Bab 11: RAHASIA LAB
Mereka bertiga dengerin apa yang diomongin laki-laki tua itu, mereka ngumpet di pohon biar bisa terus dengerin. Adam gak sengaja ngomong, "Aduh!" pas semut dari pohon gigit dia. Laki-laki tua itu denger suara itu dari pohon di deket dia.
"Ada orang di sini? Kalo berani, keluar dan jangan ngumpet di situ," dia teriak terus dia nanya, "Kalian nguntit saya, ya?"
Anaknya keluar dan nanya, "Ayah, itu tempat lab kamu, ya?"
"Iya, Nak! Tapi sekarang, bukan punya saya lagi. Lab saya jadi tempat tinggal mereka sejak hari mereka ada dan saya gak bisa masuk karena penuh zombi sampai sekarang. Kalo saya masuk, saya bakal jadi salah satu dari mereka dan bakal mati karena orang lain, mereka pasti bakal bunuh saya kalo saya nyerang mereka," katanya.
**Avereign Hannah Fuentez** dan Adam keluar dan jawab, "Jangan khawatir, kakek, kita gak seburuk yang kamu pikirin tentang kita."
"Yang kita mau cuma nemuin obatnya. Dan itu yang kita semua butuh buat berhentiin hal gila ini, buat berhentiin zombi nyerang kota kamu. Kamu mau mereka keluar, kan? Kita mau bantu kamu nemuin jawaban dari pertanyaan kita," Adam nawarin.
"Semuanya jadi gampang kalo banyak orang saling bantu. Tapi itu cuma bakal terjadi kalo kamu izinin kita buat bantu kamu. Kita gak bisa ngapa-ngapain kalo kamu gak mau kita nemenin kamu buat nemuin obatnya," **Avereign Hannah Fuentez** ngomong, nyoba buat yakinin laki-laki tua itu.
"Ayah! Tolong izinin mereka bantu kita nemuin obatnya," dia mohon. "Tapi gimana caranya kita masuk ke dalam lab?" Andre nanya ke ayahnya dengan nada penasaran.
"Kita bisa masuk ke dalam lab kalo salah satu dari kita punya antibodi yang kuat buat ngelawan virus yang disebabkan gigitan zombi," laki-laki tua itu jelasin. "Tapi..." dia motong omongannya. "Kalo gak ada yang punya antibodi ini, saya gak tau gimana caranya kita bisa masuk ke sana," lanjutnya.
**Avereign Hannah Fuentez** dan Adam saling pandang.
"Permisi sebentar, ya. Kita cuma mau ngobrolin sesuatu yang penting," Adam dan **Avereign Hannah Fuentez** permisi dengan sopan.
Mereka menjauh dari dua orang itu dan ngobrolin apa yang terjadi sama Adam waktu terakhir dia digigit zombi pas mereka di kereta yang udah gak kepake.
"Kayaknya kita harus kasih tau mereka apa yang terjadi sama kamu pas kamu digigit zombi," **Avereign Hannah Fuentez** nyaranin. "Gimana menurut kamu?" Dia nanya pendapat Adam.
"Kayaknya itu ide bagus! Kita bisa gampang yakinin laki-laki tua itu kalo kita kasih tau dia kebenaran di balik kekuatan penyembuhan misterius dari tubuh saya," Adam jawab. "Saya semangat banget buat bantu setiap orang yang pengen balik ke kehidupan normal mereka," tambahnya.
"Kalo laki-laki tua itu beneran ilmuwan, dia bisa kasih tau kita alasan di balik luka penyembuhan kamu dari gigitan zombi," **Avereign Hannah Fuentez** bilang ke Adam.
Mereka kasih tau mereka apa yang terjadi waktu Adam gak sengaja digigit zombi pas mereka di kereta yang udah gak kepake.
"Saya tau ini aneh, tapi saya liat luka Adam memudar seiring waktu. Dan setelah satu jam, lukanya hilang," **Avereign Hannah Fuentez** bilang.
"Sempurna!" Laki-laki tua itu nepuk bahu Adam. "Dia orang yang saya cari." Dia senyum tipis.
"Maksudnya?" Adam nanya dengan penasaran.
"Kalo itu yang terjadi sama kamu, berarti kamu punya antibodi yang bisa ngelawan virus yang nyebar di pembuluh darah semua orang," laki-laki tua itu jawab dengan semangat. "Syukurlah, kamu kasih saya orang yang saya cari," dia muji Tuhan.
"Tapi saya masih penasaran kenapa kamu nyoba bunuh kita?" **Avereign Hannah Fuentez** nanya ke laki-laki tua itu.
"Hah? Saya nyoba bunuh kalian? Ya, kayaknya kita gak saling ngerti. Saya kira kalian berdua orang jahat kayak keluarga yang kita temuin sebelum istri saya jadi zombi. Mereka nyoba bunuh istri saya pake pistol," laki-laki tua itu jelasin. "Tapi waktu saya liat betapa kuatnya persahabatan kalian. Saya nyerang kalian malam itu buat ngambil sampel darah kalian, tapi kalian bela satu sama lain dan nyoba buat nyakitin saya. Apa yang saya lakuin cuma buat bela diri," dia ngebela diri dari tuduhan.
"Saya pake kapak buat nyakitin kalian dan ngambil darah kalian dari luka kalian. Saya punya tas selempang, kalo kalian perhatiin. Saya punya tabung reaksi buat sampel darah. Saya bukan pembunuh!" Dia nunjukin apa yang ada di dalam tasnya buat buktiin kalo dia ngomong yang bener. "Saya cuma ilmuwan dan saya bukan pembunuh," dia jelasin.
"Saya kira kamu..." mereka bertiga berhenti. Mereka semua kaget karena mereka salah nilai laki-laki tua itu. Mereka liat tabung reaksi berisi sampel darah yang berbeda.
"Ayah? Maafkan saya! Tolong maafin saya karena udah jadi anak bodoh. Saya udah salah nilai kamu," anaknya minta maaf.
Laki-laki tua itu ngomong, "Lihat, betapa putus asanya para ilmuwan cuma buat nemuin obat buat setiap penyakit? Kita gak lakuin itu cuma buat diri kita sendiri. Kita beneran mau nemuin obat buat kepentingan semua orang. Itu tugas kita."
"Hahahahahaha!" Mereka semua ketawa terbahak-bahak dan saling memaafkan.
"Sekarang kita udah di deket lab, tunggu apa lagi? Ayo masuk," kata laki-laki tua itu.
"Beberapa bagian lab saya ditempati zombi, tapi saya yakin gak ada yang bisa masuk dengan salah satu bagian favorit saya di sana," kata laki-laki tua itu.
"Tapi saya punya masalah besar, saya lupa kata sandinya," dia garuk-garuk kepala.
"Ohhhh nooo!" Mereka bertiga bereaksi. "Gimana caranya kita bisa masuk sekarang?" Mereka nanya ke laki-laki tua itu dengan tanda tanya di pikiran mereka.
"Kalo gak salah, saya naruh beberapa petunjuk di deket pintu, jaga-jaga kalo saya lupa kata sandi saya. Labnya gede banget. Saya yakin zombi berkeliaran bebas di setiap jalur lab di deket area itu. Saya tau sesuatu bakal terjadi di masa depan jadi saya amankan peralatan dan perlengkapan saya di dalam ruangan itu. Tapi semuanya gak sesuai harapan, saya kira yang bakal terjadi cuma perang atau sesuatu yang lain tapi bukan wabah kayak gini. Waktu orang dari negara lain tau situasi mengerikan yang kita alamin, mereka mutusin buat nutup area mereka dari nerima orang yang datang dari kota kita. Saya ngerti mereka karena saya tau mereka cuma lindungin kota mereka dari zombi," laki-laki tua itu jelasin dengan serius.
Mereka kira mereka bisa masuk dengan aman, tapi...