Bab 5
“Oke, kalau lo nggak bilang, ya udah, santai aja. Tapi kalau lo bilang, ya berarti kita ada masalah, tapi bukan pertama kalinya gue denger hal ini. Orang-orang bilang gue iblis, monster, psikopat, jadi gue nggak akan bahas itu. Tapi gue nggak mau lo ngomong sama dia.” Meskipun Jacob nggak suka, dia cuma ngangguk terus pergi. Layton nengok ke Strider.
“Gue sama sekali nggak suka dia,” aku Layton.
“Gue nggak kaget,” kata Strider pelan, untung Layton nggak denger. Layton emang nggak suka siapa pun. Pertama kali dia dateng ke upacara pernikahan ini, Strider mikir dia nggak bakal nemu pasangan dengan sikapnya yang nyebelin. Tapi, yang bikin kaget, si iblis jatuh cinta, dan itu ngehangetin hati Strider. Kedua kalinya ini juga bikin kaget, tapi dia cukup seneng buat si alpha dan lebih khawatir sama ceweknya.
“Aneh, ya, si alpha nggak punya pasangan. Padahal, dia kan alpha,” kata Gemini ke Dakota.
“Ya, susah buat dia nemu. Kebanyakan cewek takut sama dia.” Rasa takut Gemini muncul lagi, dia nanya-nanya kenapa banyak orang takut sama dia.
“Kenapa? Dia kejam?” Kepalanya penuh pertanyaan. Dia nggak mau nikah sama cowok kejam yang bakal nyiksa dia.
“Nggak kok. Jangan khawatir.” Terus Gemini inget lagi kata-kata Strider.
“Tapi Strider….”
“Lupain aja kata-kata Strider. Dia cuma nyuruh lo hormatin dia karena dia alpha,” Dakota motong pembicaraan Gemini.
“Jadi, lo bakal ikut kita balik ke wilayah kita, jadi kalau ada yang mau lo omongin, mending sekarang,” kata Dakota sambil berdiri, dan Gemini mikir dia emang pengen ketemu ibunya.
“Nggak.” Tiba-tiba Layton muncul.
“Makasih, Dakota, lo boleh pergi,” kata Layton, dan Dakota ngangguk terus pergi. Layton duduk di samping pasangannya.
“Gue tebak dia udah bilang lo bakal pergi sama kita,” tanya Layton, dan Gemini ngangguk.
“Gue harus packing?” tanya Gemini buat mastiin.
“Nggak usah, gue beliin lo baju baru.”
Gemini disuruh nginep di gedung deket situ sama yang lain. Dia harus tidur di kasurnya sendiri karena dia dan Layton belum nikah. Tiba-tiba Arlene, wanita yang dihormati dari kelompok itu, masuk dan membuka gorden lebar-lebar.
“Nona Burn, udah waktunya bangun, kita harus segera pergi,” kata Arlene sambil ngebangunin Gemini.
“Nggak bisakah aku tidur sebentar lagi?” keluh Gemini sambil narik selimut nutupin kepalanya.
“Oh, nggak bisa, Nona. Saya nggak bisa biarin kamu tidur terus karena kita segera pergi.” Kata Arlene, terus Gemini akhirnya bangun dan langsung ke kamar mandi. Setelah mandi santai yang lama, Arlene masuk dan ngasih dia gaun kulit hitam dengan wedges hitam. Layton udah pake pakaian kasual hari itu dan itu bikin Gemini merinding.
“Kamu keliatan cantik,” puji Layton, dan Gemini senyum tipis.
“Makasih, kamu juga.” Jawabnya, tiba-tiba Strider muncul. Dia nengok ke Layton.
“Kita ketemu kelompok lain,” kata Strider. Layton ngangkat muka.
“Jones?” tanya Layton, dan Strider ngangguk. Beberapa menit kemudian Jones jalan ke arah mereka, dan Gemini merasa gugup.
“Jadi beneran kamu udah nemu pasangan lagi, coba kasih tau siapa namanya?” kata Jones sambil ngeliatin Gemini.
“Kenapa nggak tanya sendiri?” Layton muter bola matanya.
“Gue Gemini, dan kamu?” cewek itu nanya.
“Jonas.” Katanya. “Oh iya, mana sopan santun gue.” Jones ngulurin tangannya buat salaman, dan Layton menerimanya.
“Gue cuma nggak nyangka kamu bisa nemu pasangan lagi,” kata Jones dengan kasar, dan Gemini nggak ngerti kenapa mereka masih salaman.
“Ya, gue nemu,” kata Layton kesal.
“Gimana bisa alpha setolol ini milih cewek lemah kayak dia.” Kemarahan Layton memuncak, terus dia langsung muter tangan Jonas, dan suara tulang patah yang mengerikan terdengar. Jonas menjerit kesakitan, dan Gemini merasakan sakitnya.
“Cuma karena lo alpha, bukan berarti lo punya hak buat ngehina dia!! Sekarang, gue mau lo minta maaf!!” Jonas merengek tapi nggak mau minta maaf. Layton muter lagi tangannya, bikin lebih parah.
“Minta maaf atau gue patahin tangan lo,” ancam Layton.
“Maaf,” kata Jonas.
“Sebut namanya dan minta maaf!!” Gemini kasihan sama alpha yang lain, jadi dia nepuk bahu Layton.
“Nggak apa-apa, gue maafin dia.” Layton menghela napas terus ngelepas tangannya, dan Arlene lewat.
“Tuan, kami siap berangkat.” Layton ngangguk terus nengok ke Gemini.
“Kita harus pergi.” Katanya sambil nunjuk mobil yang udah dateng.
“Kita mau kemana?” tanyanya sedikit takut.
“Wilayah kita,” katanya sambil jalan ke arah mobil dan masuk, mereka langsung mulai perjalanan.
“Sebenernya, di mana wilayahmu?” tanya Gemini, dan Layton nyenderin kepalanya di jendela.
“Kebanyakan nanya.” Perut Gemini keroncongan, terus dia inget belum sarapan. Dia ngeliatin Layton.
“Gue belum sarapan….”
“Langsung ke intinya,” Layton memotongnya, dan entah kenapa, dia merasa pengen nangis.