Bab 31
Sudut Pandang Sheila:
Meskipun dia udah nyakitin perasaan gue, susah banget lihat dia dalam kondisi yang hancur. Gue pengen banget nge-tonjok wajah gantengnya dan mukul dadanya yang keras, tapi ngelihat dia kayak gini bikin hati gue meleleh kayak es krim.
Mata dia merah banget, kayak habis nangis berjam-jam. Gue ngusap air mata dari pipinya, tapi tetep aja netes kayak salju.
"Harry, ada apa?" tanya gue.
"Maaf, Sheila. Ini semua salah gue," jawab dia sambil sesenggukan.
"Sst! Gak papa. Lo gak salah apa-apa, jadi berenti nangis, ya." Gue coba nenangin dia, tapi dia geleng dan megang wajah gue pake kedua tangannya. Matanya yang coklat muda natap mata gue, kayak lagi nyari jawaban.
"Tolong bilang lo udah maafin gue. Cuma gitu gue bisa tenang," bisik dia.
Gue bener-bener bingung sekarang. Kenapa dia kayak gini? Ya! Gue emang marah sama dia, tapi gak segitunya juga. Dia bukan orang yang gampang minta maaf, apalagi ke orang lain.
"Oke, gue maafin. Puas, kan?" tanya gue sambil ngangkat alis.
"Makasih, Sheila," Dia meluk gue lagi, yang bener-bener bikin gue kaget.
Ini pertama kalinya dia meluk gue, dan rasanya enak banget. Gue pengen ada di pelukannya, selamanya.
"Harry! Gue gak bisa napas," rengek gue pelan. Tiba-tiba dia ngelepasin pelukannya dan ngambil napas dengan gemetar.
"Maaf, Sayang." Terus dia mulai garuk tengkuknya dengan canggung.
Sayang?
Kesambet apa dia?
Pertama, dia meluk gue erat banget, sekarang sayang.
Gue berdeham buat ngilangin rasa canggung di antara kita. "Lo gak mau dateng ke pesta ulang tahunnya, nih?"
"Gak penting," dia nge-'shrug' bahunya dan nge-genggam jari-jari tangan gue sebelum mulai jalan. Oke, dia bersikap kayak pacar gue. Entah kenapa gue ngerasa hangat dan aman dalam genggamannya.
"Sheila! Gue laper, kita makan, yuk?"
"Harry! Seriusan?" Gue nepuk bahunya sambil bercanda. "Gue nanya, nih. Lo kan udah nyakitin perasaannya. Kenapa lo janji palsu kalau gak mau dateng?" Gue naikin alis.
"Setidaknya lo harus bilang sama dia. Gimana kalau dia nungguin lo? Demi Tuhan, itu ulang tahunnya dia. Lo tuh bego banget," gue nasehatin dia karena gak peduli sama orang lain.
"Dia pantes nerima itu, dia jalang," katanya santai.
"Harry," gue memperingatinya sambil nunjukin kedua tangan di pinggul gue.
"Oke...oke..." Dia ngangkat kedua tangannya tanda menyerah. Gue seneng dia gak dateng ke pestanya, tapi di lubuk hati gue khawatir sama kelakuannya.
"Harry!"
"Hmm?!"
"Kenapa lo kasar banget sama semua orang?" Kepalanya nengok ke arah gue dan ngasih senyum kecil lagi sambil megang tangan gue.
"Gue gak kasar sama lo, kan?"
"Ohh! Terus gimana sama kasus kecelakaan itu? Lo hampir nabrak gue waktu itu," gue ngingetin.
"Sheila! Itu kan udah lalu, dan gue udah bilang itu bukan niat gue. Tolong, bisa gak sih lo lupain masalah ini?"
"Dan lo juga gak minta maaf ke gue," gue manyun, terus dia geleng gak setuju.
"Ya Tuhan! Sheila, lo bikin kita semua takut," Quinn meluk gue erat banget. Gak kuat sama serangan mendadak itu, gue mundur dan akhirnya kita berdua jatuh.
"Quinn, lo ngapain sih?" Harry ngomel ke dia dan ngebantu gue berdiri. "Lo bikin dia sesek napas," katanya.
Kevin nyamperin Quinn dan ngebantu dia berdiri. "Sheila! Lo gak papa?" Kevin nanya, rasa khawatir jelas banget di suaranya.
"Gue gak papa. Ada masalah?" tanya gue, tapi gak ada yang ngomong.
Kevin kuat banget kalau dibandingin sama yang lain. Kalau dia khawatir sama sesuatu, pasti itu masalah besar.
"Ada yang gak beres, gue bisa ngerasainnya. Quinn, lo mau cerita atau gak?" Gue melipat tangan di depan dada, minta jawaban.
Sudut Pandang Harry:
Gue lihat Quinn meluk dia erat banget dan mereka berdua jatuh. Tiba-tiba gue ngerasa dingin begitu tangannya lepas dari tangan gue.
Gue marahin Quinn karena gak cuma bikin dia sesek, tapi juga ngerusak momen indah kita. Dia nyelonong di antara kita dari mana tau buat ngerusak momen kita. Harusnya gue gak nge-chat mereka.
"Sheila, lo gak papa?" Kevin nanya dari belakang gue, dan gue ngerasa tegang di udara. Dia kayaknya sadar sama situasi kita dan nanya pertanyaan yang gak mau gue denger.
Kadang dia keras kepala banget. Gue ngelirik Quinn, dia ngasih gue senyum minta maaf.
Gue rencananya mau nangani situasi ini dengan halus.
"Ada apa?" Dia minta jawaban sambil melipat tangan di depan dada. Dia cantik banget, bahkan dalam kondisi keras kepalanya.
"Sheila!" gue manggil namanya buat minta perhatiannya. "Gue laper, kita makan dulu, gimana?"
Quinn natap gue dengan geli, karena dia tau banget gue gak pernah mikirin makanan.
Gue meremin mata ke arah dia dan dia batuk canggung.
"Iya! Gue juga laper, kita makan dulu aja. Nanti kita bahas masalahnya," saran Quinn.
"Oke," dia ngangguk ragu, dan kita semua akhirnya di restoran mewah. Dia mesen makanan favoritnya, nasi goreng sama ayam 65. Gue juga mesen yang sama. Kita makan dalam diam, nikmatin makanan.
Begitu selesai makan malam, kita nyampe di mobil. Quinn ngangguk ke gue buat ngasih tau yang sebenarnya. Gue narik napas dalam-dalam dan ngumpulin semua keberanian buat ngejelasin semuanya, meskipun dia kayaknya lupa.
"Sheila..."
"Hmm..."
"Gue mau ngasih tau sesuatu," gue lihat alisnya berkerut dan dia natap gue bingung.
"Asrama lo kena musibah kebakaran, dan semua barang rusak," gue nyerocos sekaligus.