Bab 7 PELATIHAN
"RHIANNA, aku mau kamu jadi bagian dari grup kita." kata Leo ke dia pas dia balik badan dan ngadepin apa yang lagi dia masak.
Dia kaget sebentar sama apa yang dia denger. Bener gak sih yang dia denger? Dia mau ngajak dia masuk grup mereka? Dia langsung noleh ke Leo. Mata mereka ketemu. Dia tiba-tiba ngerasa canggung.
"Seriusan nih? Bukannya lo bilang anggota lo harus jago megang senjata atau pistol?" tanya dia. Dia inget itu yang Leo bilang pas dia minta gabung organisasi mereka.
"Dianne udah keluar karena mau fokus sama anak-anaknya. Jadi, Agen Jerald lagi nyari penggantinya. Itu lagi dipelajari." kata dia sambil senyum ke dia. Dia jadi aneh sendiri sama cara Leo memperlakukan dia. Dia jadi kayak malaikat.
"Makasih ya, Leo. Seneng banget bisa jadi bagian dari grup lo." kata dia terus balik lagi masak. Pancake yang dia masak keliatan enak.
"Lo cuma harus ikut pelatihan yang keras. Sebagai agen, bahaya ada di hidup lo. Jadi hati-hati, karena gak selalu gue bisa nyelametin lo." kata dia.
Dia kaget banget sama yang dia bilang. Tapi, yaudah sih, dia kan bakal nyelametin dia karena dia tanggung jawabnya dan dia ada di bawah kekuasaannya. Mikir gitu, tiba-tiba dia ngerasa sakit di dada.
**
Dia bangun karena alarm, di luar masih gelap. Dia bangun, dia harus siapin sarapan mereka. Dia kan asisten di sini.
Rhianna keluar kamar terus ke dapur dan masak nasi dulu. Dia liat-liat kulkas nyari lauk. Dia liat ada sosis terus diambil. Abis masak nasi, dia lanjut goreng sosis. Dia hampir selesai pas ada yang ngomong dari belakang dia.
"Sebelum kita ke Markas.
Kita belanja dulu yuk. Kayaknya kulkas kosong deh." kata dia. Dia udah bangun.
Rhianna ngambil sosis dari penggorengan terus ditaruh di piring. Dia balik badan terus ke meja makan. Leo lagi berdiri sambil bikin kopi. Dia naruh piring yang isinya cuma sosis di meja.
**
"Gimana kalau gue yang milih makanannya?" tanya dia sambil naruh nasi di piring. Dia emang suka banget belanja. Dulu pas ayah masih hidup, ibu nyuruh dia belanja.
"Oke deh. Lo kan lebih tau soal ini. Kalau gue yang belanja makanan kita. Isinya paling makanan kaleng atau mie instan sama makanan lain yang cepet mateng. Kadang gue nelpon tukang delivery buat nganter makanan." kata dia sambil minum kopi. Kenapa sih dia seksi banget pas minum kopi? Haduh. Dia nyodorin piring yang ada nasi ke dia.
"Makan yuk. Biar bisa belanja pagi-pagi." kata dia.
**
Mereka sekarang lagi di pasar. Belanja makanan buat seminggu. Leo di samping dia sambil bawa belanjaannya. Tiba-tiba, ada cewek nyamperin mereka.
"Leo! Itu kamu?" tanya dia. Rhianna ngeliatin cewek itu dari toko sayur. Dia tinggi, rambutnya panjang, matanya bulat, alisnya tebal, dan kulitnya mulus. Singkatnya, Cantik.
"Carmela?" tanya Leo ke cewek itu.
"Iya. Kamu masih inget aku ya?" Cewek yang namanya Carmela itu ngeliatin Rhianna.
"Dia siapa?" tanya dia. Leo ngeliatin Rhianna terus narik tangannya biar lebih deket ke mereka.
"Carmela, ini Rhianna. Rhianna, ini Carmela." dia ngenalin mereka satu sama lain.
Belum sempet dia ngomong. HP Carmela bunyi, dan dia langsung jawab.
"Oke, Pak. Saya kesana sekarang." kata dia ke lawan bicaranya.
"Aku harus pergi nih Leo. Dipanggil ke kantor. Bye Rhianna, senang ketemu kamu. Sampai jumpa ya, Leo." kata dia terus pergi. Rhianna balik lagi fokus belanja.
Rhianna udah selesai belanja dan mereka langsung ke mobil yang parkir di parkiran pasar. Leo masukin semua belanjaan dia ke belakang. Dia masuk ke kursi penumpang sementara Leo masuk ke kursi pengemudi dan keluarin mobil dari parkiran.
"Dia siapa?" tanya dia ke Leo pas mereka balik ke rumah. Mereka mau anterin belanjaan dulu sebelum ke Markas.
"Maksudnya, Carmela? Dia polisi. Dulu temen kuliah gue dan mantan gue." kata dia. Oh, mantan dia. Kenapa dia ngerasa agak cemburu ya sama apa yang dia tau? Kenapa mereka putus? Dia belum nanya.
Mereka nyampe rumah dan Leo langsung keluar terus ngambil belanjaan di belakang mobil.
"Tungguin gue di sini ya di mobil." kata dia terus masuk.
Dia ngeliatin Leo pas dia jalan. Dia gak bisa berhenti ngagumin keindahan tubuhnya. Bener-bener hasil olahraga. Dia kayak lagi bawa ember kecil di kedua tangannya.
Cuma beberapa menit berlalu dan dia liat Leo nyamperin mobil. Dia langsung masuk ke kursi pengemudi dan mulai nyetir mobil.
"Kita mau ngapain di Markas?" tanya dia ke Leo.
"Kita harus bikin dua orang itu ngaku siapa dalang transaksi narkoba sebelum kita serahin mereka ke kantor polisi. Itu keuntungan besar kalau kita tau siapa bosnya Carlo Sañiego" kata dia sambil matanya masih fokus ke jalan.
"Carlo Sañiego? Yang pake jaket sama kacamata hitam itu?" tanya dia.
"Iya dia," kata dia.
"Gimana kalau mereka gak ngaku?" tanya dia lagi. Gimana ya?
"Kita serahin ke polisi. Gak ada yang bisa kita lakuin kalau dia gak mau ngaku. Tapi kita bakal lakuin apa aja biar dia ngaku, susah banget dapetin kartu as." jawab dia.
"Semua anggota ada di sana?"
"Enggak. Cuma Faith, Brandon, dan Alexandra. Yang lain dateng ke Markas buat latihan sore ini. Jadi siap-siap ya karena ini pertama kalinya lo latihan." kata dia terus ngeliatin dia. Dia natap Leo biar dia tau dia udah siap.
Iya, dia siap hadapin cobaan. Yang penting dia nyelametin ibu dan adiknya. Grup mereka ngebantu banget karena dia bakal jadi anggota dan tentu aja, Leo.