Bab 28
"Sheila, rasa apa yang kamu mau?" tanyaku sambil milih es krim acak dari kulkas.
"Aku mau es krimku tiga scop. Yang pertama vanila, kedua cokelat, dan yang ketiga stroberi, terus di atasnya aku mau satu anggur," teriaknya dan mengalihkan perhatian ke hapenya.
Aku pesenin es krimnya dan balik lagi nyari yang kesukaanku. "Ahhh! Ketemu kamu." Aku menjerit sambil ngambil es krim butterscotch kesukaanku. Aku cium ujung es krimku dan duduk di depannya.
Sekarang, kita lagi duduk di toko es krim yang lokasinya jauh dari kampus kita. Setelah Kevin pergi, kita selesai berdebat dan akhirnya di sini, di toko es krim.
"Jadi kamu gak punya hape selain ini." Dia nanya sambil nunjuk hapeku.
"Iya!" Aku ngangguk. "Dan gak bisa nerima panggilan masuk?" Dia naikin alisnya. Aku ngangguk sebagai jawaban sambil makan es krimku dan desahan nikmat keluar dari bibirku. Rasanya enak banget.
"Quinn, kamu tau dia kemana?" tanyaku. Mungkin dia tau keberadaannya.
"Aku gak tau dia kemana, tapi satu hal yang mau aku kasih tau, dia khawatir sama kamu lebih dari yang kamu kira. Aku tau ini bukan masalah besar, tapi masalahnya sensitif banget, kamu harus hadapi dia lebih hati-hati, dan tolong jangan sakitin hatinya." Katanya tulus.
"Hidupnya berantakan banget dan dia bahkan..." Dia berhenti di tengah kalimat dan natap aku, ekspresi gak dikenal muncul di matanya.
Sambil genggam tanganku, dia lanjut, "Ikutin aja kata hatimu. Solusinya ada di kamu. Jangan abaikan perasaanmu, kamu bakal nemuin solusinya." Dia senyum tipis. Aku ngangguk ke omongannya dan mulai mikirin kata-katanya.
Kata-katanya ada makna yang mendalam. Aku gak bisa nebak dengan tepat apa maksudnya ngomong gitu. Aku geleng-geleng kepala dan mulai ajak ngobrol tentang liburan kita.
Dia cerita banyak hal yang mereka lakuin pas liburan dan jelasin gimana mereka ngadain acara amal buat pendidikan anak-anak dan nunjukin foto dia, Kevin, dan Harry ke aku.
Mataku tertuju ke foto Harry di mana dia keliatan dewasa banget pake setelan Armani putihnya.
Dia lagi megang anggur merah dan ngobrol sama seseorang, yang kayaknya udah kepala lima. Mereka berdua punya kemiripan, dia kayak versi mini dari orang itu.
"Quinn, ini siapa?" Aku nunjuk orang yang lagi berdiri sama Harry.
"Dia papanya dan pamanku, Tuan James Brooks," jawabnya.
Kenapa namanya kayak familiar banget ya?
"Sheila, kamu kenapa?" Dia nanya, nyadar aku lagi bingung.
"Gak papa, namanya kayak familiar aja. Jadi aku lagi mikir di mana aku pernah denger nama ini." Jawabku jujur.
Rasa kaget sekilas muncul di wajahnya tapi dia tutupin dengan senyum. "Kebanyakan orang punya nama ini, lagian ini salah satu nama umum di seluruh dunia," jelasnya dan aku ngangguk paham.
Setelah pamitan dan saling peluk hangat, aku sampe kamar persis jam 10 malem.
~~~~~
Minggu-minggu ini lebih buruk dari yang aku kira. Dia gak mau ngomong sama aku. Setiap aku telpon, dia matiin. Aku udah minta maaf ribuan kali tapi dia gak terima satupun.
Keras kepala banget.
Setiap aku coba ngomong sama dia, dia abaikan aku kayak aku gak pernah ada dan pergi seolah aku kena demam virus yang bisa nularin dia. Kadang aku pengen nonjok mukanya yang cakep itu. Lihat aja, sampai kapan dia kayak gini.
^^^^^^^^
Sekarang, aku lagi di gereja, pengen sendiri, ketakutan sama kejadian hari ini. Aku gak bakal maafin dia atas apa yang dia lakuin ke aku. Udah kelewatan.
Setelah kejadian itu, aku langsung ke sini buat cari ketenangan.
Aku pasti matanya bengkak dan hidung merah karena kebanyakan nangis. Semuanya gara-gara dia.
Aku akuin aku bikin dosa dan nyakitin hati mereka, tapi itu bener-bener di luar kendaliku. Aku gak sengaja nyakitin dia. Dulu pas aku sekolah dan kalau aku gak masuk lama, aku gak kasih tau siapa pun, bahkan ke temen deketku karena kita tetanggaan dan mereka bakal gampang nebak di hari pertama aku gak masuk kenapa aku gak masuk sekolah.
Jadi aku gak nemu alasan buat jelasin dilema ini ke siapa pun dan aku bosen sama kebiasaan anehku ini.
Tapi di sini-- Aku lupa kalau mereka bukan tetanggaku dan mereka bukan anak-anak yang gak peduli sama temennya dan itu ngefek banget ke ikatan persahabatan kita.
Jam 10 malem. Aku udah di sini hampir empat jam tapi siapa peduli. Yang aku mau cuma ketenangan buat hatiku.
Mendesah pasrah, aku keluar dari gereja dan langsung disambut angin dingin yang ngelus tubuhku dengan begitu sayang.
Aku gosok-gosok tangan buat angetin badan dan meluknya di sekeliling tubuhku yang kecil. Tiba-tiba, sebuah tangan nyemangatin aku buat meluk erat tanpa jarak. Aku kaget sama serangan tiba-tiba itu dan teriak.
"Tuhan!! Kamu aman." Sebuah suara bilang lembut dan aku kenal suara siapa ini. Tangannya melingkar di pinggangku, posesif, wajahnya bersandar di lekuk leherku.
"Harry, kamu kenapa?" bisikku dan napas tertahan keluar dari mulutku pas aku liat keadaannya yang parah.
*