Bab 20
Untuk kedua kalinya hari itu, Julian mendapati dirinya ngebut di jalan. Kali ini dia balik lagi ke rumah Nancy. Dia mengatupkan rahangnya saat mobil melaju kencang di jalan. Dia nggak percaya dia membiarkan Loretta masuk ke pikirannya lagi. Kok bisa dia sebodoh itu? Selama mereka ngobrol, dia cuma mengulur waktu. Tapi ada hal lain yang bikin dia bingung. Loretta ngasih dia beberapa petunjuk. Kenapa dia ngelakuin itu? Bukannya dia pengen Julian mati dari awal. Atau ini cuma salah satu permainan pikirannya? Dia berharap banget Loretta cuma gertak sambal dan Nancy baik-baik aja. Tapi ada sesuatu dari tatapan marah Loretta waktu dia nyebut nama Nancy. Julian belum pernah melihat ekspresi seperti itu di wajahnya. Keliatannya dia mau ngebunuh Julian saat itu juga.
Dia ngeluarin ponselnya dan menekan nomor Nancy. Nggak ada jawaban. Dia coba lagi untuk kedua, ketiga, dan keempat kalinya. Hasilnya sama aja.
"Semoga kamu baik-baik aja, Nancy," Julian bergumam pelan. "Semoga kamu baik-baik aja."
Hal lain melintas di pikirannya. Loretta udah milih korban keenam. Siapa dia? Waktu Julian keluar dari kantornya, dia udah merhatiin semua orang yang dia lewatin, nyari tanda kutukan di tubuh mereka. Yang dia dapet cuma tatapan jijik dan nggak nyaman dari mereka. Dia bisa mikirin itu nanti.
Beberapa menit kemudian dia sampai di rumah Nancy. Nggak pake ketuk pintu, dia langsung masuk.
"Nancy?" dia memanggil.
Nggak ada jawaban.
"Nancy!" dia berteriak keras kali ini.
Nggak ada respons. Rumah itu hening kayak kuburan. Julian mengumpat dalam hati sambil lari keliling rumah. Dia nyari di dapur, ruang bawah tanah, dan kamar tidurnya. Nancy nggak ada di sana. Dia pergi ke kamar mandinya. Begitu dia masuk, jantungnya kayak mau copot.
Dinding di depannya ada tulisan yang ditulis pake abu. Kata-katanya berbunyi:
'Lanjutkan jika berani.
Aku punya gadis kesayanganmu.
Di tempat yang kamu takuti.
Nyawamu akan diambil.'
Mata Julian membelalak saat kata-kata itu perlahan menghilang. Kagetnya berubah jadi marah. Sambil narik napas dalam-dalam, dia berteriak dan nyerbu ke arah dinding tempat tulisan itu berada. Dia meninju dinding, nggak peduli sama rasa sakit di buku-buku jarinya karena benturan. Dia menyenderkan kepalanya ke dinding dan menghela napas.
"Dia ngambil Nancy," Julian bergumam sedih. "Penyihir itu ngambil dia."
Dia balik lagi ke ruang tamu dan ambruk di sofa. Dia mencubit pangkal hidungnya dan memejamkan mata rapat-rapat, mikirin dilemanya. Sekali lagi, Loretta berhasil selangkah lebih maju darinya. Dan dia masih belum tahu siapa orang keenam itu. Bahkan kalaupun dia tahu, gimana caranya dia menghentikannya sekarang setelah Nancy ada di tangannya. Di mana tepatnya dia membawa Nancy?
Saat itu, sebuah pikiran muncul di kepalanya dan dia buru-buru berdiri. Dia inget kata-kata di dinding:
'Di tempat yang kamu takuti.
Nyawamu akan diambil.'
Mata Julian menyipit saat dia akhirnya sadar ke mana Loretta membawa Nancy. Cuma ada satu tempat yang dia takuti. Kuburan. Tempat di mana ibunya dikubur. Tempat yang ngasih dia mimpi buruk selama beberapa dekade. Ini serangan psikologis padanya. Dia butuh bantuan sebanyak mungkin. Dan sekarang, cuma ada satu orang yang bisa dia andalkan.