Bab 3: PINTU PERTAMA
Kesiah, Kiarra sama Adam terus lari secepatnya buat nyampe ke rumah aman yang mereka liat dan nyelametin nyawa mereka, sementara Dave dan Hannah mutusin buat balik lagi ke tempat Terrence, buat nyelametin temen mereka.
Iya! Mereka balik buat nyelametin temen mereka padahal ada bom meledak, suara tembakan dari tentara yang masih berjuang buat hak dan kebebasan mereka dari pemerintah yang kejam.
Tetep aja, mereka gak ngerti apa yang terjadi dan gimana caranya mereka bisa ada di medan perang, padahal tadinya mereka ada di rumahnya Hannah, terus tiba-tiba nyampe di medan perang. Aneh banget emang yang terjadi sama mereka. Yang mereka tau cuma satu, apapun itu, mereka harus keluar dari sana hidup-hidup dan utuh.
Dave liat sahabatnya, Terrence, lagi berusaha kabur, terluka dan gak punya tenaga buat nyelametin nyawanya di tengah perang.
"Hannah, ayo! Ke sana!" sambil nunjuk pake jarinya ke arah Terrence. "Sana! Liat! Terrence lagi berusaha nyelametin nyawanya. Ayo kita bantu dia," kata Dave sambil natap Hannah.
"Iya, Dave! Terus, kita tunggu apa lagi? Ayo," jawab Hannah.
Mereka lari bareng ke arah Terrence.
Terrence liat temen-temennya lari buat nyelametin dia. Matanya udah mulai pengen merem dan dia nahan napas. Dia rebahan. Dia liat pintu dan beda banget sama pintu biasanya. Sementara itu, Dave manggil dia...
"Terrence! Woy, bro! Jangan merem. Kita mau gendong lo dan nyelametin lo dari sini. Tolong berjuang buat hidup lo kalau lo mau bareng kita sampe kita bisa balik ke hidup normal. Kuat ya, man!" seru Dave.
"Bro! Selamatkan Hannah, selamatkan hidup kalian kalau kalian mau balik hidup-hidup. Tolong biarin gue mati di sini! Gue bisa ngerasain, gue bakal mati beberapa menit lagi. Makasih, bro, sampe napas terakhir lo buktiin ke gue betapa baiknya lo; lo sahabat terbaik gue," dia nepuk bahu Dave.
"Nggak! Gue gak bakal terima apa yang lo mau. Mau lo suka atau gak, gue bakal gendong lo dan Hannah bakal bantu gue nyelametin lo dari sini," katanya, berusaha ngeyakinin sahabatnya.
Hannah liat meriam ngarahin mereka, mau nembak dengan tembakan paling kuat.
"Woy! Dave, ayo! Cepetan! Meriam di sana mau nembak. Kita bertiga bisa mati di sini," kata Hannah.
Vhiann masih ngumpet di balik blok-blok pas dia liat Hannah dan Dave gendong Terrence, dia keluar dan lari ke arah mereka bertiga dan bantu mereka gendong Terrence.
Mereka gendong Terrence dan mereka ngumpet di balik blok-blok tempat Vhiann ngumpet sebelum liat mereka. Adam liat mereka berempat dan lari ke arah mereka buat bantu. Adam dadah-dadah dan dia manggil Dave. "Ayo, kita nemuin rumah aman di sana," sambil nunjuk pake jarinya ke rumah yang dimaksud. "Ayo, ikutin gue," katanya.
Adam bantu mereka buat gampang masuk ke rumah aman yang dia omongin. Mereka nyampe di rumah aman dan ngumpet di sana.
"Guys! Gue nemuin kotak P3K di sini. Gue rasa kita harus bersihin luka Terrence, nih..." Kiarra nawarin kotak P3K.
Mereka nginep di rumah aman dua hari dua malem. Sampe Terrence buka matanya dan ngomong ke temen-temennya.
"Ohhh! Terrence, syukur Alhamdulillah lo udah bangun. Gimana perasaan lo?" tanya Kesiah sambil senyum.
"Gue ngerasa baik-baik aja sekarang," jawabnya.
"Sampe sekarang, gue gak percaya kita ada di medan perang. Gue masih gak ngerti. Sekarang, gimana caranya kita bisa kabur dari sini?" bisik Hannah dengan bingung.
"Gue rasa gue nemuin jawabannya gimana caranya kita bisa keluar dari sini," jawab Terrence pas dia denger Hannah.
"Hah? Beneran, Terrence? Gimana?" tanya Hannah.
"Guys, gue liat pintu, beda banget sama pintu-pintu yang lain di sini. Gue rasa kita harus buka pintu itu dan itu pintu yang kita cari buat kabur dari sini," jelas Terrence.
"Lo liat pintu itu di mana, bro?" tanya Adam.
"Gue liat pintu itu deket tempat gue rebahan sebelum Dave dan Hannah nyelametin gue," jawabnya.
"Tapi gimana caranya kita ke sana? Lo tau kan bahayanya, dan gak aman kalau kita ke sana," kata Kesiah.
"Kalau kalian mau kabur dari sini, berarti kita harus nyari cara gimana caranya ke sana dengan aman," kata Vhiann.
"Gue harus tau kalau pintu itu kunci buat keluar dari sini. Gue harus ke sana," bisik Hannah.
"Gue denger apa yang lo bisikin, Hannah. Gue mau ikut lo. Ayo kita cari pintu itu," kata Dave.
"Gue juga mau ikut, gue ngerasa lebih baik sekarang," kata Terrence. "Gimana sama kalian? Kalian mau ikut kita gak?" tanyanya.
"Tentu aja! Kita keluar dari tempat ini bareng-bareng," jawab Kesiah, Kiarra, Vhiann, dan Adam.
"Liat! Perangnya udah selesai. Ayo keluar dan cari pintu yang lo omongin," kata Dave.
Pas jalan, mereka liat mayat di mana-mana, setiap jalan yang mereka lewati kayak mereka lagi jalan di tanah mati yang gak ada orang hidup! Ngeri banget...
Sampe...
Mereka akhirnya nyampe di tempat pintu itu berada.
"Woy! Pintu itu beda banget sama pintu yang lain. Itu yang lo maksud, Terrence?" Adam nunjuk.
"Iya, bener! Ayo buka. Terrence nyoba buka tapi gak bisa. Gue rasa guys kita butuh kunci." Terrence menjauh dari pintu.
"Tunggu! Liat gagang pintunya." Kiarra nunjuk tag-nya. "Ada tag-nya dan ada tulisan di sana," dia nemuin.
"Guys tulisannya gini, "Yang bikin gue gak butuh gue, yang beli gue gak mau gue, yang butuh gue gak kenal gue.""
Apaan? Ini teka-teki?" tanya Adam penasaran.
"Kalau itu teka-teki. Berarti, kuncinya bukan kunci beneran buat buka pintu. Bener gak sih?" kata Kesiah.
"Ohhhh my gosh, ini gak percaya banget. Hannah, lo jago kan soal ginian?" tanya Vhiann.
"Gue rasa sih... Gue rasa jawabannya adalah. Sesuatu yang dipake sama orang yang butuh istirahat dengan tenang. Apa sih nama benda yang bentuknya persegi panjang itu?"
Brainstorming....