Bab 56 Kemakmuran Mereka yang Mengikutiku, Kematian Mereka yang Melawanku
Kapan sih dia jadi gak pede gitu?
Setelah hening bentar, Jacob ngangkat tangannya ke jendela terus pelan-pelan ngomong, "Ashley udah nindas lo lama banget, gue kira lo gak bakal bales."
Ujug-ujug, dia ngerasa lega yang gak bisa dijelasin.
"Kita gak jadi ke kantor?" Jacob ngelirik ke depan, itu arah balik ke rumah.
Sarah megang setir terus ngeliat waktu di layar. "Gue anter lo pulang dulu aja deh. Nanti malem, Brandon ngajak gue makan seafood. Tapi luka lo kan belum sembuh, jadi gue gak ajak ya."
Jacob ngedengus dalem hati.
Brandon pasti takut dia ngikut.
Meskipun kesel, Jacob bilang, "Oke, cewek emang gak boleh nyetir malem-malem."
Sarah merhatiin Jacob masuk rumah terus langsung cabut.
Pas dia baru aja pergi, taksi lewat di belakangnya terus ngebut ke jalan lain.
Di Restoran Island.
Begitu Sarah masuk, seorang Pelayan nyamperin, "Nona Sarah, ya?"
Dia kaget terus ngangguk, "Iya saya."
Terus, segenggam mawar putih gede disodorin ke dia. "Tuan Brandon nyiapin ini buat Anda. Tuan Brandon udah dateng. Silakan ikut saya."
Hatinya dag dig dug. Dia gak kaget sih, tapi malah ada rasa takut sama hal yang gak dia tahu.
Ketakutan ini nemenin dia sampai pintu kotak, terus pintunya dibuka.
"Silakan masuk."
Brandon berdiri tegak di sudut meja kayak lagi nungguin dia.
"Brandon, lo ngapain sih?"
Dia natap dia bingung. Perlakuan ini serius banget sampai dia gak siap.
Dia bingung sama bunga-bunga ini, anggur merah, sama lilin-lilin.
"Ini kejutan buat lo. Lo suka gak?" Brandon nunjuk ke makanan penutup di meja, yang kelihatan cantik banget.
"Gue sih mikirnya ini kejutan yang bikin kaget. Lo nelpon gue buat ngajak makan seafood. Gue kira kita bakal makan di warung pinggir jalan."
Brandon pengen ngomong gimana warung pinggir jalan bisa sebanding sama lo. Tapi dia cuma bilang, "Hari ini kita makan di restoran seafood, besok kita makan di warung pinggir jalan."
Dia jentikin jari terus gak lama Pelayan bawain makanan ke meja.
Ada satu hidangan yang ada daun ketumbar di atasnya. Dia naruhnya langsung di piring Sarah. "Coba deh tiram ini. Baru aja diekspor ke luar negeri, jadi seger banget."
Sarah mengerutkan dahi, ngambil sumpit, terus dorong-dorongin busa peterseli itu sedikit demi sedikit.
"Kenapa lo gak suka ketumbar?" Brandon mengerutkan dahi.
"Gue emang gak suka ketumbar dari kecil, oke?"
Brandon berhenti sebentar. Di ingatannya, pas mereka makan bareng beberapa waktu lalu, Jacob ngomong persis kayak apa yang gak disukai Sarah.
Dia berbisik, "Bodyguard lo lebih tau selera lo dari gue."
Awalnya, kedengerannya kayak iri, tapi buat Sarah, yang refleksi otaknya lambat, itu pujian.
Dia nyaut, "Gue juga mikir bodyguard gue emang bagus banget. Udah hidup bertahun-tahun, gak ada yang inget selera gue. Coba lo evaluasi diri sendiri."
Gak setia banget lupa kalau dia gak suka ketumbar!
Brandon natap dia tanpa daya, "Gue cuma pengen lo makan makanan yang seimbang."
"Wah, lo perhatian banget. Gue terima kebaikan lo!"
Sarah ngangkat tiram yang ketumbar udah dikupas terus senyum licik.
Di tengah-tengah makan, Sarah ngambil tas kain merah terus naruhnya di depan Brandon.
"Gue mau lo lakuin satu hal buat gue."
Brandon nerimanya, terus setelah denger penjelasan simpel Sarah, ekspresinya nunjukin sedikit keterkejutan.
"Apa rencana lo sekarang?" Dia nanya.
Sarah pelan-pelan ngerentangin badannya terus ngomong dengan suara dingin, "Yang nurut bakal makmur, yang melawan bakal binasa."
Brandon jawab telepon di tengah-tengah. Ada keadaan darurat di rumah sakit. Dia harus pergi lebih awal terus bayar tagihannya sebelum pergi.
Sarah biasa aja sama seafood. Dia bukan pecinta seafood.
Tapi Brandon, temennya dari bertahun-tahun, ngajak dia, jadi dia dateng ke sini.
Dia nelpon Pelayan, "Tolong bantu gue bungkus ini ya."
Pelayan setuju.
Berat banget buat bawa tas seafood seberat itu.
Pas dia keluar, ada pengumpul sampah tua di tempat parkir gak jauh dari sana lagi berdebat sama Penjaga Keamanan tentang sesuatu. Bajunya dekil banget.
"Anda udah ganggu bisnis kami banget. Kalau mau mungut sampah, sana pergi ke tempat lain."
Sikap agresif Penjaga Keamanan itu bisa dimengerti, tapi orang tua itu nunduk dan gak ngomong apa-apa.
Rasa sedih dan simpati muncul dari hatinya terus dia maju.
"Paman, ambil tas makanan ini buat dimakan terus pergi deh. Hampir gak ada yang makan."
Sarah ngangkat tangannya terus ngasih tasnya.
Orang tua itu berhenti, tapi gak pernah ngeliat ke atas, mungkin karena dia lagi bingung.
Penjaga Keamanan kenal identitas Sarah. Dia nunduk sedikit, "Maaf, Nona Sarah, udah bikin Anda repot."
Sarah ngangkat tangan kosongnya terus ngelambai, "Gak repot kok, cuma masalah kecil."
Matanya jatuh ke orang tua itu, dan tangannya gak bergerak.
Ujug-ujug, beberapa suara 'keroncongan' dateng dari perut di udara yang sunyi.
Detik berikutnya, tasnya diambil sama sepasang tangan gelap dan kotor.
Sebelum pergi, orang itu ngelirik ke atas ke Sarah dengan terburu-buru terus pergi tanpa nengok ke belakang.
Sarah ngerasa lega, setidaknya gak harus hadepin seafood.
Dia balik badan terus masuk ke mobil, nyalain mesin, terus pergi.
Di vila Sarah.
Pas dia berdiri di undakan, bayangan gelap lewat kilat. Dia kedip-kedip, tapi gak ada apa-apa.
Apa gara-gara dia ngelamun?
Setelah masuk pintu, lampu teras nyala, dan ruang tamunya gelap.
"Jacob?" Dia teriak.
Gak ada jawaban.
Dia nyalain lampu, terus ujug-ujug ruangannya jadi terang.
Di ruang tamu yang sepi, gak ada Jacob.
Dia naik ke atas terus ngetok pintu kamar Jacob, "Jacob, lo tidur?"
Tetep aja, gak ada yang jawab. Didorong sama rasa khawatir, dia pelan-pelan buka pintu kamar.
Di ranjang yang luas, pria itu rebahan tenang dengan mata tertutup, dan dia kelihatan udah tidur.
Dia pelan-pelan nutup pintu lagi.
Di saat pintu ketutup, orang yang rebahan di ranjang ujug-ujug buka matanya.
Dia ngambil Tablet PC dari bawah selimut. Tablet PC-nya masih nyala, dan sosok Brian muncul di layar.
"Presiden?"
Mereka awalnya lagi video conference, tapi Jacob ujug-ujug ngunci Tablet PC-nya di tengah-tengah rapat. Gelap, dan cuma ada suara pelan orang naik ke atas.
Jacob duduk. Dia merobek lukanya dengan banyak gerakan, yang bikin dia terus mengerutkan dahi.
"Ngomong."