Bab 48
Quinn udah ngambil sisi kanan kasur, jadi gue naik ke sisi kiri terus masuk ke selimut dan merem lagi. Sehari tiga kali, gak peduli buat ganti baju.
Koper masih di lantai, belum dibuka, tapi subuh jam 2 pagi siapa yang peduli sama barang di lantai selain tidur.
---
Hari ke-5 perjalanan kita dan sekarang kita berdiri di depan Tajmahal menikmati pemandangan sambil nanyain kisah cinta Shajahan sama Mumtaz ke turis.
Empat hari itu, kita udah mengunjungi banyak tempat dan nyobain berbagai jenis makanan yang gue gak tau bahkan ada. Sepanjang waktu Quinn sama Kevin jalan bareng kayak pengantin baru, gak peduli buat ngajak kita.
Kayak yang mereka bilang tadi, mereka lagi foto selfie dari berbagai sudut. Mereka keliatan bahagia banget.
Harry bilang hari ini dia mau bawa gue ke tempat penting dan mau nunjukkin sesuatu. "Udah siap?" dia nanya dan gue ngangguk, terus kita berdua jalan ke mobilnya.
Setelah nyetir 30 menit, dia parkir mobilnya di area parkir yang penuh tanaman hijau.
Apaan nih, rumah kaca atau perkumpulan hijau?
Dia nuntun gue lebih jauh ke arah Gunung dan kita berdua mulai naik. Awalnya, gue semangat banget mau sampai puncak gunung, tapi pas gue ngerasa semua energi gue habis, gue pengen nyerah.
"Harry, gue gak bisa." gue ngerengek, ngos-ngosan sambil bungkuk, terus naruh tangan gue di lutut.
"Kayaknya gue gak bisa. Gimana kalau kita turun aja?" gue nanya sambil nengok ke belakang.
"Sheila, kita hampir sampai. Ayo, tinggal lima menit lagi." Dia ngulurin tangannya ke arah gue.
"Itu yang lo bilang sejam yang lalu." gue nyindir.
Dia ketawa kecil terus megang tangan gue, terus kita berdua naik. Begitu sampai puncak gunung, dia nutup mata gue pake tangannya.
"Lo ngapain?" gue nanya gemeteran karena sentuhannya.
"Biar gue tunjukkin sesuatu." Dia berbisik.
"Lo mau dorong gue, ya?" gue nanya dan dia ketawa.
"Harry, kita mau kemana sih?" gue nanya lagi panik.
Begitu dia buka mata gue, mulut gue langsung kebuka lebar ngeliat karya seni yang luar biasa di depan gue.
Pemandangan yang luar biasa!! gue berseru dalam hati.
Tanah hijau, lebih tepatnya desain berbentuk hati yang digambar penuh kelopak mawar yang nambah keindahan tanah itu.
"Lo suka ini?" dia nanya, bikin gue sadar dari dunia gue.
"Keren banget." gue ngehela napas. "Gimana caranya lo nemuin tempat yang keren ini, Harry? Beneran luar biasa."
Dia keliatan puas sama jawaban gue dan ngehela napas panjang. "Sheila." Dia nyebut nama gue dengan gugup.
"Ugh!" gue jawab tanpa ngeliat dia, masih mengagumi keindahan tanah itu. "Gue rencanain ini buat lo." gue denger dia ngomong.
Semua perhatian gue langsung ke dia pas dia bilang udah rencanain ini buat gue. Jantung gue berdebar kencang dan gue denger irama detak jantung gue 'lab tab... lab tab...' Gue naruh tangan di dada dan ngusapnya pelan buat ngurangin sakitnya.
Mata dia ngeliatin semua gerakan gue tapi entah kenapa dia keliatan gugup dan gue bisa nebak apa yang bakal terjadi selanjutnya. Matanya penuh banget emosi yang bisa gue sebut cinta, gairah, dan kasih sayang.
Gue mengerutkan kening dan memutar bibir pas pertanyaan muncul di pikiran gue. Apa dia mikir gue bakal nolak dia? Haha... gak mungkin. Gue udah nunggu hari ini hampir sebulan. Gimana bisa gue nolak dia? Dia imut banget, dia bahkan nyiapin ini buat gue. Gue senyum dalam hati dan ngeliat dia.
"Makasih, Harry." gue jawab dengan senyum malu-malu dan ngeliat lagi ke tanahnya.
"Gue mau bilang sesuatu."
Lab tab... lab tab... lab tab... batin gue teriak nyuruh gue bilang tiga kata itu secepat mungkin, tapi gue simpan di belakang pikiran gue dan ngeliat dia dengan polos, gak mau ngerusak momen.
"Ya! Bilang aja, Harry, tapi lo hebat banget, gue beneran suka ini." gue tepuk tangan. Ya Tuhan! Apa yang gue lakuin? Apa gue lagi berusaha ngalihin pikirannya? Gimana kalau dia berubah pikiran? Gak.. gak... Gak bakal terjadi.
Kita berdua saling tatap seolah-olah berjam-jam, tapi sebenarnya cuma beberapa menit berlalu.
Gue kayaknya kena penyakit cinta.
Dia megang tangan gue dan nempel ke dadanya. Dia mungkin mikir gue bakal lari kalau dia lepasin tangan gue.
"Lo mau bilang apa?" gue ngerasa suara gue gemetar dan mental facepalm.
Ya Tuhan!! Kenapa dia lama banget buat nyatain cintanya ke...
"Aku Cinta Kamu, Sheila"
Walaupun gue udah ngarepin kata-kata itu dari dia, gue langsung membeku di tempat. Apa yang bisa gue bilang? Apa gue harus bilang kalau gue juga cinta dia? Atau harus minta dia kasih gue waktu buat mikir kayak gimana yang cewek lakukan di film, ya?
'Sheila, jangan bertingkah aneh. Bilang aja ya.' batin gue teriak sekali lagi. Gue narik napas panjang dan siap buat jawab dia tapi dia geleng-geleng kepala.
"Sebelum gue denger jawaban lo, gue mau bilang sesuatu." Dia bilang, nolak buat natap gue.
Ya Tuhan!!! Dia ngerusak momennya, gue menggerutu dalam hati. Apa yang penting sekarang? Bisa ditunda. Tentu aja, gue bakal nikah sama dia nanti, gak ada keraguan.
"Sheila..."
"Hugh! Ya, ng..Ngomong aja, Harry." Keringat udah mulai terbentuk dan gue sering ngehapusnya.
"Lo kenal, Harry John Brooks?"