Bab 2 BANTUAN
Alexandra mendekati Rhianna dan mulai ngasih obat ke luka-lukanya. Dia meringis karena kena obat di lukanya. Sekarang, dia ngerasain sakitnya luka-lukanya. Tadi dia gak ngerasa apa-apa karena pikirannya fokus buat kabur dari bapak tirinya plus kehadiran Leonardo.
Rhianna langsung buang jauh-jauh pikiran itu, dia harus fokus mikirin gimana caranya nyelamatin ibu dan adiknya. Terus, Alexandra masang plester di luka yang gede. Dia ngeliatin Alexandra. Dia cantik dan mukanya kecil. Alexandra ngeliatin Rhianna dan senyum.
"Udah, luka kamu udah oke sekarang. Mau masuk gak? Aku gak bisa ninggalin kamu sendirian di sini," kata Alexandra sambil nyimpen alat-alat dan obat yang dia pake buat ngobatin luka Rhianna.
"Gak papa nih? Gak ganggu kamu?" tanya Rhianna.
Belum sempet Alexandra jawab, ada yang ngetok pintu dan kebuka. Rhianna ngeliat cowok yang tadi duduk di sofa, yang ngetok dan buka pintu. Rambutnya panjang diikat kuncir kuda.
"Alexandra, ayo. Kita mulai. Agen Jerald udah di ruangan. Kita nungguin kamu," katanya sambil ngelirik Rhianna sebentar terus nutup pintu. Alexandra bangun dan pergi ke lemari buat nyimpen barang-barang yang dipake buat ngobatin Rhianna, terus dia ke pintu.
"Ayo, Agen Jerald bisa ngamuk nih," kata Alexandra sambil buka pintu. Rhianna juga bangun dan ke pintu, mereka keluar ruangan bareng.
Mereka jalan ke arah ruangan di samping sofa. Alexandra buka pintu dan nunjukin ke mereka tujuh orang yang sekarang lagi ngeliatin mereka. Rhianna nelen ludah. Dia gak bisa nahan diri buat gak merinding karena tatapan mereka. Dia juga ngeliat Leonardo di sisi lain ruangan yang juga lagi natap mereka.
"Selamat pagi, Agen Jerald," Alexandra nyapa cowok yang berdiri di samping mereka.
Dia ngeliatin jam yang nempel di dinding. Hampir jam 1 pagi. Rhianna ngeliatin cowok yang disapa Alexandra. Rambutnya udah putih dan pake kacamata. Mungkin umurnya sekitar lima puluhan.
"Bisa kenalin kita sama temen kamu dan kenapa dia pake plester?" Agen Jerald nanya ke Alexandra dan ngasih tatapan yang kayak ngehakimin. Dia gak bisa nahan rasa takutnya sama Agen Jerald. Kekuatan auranya. Apa dia ketuanya? Alexandra mau jawab, tapi Leonardo tiba-tiba berdiri.
"Saya yang bawa dia ke sini, Agen Jerald. Saya lagi nyetir di jalan mau ke sini pas saya liat dia keluar dari hutan dan saya liat dia luka. Jadi, saya bawa dia ke sini biar Alexandra bisa ngobatin lukanya," jelas Leonardo. Agen Jerald ngangguk-ngangguk denger penjelasan Leonardo. Dia bisa ngerasain beberapa temennya lagi ngeliatin dia.
"Duduk di depan. Alexandra dan kamu, nona," katanya sambil nunjuk kursi kosong di depannya. Alexandra dan Rhianna langsung ke sana dan duduk.
"Kenapa kamu di hutan? Kamu kabur?" Agen Jerald nanya ke dia.
Mungkin, bantuan Leonardo dan pengobatan Alexandra ke dia udah cukup jadi dasar buat Rhianna percaya sama mereka. Orang-orang kayak mereka bisa bantu dia nyelesain masalahnya.
"Bapak tiri saya ngekurung saya sama ibu dan adik saya di rumah kosong di tengah hutan. Jadi saya kabur minta bantuan buat nyelamatin mereka. Terus, Leonardo liat saya dan dia bawa saya ke sini buat ngobatin luka saya," jawabnya.
Rhianna gak nyebutin nama bapak tirinya. Dia butuh waktu sebelum ngomong ke mereka. Agen Jerald ngangguk-ngangguk sambil natap matanya, kayak lagi mikir apa Rhianna bohong atau enggak. Rhianna siap natap dia balik biar dia tau kalau dia ngomong yang bener.
"Saya ngerasa kamu ngomong yang bener. Kita bakal bantu kamu nyelamatin ibu dan adik kamu," katanya.
"Makasih, Agen Jerald," katanya sambil air mata mulai netes. Dia gak bisa nahan diri buat gak nangis, dia bersyukur banget karena mereka orang baik. Gimana kalau ada orang lain yang liat dia? Mungkin, sesuatu terjadi sama dia. Agen Jerald ngambil sesuatu dari kantong celananya, sapu tangan, dan ngasih ke dia.
"Usap air mata kamu," katanya. Dia ngambil sapu tangan itu dan langsung ngusap air mata yang ngalir di pipinya.
Rapat udah mulai. Mereka cuma ngobrolin hal-hal yang harus dilakuin kalau lagi ada bencana, apalagi mereka kan Agen. Dan, gimana caranya mereka bisa nyelamatin diri dari bencana.
Mereka juga ngebahas target mereka selanjutnya, yaitu sindikat narkoba, dan mereka bakal ada latihan besoknya.
Rapat selesai jam tiga pagi. Kenapa mereka rapat jam segini? Setidaknya, lebih baik ada waktu tenang kayak gini. Rhianna mau keluar pas Agen Jerald tiba-tiba manggil namanya. Dia juga dipanggil Leonardo.
"Kita ada yang mau diobrolin, Agen Leonardo," katanya.
Dia duduk di kursi depan sementara Leonardo duduk di sampingnya.
"Apaan tuh, Agen Jerald?" tanya Leonardo.
"Nona ini mau tinggal di mana, siapa nama kamu, Nona?" Agen Jerald nanya ke dia.
"Rhianna Sir. Rhianna Evangelista," jawabnya.
"Dia bakal tinggal di rumah saya, Agen," kata Leonardo. Dia ngangguk.
"Oh, oke. Dia bakal tinggal sama kamu, dia bakal aman sama kamu. Kamu boleh pergi sekarang," jawab Agen Jerald.
Dia dan Leonardo berdiri. Leonardo ke pintu, dia ngikutin, terus buka pintu. Mereka nemuin temen-temennya di luar ruangan lagi ngobrol. Tadi ada tujuh orang pas dia masuk ruangan.
Empat cowok dan tiga cewek, tapi sekarang cuma ada dua orang dan yang ketiga Leonardo. Semuanya cowok. Mungkin, yang lain udah pada pulang, termasuk Alexandra. Dia bahkan gak sempet bilang selamat tinggal atau makasih udah ngobatin lukanya.
"Saya pergi dulu," Leonardo pamit ke temen-temennya.
"Kamu mau tinggal di mana?" Harold nanya dan ngeliatin dia sebentar.
"Dia bakal tinggal di rumah saya. Itu yang saya obrolin sama Agen Jerald," kata Leonardo.
"Serius Leonardo, kamu mau idupin cewek di rumah kamu," kata cowok rambut panjang yang tadi manggil Alexandra dan Rhianna.
"Gila lo Brandon!" katanya ke Brandon dan dia nyolek Brandon di pinggangnya. Brandon pura-pura meringis. Dia cuma dengerin dan ngeliatin mereka bercanda pas Leonardo tiba-tiba nengok ke dia.
"Brandon, Harold. Ini Rhianna. Rhianna, Brandon, dan Harold," dia ngenalin Rhianna ke mereka.
"Senang ketemu kamu," kata Harold dan ngulurin tangannya ke dia. Dia nerima. Dia senyum ke dia sambil ngeratin genggaman tangannya. Dia langsung narik tangannya dari dia.
"Saya juga senang ketemu kamu, Rhianna," kata Brandon. Dia juga ngulurin tangannya ke dia dan Rhianna dengan senang hati nerima, tapi bedanya sama Harold, dia cuma salaman sebentar.
Dia denger pintu kebuka di ruangan tempat mereka rapat, enggak. Mereka, karena dia juga ada di rapat itu. Dia ngeliatin dan Agen Jerald keluar dari ruangan. Dia nyamperin mereka.
"Ayo. Kalian harus pulang biar Rhianna bisa istirahat juga," katanya dan keluar dari pintu Markas duluan.
Mereka ngikutin Agen Jerald keluar dari Markas. Setelah mereka keluar, mereka nungguin Harold nutup pintu Markas. Mereka jalan ke mobil masing-masing. Harold punya mobil item, sementara Brandon punya mobil putih. Agen Jerald masuk ke mobil van itemnya.
"Naik," Leonardo manggil dia. Dia ngalihin pandangannya ke dia dan langsung jalan ke arah mobilnya. Dia duduk di kursi penumpang. Dia juga ngambil kursi pengemudi. Mereka keluar dari gerbang dan penjaga nutup gerbangnya.
"Gimana keadaan kamu?" Leonardo nanya Rhianna pas mereka lagi perjalanan pulang, ke rumahnya.
"Saya baik-baik aja. Makasih udah nyelamatin saya," katanya dengan tulus dan dia nengok ke dia. Tapi matanya fokus ke jalan dan bahkan gak mau nengok ke dia. Dia cuma ngeliatin jalan balik.
"Gak papa. Udah tugas saya buat nyelamatin orang. Wajar kalau saya nyelamatin orang yang lagi bahaya," katanya dengan mata yang masih fokus ke jalan. Dia bener, tapi dia tetep bersyukur karena dia udah nyelamatin dia.
"Saya mau jadi bagian dari grup kalian," dia ngalihin pandangannya ke dia.
Dia gak tau dari mana dia dapet keberanian buat ngomong gitu ke dia. Dia cuma mau jadi bagian dari grup mereka dan dia bakal nangkap Don Ysmael sendiri.