Bab Sepuluh
Gue bangun di kasur dengan lengan melilit gue. Awalnya, gue bingung dan agak khawatir di mana gue berada dan apa yang terjadi. Gue lihat ke bawah ke arah tangan itu dan sadar itu tangannya Toby. Memori kejadian semalam mulai memenuhi otak gue. Gue merasakan seseorang bersandar di dekat leher gue, rasa menggigil yang menjalar di tubuh gue mengonfirmasi itu Toby, maksud gue, siapa lagi coba?
"Itu jelas salah satu hal yang gue mau dari lo," bisiknya di dekat telinga gue, yang cuma bikin seringai terbentuk di bibir gue. "Gue gak tahu kenapa lo nolak gue buat menandai lo," katanya sambil bersandar dan mencium tempat tanda gue seharusnya berada, ini bikin gue tersadar dan gue menjauh dan melompat dari kasur.
"Itu seharusnya gak pernah terjadi, ini kesalahan besar," kata gue mulai mengumpulkan pakaian gue dan buru-buru memakainya.
"Apa yang terjadi semalam bukan kesalahan, lo itu pasangan gue, gue bisa lakuin hal-hal itu kapan aja gue mau," ia mengoreksi gue sementara gue meraih celana jins gue dan memakainya. Sekarang bukan waktu yang tepat buat gue lambat.
"Enggak, lo gak ngerti, gue bakal kena masalah besar kalau ada yang tahu kita ngelakuin itu, pasangan atau bukan, itu dilarang di sini," gue jelasin sambil mengancing dan meritsleting celana jins gue, sekarang gue punya tugas buat mencari atasan gue, yang ternyata ada di salah satu kursi.
"Kalau gitu, kita akan melanggar beberapa aturan terlarang ke depannya," ia menyeringai, berbaring di kasur sambil cuma ngeliatin gue panik, gue bersyukur dia bisa melihat sisi lucunya, Direktur jelas gak akan.
"Di mana kartu kunci gue?" gue bertanya pada diri sendiri sambil memindai ruangan, gue gak bisa ke mana-mana tanpa benda itu yang akan jadi masalah besar.
"Lo nyari ini?" Toby bertanya sambil tersenyum dan mengangkat kunci gue di udara, ke mana sih benda itu pergi? Gue berjalan untuk mengambilnya tapi dia memindahkannya lagi. "Gue gak tahu nih apa gue mau kasih ini ke lo," ia menyeringai terus-terusan menggesernya setiap kali gue mau mengambilnya, kenapa sih dia kayak gini?!
Gue melompat ke kasur, merangkak untuk mengambil kartu itu darinya. Tapi dia terus memindahkannya, yang cuma bikin gue melayang di atasnya, yang bisa gue lihat dia menikmatinya.
"Wah, bukannya ini déjà vu," ia menyeringai masih memegang kartu kunci itu jauh dari gue, gue cuma memutar mata terus-terusan berusaha meraih kartu itu tapi gagal.
Sebuah ide segera muncul di pikiran gue yang bikin gue berhenti dan melihat ke arahnya, ia tersenyum sejenak berpikir kalau dia menang. Gue membungkuk mencium bibirnya, membuatnya terkejut, dia mulai menikmatinya di mana gue meraih dan merebut kartu itu dari tangannya dan melompat dari kasur.
"Itu jahat," komentarnya dari kasur, gue cuma menyeringai mengangguk ke arah ekspresinya yang kaget. "Gue akan balas dendam," katanya dengan nada gelap sementara gue memegang gagang pintu.
"Gue tunggu, ini gak pernah terjadi, maksud gue, lo mungkin ngomong gitu ke semua cewek kan," kata gue menunjuk dia dengan kartu gue, sambil berusaha keluar pintu tapi dia menghentikan gue lagi.
"Taylor, gue gak pernah ngelakuin apa-apa sama siapa pun sebelumnya, lo orang pertama dan satu-satunya yang akan gue lakuin hal-hal itu," ia bilang ke gue yang memang bikin gue kaget, gue rasa dia tahu dengan ekspresi yang gue pasang. "Lo sendiri gimana?" ia bertanya sambil duduk di kasur, dia bener-bener mau tahu jawaban ini.
"Maksud gue, gue sama Cooper udah beberapa kali," kata gue yang membuat geraman rendah lolos dari bibirnya. "Gue bercanda! Enggak, lo orang pertama yang pernah gue gituin," gue tersenyum masih bersandar di pintu yang terbuka, dia menarik napas dalam-dalam menenangkan diri sedikit.
"Lo harus berhenti ngelakuin itu," ia menunjuk gue tapi gue cuma terkekeh, gue suka dia jadi cemburu, apa itu buruk?
"Gue mendingan pergi sebelum ketahuan di sini, dengan pakaian yang sama kayak kemarin," gue tersenyum mengirimkan lambaian kecil padanya sebelum sepenuhnya meninggalkan ruangan.
Senyum itu gak hilang dari bibir gue sampai gue kembali ke kamar gue, di mana untungnya, gue gak pernah ketahuan di jalan sama siapa pun. Gue melihat jam tangan gue untuk melihat gue cuma punya 30 menit, gue mengumpulkan pakaian bersih gue sebelum menuju ke kamar mandi. Itu harus jadi mandi paling cepat yang pernah gue lakukan, tapi gue berhasil keluar kamar tepat waktu untuk sampai di sana.
Gue mulai perjalanan keluar koridor gue dan menuju gedung kita, gue gak punya keraguan di pikiran gue tentang Toby lagi. Gak ada apa pun di pikiran gue yang nyuruh gue untuk menolaknya, gue bahkan gak bisa membayangkan untuk melakukan itu. Gue cuma harus membuat keputusan tentang masa depan gue di tempat ini, gak ada bagian dari diri gue yang mau pergi dari tempat ini juga. Sekarang gue tahu lo mungkin bertanya pada diri sendiri, kenapa lo gak bisa ngelakuin keduanya? Itu gak mungkin dengan aliansi, gue tahu beberapa orang yang punya pasangan dan anak yang cuma bisa mereka temui dua kali setahun. Itu jelas bukan kehidupan yang mau gue jalani, gue mau bisa ketemu Toby setiap hari sambil tetap kerja di sini, yang kedengarannya sangat mustahil. Gue baru aja sampai di pintu gedung kita, ketika gue dengar nama gue dipanggil.
Gue berbalik dan berhadapan dengan Direktur, gue segera berdiri tegak memberi hormat membiarkan pintu tertutup di belakang gue.
"Halo Nona Westlake, saya harap bisa melihatmu di sekitar sini," ia tersenyum berhenti di depan gue. "Kamu boleh santai," ia tersenyum yang memang bikin gue rileks dan menaruh tangan di belakang, terutama untuk menghormati.
"Halo Direktur," gue tersenyum membungkuk sedikit untuk menunjukkan hormat, meskipun gue sudah diminta santai gue masih harus menunjukkan hormat.
"Saya ingin tahu bagaimana kabarmu setelah kemarin, Tuan Wilson telah ditangguhkan sementara penyelidikan diluncurkan," ia memberi tahu gue yang mana adalah sesuatu yang Morgan kasih tahu gue, meskipun gue gak terlalu setuju dengan masalah penangguhan. "Nah, Morgan, memang menjelaskan padaku bagaimana kamu agak menentang penangguhan itu, tapi Nona Westlake, kita semua melihat rekaman itu dan itu sangat mengganggu, kita gak punya pilihan lain selain menempuh jalur ini," katanya yang bikin gue mengangguk dan mengerti apa yang dia katakan, gue belum melihat rekaman ini tapi dari apa yang gue ingat dari berada di sana, Riley bukan Riley.
"Saya gak tahu apa yang terjadi padanya, kasus baru kita berpusat pada Alpha dan Beta, yang kita semua tahu dia gak terlalu bagus dengan itu. Saya pikir semuanya terlalu berat bagi Riley," kata gue mencoba membela dia, gue tahu kalau gue bisa ngasih referensi yang bagus, mereka mungkin akan meringankan hukumannya, karena gue yang dia serang.
"Ini cuma kesaksian tentang agen yang luar biasa yang kamu miliki, Nona Westlake," ia tersenyum yang memang mulai bikin gue agak malu, gue benci ketika orang memuji gue, gue gak pernah tahu harus berbuat apa. "Nah, ada juga hal lain yang mau saya bicarakan pada tim, permintaan untuk izin Alpha dan Beta sudah disetujui, kamu bisa pergi dan mengambilnya," ia tersenyum yang bikin mata gue terbelalak, beruntung dia gak masuk dan melihat Toby dan Lukas sudah duduk di sana.
"Wah, itu luar biasa, Bu, terima kasih sudah mempercepat prosesnya," gue tersenyum bergerak sedikit untuk berdiri di depan pintu, gue gak mau itu jadi undangan terbuka baginya untuk masuk.
"Ketika kamu berurusan dengan Richard, kamu harus cepat untuk melindungi orang, sekarang saya tahu kamu kekurangan orang jadi kalau itu membantu, saya bisa menugaskan seseorang dari tim lain untuk membantumu mengambil mereka," ia menyarankan yang di luar terlihat baik, tapi itu berarti orang itu akan tahu kalau Toby dan Lukas sudah ada di sini.
"Tidak, terima kasih, Bu, Brandon mulai pergi dan melakukan pekerjaan di luar, dia sebenarnya jadi sangat bagus, tapi terima kasih atas tawarannya, Bu," gue tersenyum berharap dia cuma akan menerima tawaran Brandon dan pergi, gue gak mau harus membungkam agen dari tim lain ini.
"Wah, bukankah itu bagus untuk Brandon, saya akan membiarkanmu pergi untuk mengambil mereka, terima kasih Nona Westlake," ia tersenyum sebelum berbalik dan pergi, gue membalas senyumnya sambil membuka pintu dengan kartu kunci gue, tanpa berbalik harus gue tambahkan.
Begitu dia gak kelihatan, gue membuka pintu dan menutupnya sendiri, kita gak butuh dia muncul sekarang. Gue rasa tugas kita selanjutnya adalah, mengeluarkan orang-orang ini dari aliansi untuk membawa mereka kembali.
Gue gak tahu apa itu masuk akal.