Episode 2
***
"Ya ampun. Ada apa, Arkisha?" ibu ku bertanya, langsung pas aku masuk pintu. Dia lagi megang baki persembahan, berarti baru balik dari kuil. Dia berdiri di sana, natap aku kaget banget.
"Wah, pasti dia bikin ulah lagi di pasar, makanya begini. Gak tau deh apa yang kamu lakuin kali ini. Kamu tuh kayaknya seneng banget bikin masalah buat kita," kata Bibi ku, bikin aku melotot.
"Arkisha?" ibu ku manggil lagi, tapi aku cuma jalan ngelewatin mereka.
"Gak ada apa-apa kok. Mobil nyipratin lumpur ke aku pas pulang, tapi gak papa, udah aku urus," kataku sambil naruh barang-barang di meja dapur.
Mikirinnya aja bikin darah mendidih, pengen banget nampar pipinya keras-keras.
"Maksudnya kamu berantem?"
"Gak, ibu, aku–" Aku berhenti di tengah jalan pas liat dua adikku nyamperin.
"Siapa yang ngelakuin?" Kuhu, yang paling tua, nanya.
"Gak mau bahas sekarang, tolong biarin aku ganti baju," kataku sambil naik ke kamar.
"Seema, kamu mendingan cariin Arkisha jodoh, biar dia belajar dewasa. Umurnya udah dua puluh, tapi kelakuannya kayak anak kecil," aku denger Bibi ngomong ke ibu, tapi aku cuekin aja.
Aku gak mau nikah, setidaknya belum sekarang. Aku pengen kerja dan bantu keluarga, nikah tuh urusan terakhir di pikiranku. Dan aku pengen nikah sama keluarga yang aku gak cuma jadi ibu rumah tangga, tapi juga wanita karir. Mimpiku tuh jadi pengusaha sukses dan bantu suami juga.
Aku buru-buru ganti baju kotor dan pake yang baru. Aku kuncir rambutku jadi ekor kuda dan pake sandal. Baru mau keluar kamar, mataku ngeliat ke meja, langsung bersinar. Senyum muncul di wajahku pas aku jalan ke meja.
Itu dia, ada di sana. Disimpan aman di kotak perhiasanku.
Barang paling berharga milikku. Gelang emas yang dihiasi batu perak. Aku senyum sambil tanganku ngelus-ngelus gelang itu. Kenangan hari itu banjir di kepalaku, kayak baru kemarin.
*
"Aku bakal pergi besok," dia bilang ke aku. Kita lagi duduk di tangga pas jam makan siang, dan dia baru aja ngomong gitu.
"Tapi kamu mau kemana? Kamu bilang gak bakal pergi," aku nangis sesegukan.
"Aku mau keluar negeri. Setidaknya itu yang ayah bilang. Dia mau aku belajar di luar negeri dan balik pas udah cukup umur buat nerusin bisnis. Aku gak mau pergi, tapi dia bilang itu yang terbaik buat semua orang," katanya sedih.
Aku udah nangis kejer.
"Tapi aku janji bakal balik, dan aku pasti nyari kamu, aku janji. Kita bakal jadi teman selamanya," dia nenangin aku, tapi itu gak bikin aku berhenti nangis.
"Terus gimana kalau kamu gak kenal aku lagi? Kamu kan bakal pergi lama banget?"
Dia gak jawab, tapi ngeluarin gelang dari sakunya dan ditaruh di depan aku buat dilihat.
"Aku gak tau kapan aku pergi, tapi aku mau kamu punya ini," katanya sambil masangin gelang itu di tanganku. "Ini lambang keluarga kita. Cuma ada satu. Sama kayak kamu. Kalau aku liat kamu pake ini, aku pasti tau itu kamu."
"Tapi ini nyolong, ya?" aku nanya.
"Semua orang di keluarga aku punya satu, jadi aku kasih punya aku ke kamu. Aku tau ini aman sama kamu," katanya, dan aku senyum.
"Nih," kataku sambil nyopot jepit rambutku dan ngasih ke dia. "Gak mewah atau mahal, tapi aku mau kamu punya ini," kataku ke dia, dan kita senyum sambil pelukan erat banget.
*
Dan itu terakhir kalinya aku liat dia.
Aku gak pernah pake gelang itu karena gak mau keinget dia. Tapi aku kangen banget sama dia. Seringkali aku pengen dia masih di sini sama aku, tapi aku gak bakal bisa ketemu dia kalau aku mau, karena pertama, kita udah pindah dari Narela setelah rumah kita dirobohin, dan kita tinggal di desa kecil di Najafgarh. Aku biasanya pergi ke kota kalau ada urusan yang harus diurus.
Dan aku rasa dia juga gak bakal mau ketemu aku lagi.
"Arrrggghhh"
Aku denger seseorang teriak, dan aku buru-buru masukin gelang itu lagi ke kotak dan turun ke bawah.
"Ada apa? Kenapa kamu teriak?" aku nanya, khawatir.
"Adik-adikmu, itu yang terjadi. Mereka naruh kecoa di kasurku, dan pas aku mau istirahat, kecoanya masuk ke sari aku, dan aku takut banget," dia jelasin, keringetan kayak baru selesai mandi.
Aku noleh ke adik-adikku. Mereka senyum-senyum, dan aku tau mereka yang ngelakuin.
"Dayal, aku takut banget. Tolong jangan bawa aku masuk kamar itu lagi," dia gemeteran.
"Minta maaf sekarang juga," aku bentak mereka berdua.
"Maaf, Bibi,"
"Gak, kalian gak minta maaf, dasar anak nakal. Itu yang kalian bilang setiap saat. Bahkan waktu kalian naruh kodok di kotak perhiasan aku," dia teriak, tapi mereka cuma anggap lucu.
"Aku minta maaf atas nama mereka, Bibi," kataku dan pergi ke dapur buat masak makan malam.
Pihu dan Kuhu baru delapan belas tahun, tapi kelakuannya kayak anak-anak.
Mereka emang tukang usil. Kalau kamu ngehina mereka atau anggota keluarga kita, ya udah, urusanmu sendiri. Itu motto mereka.
Tapi aku gak bisa lagi biarin kelakuan dan kekanak-kanakan mereka.
Aku marah, dan aku rasa mereka juga tau.
"Maaf, Arkisha," mereka pegang telinga dan minta maaf, tapi aku pura-pura gak denger.
"Atur meja, biar kita bisa makan malam," kataku ke mereka.
Mereka nurut, tapi aku gak ngelirik mereka sama sekali.
"Kak, tolong jangan marah sama kita."
"Harusnya kalian mikir dulu sebelum ngisi kasurnya Bibi sama kecoa. Kalian mikir apa sih? Aku tau Bibi emang gak baik-baik banget, tapi aku kira aku udah ngajarin kalian lebih baik dari itu,"
"Kita gak suka cara dia ngomong sama kamu, makanya kita lakuin itu," kata Kuhu.
"Dan aku juga gak minta kalian buat bantu aku," kataku sambil jalan ngelewatin mereka, tapi mereka meluk aku.
"Kita beneran minta maaf. Tolong jangan marah sama kita."
"Oke deh," aku menghela napas setelah mikir lebih jauh. Aku gak bisa marah sama mereka, meskipun aku mau.
"Aku maafin kalian, sekarang hidangin makan malam," aku perintah, dan mereka cuma ngangguk.
.
"Arkisha, pendeta ngundang kamu ke kuil buat nari di festival besok," ibu ku bilang ke aku.
Aku ngangguk.
"Kita boleh ikut?" Pihu dan Kuhu nanya.
"Boleh. Lagian itu bikin kalian gak bikin ulah," kataku ke mereka.
"Gak kayak mereka bayar kamu buat nari. Aku heran kenapa kamu buang-buang waktu nari di kuil," Bibi ku bilang di sela-sela makan.
"Aku gak ngelakuinnya buat uang. Aku suka nari di kuil, apalagi buat Yang Maha Kuasa. Dia udah ngasih banyak banget buat kita, jadi apa cara yang lebih baik buat membalasnya?" aku senyum. "Lagian kan gak kayak kita bayar Dia buat semua pengorbanan yang Dia lakuin buat kita, jadi kenapa gak dilakuin aja," kataku ke dia.
"Terserah kamu deh. Gak ada yang bisa menang debat sama kamu," katanya, tapi aku cuma senyum.
"Makanan ini enak banget, Arkisha. Kamu selalu tau gimana caranya bikin makanan enak."
"Makasih, Arav."
Aku duduk dan ngambil makanan buat diri sendiri. Setelah dari kuil, aku cari kerjaan biar bisa bantu keluarga juga.
Ya Tuhan, tolong aku. Bikin semuanya terjadi sesuai yang seharusnya.
.
.
CINTA DENGAN MANFAAT
.
.