Bab 17: Sienna
"Dosa," Killer teriak lagi, dan gue udah hampir mau cekek dia kalau dia manggil nama gue sekali lagi.
Dia udah bangun pas ayam jago berkokok dan udah mandi.
Gue bangun tiga kali pas malam buat ngasih makan Kaleb tanpa bantuan apa pun karena Mister nggak mau ada siapa pun di kamar kita kalau pintunya ditutup.
"Gue datang," gue sewot berusaha naikin celana jeans gue ke bokong.
Dia bawa gue ke gereja dengan Kaleb di belakang mobil. Kita loncat keluar dan Mercy, After, dan Frost udah nunggu di luar.
Sepupu gue keliatan seksi banget pake dress putih ngepas badan dan high heels hitam.
Mercy pake dress ungu dan After pake setelan celana.
Rambut mereka ditata dan makeup-nya cetar membahana. Gue ngelihat ke bawah ke celana jeans gue terus ke pacar gue, yang lagi gendong Kaleb di dadanya, juga pake setelan.
"Jangan lihat gue, kan lo yang mau pake jeans." Gila, dia keliatan seksi banget pake kacamata itemnya.
"Cepetan, kebaktiannya mau mulai," After ngeburu-buru kita.
Kita masuk ke gereja dan gue manyun karena cuma orang-orang dari Clubhouse dan mungkin satu atau dua muka lain.
Gue duduk di samping Killer dan kita dengerin khotbahnya.
"Sebelum kita pulang hari ini, seseorang minta buat ngomong beberapa kata."
Gue celingak-celinguk nunggu orang itu berdiri. Frost berdiri di samping gue dan begitu juga Killer yang nyerahin Kaleb ke Frost.
Dia pegang tangan gue dan narik gue berdiri, kita jalan ke tempat Pendeta berdiri.
Mata biru Killer ngelihat gue, sesaat. Dan gue penasaran dia mau ngomong apa di depan semua orang ini.
"Lo bilang lo mau rumah, gue kasih lo satu," Dia nunjuk ke belakang gue, "Lo mau keluarga, gue kasih lo clubhouse penuh anggota. Lo bilang lo mau gue, ini gue Sayang dan gue nggak bakal kemana-mana." Dia ngomong dan ngelihat gue, dan gue senyum sambil nangis karena dia mau pergi.
"Apaan sih ini Killer?" gue nanya dia.
Dia jongkok terus ngeluarin kotak. Mukanya ngelihat gue, "Nikah sama gue Taylor."
"Kalau lo nggak mau nama belakang gue, gue pake nama belakang lo," Dia bilang sambil nunggu jawaban gue.
Gue ngelihat ke belakang dan ngelihat semua cowok pada berdiri di gereja, pake jaket kulit mereka.
"Satu syarat."
Dia senyum dan hati gue berdebar, "Apa aja."
"Nikah sama gue sekarang."
Dia natap gue, "Ya, sekarang kedengarannya sempurna buat gue."
Dia pasangin cincin di jari gue, dan bentuknya matahari dari berlian, dengan yang kuning gede di tengah. Keren banget. Karena itu ngingetin gue sama mama.
Ruangan itu langsung heboh semua orang mulai ketawa dan teriak selamat.
"Ada yang masalah gue nikah sekarang?" Killer nanya mereka dan kalau ada juga kayaknya dia nggak peduli.
"Gimana mama?" Frost nanya.
"Video call dia," gue sewot ke Frost.
"Siap."
Killer noleh ke Pendeta, yang lagi senyum, dan gue kenal dia dari Liston Hills.
"Pastor, gue udah lama nggak ke gereja tapi ibu gue besarin kita di rumah Katolik. Gue udah bunuh laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak. Ada yang baik, ada yang jahat, tapi gue harap gue udah nyelametin lebih banyak nyawa daripada yang gue ambil. Dan gue mungkin nggak bakal balik lagi ke gereja buat ngakuin tentang nyawa lain yang bakal gue ambil di masa depan. Tapi, gue percaya ada Tuhan di luar sana dan Tuhan itu ngirim perempuan ini ke pintu gue pas gue baru tiga belas tahun, dan gue percaya itu supaya gue bisa bikin dia jadi perempuan yang baik, bikin mama gue bahagia dan nikahin cewek ini. Bapak nikahin orang tua gue, dan paman-paman gue dan saudara laki-laki gue, gue harap Bapak mau nikahin kita Pastor Klirk."
Pendeta kelihatan kayak mau nangis, tapi nyentuh bahu Killer, "Kamu lahir buat jadi tentara Tuhan, Nak. Saya merasa terhormat."
Ruangan bertepuk tangan, kita berdiri di depan PASTOR Klirk.
"Tunggu," Frost teriak, "Dia nggak bisa nikah pake jeans."
"Gue nggak peduli," gue sewot ke Frost tapi dia lari di lorong pake high heels-nya.
"Gue peduli, makanya gue cukup pinter buat pake dress putih. Percaya deh lo pake jeans ke gereja."
Dia narik gue pergi dan perempuan lain ngejar kita. Gue butuh 10 menit buat makein dress Frost dan balik lagi ke cowok gue.
Dia nunggu gue dan gue berdiri di sampingnya waktu Pastor Klirk ngasih pidato singkat tentang pernikahan.
"Apakah kamu menerima Kevin Stone, untuk menjadi suami yang sah dalam keadaan sakit dan sehat, selama kamu berdua hidup?"
Gue ngelihat Killer dan gue mikirin dia kalau udah tua, rambut beruban dan muka cemberut. Dan itu bikin hati gue penuh cinta.
Beggar bener waktu dia bilang gue punya cukup cinta buat kita berdua.
"Ya, saya bersedia."
"Apakah kamu menerima Sienna Bray untuk menjadi istri yang sah dalam keadaan sakit dan sehat selama kamu berdua hidup?"
"Ya, saya bersedia."
"Kalau begitu dengan kekuatan yang diberikan kepada saya oleh bapa surgawi kita, sekarang saya nyatakan Anda Tuan dan Nyonya Stone. Nak, kamu boleh mencium pengantin wanitamu."
Killer senyum sambil narik gue dan nyium gue, dalem banget. Frost orang pertama yang nyampe, ngasih gue cincin cowok, yang gue pasangin di jari Killer. Yang lain langsung ngumpul meluk dan nyium kita. Beggar dan Killer berbagi momen dan dia nyium kepala Beggar.
Kita keluar dari gereja, kita berdua ngeyel mau ngabisin malam bareng Kaleb.
Killer, Kaleb dan gue pergi ke kompleks yang dimiliki Clubhouse tempat Killer udah nyiapin rumah buat kita sementara kita nunggu Frost selesai dua tahunnya. Kita udah ambil keputusan yang bijak dan Frost setuju dia bakal tinggal sama kita.
Kita nggak pernah ngomongin detailnya, tapi gue ngerasa Killer mau kita semua balik ke Liston Hills buat benerin hubungan kita. Sebagian dari dia mau Kaleb ketemu keluarganya dan kenal paman-pamannya. Tapi dia juga mau adiknya lihat orang tuanya.
Gue juga mau itu.
Kita ngabisin sebagian besar pagi nikmatin tempat baru kita. Kaleb guling-guling di play mat sementara gue bikin cemilan. Frost nelpon kita jam 1 siang, ngasih tahu mereka semua nungguin kita.
Gue mandi dan pake celana pendek sama kemeja tanpa lengan dan sandal. Killer pake celana kulitnya dan sejuta lebih tindikannya.
Dia ngasih gue ciuman paling dalem yang bisa dibayangin.
"Gue bersyukur gue nunggu," Dia ngomong, "Tapi biji gue sakit banget."
Gue ketawa waktu kita keluar rumah dan gue masih senyum waktu kita semua udah di mobil.
Kita parkir mobil kita di samping Mercedes Frost, kiriman Michael.
"Gimana kabar dua pengantin baru, udah dapet jatah belum?" Knight nanya sambil naikin alisnya.
Killer jalan ngelewatin dia dan ngeplak kepalanya. Waktu gue ngambil Kaleb dari belakang mobil.
"Minggir lo, gue laper," After teriak dari pintu depan.
"Ya udah makan," gue bilang dia.
Killer nungguin Kaleb dan gue, dan ngambil Kaleb dari gendongan gue. Dia ngelingkarin tangannya di pinggang gue dan kita jalan sama Knight ke Clubhouse.
Knight ngambil Kaleb waktu kita nyampe pintu. Dan Killer senyum, terus ngangkat gue ala pengantin, gendong gue masuk rumah. Suara sorakan dan siulan keras waktu dia gendong gue ke ruang tamu tempat semua orang nunggu.
Gue lihat Chadley, Venus, Whisp dan Bull lagi ngerapihin meja. Semua orang seneng.
River dan Hannah ngucapin selamat duluan.
"Akhirnya lo bisa naklukin dia," Hannah bergumam sambil meluk gue.
"Ya, udah telat banget," Texas ngomong dan gue kaget. Soalnya dia nggak banyak ngomong ke gue.
GUE MELUK dia, "Makasih Texas," gue bilang dia dan gue biarin ucapan terima kasih itu sarat dengan lebih dari sekadar momen ini. Dia nyelametin nyawa kita 20 tahun lalu.
Dia nyentuh dagu gue, "Jagain dia, Nak, mereka nggak bikin yang kayak gitu lagi."
Maksud dia jelas dan gue ngangguk ngerti. Sisanya klub ngucapin selamat ke kita. After ngasih gue hadiah, dan nyuruh gue buka nanti.
Tangan nyentuh punggung gue dan gue muter leher buat lihat Natasha. Dia senyum tapi gue lihat kesedihan di tatapannya waktu dia ngelihat gue. Gue meluk, dan hati gue hancur karena udah nyakitin dia. Gue nggak pernah mau ini terjadi antara kita. Kita selalu dekat dan gue harap kita bakal tetap begitu meskipun gue nikah sama Killer. Dan itu bikin gue jadi cewek egois.
"Selamat ya sepupu, bikin dia bahagia," Dia ngomong dan air mata jatuh di wajahnya. Killer ngapus air matanya dan hati gue sesak.
Gue nggak ngomong apa-apa, karena gue istrinya, dia nikahin gue.
Kita pergi ke meja dan setelah beberapa pidato dan beberapa tawa, kita makan. Panggangannya dan sayurannya enak. Nggak sesuai rencana gue buat hari pernikahan tapi gue bakal nikmatin.
Kita ngobrol tentang masa kecil dan untuk pertama kalinya Frost nggak menutup diri, waktu kita nyebut Liston Hills dan saudara laki-laki, dan saudara perempuan, Victoria. Gue cerita tentang waktu kita di kemah, pas liburan musim panas, waktu Frost nangkap ular dan naro di bawah bantal Killer berharap dapet reaksi dari dia. Dia ngambil ular yang sama dan naro di tas Mason.
Percakapan mengalir waktu kita makan dan nikmatin momennya, tapi gue nggak bisa ngilangin perasaan Natasha yang natap gue. Gue tahu dia sakit.
"Jadi, cewek-cewek, waktunya buat ngegas," Spade ngomong sambil gosok-gosok tangannya.
"Seperti biasa, pengantinnya harus jongkok, Hannah dan Beggar juga. Nggak boleh ada cewek yang udah nikah," Snake bersuara waktu Hannah nunjuk perutnya.
Beggar cuma nggak peduli, dan ngobrol sama After. Gue senyum ke dia karena sikap nggak pedulinya.
Gue ngerti kenapa Zero milih dia.
"Gue harus ngapain?" Natasha nanya.
"Lo bisa bonceng sama gue," Killer ngomong dan hati gue langsung jatuh, kayak ada yang nyiram air es dan ngebangunin gue dari mimpi.
"Singkirin pikiran itu, gue harus lakuin ini," Killer ngomong.
"Apaan? Boncengin sepupu gue?" gue teriak, terus berdiri dan pergi.
Gue ninggalin meja dan Killer ngikutin gue ke dapur tempat Mercy dan Knight berdiri di samping bak cuci piring.
"Apa masalahnya SIENNA? Lo pake cincin gue, kita baru aja nikah," Dia nanya dan itu pertanyaan besar kan. Apa masalah Sienna?
"Mungkin lo nikahin gue, tapi dia masih punya perasaan sama lo, oke. Hal kayak gitu nggak bakal mati karena lo mutusin buat nikah sama gue."
"Kok jadi masalah gue sih?" dia nanya.
"Jadi masalah lo waktu lo nyuruh dia bonceng motor lo," gue teriak.
"Itu udah jadi kebiasaan di sini, Natasha yang paling dekat sama gue, jadi dia bonceng gue, gitu caranya. Gue nggak ngapa-ngapain dia,"
"Oh, tapi gue yakin lo mau, karena lo juga nggak ngapa-ngapain gue," gue teriak.
Dia ngelihat gue dan narik napas.
"Ya, Killer, napas," gue bilang dan jalan ngelewatin dia.
Gue marah banget dan emosi gue nggak jadi lebih baik waktu gue denger suara motor menderu. Gue nangis kejer dan gue nggak tahu kenapa gue ngamuk sama dia.
"Sienna," Suara dalem dan kering itu memanggil.
"Sini," gue bilang Beggar, sambil ngusap mata.
"Apaan sih tadi itu? Kenapa lo nggak hormatin cowok lo kayak gitu? Di hari pernikahan lo pula. Nggak asik banget, Neng."
"Gue udah kenal Kevin Stone seumur hidup gue dan setengah hidup itu gue sayang dia karena semua yang bikin dia Beggar. Tahu dia nggak bisa ngasih itu ke gue bikin gue makin sayang sama dia. Waktu dia masangin cincin itu di jari gue, gue ngerasa kayak akhirnya gue pulang. Karena itulah dia buat gue, Beggar, dia rumah gue. Dan gue nggak mau jadi gelandangan."
Gue nangis, gue nangis keras dan Beggar megang bahu gue,
"Kampret, oke, Ssshh, sayang, Killer bakal baik-baik aja, ini hari pernikahan lo. Dia di sini sekarang, jadi pergi sama dia. Jangan berantem soal itu sama cewek itu. Dia cowok lo dan besok dia harus pergi jadi manfaatin hari ini. PERCAYA deh air mata kering tapi kenangan hidup lebih lama. Jadi, bikin kenangan itu berarti."
"Dia pergi sama Natasha," gue bilang.
Mata hitamnya natap gue, "Ya, dia juga pergi sama 13 pengendara motor lain sayang." Dia meluk gue dan rasanya enak dipeluk sama cewek.