Bab 31
Sudut Pandang Jacob....
"Dulu ada cewek umur dua belas tahun. Dia punya ibu, ayah, dan adik laki-laki yang sayang banget sama dia. Mereka keluarga bahagia awalnya, tapi semuanya mulai berubah. Seiring hari berlalu, dia bisa ngerasain jarak yang semakin jauh antara ibu dan ayahnya. Tapi si cewek tahu mereka saling sayang, cuma karena situasi aja. Semuanya bakal baik-baik aja kok nanti."
"Ayahnya gak pulang-pulang selama berhari-hari."
"Cewek kecil itu ngelihat ibunya berusaha tetep pasang senyum kalau di depannya, tapi dia tahu yang sebenarnya, karena dia pernah denger ibunya nangis di kegelapan."
"Ayahnya cuma pulang seminggu sekali buat ketemu mereka."
"Pas ulang tahunnya yang kesepuluh, ayahnya dateng dan nanya, 'Putri kecil ayah mau hadiah apa?'"
"Dia minta ayahnya buat pergi nonton film bareng, sekeluarga, kayak dulu. Ayahnya setuju."
"Ibunya pakai gaun kesukaannya hari itu. Dia kelihatan kayak peri bukan karena gaunnya, tapi karena senyum yang dia pasang."
"Pas di perjalanan ke sana...." Dia nutup matanya sebentar terus buka lagi dan bilang.
"Mobil mereka kecelakaan. Semuanya meninggal kecuali cewek kecil yang malang itu. Dia selamat karena ibunya nahan benturan buat lindungin putri kecilnya."
"Ibunya seharusnya biarin dia mati....pasti lebih baik."
"Cewek kecil itu tergeletak di sana selama setengah jam nyoba bangunin mereka, nangis-nangis minta mereka bangun. Dia ngelihat nyawa merenggut dari semua orang. Darah di mana-mana."
"Pertama ibunya. Terus ayahnya. Cewek kecil itu masih inget kata-kata terakhir ayahnya ke ibunya."
"'Tolong maafin aku kalau bisa.' Si cewek ngelihat satu air mata lolos dari mata ayahnya."
"Tapi ibunya udah pergi jauh buat denger itu. Udah lama mati."
"Si cewek masih megang tangan adik laki-lakinya yang gak mau ngomong sama dia bahkan setelah dia berusaha keras, bahkan pas disebutin cokelat."
Ngomong gitu, dia ngasih aku senyum yang menyakitkan dan lanjut....
"Setelah setengah jam, bantuan dateng, tapi udah telat, semua udah pergi, cuma cewek kecil itu yang ditinggal.
Dia yang malang yang ditinggal, karena Tuhan punya rencana lain buat dia. Dia berjuang sendiri buat bikin hidupnya berarti karena itu dikasih ke dia sebagai ganti ibunya." Dia ngeluarin tawa hambar dan nambahin pelan kayak bisikan. "Pas hari ulang tahunnya. Hadiah ulang tahunnya."
Tapi dia gak kehilangan harapan Karena dia inget ibunya bilang.
Semua orang mau,
Kebahagiaan
Gak ada yang mau,
Sakit
Tapi kamu gak bisa punya
Pelangi
Tanpa sedikit hujan.
Jadi dia sabar nunggu pelangi itu muncul. 14 tahun kemudian dia pikir dia ngelihat sekilas. Tapi itu cuma ilusi. Kayak oasis. Kalau kamu jalan terlalu lama di gurun, kamu mulai ngelihat hal-hal yang gak ada.. Sama kayak dia, dia udah terlalu lama sakit dan terluka sampai dia bikin pelangi sendiri. Mulai ngelihat hal-hal.
Ayahnya selalu bilang suatu hari pangeran akan datang dan menjemput putri kecilnya.
Tapi dia gak mau pangeran, dia cuma minta orang yang bisa ngasih dia cinta.
Pas dia pikir hidupnya gak bisa lebih buruk lagi, iblis yang nyamar datang dalam hidupnya make topeng pangeran.
Dia salah ngira awan hitam sebagai pelangi.
Dia gagal ngelihat di balik topeng dan mikir ini dia. Karena semua hal buruk suatu hari harus menghilang buat ngasih jalan ke hal yang baik. Hujan harus reda buat ngasih jalan ke pelangi. Dia gak tahu kalau 14 tahun penderitaan gak cukup buat ngasih jalan ke kebahagiaan, maka seumur hidup juga gak akan pernah bisa.
Pangeran bertopeng janji buat bareng dia sehidup semati tapi ngerampas hidupnya dan jadi alasan kematiannya.
Dia biasa mukulin dia tiap hari, ninggalin dia di lantai dingin dengan hati berdarah dan badan memar. Kelaparan berhari-hari.
Suatu hari jadi gak mungkin buat dia nahan sakit, itu hari dia kehilangan segalanya. Itu hari dia kabur dari iblis tapi sebagian dari dia mati hari itu yang gak akan pernah bisa dihidupkan lagi.
Sebelumnya mimpinya dipenuhi pelangi, sekarang yang dia lihat cuma hujan. Itu ada di mana-mana, dia tenggelam di dalamnya. Dia kehilangan harapan."
Terus keheningan memekakkan telinga yang kedengeran.
Aku ngelihat dia dan sadar dia udah tidur pulas atau pingsan, apa pun itu. Dia pasti capek.
Aku ditinggal dengan hati berat, banyak banget yang harus dicerna. Kata-katanya muter-muter di sekelilingku.
Aku selalu tahu kalau masa lalunya topik yang sensitif buat dia, tapi dia udah ngalamin banyak banget dan Agustin gak ngelakuin apa-apa selain nambahin.
"Dia biasa mukulin dia tiap hari, ninggalin dia di lantai dingin dengan hati berdarah dan badan memar. Kelaparan berhari-hari."
Aku ngelihat wajahnya. Kerutan kecil ada di dahinya. Seolah-olah bahkan dalam tidurnya dia stres.
"Sebelumnya mimpinya dipenuhi pelangi, sekarang yang dia lihat cuma hujan. Itu ada di mana-mana, dia tenggelam di dalamnya. Dia kehilangan harapan."
Kemejaku basah kuyup kena air matanya. Tekadku makin kuat.
Dan aku tahu ini waktu buat ambil keputusan. Beberapa tahun lalu aku berdiri di platform yang sama pas aku harus milih antara Agustin dan Onika. Aku milih Agustin dan dia nge-fuck semuanya. Dia punya kesempatan tapi dia ngerusaknya.
Hari ini aku milih Onika.
Aku bakal lindungin dia dengan semua yang aku punya. Agustin gak boleh nyakitin dia lagi. Kalau itu berarti perang, ya udah perang aja.
Aku selimutin dia pakai selimut, nyium dia di dahi, dia kelihatan rileks, kerutannya hilang. Cuma dengan ciuman lembut.
....................
Sudut Pandang Onika.....
Pas aku bangun pagi, seluruh badanku sakit banget. Semuanya sakit. Aku pelan-pelan nyoba buka mata dan ngelihat Agustin natap aku intens.
Matanya tenang tapi ada sesuatu tentang dia yang bikin aku takut setengah mati. Rambutnya berantakan banget. Buku-buku jarinya berdarah, dia punya beberapa luka di wajahnya. Dia kelihatan berantakan.
Jantungku berdebar kencang. Apa dia marah karena aku keluar dari kantornya tanpa izinnya?
Aku langsung bangun dengan kaget yang merupakan hal bodoh karena seluruh duniaku mulai berputar di sekelilingku, tapi sebelum aku jatuh, Agustin meluk aku erat seolah aku adalah hal yang paling berharga buat dia.
Aku nyoba meronta dari pelukannya tapi pelukannya makin erat.
"Tolong diem aja sebentar." Dia bilang dengan suara memohon. Aku udah terlalu capek buat berantem sama dia lagi. Aku nyerah aja, bukan berarti aku punya pilihan lain.
Dia cuma meluk aku erat selama yang kayaknya gak ada habisnya, nyenderin kepalanya di lekuk leherku, nyiuminnya pelan-pelan dengan hidungnya.
"Ya Tuhan, sebentar aku pikir aku kehilangan kamu, aku takut banget pertama kali dalam hidupku." Aku kaku pas ngerasain basah di kulitku. Aku gak pernah ngelihat Agustin nangis. Gak pernah ngelihat dia begitu rentan. Gak pernah sama sekali.
"Aku minta maaf banget..... Aku punya banyak banget yang harus dimintain maafnya dan sepertinya aku cuma terus memperpanjang daftarnya." Ya Tuhan, dia nyalahin dirinya sendiri.
"Agustin, aku gak bakal nyangkal, kamu punya banyak hal yang harus dimintain maafnya, tapi ini bukan salahnya. Ini salah bajingan itu. Jadi aku bilang sama kamu sekali ini dan aku gak akan bilang lagi, jangan sekali-kali kamu nyalahin ini ke diri kamu sendiri." Aku memperingatkan dengan nada berwibawa.
Dia ngeluarin tawa kecil dan bilang "Ya ampun, kamu kedengeran kayak aku."
Dan sebelum aku sadar, aku ngeluarin tawa kecil.
"Apa kamu belum denger kalau lagi berantem sama monster, seseorang harus selalu hati-hati jangan sampai kamu jadi salah satunya." Aku nyoba becanda, tapi itu hal yang salah buat dibilang karena seluruh badannya kaku dan pelukannya di pinggangku makin erat sampai aku meringis kesakitan.
Dia langsung sadar kesalahannya dan ngendorin pelukannya.
"Apa sakit banget?" Dia nanya, basah masih kelihatan di matanya.
Gimana aku jawab ini. Tentu aja sakit banget tapi aku gak mau dia merasa bersalah karena itu.
"Gak ada yang gak bisa aku tahan." Gak ada yang belum pernah aku alamin sebelumnya, aku nambahin dalam hati.
Dia ngelihat aku dengan intensitas yang begitu besar seolah-olah langsung ngelihat ke jiwa aku dan bilang "Kamu orang terkuat yang aku kenal."
Jantungku berdebar karena itu, denger itu dari Agustin yang selalu bilang betapa lemahnya aku, terlalu banyak buat aku tangani, tapi pertanyaan selanjutnya bikin aku deg-degan.
"Apa dulu sakitnya sama kayak waktu aku nyiksa kamu?" dia nanya dengan suara bergetar seolah-olah takut tahu jawabannya.
"Apa kamu beneran mau aku jawab itu?" Aku nanya dia dengan ketidakpastian.
"Iya." Dia bilang, hampir berbisik.
"Apa kamu mau tahu yang sebenarnya?" Aku nanya lagi Karena aku tahu itu bakal nyakitin banget dan aku gak bakal bohong. Dia udah bikin ini sendiri.
Dia ngangguk seolah gak bisa nemuin suaranya. Apa yang bakal aku bilang mungkin hal paling kejam yang pernah aku lakuin tapi setiap katanya bakal jadi kenyataan.
Aku ngelihat dia, dia nahan napas nunggu jawaban.
Aku nutup mata. Gak peduli betapa dia udah nyakitin aku, aku masih gak bisa ngelihat dia kesakitan kayak gitu, tapi dia pantes dapat ini.
"Dulu sakitnya jauh lebih dari ini." Mataku terbuka karena dia menghirup napas dalam-dalam. Hati ku nyuruh aku buat berhenti sekarang dan gak lakuin ini, tapi sebagian dari aku juga mau hukum dia atas apa yang udah dia lakuin, aku mau dia tahu seberapa besar kerusakan yang dia sebabkan.
"Bahkan tamparan dari kamu dulu nyakitin seribu kali lebih banyak. Bahkan kata-kata kamu nyakitin seribu kali lebih banyak Karena aku sayang banget sama kamu dan aku lebih milih mati seribu kali daripada denger kata-kata itu keluar dari mulut kamu. Kamu segalanya buat aku.
Aku siap nahan siksaan Xavier seribu kali lebih banyak kalau itu berarti aku bisa membatalkan siksaan kamu...."
Aku gak bisa lakuin ini lagi. Aku harus keluar dari sini sebelum aku benar-benar hancur di depannya dan seolah-olah sesuai tanda, dia ngelepas pegangannya di aku seolah-olah tiba-tiba lumpuh.
Dia kelihatan kayak seseorang udah ngerobek hatinya.
Aku jalan ke arah pintu dengan kecepatan cahaya, tapi sebelum aku bisa keluar, dia nanya.
"Apa kamu bisa maafin aku? Apa yang aku lakuin bisa bantu aku buat dapetin kamu lagi? Apa aja. Tolong.....
Aku tahu itu gak berarti banyak tapi aku minta maaf... Aku berharap aku bisa hapus masa lalu... kalau itu berarti aku harus nahan siksaan sepuluh kali lebih banyak daripada yang aku kasih ke kamu, aku akan senang lakuin itu.. kalau itu berhasil." Dia bilang dengan nada putus asa.
Aku kerasin hati ku dan bilang."Kamu bener, itu gak, karena bukan tentang rasa sakit fisik yang udah aku alamin, ini tentang yang mental dan percaya deh itu lebih dalam dari yang pernah kamu bayangin.
Aku gak yakin aku bisa maafin kamu, aku minta maaf."
Aku pikir dia bakal teriak ke aku dan minta aku buat kasih dia kesempatan, tapi aku kaget pas dia bilang.
"Gak apa-apa... bukan salah kamu...... tapi aku akan dapetin maaf kamu suatu hari. Aku janji sama kamu." Dia datar.
"Hari itu gak akan datang di hidup ini...... Ada banyak yang harus dimaafin daripada yang pernah kamu pikirkan."
Dia kelihatan benar-benar hancur pas aku bilang gitu.
Hatiku menjangkau dia, nyuruh aku buat nenangin dia. Aku mau hilangin rasa sakitnya dan hapus ekspresi tersiksa dari wajahnya, tapi aku udah ngalamin yang lebih buruk dari itu dan gak pernah sekali pun dia nunjukin kasih sayang ke aku, kasihan ku bukan sesuatu yang pernah dia panteskan. Butuh segalanya dalam diriku buat keluar dari ruangan itu, tapi aku melakukannya.
~~~~~~~~~~~~