatu yang unik mulai terjadi. Semuanya di sekitar kita mulai berubah. Kegelapan di sekitar gue berubah jadi taman yang indah.
"Apa yang baru aja terjadi?" gue tanya, mata gue terbelalak pas ada kupu-kupu mendarat di hidung gue. Gue goyangin hidung gue buat ngusir dia.
"Kamu tau, intinya Anastasia. Aku ini nggak nyata. Aku cuma ada di pikiran kamu," dia ngomong gitu dan ngerubah sekitar kita lagi. Kali ini dia bawa kita ke taman hiburan yang penuh manusia.
"Gimana?"
"Bahkan kalo aku ngejelasinnya semaleman, kamu nggak bakal ngerti."
"Coba deh."
"Aku mau sih, tapi kita nggak punya waktu. Theo bentar lagi bakal sadar dan bangunin kamu."
"Sadar apa?"
"Aku butuh darah kamu, dan kamu butuh aku buat mecahin kutukan Theo. Aku bakal mecahin kutukan Theo kalo kamu ngasih darah kamu ke aku. Aku b……" Ava nggak selesai ngomongnya pas dia tiba-tiba mulai menghilang.
"Lo mau apa……." gue teriak pas gue liat tubuh dia menghilang.
Gue ngerasa seseorang narik tubuh gue dan teriak nama gue. Gue fokus ke suara itu dan coba ngenalinnya.
"Bangun, Ana, bangun," Theo teriak. Gue nggak bisa denger jelas tapi dari cara kedengerannya. Dia pasti lagi teriak nama gue.
Gue ikutin suara dia, dan gue teriak pas gue buka mata gue yang asli. Gue lagi ngegantung di udara. Gue teriak lebih keras pas gue ngerasa gravitasi mulai bekerja, dan gue mulai jatuh.
"Gue dapet lo," kata Theo, nangkap gue di pelukannya.
"Apaan sih yang baru aja terjadi?"
"Harusnya gue yang nanya gitu ke lo," kata Theo, jalan ke kasur buat mendudukkan gue di sana.
"Gue baru aja ngobrol sama Ava."
"Apa," Theo nanya, bingung. Dia jongkok di depan gue pas gue duduk di tepi kasur.
"Ava sama gue lagi ngobrol sebelum lo bangunin gue."
"Kamu baik-baik aja, sayang? Nggak mungkin kamu ngobrol sama Ava beberapa detik lalu."
"Kita ngobrol di pikiran gue; makanya gue ngambang. Gue tebak mantra buat masuk ke pikiran gue juga bikin tubuh gue ngambang."
"Oh," Theo kayaknya susah percaya sama omongan gue.
"Kedengerannya emang nggak masuk akal, tapi kan lo tau penyihir itu. Mereka bisa ngelakuin banyak hal."
"Bener juga sih; mereka bisa. Jadi, kalian ngobrolin apa?" Theo nanya sambil duduk di samping gue di tepi kasur.
"Dia nawarin gue kesepakatan,"
"Kesepakatan apa?"
"Dia bilang kalo gue ngasih darah ke dia, dia bakal mecahin kutukan."
"Dia bilang gitu?" Theo nanya, kaget.
"Iya, dia bilang gitu," gue bilang, ngangguk buat nekeninnya.
"Wah," kata Theo, ngusap muka pake telapak tangannya. "Gue nggak tau harus seneng atau sedih sekarang."
"Harusnya sih seneng. Kita akhirnya nemuin cara buat mecahin kutukan."
"Gue rasa lo lupa dua bulan lalu gue harus masuk ke pikiran lo buat bangunin lo setelah dia nyoba ngebangkitin mate-nya dengan nguras hampir semua darah lo."
Udah sebulan sejak gue bangun dan perang. Gue kangen Mason setiap hari pas gue inget gimana dia mati.
"Gue nggak lupa apa yang terjadi. Gue yakin ada cara gue bisa ngasih darah ke dia, dan nggak bakal bikin gue mati."
"Beneran nih?"
"Gue harap sih gitu; kita tinggal tanya Ekaterina besok."
"Oke, kita lakuin itu besok, tapi kalo ada cara. Lo beneran oke ngasih darah lo ke dia? Gue tau harusnya gue nggak setuju, soalnya dia mau ngebangkitin saudara laki-lakinya Raja Vampir, tapi gue nggak bisa. Kalo dia mecahin kutukannya, gue akhirnya bisa nyelesaiin proses kawin sama lo, tapi pertama, gue harus nanya. Lo beneran oke ngasih darah lo ke dia?"
"Gue nggak pernah seyakin ini dalam hidup gue," gue bilang, megangin tangan Theo.
"Seneng banget denger itu, sayang; semoga aja Ekaterina ngasih kabar baik besok. Yuk tidur lagi," kata Theo, narik gue balik ke selimut.
"Semoga aja," gue bilang, mulai nyaman di bawah selimut.