Mimpi Buruk
Kita habiskan berjam-jam di markas bareng Agen Allison, kayaknya ini paling lama Saya di tempat itu sejak semua ini mulai! Allison lagi jelasin apa yang terjadi sama Mario dan di mana dia nginap. Kedengarannya serem banget, tapi Jackson sama Saya juga bener soal penyelidikan kita.
Menurut Alison, malam dia tunangan sama Derek, mereka pergi ke kamar hotel yang udah dipesan Derek. Dia kira mereka bakal malam yang indah, sampai dia masuk kamar mandi, Mario udah berdiri di sana dengan senyum jahat di bibirnya.
Karena Alison udah kerja keras banget di kasus ini bareng Ibu Saya, dia langsung tahu siapa Mario. Mario ngucapin selamat atas pertunangannya sama Derek, tapi juga bilang kalau semua nggak bakal jadi dongeng kayak yang dia impikan. Sebelum dia sadar, Derek udah datang dari belakang dan nyuntikkan sesuatu yang dia duga kloroform biar dia pingsan. Pas dia akhirnya bangun, dia ada di gudang kecil tempat Jackson sama Saya nemuin dia.
Dia tetep pura-pura kalau bukan Jackson sama Saya yang nemuin dia, jadi Ibu Saya nggak curiga sama kita yang kerja di kasus ini, padahal menurut Saya dia juga nggak punya alasan buat curiga. Kalo soal Derek, dia udah ditangkap dan kata Jackson, mungkin mau bikin kesepakatan yang bakal ngurangin hukumannya.
Waktu kita balik ke rumah Jackson, udah dini hari dan Saya capek banget. Alison akhirnya ikut balik ke rumah Jackson, dia nggak mau sendirian setelah baru pulang, dan Saya ngerti banget. Pas Saya turun dari tangga setelah siap-siap, mereka berdua lagi di dapur ngobrol sambil minum kopi.
"Maaf ya kalau ganggu obrolan kalian," kata Saya pas mereka berdua berhenti pas lihat Saya. Alison senyum, sementara Jackson geleng-geleng kepala sambil senyum juga.
"Santai aja Ally, kita cuma lagi bahas penyelidikan kecil kamu dan apa aja yang udah kamu temuin," dia senyum sambil ngasih Saya secangkir kopi. Saya senyum ke dia sebagai tanda terima kasih sebelum duduk di meja. "Saya bersyukur banget kalian mau turun tangan dan nemuin Saya, Saya nggak tahu lagi gimana kalau harus tinggal di tempat itu," dia nghela napas sambil lihat kopinya. Jelas banget semua orang kalau dia udah ngelewatin banyak hal pas dikendaliin Mario.
"Kamu nggak usah khawatir lagi soal dia, Derek udah di tempatnya, dan Mario bakal nyusul. Kalo orang-orang gede nggak bisa nangkap dia, anak-anak kecil yang bakal urus," Jackson senyum sambil naruh tangannya di bahu Alison sebelum ngeliat ke Saya. Saya senyum sambil muter mata, terus nyender di kursi.
"Ngomong-ngomong soal anak-anak kecil, langkah selanjutnya gimana?" tanya Saya sambil minum kopi yang sangat Saya butuhkan. Pertanyaan ini bikin Jackson semangat sambil naruh cangkirnya.
"Nah, Nona Carter, itu pertanyaan yang bagus banget," kata dia sambil megang tangan Saya dan narik Saya ke ruang tamu, tempat papan informasi kita. "Pihak hotel ngirimin semua dokumen soal dua kamar hotel yang dipesan Mario. Mereka butuh informasi soal orangnya dan anehnya, dia nggak pake nama samaran," jelas Jackson sambil ngambil selembar kertas dari papan. Mungkin hal pertama yang harus Saya lakukan pas bangun pagi adalah baca papan ini, kayaknya Jackson kerja terus semalaman.
Saya mulai baca sekilas dokumen itu, ada nama Mario dan tanggal lahirnya di halaman itu. Tapi yang bikin Saya kaget adalah alamat kecil di bagian bawah. Dia nggak mungkin sebodoh itu sampai nyantumin alamat aslinya, kan?
"Saya udah cek latar belakang alamat itu, dan kayaknya disewa sama Catia Richmen," Jackson senyum yang bikin mata Saya melotot. Saya lihat dia dengan tatapan bingung banget.
"Ibunya Mario, Saya yakin itu bukan alamat yang sama yang kita datengin waktu nemuin kotak yang disembunyiin itu," kata Saya. Dia geleng-geleng kepala, bilang bukan. Apa dia pake nama ibunya di alamat ini buat nutupin jejaknya?
"Udah atas namanya selama bertahun-tahun, sewa dibayar setiap bulan tanpa gagal. Tapi itu bukan satu-satunya hal yang mencurigakan, kita bisa spekulasi kalau Mario pake nama ibunya buat menghindari deteksi. Tapi sewa dibayar dari rekening ibunya Mario tempat semua tagihan lain dibayar," katanya sambil ngelempar bom terakhir. Saya bener-bener nggak bisa berkata-kata.
Waktu kita pergi nemuin Catia dan ngomongin soal Mario, dia bersikeras kalau dia udah nggak ketemu Mario selama bertahun-tahun dan nggak mau ada urusan sama dia. Tapi kalau dia bayar sewa rumah yang pernah dipake Mario, pernyataan itu nggak bisa sepenuhnya benar.
"Ini semua kelihatan nggak bagus, tapi coba kita lihat dari sudut pandang lain, gimana kalau ibunya udah punya rumah ini selama bertahun-tahun dan nggak tega buat berpisah. Kayak yang kamu bilang, tetangga bilang dia cuma keluar rumah kalau perlu, mungkin rumah ini punya nilai sentimental buat dia, jadi dia simpan buat jaga-jaga kalau suatu hari dia mau balik lagi. Kayak yang kamu tahu juga, Mario pesan kamar hotel itu sekitar waktu Alison tunangan, dia nyembunyiin kotak berisi barang-barang di rumah ibunya sekitar waktu yang sama. Gimana kalau dia cuma tahu ibunya punya rumah itu?" tanya Saya sambil berusaha bikin Catia kelihatan nggak terlibat. Saya sempet ngobrol enak sama dia waktu kita dateng, entah kenapa Saya nggak mau dia terlibat.
"Kamu punya otak detektif yang bagus Ally, tapi Saya udah selidiki lebih lanjut soal rumah itu dan hubungi salah satu teman Saya yang berutang budi sama Saya. Mereka pergi ke rumah itu tadi malam dan ambil beberapa foto, lihat siapa yang keluar masuk rumah," dia senyum sambil ngasih Saya beberapa foto. Saya lihat ke bawah dan ngeliat Mario sama dua cowok lain yang keluar masuk rumah sambil bawa barang-barang, bahkan ada yang di tas hitam.
"Ayo! Kita tahu di mana dia dan semua temennya ngumpet, ayo kesana sekarang!" kata Saya sambil ngelempar semua kertas ke meja. Ini informasi terakhir yang kita butuhin buat nangkap orang ini!
"Ally, kamu tahu ini nggak semudah itu," kata Jackson, tapi Saya nggak dengerin apa yang dia bilang. Ini bisa jadi hal terakhir yang mengarah ke Ayah Saya.
"Bisa kok, kita bisa kesana dan hentikan dia!" kata Saya sambil jalan ke pintu depan, tapi sebelum Saya bisa buka pintu buat pergi, Jackson berdiri di depan dan nutup pintunya. "Jackson, kenapa kamu ngehentiin Saya? Kamu udah berusaha ngejar dia lebih lama dari Saya, dia ambil adek kamu dari kamu! Apa kamu nggak mau lihat dia bayar?!" kata Saya, mulai sedikit kesal karena dia nggak lari keluar rumah bareng Saya. Gimana kalau Mario tahu kita tahu dan udah mindahin Ayah Saya?
"Tentu aja, Saya mau dia ketangkap dan bayar buat semua yang udah dia lakuin, tapi ada cara buat lakuin semua ini Ally. Kita nggak bisa langsung masuk ke tempat dia dan ambil dia, kalau ini tempat tinggalnya lebih permanen, bayangin senjata apa yang dia simpan di sana. Kita nggak tahu apa yang bakal kita hadapi, kita harus pintar soal ini," katanya sambil narik Saya sedikit pas Saya mau ke pintu lagi, tapi air mata mulai keluar dari mata Saya pas Saya lihat dia.
"Tapi dia punya Ayah Saya, Jackson," Saya mulai nangis, air mata mulai menetes di pipi Saya. Cuma mikirin apa yang udah Ayah Saya alamin, itu bikin hati Saya hancur.
"Saya tahu Ally, dan kita bakal nemuin dia," katanya sambil megang kedua sisi wajah Saya, natap mata Saya pas dia ngomong. "Kita udah sejauh ini di kasus ini, kalau kita kesana dengan semua senjata menyala dan dia kabur, semua itu nggak ada gunanya. Sesulit apapun, kita harus pelan-pelan dan ambil banyak tindakan pencegahan supaya kita aman. Saya janji, kita bakal nemuin Ayah kamu dan bawa dia pulang secepatnya," katanya masih natap mata Saya, denger Ayah Saya bakal pulang sepenuhnya bikin Saya hancur.
Jackson narik Saya lebih deket sambil meluk Saya, kepala Saya di dadanya saat kita berdiri di dekat pintu sambil nangis.
Saya cuma mau mimpi buruk ini berhenti.