Bab 6
Sudut Pandang Aviena
"Nyonya, Nona Atasha sudah datang. Dia udah nunggu di luar," kata salah satu pembantu rumah tangga ke aku. Aku ngangguk sebelum turun.
"Selamat pagi, Atasha!" Aku menyapa dia sebelum mencium pipinya.
"Gimana kabarmu?" dia nanya, jadi aku senyum.
"Kayaknya baik-baik aja, deh?" aku nanya dan jawab dia. Hidupku rasanya sama aja. Satu-satunya perbedaan sekarang adalah orang-orang di sekitarku. Aku nggak bisa bersikap normal kayak waktu di kondoku, kayak aku nggak perlu pura-pura lagi. Nggak nyaman, bahkan di kamar tidur sini. Bahkan nggak bisa pakai kaos favoritku.
"Kamu nggak bahagia?" Atasha nanya aku. Aku cuma senyum dan ngangkat bahu.
'Aku bahagia. Aku nggak perlu mikirin masa depan keluarga, dan hidupku masih normal. Masih banyak proyek kayak dulu," kataku sebelum tersenyum padanya.
"Aku ikut senang buat kamu, Vena. Tapi gimana sama River? Dia perlakuin kamu baik, nggak?" dia nanya aku.
"Iya." Soalnya kita emang nggak sering ketemu. Kita nggak berantem atau apa pun. Aku nggak tahu ini pertanda baik atau gimana.
Aku sama Atasha ngobrol sebentar sambil dia ngukur aku. Ini buat gaun pengantinku, tapi buatku sih biasa aja. Kayak ngukur gaun buat kerja aja.
Atasha juga pergi setelah itu, jadi aku ditinggal di mansion. Hari ini hari istirahatku. Walaupun banyak kerjaan yang udah antre, aku tetap dapat libur.
Hari Minggu, jadi aku cuma di rumah. Seharusnya aku ke kondoku aja, soalnya aku juga lihat beberapa pembantu rumah tangga nggak nyaman kalau ada aku. Hampir semua dari mereka kayak jalan di kulit bawang kalau aku keluar dari kamar. Makanya aku mutusin buat tetap di kamar River kalau lagi libur kayak gini.
Aku cuma tidur sebentar soalnya beberapa hari ini kurang tidur. Pas lagi lapar, aku mikir mau turun.
Aku berhenti jalan waktu denger mereka ngomongin kita berdua sama River.
'Aku juga nggak ngerti Tuan River. Orang yang paling dibenci orang malah dia nikahin."
'Iya, kan! Dia cuma mungkin lagi mainin perasaannya. Tuan kan ganteng, banyak ceweknya. Banyak selingkuhannya, tapi ujung-ujungnya sama yang bohay! Kalau aku tahu, mungkin yang itu nggak punya otak. Kasihan Tuan! Mendingan dia nikah sama Nyonya Marissa aja! Dia kan anggun dilihat, nggak kayak Nona Vena yang kayaknya emang lagi berusaha keras!'
Pembantu rumah tangga itu bahkan ketawa-ketawa ngomongin kita. Aku nggak bisa nggak berhenti. Aku sering denger hal kayak gini, tapi aku nggak bisa nggak ngerasa sedih.
Aku cuma diam-diam berbalik sebelum balik ke kamarku. Aku bahkan nggak sadar ada air mata di mataku. Aku selalu kayak gini. Selalu jadi cengeng yang semua orang kira nggak bisa nangis. Aku selalu punya kepribadian yang kuat di internet, tapi gampang banget sakit hati sama komentar-komentar yang aku baca.
Aku cuma ngusap air mata waktu udah selesai nangis. Aku nyalain TV dan nonton Netflix sambil makan makanan di kulkas soalnya nggak mau turun.
Aku tahu River juga nggak akan pulang. Orang itu emang nggak pulang tiap hari. Jarang banget ketemu dia di rumahnya. Nggak tahu apa karena kegedean jadi kita nggak ketemu atau gimana.
Aku nggak peduli sama sekali. Mungkin malah lebih baik kalau kita berdua dalam situasi kayak gini. Kita juga nggak peduli satu sama lain.
Pas banget ada ketukan dari luar. Aku buka. Aku lihat beberapa pembantunya ngelihatin aku. Dia cantik dan kelihatan seumuranku. Dia cerewet dan suaranya selalu kedengeran, tapi dia satu-satunya yang tahan ngomong sama aku dan melayani.
"Nyonya, yakin mau di situ aja? Nggak mau makan? Yakin, Nyonya? Mau kelaparan?" dia nanya berturut-turut, jadi aku nggak bisa nggak ngangkat bahu.
"Belum lapar. Nanti aja makan," kataku.
"Nggak makan siang juga, Nyonya. Aku yang stres sama Nyonya. Denger nggak obrolan mereka tadi? Mungkin Nyonya beneran denger? Pembantu-pembantu itu kan cuma bodoh dan mungkin iri sama Nyonya. Mereka disebut tukang gosip tahunan di mansion ini." Aku nggak bisa nggak ketawa.
"Aku bawain makanan ke sini aja, Nyonya." Dia masih senyum lebar ke aku, jadi aku kaget aja sambil ngikutin dia dengan pandanganku. Ada apa sama cewek itu? Aku cuma geleng-geleng kepala sebelum balik ke kasur.
Aku udah sibuk nonton waktu berhenti makan soalnya sadar ada orang berdiri di kusen pintu. Aku langsung benerin posisi dudukku.
"Eh… Kamu ngapain di sini?" Aku hampir bingung soalnya masih kelihatan santai sambil makan. Mungkin aku kelihatan kayak orang bodoh sambil makan.
"Ini rumah kita. Emang kamu pikir aku ngapain di sini?" Dia nanya sarkas. Alasan kenapa aku nggak bisa nggak cemberut padanya.
"Aku cuma mau ambil berkas-berkas." Dia jalan lebih dekat ke lacinya. Nggak ada yang berubah dari ekspresi wajahnya. Aku kesel soalnya udah kebanyakan bereaksi. Mungkin dia nggak peduli aku kelihatan kayak gimana. Aku cuma ketawa dalam hati.
"Katanya kamu belum makan siang sama makan malam. Yakin bisa makan makanan nggak sehat itu?" dia nanya sambil ngelihat beberapa bungkus makanan ringan dan cokelat di sampingku. Kosong. Aku nggak ngomong. Ya, seharusnya aku makan makanan sehat, tapi pembantu-pembantu lo pada seneng ngomongin kita.
Sebenernya aku pengen ngomong gitu, tapi aku nggak menyuarakan pendapatku.
Aku yakin aku bakal mati lagi buat olahraga cuma buat ngebentuk badan yang aku mau.
"Makan bareng, yuk." Aku noleh ke dia dan ngangkat alis karena omongannya. Dia cuma ngasih tatapan menghakimiku.
"Nggak usah deh. Aku sibuk," kataku sambil duduk lagi dan ngelihat TV. Aku masih ngerasa dia mikir sesuatu karena itu. Ya, aku cuma nggak mau makan dengan canggung. Lagian kita nggak sedeket itu. Aku juga nggak mau denger pembantunya ngomongin aku. Aku nggak suka kalau orang terus-terusan ngomongin di belakangku dan bersikap baik di depanku. Nyebelin banget. Mereka belum jago akting.
"Oke!" Aku cuma frustasi soalnya dia masih nggak mau pergi seolah-olah dia emang nungguin aku berdiri.
Aku ngikutin dia. Aku langsung lihat beberapa pembantu ngelihatin kita. Mata mereka masih balik-balikan seolah-olah ngomongin kita. Aku berusaha nggak tertarik sama mereka, tapi kenyataannya yang di otakku udah mikir terlalu banyak. Aku masih nggak bisa nggak menghela napas sambil natap mereka.
Mereka bahkan nggak ngomong sambil ngelihat kita berdua dan River duduk diam sebelum mulai makan.
Kita bersikap manis di depan mereka soalnya River bilang kakeknya punya mata-mata di sini. Nggak terlalu canggung buatku soalnya aku udah biasa akting di depan kamera.
"Ini canggung buat kamu?" River nanya sambil berbisik ke aku. Ini. Canggung. Buat. Aku. Dia bikin semua kupu-kupu di perutku gerak. Aku berusaha bersikap normal meskipun rasanya jantungku mau meledak karena kekuatan tabrakan.
'Nggak juga. Aku udah biasa."
Dia juga langsung pergi setelah kita makan. Setelah ada yang nelpon dia. Orang itu selalu kasar, tapi perhatiin rasa kesalnya yang dia rasain tadi waktu kita di meja.
Minggu-minggu ini, ya udah gitu aja yang terjadi. Kita juga sering nggak ketemu di rumah, dan kita berdua selalu kerja.
"Hasil fotonya bagus, Aviena." Fotografer ngasih aku senyum setelah pemotretanku. Aku juga senyum balik sebelum jalan ke tempat dudukku dan minum minumanku.
Aku ngelihat Kakak yang cuma ngelihatin aku. Aku cuma ngangkat alis karena cara dia ngelihat. Aku juga nggak bisa nggak natap dia soalnya dia sering banget menghilang kalau aku butuh dia.
"Apaan sih?"
"Gimana tinggalnya di rumah River?" Kakak nanya aku. Aku ngangkat bahu. Biasa aja. River juga nggak sering ke kamar kita. Udah beberapa hari ini, dia sering pulang telat soalnya sibuk kerja. Aku juga sama, tapi aku masih bisa pulang lebih awal dari dia. Kadang-kadang, rasanya kita nggak nikah. Kadang-kadang kalau jalan kita ketemu dan kita cuma saling pandang sebelum ngangguk, terus udah deh. Aku lama-lama udah biasa. Dan aku suka kayak gitu, kurasa.
"Hai," Tom bilang, duduk di seberangku. Dia ngasih aku senyum sebelum ngasih aku cheesecake stroberi. Senyum di bibirku langsung naik waktu aku terima.
'Wah! Makasih!" Tom udah kenal aku banget. Dia selalu jadi partner layarku, tapi di belakang kamera kita temenan. Dia baik, dia selalu hormatin aku, makanya aku suka kerja sama dia. Mungkin kita udah temenan sejak aku masuk industri. Nggak susah buat kita berdua buat saling kenal.
'Vena…" dia manggil aku, jadi aku ngelihat dia sambil makan cheesecake stroberi. Kakak mau ngambil dari aku soalnya dia bilang bikin gemuk.
"Hmm?" Dia masih ragu mau ngomongin apa yang dia mau. Udah beberapa hari ini dia kayak gitu. Aku doang yang jadi frustasi sama dia.
"Kamu pacaran sama River Savellano?" dia nanya, jadi aku berhenti makan. Udah biasa banget di industri kalau dijodohin sama orang lain. Orang-orang sering lupa aku pacaran sama orang lain soalnya mereka selalu bilang aku nggak serius. Bahkan ada gosip kalau aku sama River udah putus padahal beritanya baru nyebar beberapa hari. Katanya kita putus gara-gara aku selingkuh. Halah, apa-apaan sih? Aku bahkan nggak punya waktu buat nyari cowok sekarang dengan banyaknya proyek yang udah antre.
Aku cuma ngangkat bahu ke Tom. Jujur, aku nggak mau bohong sama dia, tapi kontraknya rahasia, jadi aku nggak bisa ngomong sama sekali.
Tom udah biasa sama berita tentang aku, dia juga tahu yang lain nggak bener. Kita semua tahu gimana kerja media. Bahkan berita bohong sekarang cuma nyebar tiba-tiba.
Aku sama Tom berdiri waktu manajer kita manggil buat syuting selanjutnya. Kita pakai baju musim panas. Aku pakai bikini, sementara dia pakai celana pendek nunjukin perutnya. Kita juga ada minuman buat musim panas. Tom udah pegang pinggangku soalnya syuting mau mulai.
Aku mau senyum di depan kamera waktu tiba-tiba pudar karena cowok yang masuk. Aku nggak nyangka bakal ketemu dia di tempat kerja padahal aku nggak bisa ketemu dia di rumahnya.