Bab 125 Undangan Joseph
Malam-malam, Sarah dibangunin mimpi buruk dan langsung melek. Waktu itu, hape di atas meja samping tempat tidur getar-getar.
Dia ngambil hapenya dengan linglung terus nyambung. "Halo, siapa nih?"
"Apa kabar, Sarah sayang?" Suara yang familiar kedengeran.
Sarah langsung duduk dan melek lebar, "Ayah?"
Detik berikutnya, suara itu disusul suara listrik yang bikin menusuk.
"Kamu kenapa?" Jacob yang ada di sampingnya juga kebangun gara-gara teriakan dia, terus duduk buat nyalain lampu.
Sarah sesenggukan, "Aku, aku baru aja denger suara ayahku."
Suara yang familiar itu beneran nyata banget.
"Ayahmu?"
Jacob mengerutkan dahi. Kevin udah meninggal bertahun-tahun lalu.
"Ini suara ayahku. Dia baru aja nelpon aku, 'Sarah sayang.'"
Sarah pegang erat hapenya dan ngeliatin nomor asing di layar. Dia nelpon balik, tapi tulisannya nomornya nggak valid.
Jacob nenangin dia, "Kamu tidur lagi ya, besok aku bantu kamu selidiki sumber nomor ini."
Sarah ngangguk dan jawab dengan serak, "Oke."
Dia nyender di lengan Jacob, nyoba nyerap bau Jacob yang enak, buat cari rasa aman.
Pagi berikutnya, Jacob bangun kepagian. Setelah bangun dan cuci muka, dia ngambil hape dan pergi ke balkon.
Jacob nelpon Joshua, "Ada satu hal yang perlu lo lakuin sekarang."
"Bro, ini baru jam 5.30 pagi!" Joshua ngomel, nggak peduli.
Jacob ngecilin suaranya sebisa mungkin biar nggak ganggu Sarah, yang lagi tidur di atas.
"Ada panggilan anonim ke Sarah tengah malam. Tolong cek."
"Emang lo nggak jago di bidang ini?"
Nggak susah ngerasain dari nada meremehkannya kalau dia lagi kesel banget sekarang.
"Kalo lo udah cek dan kirim ke email gue, gue kasih setengah bonus akhir tahun gue."
"Oke deh." Joshua nutup teleponnya.
Di saat yang sama, penerbangan internasional datang dari Madison menuju Raleigh.
Jam 7 pagi, Sarah turun dari atas dengan linglung.
Jacob keluar dari dapur dengan sarapan udah siap. Nggak sengaja ngeliat dia turun, dia bergumam, "Udah bangun?"
"Iya." Sarah jalan ke arah Jacob dan nyebur ke pelukannya. "Pikiran aku masih belum jernih."
"Semalem nggak tidur nyenyak ya?" Jacob meluk dia dan nanya dengan lembut.
"Buruk banget." Sarah jawab, "Panggilan telepon ayah itu bohong, kan?"
Jacob nepuk bahu Sarah dan bilang pelan, "Bener atau salah, aku bantu kamu cari tahu."
"Makasih, Jacob." Suara Sarah terdengar capek.
Jacob lembut ngambil tangannya buat ke restoran.
……
Di Davis Enterprise.
Setelah nganter Sarah turun, Jacob ngasih kode buat nelpon, "Makan siang bareng, yuk?"
Sarah mikir sebentar, ngangguk tipis, "Oke, ketemu siang ya."
Setelah ngeliat dia masuk gedung, Jacob juga nyalain mobil dan nelpon nomor yang udah lama nggak dia telepon.
"Lo di mana?"
"Gue kira kakak gue sibuk kasmaran sama cewek lo dan nggak peduli sama gue." Nada Joseph yang nggak serius kedengeran dari ujung telepon.
"Lo ngapain aja akhir-akhir ini? Kenapa nggak ke bank buat tanda tangan?" Jacob nanya.
"Tentu aja, gue lagi main di Raleigh." Joseph mendengus meremehkan.
Jacob ngejelasin tujuannya langsung. "Taman hiburan gagal lolos satu ujian. Kasih tau gue informasi orang itu dan gue yang urus."
"Soal ini? Tunggu sampe gue ada waktu luang." Dia hampir langsung nutup setelah bilang gitu, nggak ngasih Jacob kesempatan buat ngomong.
Merhatiin layar hape beberapa saat, Joseph nelpon nomor telepon lagi, "Halo, ini gue."
……
Sarah masuk perusahaan dan ngurusin dokumen sepanjang pagi.
Beberapa waktu lalu, nilai saham perusahaan kena dampak gara-gara dugaan pelanggaran proyek Ashley dan IBM.
"Miss Sarah, Miss Ashley dateng kerja pagi ini." Waktu Jenna masuk buat ngasih dokumen, dia ngingetin dengan lembut.
"Dia ngapain di sini?" Sarah mengerutkan dahi dan tiba-tiba ngerasain firasat buruk.
Sebelum dia sempat ngomong apa-apa, hape di tangannya terus berdering.
"Kamu pergi dulu," Sarah ngasih isyarat dan ngambil hapenya. "Siapa nih?"
"Miss Sarah nggak punya nomor hape aku. Sedih banget."
"Mr. Joseph?" Sarah kaget, "Ada apa?"
"Kamu tau kan kalau aku dan kakakku ada masalah. Sekarang aku di bawah kendali dia di Raleigh. Miss Sarah, bisa nggak kamu kasih aku kesempatan buat ajak makan malam?"
Sarah hampir nolak. Joseph lanjut.
"Miss Sarah nggak meremehkan aku, kan? Nggak bisa makan bareng aku aja?"
Suara Joseph terdengar memelas.
"Berani banget aku nggak nunjukin rasa hormat ke kamu? Kasih aku alamatnya, nanti aku kesana."
Nada Sarah sarkasme.
Joseph seneng banget waktu denger ini. Cewek ini emang gampang banget dibohongin.
"Oke, nanti aku kirim sopir buat jemput kamu."
Setelah nutup telepon, Joseph ngelirik wanita misterius yang duduk di seberang.
"Aku udah lakuin sesuai yang kamu bilang. Sekarang kamu bisa kasih tau aku mau ngapain?"
Joseph megang hapenya dengan dua jari.
Wanita itu ngelepas kacamata hitamnya, nunjukin wajah yang mempesona.
"Mr. Joseph udah lakuin ini dengan sangat baik."
"Kasih tau aku, apa tujuan ngajak Sarah keluar?"
Joseph nggak ngehilangan kewaspadaan, dan dia jadi lebih serius.
"Bunuh dia." Wanita itu beringas.
"Bunuh Sarah? Kamu gila? Dia kan pacar kakak gue!"
Joseph bilang kaget. Penampilan Sarah yang kesal muncul di pikirannya.
"Kamu suka dia, kan?" Wanita itu membungkuk sedikit, mendekati Joseph, dan nanya.
"Jangan khawatir. Bahkan kalau dia pacar kakakmu, kalau kamu suka, aku bisa puasin kamu."
"Kamu ngomongin apa sih? Aku nggak tertarik sama Sarah, tapi..."