Bab 32
Sudut Pandang Sheila:
Badanku mulai gemetar gara-gara apa yang kudengar. "Asrama lo kena musibah kebakaran dan semua barangnya hancur." Jantungku berdebar di dalam dada secepat mungkin. Mataku berair.
Gimana bisa, pengen banget nanya lebih jauh tapi tenggorokanku kering, jadi nggak bisa nanya lagi.
Kenapa nggak bisa cuma becandaan aja? Tapi matanya nunjukin kebenaran di baliknya. "Ada yang kenapa-napa nggak?" tanyaku, berharap jawabannya nggak ada apa-apa.
"Nggak, semua orang aman, kecuali..."
"Kecuali apa, Quinn?" Aku meninggikan suaraku ke dia. Harry maju selangkah ke tempat aku berdiri dan megang tangan kananku sebelum meremasnya sedikit.
"Cuma tiga orang yang luka, tapi bangunannya bener-bener roboh."
Aku menghela napas panjang yang kutahan selama semenit. Nggak bisa deh kalau ada yang kenapa-napa. Kita semua temen baik, meskipun belum lama kenal.
Kecemasan merasuki tubuhku dengan mikirin mau tinggal di mana. Aku mengusap keningku dengan tangan kiriku waktu ngerasa pusing sedikit.
"Gimana ceritanya bisa gitu?" tanyaku ke mereka akhirnya ngumpulin keberanian.
"Ledakan Gas," Kevin nyantain gitu aja.
Quinn nyikut dia di perut, dan dia megangin perutnya kesakitan.
"Nggak usah dengerin dia."
"Cowok namanya William, nggak sengaja buka tabung gas waktu Kate nyalain api di kompor buat masak. Tiga tabung meledak barengan, yang bikin musibah kebakaran. Untungnya, mereka masih hidup."
"Ohhh..." itu yang bisa kukatakan. Tubuhku gemeteran banget. Gimana nih mau ngadepin situasi ini? Mau tinggal di mana? Aku ngerasa benar-benar mati rasa.
"Kita pergi, nggak?" Harry nanya.
"Ke mana?" tanyaku ragu.
"Ke tempat kita."
Aku mengerutkan kening waktu denger dia. Apa dia ngode mau tinggal di apartemennya?
"Udah kemaleman, Sheila. Jadi mending ikut kita aja," dia memohon dengan matanya. Aku nggak bisa nolak permintaannya.
"Aku nggak bisa tinggal sama kalian. Aku harus cari..."
"Nggak perlu cari tempat tinggal lain. Kalau kamu setuju tinggal sama kita, kita seneng banget. Tolong bilang iya," dia memohon, megang kedua tanganku.
"Harry... Aku... Aku nggak tahu harus gimana; aku butuh waktu buat mikir."
"Sheila! Udah kemaleman dan aku ngantuk banget. Bisa nggak sih kamu ikut kita aja?" Quinn merengek.
"Ahh.. Aku... Aku nggak bisa."
"Kevin, kamu ada masalah nggak dia tinggal sama kita?" Quinn nyolot ke dia meskipun dia nggak ngomong apa-apa. Dia ngasih tatapan seolah kalau dia bilang nggak, dia bakal ngebunuh dia dan ngubur mayatnya enam kaki di bawah tanah.
Kevin ngangkat kedua tangannya tanda menyerah dan geleng-geleng kepala. "Tentu aja, aku nggak ada masalah."
"Terus kenapa nggak kamu suruh dia tinggal sama kita?" Dia menyipitkan mata ke dia.
"Sheila, aku nggak keberatan kalau kamu mau tinggal sama kita. Dan tolong bilang iya, kalau nggak dia bakal ngusir aku dari apartemen dan bilang aku yang bikin kamu nggak setuju tinggal sama kita."
Aku tahu banget Quinn. Dia bakal dapetin apa yang dia mau dan dia bakal menang di akhir, apapun perdebatan kita.
"Oke, aku bakal iku..." sebelum aku selesai ngomong, Quinn narik aku ke mobil.
"Quinn! Pergi sama Kevin, aku bakal nemenin dia," Harry nawarin tumpangan. Quinn bergumam sesuatu di bawah napasnya yang nggak enak didengar sebelum naik ke mobil.
Dia nyetir mobil diam-diam ke apartemen mereka dan jantungku berdebar kencang mikirin tinggal sama mereka-- tinggal sama dia.
Aku mengusap telapak tangan kiriku dengan ibu jari kananku buat ngelepasin rasa gugupku. Waktu kita nyampe apartemennya, mataku melotot.
Wow!! Keren banget. Aku nggak percaya mata sendiri. Ini bukan apartemen; kayak rumah gede tempat orang kaya biasa tinggal.
Aku tersadar dari pikiran waktu ngerasa ada orang yang ngibasin tangannya di depanku. Aku ngasih dia senyum lemah dan keluar dari mobil.
"Lewat sini," dia nuntun aku ke rumah mereka.
Begitu kita masuk ruang tamu, rahangku hampir copot ke lantai.
cantik...
Aku terpesona dengan kecantikan di depan mataku. Cat warna krem dilapisi di dinding, sementara langit-langitnya warna ungu. Lampu raksasa besar bersinar di tengah ruang tamu, warnanya sering berubah dari ungu, merah, pink, putih, sampai kuning.
Quinn ngasih aku tur keliling rumah mereka atau haruskah aku sebut rumah gede. Dapur gede banget tapi kosong melompong kayak belum pernah dipake, tapi, udah dibersihin rapi.
Dia nunjukin aku perpustakaan dan ruang bermain. Semua kamarnya cantik dan elegan.
Akhirnya, dia nunjukin kamarku yang ada di sebelah kamar Harry. Kamarnya sebesar kamar mereka. Ada kasur ukuran King di sisi kiriku, sementara sofa kecil ada di sisi kanannya.
Lemari gede nyambung ke dinding, di samping ada pintu kecil yang mungkin mengarah ke kamar mandi. Pokoknya kamarnya sempurna.
Dia ngasih aku beberapa bajunya buat ganti dan janji mau ngajak aku belanja. Aku ganti pake piyamanya yang agak panjang buat ukuran badanku.
Waktu aku udah siap buat tidur, ada ketukan lembut di pintu dan Harry nyembulin kepalanya ke kamar. Aku senyum ke dia dan kasih isyarat buat masuk.
"Nih! Ini buat kamu," dia ngasih aku handuk baru.
"Lucu banget," senyum kecil muncul di wajahku.
"Makasih, Harry!!!" Jantungku meleleh buat dia. Dia masih inget semua yang aku bilang dulu.
"Anggap aja ini tempat kamu. Kalau butuh apa-apa, tinggal minta aja. Aku tetangga sebelah," aku ngangguk, masih senyum malu-malu.
"Selamat malam, Sheila!"
"Selamat malam, Harry!" Dia nutup pintu di belakangnya.
Aku masuk ke kasur begitu dia keluar dari kamarku. Kok bisa sih ada orang semanis ini? Setelah sekian lama, aku ngerasa enak. Dia bikin aku ngerasa bersyukur.