Bab 6: HARAPKAN YANG TAK TERDUGA
Gak nyangka, dia ngeliat sesuatu di atas pohon. Tapi dia gak bisa ngeliat jelas karena cahaya matahari. **Kesiah** mutusin buat manggil temen-temennya.
"Haaannnaaaah! Kiiiaaarrraa! Vhhiaaaannn! Sini! Ada yang mau gue tunjukin," **Kesiah** teriak ke temen-temennya.
Tiga orang itu dateng buat liat apa yang mau ditunjukin **Kesiah**.
**Kesiah**, nunjuk pake jari ke atas pohon. "Guys! Liat deh, ada sesuatu di atas pohon tapi gue gak bisa kenali karena cahaya kena mata gue dan gue gak bisa ngeliat jelas. Kalian gimana?"
"Kita juga gak bisa liat benda itu karena matahari," reaksi cewek-cewek itu. Mereka jadi penasaran sama benda di atas pohon itu karena bentuknya kayak persegi panjang di atas pohon.
Di sisi lain, **Dave** liat buah yang mereka punya kurang buat makan malam. Dia mutusin buat manjat pohon dan metik beberapa buah. Dia manjat pohon tanpa bawa apa-apa buat naruh buah yang mau dia petik.
"Teeerrreeeenccceee! Aaaadddaaam! Butuh bantuan nih!" Dia teriak ke temen-temennya buat bantuin dia.
"Siap, bro! Kita bantu. Gimana caranya kita bantu?" jawab **Terrence** dan **Adam**.
"Gue gak bawa tas atau apapun jadi gue mau kalian bantuin gue nangkap buah yang bakal gue jatohin," pintanya.
"Jatohin semua buahnya sini, bro! Kita jamin kita bakal nangkap semua itu," kata mereka berdua.
**Dave** pelan-pelan nginjekin kaki kanannya ke dahan dan lanjutin kaki kirinya ke dahan pohon yang lain. Sampe, dia nyampe di ujung pohon dan dia nyentuh sesuatu yang bulat dan lingkaran yang dingin.
Kaki kirinya ketusuk duri gak sengaja dan darah keluar. Terus, dia ngerasain sesuatu di tangan kanannya, mati rasa. Dia gak bisa megang dan turun dengan bener jadi dia tiba-tiba jatoh ke tanah.
"Ooooo-oooouuuuuuch! Gue benci perasaan ini! Gak nyangka gue jatoh," kata **Dave**. Mukanya nunjukkin gimana sakitnya pas dia jatoh ke tanah.
Temen-temennya kaget. Cewek-cewek denger **Dave** jadi, mereka cepet-cepet dan liat apa yang terjadi sama **Dave**.
**Kesiah** dan **Kiarra** nyadar kalo **Dave** gak bisa gerakin tangan kanannya jadi mereka pijitin sampe normal lagi. Sementara cowok-cowok cuma diem dan masih kaget sama apa yang terjadi sama **Dave**.
**Hannah** dan **Vhiann** nyadar kalo dia luka. Kaki kirinya berdarah. **Hannah** ngeliat kaki dia dan dia liat duri, penyebab pendarahan. Dia cabut durinya pelan-pelan dan mereka semua denger teriakan dari cowok pemberani, **Dave**.
"**Hannah**, kakinya masih berdarah," **Vhiann** berbisik dengan nada khawatir yang bikin **Dave** senyum diem-diem.
"Tenang aja, **Dave**, lo bakal baik-baik aja." kata **Hannah**, nunjukkin perhatian ke dia. Dia robek dua lengan bajunya dan ngiketnya biar cukup panjang buat luka **Dave**. Dia iket ke kaki kiri yang berdarah.
Cowok-cowok liat ada tag di rambut **Dave**. **Terrence** ngambil tag itu dan teriak.
"Tag-nya! Ada tag!" **Terrence** loncat kegirangan. Jadi, dia baca keras-keras.
"Di sini tertulis, 'Seseorang berbuah sekali, dua kali atau lebih jika dia mau, dia narik napas dalem berkali-kali dengan air mata dan buahnya keluar'," **Terrence** ngeliatin mereka langsung.
"Hah?" Pikiran semua orang penuh tanda tanya. Jadi, mereka semua berdiri buat mikir jawaban yang bener.
Cowok-cowok bantuin **Dave** berdiri dan mereka hati-hati naruh lengan kanan **Dave** ke bahu kanan **Terrence** dan lengan kiri dia ke bahu kiri **Adam**.
"Kalo kita dapet jawaban yang bener, gimana caranya kita buka pintu kalo pintunya gak ada? Sekarang kita udah dapet kuncinya, kita harus cari dulu pintu tempat tag itu berasal," **Hannah** berbisik dari belakang **Adam**.
**Adam** denger bisikannya. Dia nanya ke **Dave**, "Apa yang terjadi sebelum lo jatoh ke tanah? Di mana lo dapet tag yang kita temuin di rambut?"
"Yang gue inget, kaki kiri gue ketusuk duri dan tangan kanan gue mati rasa dan tiba-tiba gue jatoh," dia jelasin.
**Terrence** penasaran nanya ke sahabatnya, "Selain itu, apa lo nemuin hal-hal yang gak biasa di pohon?"
"Pas gue nyampe ujung pohon, ada sesuatu yang bulat dan lingkaran. Rasanya kayak logam karena dingin," jawabnya.
"Aha! Bentuk kenop pintunya waktu itu bulat dan lingkaran. Gue yakin, benda lingkaran itu kenop pintu," kata **Adam**.
Cewek-cewek saling pandang dan bilang, "Pintunya di atas pohon. **Kesiah** liat tadi. Tapi kita gak bisa kenali karena cahaya matahari yang mengarah ke benda itu," tambah mereka.
"Kalo pintunya ada di atas pohon berarti kita harus manjat buat buka pintu," kata **Kiarra**.
Mereka manjat pohon satu per satu. **Kiarra** nyampe pintu dan dia pegang kenop pintunya. Pas mereka semua udah di sana, mereka duduk di dahan tempat mereka berhenti.
"Ayo sebut jawabannya," mereka teriak kegirangan
Mereka berhenti, tempat itu hening dan mereka semua punya satu pertanyaan di pikiran mereka, "Gimana caranya kita teriak jawabannya kalo kita gak tau jawabannya?"
"Jangan khawatir, guys! Gue tau jawabannya sebelum kita manjat ke sini. Jawabannya adalah 'IBU'," **Hannah** berbisik.
"Lo yakin sama jawaban lo, **Hannah**?" **Vhiann** penasaran nanya ke sahabatnya.
"Iya! Gue yakin banget kalo ibu jawabannya," **Hannah** ngomong dengan bangga.
"Tapi gimana?" mereka nanya.
**Hannah** jawab dengan cerdas, "Di situ tertulis, 'Seseorang' terus diikuti dengan 'yang berbuah sekali, dua kali atau lebih jika 'DIA' mau' dan gue udah tau itu mengacu ke cewek. Satu-satunya cewek yang narik napas dalem berkali-kali dengan air mata adalah cewek yang ngelahirin dan inilah bayinya, buah yang keluar darinya."
Mereka semua takjub sama apa yang **Hannah** kasih tau. Jadi, mereka teriak bareng-bareng. "IIII-BUUUUUUUUU" adalah jawabannya.
Sayangnya, pintunya gak kebuka. Itu karena jawabannya salah.
"Ohhh enggak! Gue gagal dapet jawaban yang bener. Gue gagaaaaal! Gue minta maaf, guys," **Hannah** berseru sambil air mata ngalir dari matanya.
"Jadi, apa jawabannya? Lo tau jawabannya?"