Selamat Datang Kembali
Hari berikutnya adalah hari Minggu, jadi untungnya, aku nggak punya tugas hari ini. Hari ini aku dan Erik bakal pergi ke kawanan pertama aku, kawanan yang bikin kita diusir sama Cyrus. **Grey** pengen ikut, tapi aku mikir paling bagus kalau aku pergi sendiri, biar aku bisa cerita ke **Gray** nanti dan ngehentiin dia buat pergi dan nyerang ayahku kalau apa yang dia bilang itu bohong semua.
Erik dan aku jalan berdampingan ke arah pintu kastil, aku ngerasa kayak lebih banyak waktu sama Erik daripada siapapun, bahkan **Gray**. Pas kita keluar, ada banyak banget mobil nungguin, **Penjaga** juga nunggu di luar dan langsung nundukin kepala ke arahku. Aku ngasih mereka semua senyum cepat sebelum jalan ke mobil, pas aku naik, aku lihat **Grey** berdiri di salah satu jendela, merhatiin aku. Seseorang yang udah lama nggak aku liat, aku menghela napas dan mulai naik, terus teriak-teriak dari sisi lain mobil.
"Nggak, aku harus ngomong sama dia, dia mungkin satu-satunya orang yang nggak bakal bohong sama aku," seorang wanita teriak, berhasil nyelip lewat **Penjaga** "Yang Mulia, saya istrinya **Mason**, dia nggak pulang sejak kerja beberapa minggu yang lalu, saya udah coba nanya ke orang-orang di sini tapi mereka nggak tahu apa-apa atau malah matiin telepon! Saya bahkan udah ngirim banyak surat ke Anda," katanya cepat saat **Penjaga** berusaha narik dia, dia malah nahan mereka.
"Maaf, saya nggak tahu kalau Anda ngirim surat ke saya, saya juga nggak tahu kenapa **Mason** nggak pulang," kataku jujur, terakhir kali aku ketemu dia itu setelah seminggu penuh tugas dan dia kelihatan baik-baik aja.
"Tolong, Anda pasti tahu sesuatu!" dia nangis pas Erik jalan di depan, nutupin pandangan aku ke wanita itu, aku dikelilingi lingkaran besar **Penjaga** yang nutupin pandanganku ke luar.
Aku bisa denger wanita itu teriak dan marah tapi mulai menjauh, sebelum aku bisa nanya lebih lanjut, aku udah diarahin masuk ke mobil yang udah nunggu. Erik nggak buang waktu, langsung masuk dan nyuruh supirnya cepetan, dalam hitungan detik kita udah ngebut keluar kastil dan menjauh dari wanita yang kalut itu. Aku diem kaget sebentar, tapi terus noleh ke Erik, dia kelihatan ngeliatin ke mana-mana kecuali aku.
"Oke, apa yang baru aja terjadi?" tanyaku, nungguin jawaban dari dia, dia malah ngeliat jam tangannya sambil cemberut.
"Kita telat 5 menit, itu yang terjadi," dia ngomel sebelum teriak ke supir buat cepetan "Jangan khawatir, Nyonya, kita bakal sampai tepat waktu," dia senyum tapi matanya langsung ngeliat kertasnya, dia ngindarin pertanyaan.
Sekarang aku udah kenal Erik beberapa minggu dan dia selalu cerita semua ke aku, bahkan yang jeleknya. Jadi aku tahu kalau dia bisa, dia bakal cerita ke aku apa yang terjadi, jadi aku tahu satu orang udah nyuruh dia buat nggak cerita apa-apa ke aku. Orang yang sama itu kerja terus akhir-akhir ini, aku juga mulai mikir kalau orang itu nyembunyiin sesuatu dari aku, kalau kamu belum sadar, orang itu adalah **Gray**.
Sebelum aku coba nanyain Erik, kita masuk ke perbatasan kawanan, aku langsung mulai ngeliat sekeliling, lihat hutan yang familiar. Bangunan mulai muncul di jalan, beberapa baru tapi kebanyakan udah ada lama sebelum aku datang. Pas kita nyetir lebih jauh, orang-orang berdiri di pinggir jalan, ngelambaiin tangan ke mobil, aku senyum dan ngasih banyak lambaian balik. Kita segera berhenti di depan rumah kawanan lama, orang-orang ini beneran nggak banyak berubah sejak aku pergi, tapi sebenernya bagus juga.
Begitu mobil berhenti, **Penjaga** aku langsung keluar, ngegeser beberapa orang ke belakang, pintu aku dibuka sama supir aku yang ngulurin tangannya buat bantu, aku senyum dan nerima bantuannya dan keluar. Sorak sorai dan tepuk tangan muncul dari sekitar kita, aku berdiri di sana, ngelambai beberapa menit ke semua orang.
Aku mulai ngikutin Erik ke arah pintu masuk rumah kawanan, **Penjaga** aku jalan di samping aku saat kita pergi. Berdiri di bawah tangga ada tiga wajah yang aku kenal baik tapi udah lama nggak ketemu. **Sang Alfa**, **Luna**, dan anak mereka, **Chase**, yang aku pikir sekarang jadi **Sang Alfa**, berdiri di sana senyum ke aku.
"Selamat datang kembali," **Sang Alfa** senyum sambil nundukin kepalanya, oh dia beneran nggak berubah, dia masih bahagia banget.
"Makasih, seneng banget bisa balik lagi," aku senyum dan berhenti di depan mereka "Wah, **Chase**, kamu udah gede," aku senyum ngeliatin dia, dia ketawa sambil nundukin kepala.
"Aku pikir emang lebih baik, selamat datang kembali," dia senyum ke aku, aku sekarang noleh ke **Luna** yang juga cuma senyum.
"Kamu punya senyum yang sama," katanya sambil nundukin kepala, ini bikin aku senyum dan ngeliat ke bawah pas Erik muncul di sampingku.
"Gimana?" dia nanya sambil senyum, nunjuk pintu, mereka semua ngangguk sebelum noleh buat nuntun aku masuk ke rumah kawanan.
Begitu kita masuk, senyum di bibirku makin lebar, mereka beneran nggak ngerubah apa pun di sini, semuanya sama kayak yang aku inget. Aku dituntun ke apa yang keliatan kayak kantor, **Penjaga** aku nunggu di luar pintu, tapi ada juga satu di setiap jendela di luar.
"Telepon aku kalau udah siap, Nyonya," kata Erik sambil nundukin kepala, aku senyum dan berterima kasih ke dia saat dia nutup pintu dan nunggu di luarnya.
"Wow, kamu mainnya rame banget," **Chase** bercanda, jalan ke mejanya, aku ketawa sambil ngeliat ke bawah.
"Aku tahu, jujur aja, butuh waktu buat biasa," aku senyum saat aku lihat **Penjaga** aku ngintip di jendela, ngecek sebelum noleh.
"Boleh aku nanya sesuatu sebelum kita mulai, apa yang terjadi sama kamu setelah kita nggak denger kabar apa pun?" **Luna** nanya, aku tahu pertanyaan ini bakal muncul, tapi aku nggak pernah siap buat ngejawabnya.
"Yah, beberapa tahun setelah kita pergi dari sini, kita berpindah dari kawanan ke kawanan, tapi pas aku umur sepuluh dan **Kyle** empat belas..." kataku sambil ngeliat ke bawah tapi menghela napas, cuma harus ngomong "ibu kita bawa kita jauh ke dalam hutan dan ninggalin kita di sana," kataku, masih nggak ngeliat ke atas, **Luna** kaget.
"Apa yang terjadi setelahnya, **Kyle** baik-baik aja?" **Sang Alfa** nanya khawatir, bagus banget mereka peduli, jauh lebih baik dari orang tua kita sendiri.
"Dia baik-baik aja, kita di hutan lumayan lama sampai dia nemuin jodohnya, terus kita pindah ke kawanan di lereng bukit," aku jelasin, **Luna** ngasih aku tatapan sedih pas denger nama kawanan itu "Aku tahu emang nggak jadi lebih baik buat aku setelah pindah ke sana, tapi nggak apa-apa, lihat aku sekarang jadi ratu," aku senyum sambil ngebuka tangan, emang enak sih ada di posisi ini, nggak ada yang bakal percaya kalau mereka liat aku beberapa tahun yang lalu.
"Kamu bisa aja balik ke sini, seperti yang kamu tahu, kamu dan **Kyle** adalah dan masih jadi anggota kawanan ini," kata **Sang Alfa**, oh, kamu nggak bakal percaya berapa jam kita habisin buat nyari tempat ini.
"Kita udah coba, tapi ibu kita ngebuang kita di tengah jalan jadi kita nggak tahu kita di mana," aku jelasin, bikin memori muncul di pikiran aku.
**Kyle** megang tangan aku saat aku hati-hati jalan di atas batang pohon tumbang, kita udah jalan berjam-jam dan aku mulai capek. Tapi aku harus jadi cewek kuat dan terus jalan, aku loncat dari batang pohon sambil ketawa kecil, seru banget. Aku ngeliat ke **Kyle** yang cuma senyum tipis ke aku, dia megang tangan aku lagi, nuntun aku lewat hutan ke entah di mana.
"Mungkin kawanan ada di jalan ini, kalau nggak, kita balik arah dan cari di sana," dia bilang, tapi pada dasarnya ngomong sendiri, aku yang umur sepuluh tahun nggak bakal ngerti dia ngomongin apa.
"Gimana kalau kita nggak nemuin kawanan itu?" aku nanya, ngeliat ke dia khawatir, dia menghela napas, bikin kita berhenti dan berlutut di depan aku.
"Kita bakal nemuinnya dan sampai saat itu, aku bakal jagain kamu, **Clara**, kamu tahu itu," dia senyum sambil meluk aku erat-erat.
**Kyle** selalu jagain aku, bahkan sebelum apa yang terjadi, terjadi. Aku berutang banyak banget ke dia, tapi dia bakal bilang aku nggak ngutang apa-apa, dia kakak laki-laki terbaik yang bisa diminta siapa pun.
"Sekarang, aku pengennya di sini cuma buat nyapa, tapi nggak, kita lagi ngebangun kasus tentang **Cyrus Jacobs**," aku mulai cerita ke mereka, mata **Sang Alfa** langsung melebar "Aku tahu, tapi pas aku diumumkan jadi ratu, orang tua aku muncul, mereka ngaku kalau satu-satunya alasan mereka ninggalin kita karena **Cyrus**, katanya dia mau bunuh aku dan **Kyle** kalau mereka nggak ngebuang kita di suatu tempat," kataku sambil ngeliat ke bawah.
"Satu-satunya cara aku dan **Kyle** mau dengerin mereka, kalau mereka bersaksi melawan **Cyrus**, itu bakal buktiin mereka beneran mau memperbaiki kesalahan dan nggak cuma ngikutin **Cyrus**," aku jelasin, mereka semua cuma ngeliatin aku, merhatiin setiap kata "yah, mereka lagi ngejawab beberapa pertanyaan dan aku cuma punya perasaan ini, ayah kita nggak jujur sama kita dan bahkan **Kyle** punya perasaan yang sama, sekarang kita masih kecil pas kita pergi dari sini jadi sebisa mungkin kita berusaha, cuma ada beberapa bagian cerita yang kita nggak yakin jadi itu kenapa aku di sini, kalau kalian bisa, bisakah kalian jawab beberapa pertanyaan kita?" aku nanya, terutama ngeliat ke **Sang Alfa** yang aku ajak bicara, dia langsung ngangguk.
"Aku bakal jawab semua pertanyaan yang kamu punya, selama bajingan itu dipenjara seumur hidup," katanya, ngomongin **Cyrus**, aku senyum dan berterima kasih ke dia "Orang jahat banget, ninggalin dua anak," katanya sambil geleng-geleng kepala saat **Luna** ngelap air matanya.
"Erik," aku bilang, nggak kenceng tapi dia tetap langsung masuk pintu "mereka oke buat ngejawab pertanyaannya," aku bilang ke dia saat dia ngangguk dan ngeluarin buku catatan, sambil juga ngeluarin kursi buat aku duduk, aku senyum dan duduk saat dia berdiri di belakang aku.
"Oke, mari kita mulai," katanya saat **Sang Alfa** dan **Luna** cuma ngangguk.