Bab 3
"Gimana dengan lo? Belum nemu pasangan juga?" **Strider** ngeliatin terus senyum. **Strider** sama dia sama-sama kehilangan orang yang mereka sayang, jadi itu satu-satunya kesamaan mereka.
"Nggak, susah banget nyari orang yang pas untuk kedua kalinya." Begitu kata-kata itu keluar, muka mantan pacarnya langsung kebayang, sama kengerian yang nyusul.
"Lo nggak apa-apa, **Layton**?" tanya **Strider**, tahu apa yang dia pancing.
"Ini salah gue, harusnya gue lebih tahu. Dia pantas dapat yang lebih baik," kata **Layton** dengan nada lirih yang bikin **Strider** kasihan.
"Bukan salah lo, dunia ini emang punya cara buat ngerubah segalanya, kita cuma harus belajar gimana caranya beradaptasi sama perubahan itu," kata **Strider** sambil nyodorin segelas air bening sama serbet buat sang alpha.
"Gue harus akuin, **Strider**, lo bener, ternyata lo nggak sepenuhnya nggak guna juga."
**Layton** masih nungguin **Gemini** dengan sabar dan **Strider** masih di sampingnya waktu salah satu pemburu dari kawanan bagi informasi sama **Layton**, bikin **Strider** bingung.
"Begitu dia keluar, lo bawa dia ke tenda gue, gue ada beberapa urusan penting yang harus diselesain." **Strider** ngangguk terus **Layton** pergi. **Strider** tahu pentingnya alasan dan opini sang alpha, tapi dia nggak bisa nggak mikir apa **Layton** udah mikirin semuanya mateng-mateng. Dia nggak bisa ngabaikan tanda-tanda lemah yang cewek itu kasih dan mikir apakah dia bakal jadi pemimpin yang kuat. Dia punya terlalu banyak hal yang harus dia urus dan dia nggak berencana buat nambah beban di pundaknya. **Gemini** akhirnya keluar dari kamar mandi dan nyari-nyari cowok yang dia tabrak. Setelah beberapa kali nyari, dia ngerasa ada yang nepuk pundaknya terus noleh buat ngeliat cowok tingginya sedang dengan rambut coklat dan mata hazel.
"Gue rasa lo cewek yang nabrak pemimpin gue," katanya dan **Gemini** sadar maksudnya terus ngangguk.
"Gue mau tahu nama lo dulu," pintanya bikin **Gemini** nggak nyaman.
"**Gemini** Burn."
"Nama yang aneh, jadi kasih tahu gue, **Gemini**, lo dari kawanan mana?" tanya **Strider** dengan kasar bikin **Gemini** mempertanyakan kesopanannya, tapi dia ragu dan diam.
"Penting buat gue atau kita tahu lo dari kawanan mana karena alpha gue punya banyak musuh dan juga karena dia nggak percaya sama lo."
"Gue nggak dari kawanan mana pun," akhirnya dia bilang sambil ngerasa jantungnya berdebar.
**Strider** diem terus mikir.
"Lo nggak mungkin bilang lo sendirian. Beneran?" Dia nanya cewek itu, kalau dia bilang ibunya manusia, itu bakal jadi tanda bahaya dan mereka nggak bakal ragu buat ngebunuh dia.
"Iya, gue sendirian." **Strider** bingung, nggak biasa buat serigala ngeburu sendiri dan ngerasa energi lemah dari dia bikin dia makin bingung. Ada sesuatu tentang dia yang dia nggak percaya.
"Aneh banget, gimana pun, dia nyuruh gue buat nuntun lo ke tendanya karena dia ada kerjaan yang harus diurus." Dia nunjuk ke pintu keluar dan **Gemini** ngerti maksudnya terus jalan ke pintu keluar.
"Gue lebih suka kalau lo nggak ngejawab dengan kasar atau motong pembicaraannya, dia gampang banget emosi dan apa aja bisa memicu itu." Dia hadap **Gemini** terus dia ngangguk. Setelah jalan beberapa lama, mereka deketin tendanya **Layton** dan **Strider** noleh ke dia.
"Apapun yang dia suruh lo, jangan nolak, dia nggak terima penolakan." Dengan semua informasi yang **Strider** kasih tahu, rasa takut muncul.
"Lo boleh masuk," terakhir dia bilang ke cewek yang ketakutan itu, tapi dia ngangguk dan masuk. Untungnya dia belum balik, jadi dia harus nunggu dengan sabar, pikiran buat kabur memenuhi kepalanya tapi dia nggak bisa karena cowok lain ngejagain pintu. Dia alpha dan itu yang paling bikin dia khawatir. Waktu berlalu dan dia akhirnya nerima kenyataan, saat itu dia denger suara dari luar tenda dan rasa takutnya muncul lagi. Akhirnya **Layton** masuk dan jantung **Gemini** berdebar, dia ngelirik dia terus nyengir.
"Jadi, **Gemini**, gue rasa lo tahu kenapa gue manggil lo ke sini." Dia ngangguk. **Layton** duduk di sampingnya terus habiskan waktu buat merhatiin dia.
"Gue denger lo ngeburu sendirian, yang aneh, kita semua tahu serigala tanpa kawanan sama aja kayak udah mati." Dia terus berdiri dan jalan ke meja kecil di samping kita dengan baki perak isi gelas tinggi dan sebotol sampanye terus nuang ke gelas, dia jalan ke arah gue dan nyodorin gelas itu ke gue.
"Makasih," **Gemini** berterima kasih, dia nggak mau nolak tawarannya, toh dia belum pernah minum alkohol sebelumnya.
"Ada yang salah sama minumannya?" tanya **Layton** sambil nyeruput minumannya.
"Nggak," **Gemini** akhirnya nelen minumannya dan **Layton** nggak bisa nggak ketawa kecil waktu dia menyipitkan mata karena rasanya yang asem. Dia ngeliatin dia dan bisa akuin dia suka ngeliat dia senyum.
"Lo punya keluarga?" Dia nanya, terus **Gemini** mikir, satu-satunya pikiran yang muncul di benaknya adalah bohong.
"Nggak. Orang tua gue meninggal waktu gue masih kecil dan gue nggak punya saudara."
"Gue rasa kita punya kesamaan sekarang," pikir **Gemini**.
"Beneran? Lo nggak punya keluarga?" Akhirnya dia ngomong dan dia ngangguk.
"Mereka udah meninggal beberapa waktu lalu." Aneh buat **Gemini** ngeliat dia setenang itu waktu dia ngomongin orang tuanya.