Bab 41
'Gila lo?!" teriakku ke **Nile**.
Aku tersentak dari keterkejutan, bergegas menuju **Nikson** yang sekarang sedang menyeka darah dari mulutnya. Aku belum sempat menghampirinya ketika **Nile** menarikku kembali ke arahnya.
'Gue berusaha ngejaga lo, tapi sialan, gue gak bisa cuma nonton dari jauh pas lo sama cowok ini! Kenapa sih lo sama dia?!" Urat-uratnya menonjol saat dia berteriak padaku. **Nile Veselov** benar-benar marah. Kayaknya gue mulai agak takut sama dia sekarang.
'G-gue cuma ngobrol." Ya ampun. Aku gagap. 'D-dan apa yang lo lakuin sih? Lepasin gue." Aku berusaha melepaskan diri darinya tapi dia gak bergerak. Cengkeramannya malah makin erat.
'Jangan. Memancing. Gue." Dia memperingatkan dengan gigi terkatup.
Air mata mulai menggenang di mataku karena rasa sakit yang disebabkan oleh cengkeramannya. Aku tetap berusaha keras untuk melepaskan lenganku dari cengkeramannya yang kuat. '**Nile**, tolong." Wajahnya melembut saat dia menyadari ekspresiku. Cengkeramannya kemudian mengendur tapi tetap memegang lenganku. 'Gue cuma ngobrol sama dia, oke. Tenangin diri dulu.'
Aku memperhatikan **Kolton** bergegas ke arah kami dan langsung menghampiri **Nikson**, membantunya untuk berdiri. Aku mendengar dia mengumpat yang nyaris tak terdengar.
Dia cemberut. 'Jangan bikin gue malu. Tenang?! Lo kabur- di depan muka gue- padahal tau di luar bahaya. Kenapa sih lo gak dengerin gue sekali aja, gak usah bikin masalah? Atau, mending gue ikat aja lo sendiri terus gue kurung di kamar gue. Seharusnya gue lakuin itu pas lo bangun. Lo nurut itu cuma dongeng.'
'Lepasin gue, brengsek posesif!' Cengkeramannya mengencang lagi. Pasti bakal ninggalin bekas nih.
'Bro, lepasin dia.' **Kolton** ikut campur. **Nikson** mencoba memisahkannya dariku.
'Jangan maju selangkah pun.' Dia memperingatkan **Nikson**. 'Gue kasih lo kesempatan buat bantu kita, tapi bukan berarti lo ikut campur urusan kita.'
'Urusan apa?' Aku menyela. 'Maksud lo kita cuma teman ranjang? Oh, gue suka kok sama waktu kita, tapi bukan berarti lo harus bersikap kayak pacar posesif gue.'
Kalau **Nile** marah sedetik yang lalu, gue gak tau deh harus mendefinisikan suasana hatinya sekarang… atau wajahnya. Dia kayak api yang berkobar. **Nikson**, di sisi lain, tampak kesakitan. Sahabat terbaikku kaget. Mulutnya menganga lebar dan tak bisa berkata apa-apa.
Seketika, **Nile** menarikku ke arahnya dan menggendongku di bahunya kayak karung.
'Turunin gue, dasar brengsek! Turunin gue sekarang!' Aku berteriak. Gue pusing pas dia menghentak-hentakkan kakinya ke arah mobilnya sementara gue bergoyang-goyang dari punggungnya. Lucunya, **Kolton** gak pernah berani nolong gue kalau udah urusan sama **Nile**. Dia sahabat yang gak berguna di saat kayak gini.
Gue udah mengucapkan semua kata-kata kotor yang gue temukan dalam kosakata gue, tapi dia masih belum menurunkan gue juga. Sakit kepala gue makin parah dan gue merasa mau muntah. Semoga gue bisa muntahin aja tuh muka nyebelinnya.
Dia lalu menjatuhkan gue ke kursi belakang mobilnya dan menutup pintunya. Dia berjalan memutar untuk duduk di sampingku. Ternyata dia bawa supir. Orang kaya emang gitu.
Ketika dia akhirnya duduk di sampingku, dia menekan tombol yang akan menaikkan sekat sehingga supir tidak bisa mendengar atau melihat kita. Aku memejamkan mata mencoba menghilangkan mual dan pusing.
'Kenapa sih lo sama cowok itu? Apa lo kabur cuma buat ketemu dia? Apa lo mau minta perlindungan dari dia? Mantan lo lagi?!"
'Ugh.' Aku memutar bola mata. Kayaknya malah bikin pusing gue makin parah. 'Ada apa sih sama pikiran beracun lo itu? Lo tau gak sih? Gue gak mau ngomong apa-apa. Semoga lo gila karena mikirin masalah cemburu posesif lo itu.'
Dia mendengus. 'Lo nyusahin.'
'Lo juga! Lo boleh aja bawa gue, tapi sialan lo gak bakal tidur di samping gue malam ini. Cari kamar sendiri sana. Kalau gak, gue bakal tidur di ruang tamu lo biar semua orang lihat. Ngerti?' **Nile** makin cemberut. Diamnya berarti dia gak punya pilihan, meski gak mau, dia akhirnya menyerah.
'**Kur**.' Dia menggeram setelah lama terdiam. 'Apa yang lo lakuin sama cowok itu? Kenapa sih lo sama dia?' Saat gue melirik dia, gue melihat matanya hampir memohon padaku tapi harga dirinya menahan sehingga gak bisa terlihat di seluruh wajahnya.
'Gue udah selesai sama dia… bener-bener selesai. Gue udah jelasin ke dia kalau gue gak mau ada kesempatan lagi buat kita. Senang?'
Dia berdeham sambil memperbaiki posisinya di kursinya. Aku mencibir dalam hati menyadari kalau dia mungkin malu karena udah bersikap kayak orang tolol padahal gue berusaha menyingkirkan saingannya.
'Lo tetep gak bakal tidur sama gue, **Veselov**.'
---
Yang mengejutkan, **Nile** mengalah tadi malam soal pengaturan tidur kita. Meski banyak gerutuan, dia tetap tidur di kamar lain. Rasain tuh. Kenapa sih dia gak bisa cuma nanya baik-baik, gak usah teriak atau bersikap posesif? Hah. Gue tau gue juga salah karena ngomong kayak dia cuma teman ranjang gue, tapi dia bikin gue kesel banget.
Sekarang, gue merasa bersalah soal itu. Ugh, gue cuma bakal minta maaf kalau dia juga. Maksudnya, dia yang bersikap kayak manusia purba bahkan menggendong gue kayak karung kentang. Mikirinnya aja bikin gue pengen nonjok wajah gantengnya. Dan ada masalah sama ibunya. Gue harus tetap di sini padahal dia benci gue.
Gue baru bangun dan banyak banget pikiran yang udah menguasai otak gue. Mungkin gue gak bisa istirahat.
Gue mengambil ponselku di meja samping tempat tidur dan memutar nomor **Kuin**.
'Jadi lo menghilang kemarin pas udah muncul di kantor gue.' **Kuin** menjawab dengan unik.
'Gue tau lo udah tau ceritanya jadi jangan ingetin gue. Tolong keluarkan gue dari neraka ini, **Kuin**. Semoga **Kolton** cerita semua detailnya ke lo.'
'Oh, masalah cinta lo yang aneh atau masalah lo sama mamanya?'
'Bisa gak sih lo berhenti sarkasme?' Aku membalas dengan frustrasi.
'**Kur**, **Sara** gak seburuk itu kok. Dia cuma protektif sama **Nile**. Dia kan satu-satunya anak laki-lakinya.'
'Dengar, gue udah ngerti fakta yang jelas itu, tapi gak enak banget di sini. Gue bahkan gak mau keluar sekarang dari kamar ini. Gimana kalau gue ketemu dia lagi? Dia mau gue jauhin anaknya. **Nile** mau- enggak, butuh gue di sini. Gue gak masalah sih, jelas ini tempat paling aman buat gue.'
Dia menghela napas. 'Hmmn. Kedengarannya masalah besar buat lo. Kenapa gak lo cuekin aja, jauhin dia? **Sara** kan biasanya sering keluar masuk negeri. Dia selalu ikut **Nikolai** kalau lagi ada urusan bisnis.'
Gue mengeluh. 'Jujur, gue cuma mau keluar kota atau keluar dari kota ini buat santai. Gue belum pernah liburan yang pantas sejak kejadian itu.' Gue tau ada sesuatu yang gak beres pas dia diam. Gue udah kenal cewek ini luar dalam. 'Ada apa?'
'Ulang tahun **Tiler** kan bentar lagi jadi…" Dia bertele-tele. 'Jadi kita mutusin buat pergi sebelum pernikahan, lo tau lah. Sama semua orang.'
Telingaku langsung tegak mendengar ide itu. 'Beneran? Kapan?'
'**Kur**-'
'Enggak. Gue tau apa yang mau lo bilang. Kalau gue gak boleh ikut. Kita bakal diem-diem aja soal itu. Lagian kan banyak dari kita. **Jekob** gak bakal ceroboh kalau dia gak mau ditemukan.'
Dia menghela napas pasrah. 'Oke. Gue bakal bawa beberapa pengawal buat ngawasin kita dari jauh. Dan itu gak bisa dinegosiasi, oke. Entah lo ikut sama pengawal atau enggak.'
Gue menyeringai kegirangan. 'Siap, Bu!'