BAB 10 CEMBURU
Leo nyetir mobil ke Markas Besar bareng Rhianna. Dia ngeliatin Rhianna yang lagi mandangin keluar jendela.
"Gimana perasaan lo?" dia nanya. Dia khawatir banget sama Rhianna semalem. Dia terlalu serius pas berantem. Dia gak nyadar kalo Rhianna bakal sakit.
Rhianna noleh ke dia. Tatapan di wajahnya. Dia keliatan memukau. Tiba-tiba dadanya berdebar.
"Gue baik-baik aja. Makasih udah mijitin kaki sama betis gue semalem." kata Rhianna sambil bersyukur dan senyum ke dia. Bibirnya langsung melengkung buat bales senyum manisnya.
Dia balik fokus ke jalan. Rhianna bakal latihan seminggu sebelum mereka nyusun rencana buat nyelametin adiknya sama ibu. Tapi, dia masih di sini nemenin Rhianna dan siap nyelametin dia.
"Leo." Rhianna nyebut namanya.
"Kenapa, Rhianna?"
"Gue mau ngomong sesuatu." kata Rhianna. Dia noleh ke Rhianna.
"Don Ysmael, dia paman gue yang nahan kita." Leo langsung ngerem mobil karena kaget.
"Kenapa baru ngomong sekarang?" dia nanya.
"Maaf, gue cuma nyari waktu yang tepat buat ngomong. Makanya gue pengen jadi anggota grup lo karena gue pengen nangkap Don Ysmael sendiri." kata Rhianna sambil natap matanya. Leo bisa liat tekad di matanya. Leo megang bahu Rhianna.
"Gak papa. Kita bakal bantu lo. Lo udah ada di grup yang bakal nangkap Don Ysmael." kata Leo dengan penuh tekad. Walaupun Rhianna baru ngomong sekarang, dia gak bisa marah sama Rhianna. Dia kaget pas Rhianna tiba-tiba meluk dia.
"Makasih, Leo." pelukan itu berlangsung semenit sampe akhirnya dia mutusin buat ngelepas pelukannya.
"Gue di sini. Gue gak bakal ninggalin lo. Gue bakal lakuin yang terbaik buat nyelametin ibu sama adik lo, Rhianna." kata Leo. Dia ngeliatin bibir Rhianna yang merah banget. Mungkin enak banget kalo nyium bibirnya.
"Leo, ayo?" sahut Rhianna.
Dia langsung ngejauh dari Rhianna dan lanjut nyetir. Kenapa ini terjadi sama dia? Ya, dia akuin kalo dia tertarik sama Rhianna. Tapi, ini belum waktu yang tepat buat ngakuinnya ke Rhianna.
Dia masukin mobil ke dalem kompleks pas mereka nyampe Markas Besar. Dia parkir mobilnya di samping. Ada empat mobil di sana. Rhianna keluar dari mobil. Leo juga keluar.
Mereka jalan ke Markas Besar. Pas masuk, dia liat ada cewek tinggi, rambutnya panjang. Dia lagi ngobrol sama Alexandra. Kayaknya Leo kenal sama dia.
"Selamat Pagi, Agen Leo! Eh, maksudnya Selamat Pagi, Bos." Harold nyapa dia dengan gembira pas keluar dari ruangan tempat rapat diadain.
"Gila!" seru Leo sambil nonjok perut Harold. Harold pura-pura kesakitan. Dia ketawa.
"Leo." cewek itu manggil dia. Leo mengerutkan dahi pas suara itu familiar buat dia. Dia noleh ke cewek itu dan ngeliat Carmela dengan senyum yang nempel di bibirnya.
"Carmela, Carmela Rayuz. Ngapain lo di sini?" dia nanya penasaran. Carmela nyamperin dia.
"Serius, Leo, formal banget. Gue di sini buat balikan sama mantan gue"—dia ketawa—"Canda, gue di sini buat jadi bagian dari grup lo. Junar resign karena dia harus fokus sama istrinya yang mau lahiran dan dia bakal fokus sama perusahaan yang dimiliki ayahnya." kata Carmela. Alexandra sama Harold cuma diem ngeliatin mereka, keliatan kaget kalo cewek di depan Leo itu mantannya. Dia ngeliatin sekeliling ruangan. Dia mengerutkan dahi pas gak nemuin Rhianna. Di mana dia?
"Rhianna mana?" dia nanya ke Alexandra.
"Dia di belakang, Agen. Sama Brandon." jawab Alexandra.
Leo ngerasa cemburu. Dia tau kalo cowok suka sama cewek. Dia ngerasa Brandon suka sama Rhianna.
"Gue mau nyamperin dia."
Dia gak sabar nunggu mereka jawab. Dia keluar dari Markas Besar dan jalan ke belakang tempat Brandon sama Rhianna berada. Dia ngeliat Brandon lagi ngebantuin Rhianna megang pistol. Dia nyamperin mereka. Rhianna ngeliatin dia.
"Leo. Maaf gue gak pamit karena lo lagi ngobrol sama orang." kata Rhianna.
"Oke." Tapi jauh di lubuk hatinya dia cemburu sama apa yang dia liat.
"Tunggu, gue mau ke toilet." pamit Rhianna.
"Oke, Rhianna, balik lagi ya biar kita bisa lanjut latihan." kata Brandon sambil senyum. Rhianna langsung pergi dan masuk ke Markas Besar.
"Kenapa lo gak minta izin dulu sebelum ngajarin Rhianna, Brandon? Gue yang bakal ngajarin Rhianna." kata Leo dengan kaku.
"Kenapa, Leo? Kan lo sekarang leadernya. Apa lo harus tau semuanya? Menurut gue, gak asik banget ngomong gitu ke lo." kata Brandon dengan nada sarkasme.
"Brandon." dia ngomong dengan nada marah. Dia gak suka sama apa yang Brandon bilang.
"Gak ada yang salah kalo gue ngajarin dia, Leo. Selama dia belajar. Lo sama dia satu atap dan lo juga mau egois di sini? Gak adil banget, Leo!" dia teriak. Leo mengerutkan dahi sama apa yang Brandon bilang dan gimana Brandon ngebentak dia.
"Gue cowok, Leo, jadi gue tau lo suka sama Rhianna. Dari cara lo ngeliatin dia dengan tatapan penuh hasrat di mata lo." kata Brandon dengan nada bicara yang jujur. Jadi, ketertarikan dia ke Rhianna udah jelas banget. Dia senyum.
"Kenapa, Brandon, lo juga suka sama dia?" dia nanya sambil nyengir.
"Iya, Leo, dan gue bakal lakuin apa aja biar Rhianna suka sama gue. Tenang aja, gue bakal tanding secara sportif." kata Brandon.
Brandon pergi dari tempat dia berdiri. Dia gak bisa nahan diri buat ngepalin tangannya. Dia ngambil pistol yang ditaruh di meja dan ngarahinnya ke tengah. Dia nge-klik pengaitnya dan putus di tengah.
"Leo, lo mau ngajarin gue?" Rhianna nanya ke dia kalo dia gak sadar kalo Rhianna udah deket sama dia.