Bab 16: Sienna
3 bulan kemudian
Hubungan sama Killer baik-baik aja, kita gak pernah ngomongin soal file itu lagi sejak hari itu. Dan gak ada yang ngomongin soal hari dia mau bunuh aku. Klub motor dikunci, tapi kita tetep ngabisin waktu di sungai dan naik kuda yang belakangan aku tau itu kudanya Killer.
Aku lihat-lihat video Diamond, tapi aku selalu ngerasa ada yang kurang. Killer nyuruh Michael buat nambah kamera di tempat itu, tapi ada yang gak pas.
Interaksi kita sama Michael bagus, gak cuma buat Killer, tapi juga buat Frost. Dia sms-an lagi sama dia dan itu bikin perbedaan dalam hidupnya.
Kita gak pacaran, dan itu bukan karena aku gak mau. Tapi setiap kali aku cium dia dan mau narik celananya, dia langsung berdiri dan bikin alesan tentang sesuatu yang harus dia lakuin. Aku gak masalah, karena kita ngabisin malam di ranjang yang sama.
Kaleb udah mulai gede dan bisa duduk, mirip banget sama versi mini aku.
Frost memutuskan buat jadi Tante Frosty, sementara anggota geng motor yang lain ngamanin Clubhouse.
Texas satu-satunya anggota geng motor yang jaga jarak, dan aku tau kenapa, aku tau waktu pertama kali liat dia berbulan-bulan lalu. Aku gak pernah lupa wajah.
"Aku punya firasat kalau suatu hari kamu bakal ninggalin aku Kevin, dan aku gak bakal bisa dapetin kamu lagi," kataku ke Killer.
Lockdown hampir selesai, dan meskipun pandemi masih bikin banyak kekacauan di negara kita, ada hal-hal yang lebih buruk terjadi dalam hidupku saat ini dibanding khawatir mati kena Covid.
Salah satunya adalah telepon yang diterima Killer kemarin. Dia harus pergi, dan meskipun aku tau hari ini bakal datang karena dia seorang tentara, aku harapnya gak secepat ini.
"Aku tentara, Sayang, aku gak tau gimana caranya gak jadi tentara. Sejak aku ninggalin rumah, aku udah berjuang buat negara, orang-orang itu butuh aku. Orang Korea gak bakal ngebiarin mereka pergi, jadi itu tugas aku dan teman-teman buat bawa mereka balik."
"Aku harap bisa lebih lama, tapi Raven juga butuh kamu, begitu juga Spade dan Snake," kataku padanya, sebelum aku pegang wajahnya yang ganteng dan cium dia lembut di bibir. Aku tau yang lain takut, dan kehadiran Killer di belakang mereka bikin semuanya lebih mudah.
"Minggu ada acara gereja kecil, mikirnya kita coba aja," katanya, tapi dia gak nyebutin kalau itu juga hari dia bakal jemput Natasha buat dibawa balik.
"Oke deh, tapi aku pake jeans," kataku, dan dia senyum, aku natap mata birunya yang dalam sampai bikin air mata di mataku sendiri.
"Istirahat yang banyak. Ibu dulu sering bilang kalau berdoa itu bisa bikin capek." Dia cium aku di bibir sebelum matiin lampu.
"Ibumu sering bilang gitu biar dia bisa 'bong' bapakmu." Killer mukul aku pake bantal dan aku ketawa saat dia narik aku di pinggang dan mendekatkan aku ke dadanya.