Bab 30
Mobil van itu akhirnya mendekati stasiun, bikin bulu kuduknya **Gemini** merinding. Dia nggak pernah nyangka, seumur hidupnya, bakal masuk kantor polisi atau kena masalah sama polisi. Mereka turun dan ditunjukin dua ruangan berbeda. **Gemini** duduk di ruangan yang dingin dan kosong, cuma ada dua kursi dan meja besar. Sama juga dengan **Layton**.
Petugas yang bertanggung jawab pergi ke mejanya dan ngambil beberapa kertas dari laci. Dia baca-bacain kertas itu, padahal dia selalu percaya sama hal-hal supranatural. Tapi, temen-temen kerjanya malah ngetawain dan ngejek ide-idenya. Kenangan menyakitkan yang panjang muncul di kepalanya.
"Jadi, maksudmu ada makhluk aneh berkeliaran di jalanan kita?" Petugas muda itu ngangguk.
"Bayangin aja, Pak, ini beneran bisa nyelesain semua masalah." Dia nunjuk ke gambar tertentu.
"Emangnya mereka itu apa? Serigala yang bisa berubah wujud?" Bosnya malah ngetawain dia, bikin dia kesel banget.
"Mereka itu serigala yang bisa berubah jadi manusia, Pak." Bosnya udah mulai kesel sama tingkah kekanak-kanakannya.
"Keluar dari ruangan saya dan berhenti ngomong omong kosong!" Petugas muda itu ngambil kertasnya dan keluar sambil ngamuk.
Dia masih inget dan bersumpah bakal ngebuktiin kalau semua orang yang ngejek dia itu salah. Ada ketukan di pintu.
"Masuk." Rekannya masuk.
"Mereka nungguin, Pak. Tapi, apa ini perlu?" Dia ngangguk, dia percaya ini sepadan karena dia berharap udah nangkap tersangka dan dapet rasa hormat.
"Oke, saya kesana sebentar lagi." Rekannya ngangguk terus pergi.
Petugas itu pertama kali nemuin **Layton** sebelum ke cewek itu. **Layton** ngeliatin petugas itu.
"Anda pasti Tuan Vetteriano." Petugas itu ngeluarin banyak berkas.
"Saya nggak ngelakuin kesalahan, kan?" **Layton** muter bola matanya.
"Selain nerobos area terlarang, ya, Anda udah ngelakuin kesalahan besar." **Layton** menghela napas. Dia nggak pernah nyangka bakal ada di situasi kayak gini dan dia nggak tau gimana keadaan **Gemini**. Dia nggak terlalu khawatir karena ruangan mereka deketan.
"Apa hubungannya dia sama ini? Ini salah saya karena dia nerobos area itu." Petugas itu ngangguk tapi dia nggak mau nyia-nyiain kesempatan kayak gini, dia nggak yakin cewek itu manusia murni atau bukan.
"Bener, tapi dia tetap nerobos." Katanya. "Saya harus nanya-nanya." **Layton** nyenderin kepalanya di tangannya.
"Lanjut."
"Orang tua Anda dimana?"
"Udah meninggal," kata **Layton** cepat.
"Oh, gimana mereka meninggal?" **Layton** agak kesel.
"Penyebab alami, kayaknya," Dia ngangkat bahu. Tetep aja, petugas itu nggak yakin.
"Kalau mau nangkap saya, ya udah, nggak usah banyak tanya. Saya nggak liat gunanya pertanyaan-pertanyaan ini." Dia ketawa.
"Harusnya sih begitu, tapi saya perlu informasi dulu. Maaf, tapi ini aturannya." Suasana hening.
**Gemini** duduk ragu-ragu di kursinya sambil denger langkah kaki bergema dari koridor. Pintunya kebuka dan petugas itu masuk sambil senyum, terus duduk.
"Dan Anda pasti Nyonya Vetteriano, kan?" Cewek itu ngangguk malu-malu.
"Ibu Anda nggak masalah waktu Anda pindah, maksud saya, saya tau kebanyakan orang tua nggak bakal ngebolehin hal kayak gitu?" **Gemini** ragu-ragu lagi, dia pengen **Layton** ada di sampingnya saat itu dan dia bener, ibunya nggak bakal ngebolehin dia pergi tanpa dia.
"Saya nggak bilang dia setuju, tapi saya nikah sama dia, dan itu yang penting." Petugas itu ngeliat ini sebagai kesempatan buat ngehujani dia dengan pertanyaan.
"Kalian berdua ketemu di hari yang sama dan mutusin buat tinggal bareng?" **Gemini** nelen ludah, dia tau **Layton** nggak mau dia ngomongin rahasia mereka jadi dia harus hati-hati sama apa yang dia omongin.
"Dan usia Anda berapa sebenarnya?" **Gemini** tau dia aman karena dia udah cukup umur buat nikah.
"Delapan belas," jawabnya.
"Aneh banget, bahkan buat saya, saya harus akui." Dia tau apa maksud petugas itu dan dia nerima.
"Anda bebas ngomong apa aja ke saya, suami Anda yang katanya itu nggak ada di sini," katanya dengan nada pelan yang menjanjikan.
"Kalau Anda dipaksa nikah, saya ngerti." **Gemini** ngegeleng, tau gimana sekarang dia cinta sama **Layton**.
"Cuma, kita jatuh cinta dengan cepat." Cewek itu bohong, berusaha kedengeran normal.
"Tapi tetap aja aneh, pernikahan itu beda banget, dan dari cara orang ngomongin Anda, itu, seperti yang saya bilang, aneh."
"Masalahnya, saya cinta sama dia dan kita udah nikah, aneh atau enggak." Pria itu mikir. Bukan cuma tentang pernikahan mereka dia tertarik, tapi juga identitasnya. Dia mutusin buat nambahin sedikit tekanan.
"Anda tau, saya udah ketemu cewek kayak Anda yang dibayar buat akting." **Gemini** merasa tersinggung.
"Saya bukan pelacur!!" **Gemini** meledak.
"Gimana saya tau Anda ngomong yang bener? Dari kelihatannya, kayaknya Anda nggak ngasih tau saya bagian cerita Anda." **Gemini** nutup matanya, dia masih nggak ngerti kenapa dia tertarik sama pernikahan mereka.
"Apa yang Anda mau dari saya?" **Gemini** ngomong dengan suara lemah. Pria itu ngeluarin foto dirinya yang diambil beberapa waktu lalu.