Bab 16
Sudut Pandang Aviena
'Samudra! Ini kado untukmu!' Teriakan semangat Gwen menyelimuti kami, jadi mau tak mau aku nyengir. Aku nggak takut sama tantangan mereka. Mungkin mereka cuma bakal nyuruh aku minum satu botol minuman atau apalah.
Mereka nyuruh aku duduk di kursi di depan, jadi aku nggak bisa nggak cemberut, tapi pas ada kotak gede datang, kayaknya aku tahu isinya apa. Ini bukan pertama kalinya aku di pesta lajang. Hampir sering aku juga diundang ke pesta entah gimana caranya.
Aku janji sama River kalau aku nggak akan menodai namanya, apalagi di depan umum, tapi kalau aku pergi sekarang, mereka mungkin bakal bilang aku tukang rusak suasana atau apalah yang bisa mereka katakan padaku. Aku nggak bisa nggak menghela napas.
Nggak lama kemudian tiga cowok keluar. Salah satu dari mereka nyamperin cewek-cewek, dan dua kado itu buat aku. Aku berusaha memalingkan pandangan. Satu hal yang aku yakin banget, Samudra dan Gwen beneran bakal kena omel dari River. Salah satu instruksi dari itu adalah kami pesta tanpa cowok. Dia bilang dia nggak mau lihat ada cowok di sini.
Setelah dansa selesai, aku udah ngeliatin lantai karena ke mana pun aku lihat, cuma ada perut sixpack.
Setelah itu, mereka dansa lagi. Aku baru mau keluar pas Samudra nyentuh pergelangan tanganku.
'Tantanganmu belum selesai.' Suaranya dingin pas dia bilang gitu. Kenapa aku bisa lupa kalau ingatan Samudra setajam itu?
'Apa lagi?' tanyaku. Aku bisa lihat senyumnya, kayak semua yang dia rencanakan emang pas sama dia sekarang.
'Cium salah satu cowok di sini,' katanya, bikin bibirku kayak kebuka.
'Kamu tahu kan aku udah nikah sama abangmu. Aku nggak bisa gitu,' kataku sambil geleng-geleng kepala. Aku bisa lihat alisnya naik dan seringai di bibirnya.
'Beneran?' Dia malah melipat tangan sambil ngeliatin aku.
'Kalau gitu minum aja,' katanya, ngasih dua botol lagi. Aku kasihan sama diri sendiri karena aku emang nggak terlalu banyak minum.
'Apa?' Bibirku kebuka karena kaget sama apa yang dia mau, tapi akhirnya aku minum semuanya karena wajahnya serius banget.
Aku pusing pas selesai minum. Aku beneran mabuk. Kepalaku beneran muter pas aku dengar seseorang teriak.
'Apaan sih?!' Teriakan itu marah banget, tapi aku cuma nyengir sendiri pas ngerasa empuknya sofa. Aku duduk di sana dan ngerasain efek alkohol.
Aku cuma ngerasa diri sendiri melayang di udara pas aku nutup mata. Pas aku buka, aku lihat cowok ganteng yang keliatannya marah banget. Aku nggak bisa nggak cekikikan pas ngeliatin dia.
'Kenapa marah?' tanyaku sebelum nyentuh pipinya. Dia cuma memalingkan wajah dari aku, jadi aku nggak bisa nggak cemberut. Dia cuma beneran cemberut pas dia memasukkan aku ke mobilnya. Aku bahkan nggak tahu dia siapa, jadi aku berusaha keras untuk menenangkan diri. Aku bahkan berusaha menendang.
Aku memaksakan diri untuk keluar dari mobil. Meskipun aku dan River nggak beneran cinta, kami tetap udah nikah. Aku pikir aku bisa flirting karena kami nggak beneran, tapi nyatanya nggak gitu. Aku nggak bisa. Aku ngerasa kayak selingkuh dari dia pas aku ngelakuin itu.
'Aku udah nikah,' kataku sambil berusaha pergi, tapi dia langsung narik aku dan mau masangin sabuk pengaman ke aku, pas aku juga megang tangannya.
'Aku suamimu, Istri.' Suaranya masih serak seolah dia lagi susah payah.
Pas aku ketemu matanya, aku langsung sadar kalau dia beneran suamiku.
'Aku merasa kayak tenggelam di mata birumu,' bisikku sambil natap dia. Aku perlahan mendekatkan bibirku ke bibirnya sebelum menciumnya. Lebih dalam dan lebih dalam. Makin panas dan makin panas. Cuma pas itu aku bisa mengatur napas pas kami selesai ciuman itu. Aku mau lagi. Aku berusaha menciumnya lagi, tapi dia nggak ngeliatin aku sekarang.
'Pas aku ngeliat kamu, aku selalu ngerasa kamu susah banget dijangkau. Seseorang yang nggak akan pernah bisa aku miliki…' kataku, sambil tersenyum pahit pada diri sendiri. Aku ngerasa sadar dengan ciuman itu. Aku juga sadar kalau dia nggak suka aku. Dia suka orang lain dan itu nggak akan pernah jadi aku.
Aku cuma senyum sebelum tertidur.
Aku baru bangun pagi berikutnya. Aku masih ingat apa yang terjadi semalam. Kami ciuman dan dia nggak suka. Kami ciuman tanpa ada orang yang ngeliatin kami. Kami ciuman tapi dia berusaha menjauhkan aku dari dia. Bagus.
Bibirku kebuka pas aku lihat dia lagi tiduran di sofa di sini di kamar. Bener. Keluarganya ada di sini, dia nggak bisa cuma tidur di ruang belajar kayak biasanya.
Aku bangun dan mau pergi ke kamar mandi buat mandi. Aku nggak bisa bangun kesiangan karena aku bakal denger ocehan keluarganya tentang aku lagi. Itu menyebalkan.
'Aku buatin kamu sup buat ngilangin mabukmu.' Aku langsung berhenti pas ngeliat River yang udah duduk sekarang. Aku nggak tahu apa aku ngebangunin dia atau apa.
'Makasih, tapi aku makan di luar aja,' kataku sebelum pergi ke kamar mandi. Dia bertingkah seolah nggak ada apa-apa yang terjadi semalam, jadi aku bakal ngelakuin hal yang sama.
Cuma ciuman. Nggak mungkin jadi masalah besar buat dia. Tapi itu masalah besar buat aku karena aku ngelakuinnya tanpa ada urusan kerja atau orang yang ngeliatin.
Pas aku keluar, dia juga ngikutin aku. Aku udah cemberut sekarang, apalagi pas Samudra, Marissa, Tashi, dan Gwen datang ke sana. Terus aku baru ingat Atasha dan Kakak. Aku udah sibuk ngetik pas aku duduk di samping mereka. Ada juga chat dari Atasha yang bilang dia pulang lebih awal.
Aku:
Atasha, maaf ya aku nggak ngecek kamu. Kamu udah pulang semalam? Maaf ya…
Aku ngerasa bersalah pas ngetik karena aku nggak sadar semalam.
Atasha:
Nggak papa kok. Harusnya aku yang minta maaf. Aku keluar dari pesta lebih awal karena ada urusan.
'Cowok yang semalam minta nomor kamu nggak, Aviena?' Samudra nanya ke aku sambil nyengir. Hah? Nomor apa? Aku bahkan nggak bisa ngobrol sama mereka karena dia udah ngasih aku alkohol.
'Kayaknya kamu seneng banget semalam, ya? Jelaskan ke abangku. Dia ngabaikan aku dan marah-marah ke aku tanpa alasan. Kami semua seneng, tapi dia masih marah.' Aku ngeliat River yang pegang hp di telinganya. Dia noleh ke adiknya. Cuma satu yang bisa kelihatan pas ngeliat matanya. Bahaya. Dia ngabaikan mereka dan ngeliatin aku.
'Kamu makan dulu aja,' katanya ke aku, jadi aku ngangguk. Agak canggung juga karena mereka semua ada di sini.
'Kenapa sih kamu marah, Kakak?' Samudra masih ketawa pas dia ngeliatin abangnya yang megangin pergelangan tanganku dan mau ngajak aku keluar ke meja. Aku ngeliatin dia.
'Serius, River? Kenapa kamu marah padahal kamu juga seneng sama hadiah-hadiah di pestamu?' Marissa nanya dia sambil nyengir sekarang. River juga ngasih tatapan tajam ke dia. Jangan bilang mereka lagi berantem cinta sekarang dan aku jadi di antara mereka? Aku cuma ketawa mikirin dia pakai aku buat bikin Marissa cemburu. Kalau aku ingat sebelum aku minum minuman itu, aku ngeliat Marissa lagi have fun sama salah satu cowok di pesta. Jangan bilang dia cemburu? Dan hadiah? Jadi mereka juga ada hadiah di pesta itu, ya?
Aku cuma senyum sebelum geleng-geleng kepala.
'Aku pergi dulu, ya,' kataku sambil jalan duluan. Aku udah punya terlalu banyak masalah buat nambah satu lagi.
'Aku temenin,' kata River, megangin pinggangku. Jadi itu alasannya kenapa dia ekstra lengket, ya?
'Kamu makan terlalu cepat, Hija. Kamu kepagian buat makan malam,' kata Tante Steff ke aku. Kepalaku sakit tapi malah makin sakit.
'Tante, Mati masih tidur nggak? Apa dia berencana bangun buat makan malam?' River nanya, jadi Tanteku tenang. Aku juga nggak terlalu ngerti kenapa orang-orang kayak gitu. Bisa ngritik orang lain tapi nggak bisa ngelakuin hal yang sama ke anak-anak mereka. Aku cuma senyum di sana sebelum duduk.
Begitulah gimana sepanjang hari berlalu. River dan Marissa berantem. Keluarganya berusaha bikin aku ngerasa nggak enak tentang berbagai hal dan tentu saja, River ekstra manis dan perhatian. Dia juga jago banget akting pas kakeknya ada di sana.
'Kayaknya kamu nggak nyaman banget di sini, Aviena.' Aku berhenti makan pas aku denger apa yang Kakek River bilang.
'Po?' tanyaku. Aku, River, dan dia adalah satu-satunya yang lagi makan di meja sekarang karena keluarga River lagi siap-siap buat pergi ke resor buat pernikahan. Aku ngeliatin River yang nggak ngomong.
'Seseorang bilang ke aku kalau kamu jarang banget makan bareng di sini dan kamu sering nggak ketemu River karena pekerjaannya. Pas dia pulang, dia cuma di ruang belajar.' Bibirku kebuka. River beneran bener. Kakeknya beneran punya mata-mata di sini.
'Aku pikir kamu harus saling mengenal lebih jauh. Kamu jarang keluar karena pekerjaanmu. Sedangkan kamu, cucu, pas kamu pulang, datangi istrimu. Aku tahu kalian berdua sibuk sama berbagai hal, oleh karena itu, kalian udah nikah dan harus sering ketemu. Gimana kamu bisa bikin bayi kalau kalian jarang ketemu?' dia nanya, jadi aku keselek makananku. River ngasih aku tisu. Dia juga nyediain minuman. Aku nggak tahu apa karena kakeknya ada di sini dia bertingkah kayak gitu atau apa.
'Karena itu, aku mutusin buat ngasih kamu penthouse. Kalian berdua bisa tinggal di sana sementara waktu. Kalian bisa ketemu entah gimana caranya. Rumah ini terlalu besar buat kalian berdua,' katanya, jadi aku ngeliatin River. Nggak ada yang berubah di ekspresinya seolah dia nggak peduli sama sekali tentang itu.
'Aku nggak akan ngirim pembantu biar kalian bisa belajar sebagai pasangan,' tambahnya. Aku agak semangat sama ide itu. Ya, lebih nyaman daripada gimana kita hidup sekarang. Gerakanmu terbatas. Aku juga tahu cara masak. Aku cuma males banget buat beres-beres. Aku cuma males kalau udah soal itu, tapi aku bisa hidup sendiri di rumah. Aku senyum.
'Gimana menurut kalian?' dia nanya ke kami berdua.
'Aku nggak masalah sih soal itu, Don Crisostomo,' kataku, jadi dia langsung negur aku.
'Berapa kali sih aku harus bilang ke kamu buat manggil aku kakek aja, Hija?' dia nanya. Aku cemberut di sana karena aku cuma bakal ngerasa bersalah, apalagi karena aku dan River lagi ngebohongin dia. Dia noleh ke River sekarang.
'Gimana dengan kamu, cucu?' Dia nanya.
'Nggak masalah buat aku, Kakek,' kata River, jadi Kakeknya hampir tepuk tangan. Aku nggak bisa nggak geleng-geleng kepala.
'Udah beres ya… Aku berharap punya cucu menjelang akhir tahun ini,' katanya, jadi aku hampir ngejatuhin rahangku.
'Hah?' Itu bikin dia ketawa dengan pertanyaan kuatku.
'Aku cuma bercanda, Hija. Tapi kalau kamu mau ngelakuin itu, nggak papa kok,' Bibirku tetap kebuka karena dia.
Pas aku ngeliat River, ada juga senyum di bibirnya. Pas dia ngeliat aku ngeliatin, dia langsung naikin alis ke aku.
'Kenapa? Kamu mau punya bayi sekarang?'